Serpihan Pengalaman Batin dan Genealogi “Ketika Senja Jatuh di Nara”
Kemiripan struktur non-linear, suasana surealis, atau kehadiran arwah justru menunjukkan sastra sebagai dialog panjang antarkarya, bukan plagiarisme.

Zaky Yamani
Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.
3 April 2026
BandungBergerak - Konon, ketika sebuah karya sastra telah terbit, penulisnya “mati”. Karya itu sepenuhnya jadi milik pembaca untuk dimaknai, dinterpretasi, dan dihakimi. Namun, bagaimana jika sebuah karya berada dalam risiko dituding sebagai jiplakan? Barangkali penulis perlu kembali sejenak, tentu saja bukan untuk mengambil alih tafsir, melainkan untuk menunjukkan jejak-jejak yang melahirkan karyanya.
Beberapa waktu lalu, muncul postingan di X yang mempertanyakan, apakah karya saya “Ketika Senja Jatuh di Nara” adalah plagiat dari “Pedro Paramo” karya Juan Rulfo. Pertanyaan itu sah, namun menurut saya terlampau menyiratkan kesimpulan bahwa karya saya adalah plagiarisme.
Sempat terlintas gagasan untuk mempertemukan kedua karya itu dalam sebuah ruang diskusi terbuka—semacam “sidang” pembaca—agar penilaian tidak berhenti pada kesan sepintas. Namun, perbincangan itu berakhir lebih cepat dari yang saya bayangkan. Barangkali itu juga baik. Karena pada akhirnya, setiap karya memang akan menemukan ruang ujiannya sendiri: di tangan para pembaca, dalam waktu yang lebih panjang, tanpa perlu panggung yang dirancang khusus.
Dalam kaitan itu, saya kira, kita perlu sedikit lebih berhati-hati sebelum menyiratkan sebuah karya sebagai jiplakan. Tuduhan semacam itu bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal bagaimana kita memahami kerja kreatif itu sendiri.
Dalam berkali-kali diskusi dan bedah buku “Ketika Senja Jatuh di Nara”, saya selalu menyebutkan, inspirasi pertama novel itu adalah tragedi pembunuhan Pendeta Yeremia Zanambani pada 2020 yang diduga dilakukan anggota TNI. Kejadian itu sangat mengganggu pikiran saya, dan saya pikir akan sangat baik jika saya menyalurkan kegelisahan itu melalui pekerjaan yang saya geluti: menulis novel.
Setelah niat itu muncul, datang pertanyaan lanjutan: pendekatan apa yang harus saya lakukan untuk menulis novel itu? Formula apa yang harus saya gunakan? Bagaimana saya akan menyisipkan serpihan-serpihan pengalaman fisik dan batin saya ke dalam novel itu dan menggubahnya menjadi karya fiksi yang menarik?
Cukup lama saya bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan itu, dan dari pergulatan itu, serpihan-serpihan pengalaman bermunculan, seakan-akan mereka menuntut untuk ikut dimasukkan ke dalam perumusan novel itu.
Salah satu serpihan pengalaman yang muncul, adalah ingatan ketika suatu senja saya duduk di tepian sebuah danau, dan bertanya kepada diri saya sendiri: bagaimana jika di usia tua, saya sebatang kara, duduk di tepian danau, tenggelam dalam kesepian, dan hanya bisa mengingat kenangan yang merentang panjang ke belakang tanpa ada seorang pun yang bisa jadi teman berbagi kisah?
Di tengah indahnya pemandangan danau di senja itu, saya merasa ngeri sendiri dengan pertanyaan itu. Dan dari serpihan pengalaman itu, saya merumuskan satu sosok yang kemudian saya gunakan sebagai salah satu tokoh di novel yang sedang saya rancang. Tokoh itu bernama Zacharias.
Di saat lain, saya berdiri di padang rumput, dalam cuaca yang panas, dengan danau dan laut yang seakan bersisian, merasakan desir angin, dengung serangga, dan kepak sayap burung yang lewat. Di waktu yang lain lagi, saya terperangkap sepekan di sebuah rumah, dan setiap hari yang saya lihat melulu sebuah pulau kecil di kejauhan, perahu dan kapal yang lewat sesekali, dan hutan serta burung-burung di belakang rumah. Di sebuah tempat lain, saya mencoba menyelami keindahan sebuah gunung berapi di tengah laut, dengan pulau-pulau kecil yang bagai zamrud di tengah hamparan gradasi biru lautan.
Juga muncul beragam ingatan tentang percakapan demi percakapan dengan orang-orang yang anggota keluarganya disiksa dan dibunuh aparat, yang tanahnya dirampas, yang rumahnya dibakar, yang terusir dari tanah kelahirannya. Tak ketinggalan ingatan tentang rindu pada rumah, hati yang berbunga-bunga saat jatuh cinta, dada yang sesak saat patah hati, hambarnya perasaan dalam hubungan yang pahit, amarah yang terpendam pada ketidakadilan, dan pedihnya rasa kehilangan.
Dari banyak serpihan pengalaman dan ingatan itu, muncul tokoh-tokoh di dalam kepala saya, untuk menemani Zacharias dalam kisahnya, dan bagaimana kisah itu akan berkorelasi dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang pendeta.
Setiap persepsi saya atas dunia, setiap tokoh yang muncul di kepala saya, rasanya, seperti menceritakan peran dan kisah mereka masing-masing. Namun, saya tidak juga bisa mengelaborasi serpihan kisah-kisah itu.
Semuanya serba terfragmentasi, seperti sebuah cermin yang jatuh ke lantai, jadi kepingan-kepingan yang menuntut untuk disatukan. Di saat bersamaan, saya sadar betul, bagaimana pun saya berupaya menyatukan kepingan itu, cermin itu tidak akan pernah utuh: dia akan selamanya berupa fragmen dengan bayangan masing-masing.
Lalu bagaimana saya bisa membuat sebuah kisah, jika bahan yang tersedia melulu fragmen?
Dalam pergulatan pikiran, saya teringat pada kisah “Pedro Paramo” karya Juan Rulfo. Karena saya yang menerjemahkan karya itu untuk Gramedia Pustaka Utama, dan berulang kali membacanya, saya jadi belajar satu hal: ada kisah-kisah yang bisa disampaikan dalam bentuk yang tidak linear, bahwa fragmen pun bisa menjadi struktur.
Juan Rulfo, menurut saya, penulis yang berhasil menciptakan pendekatan itu melalui “Pedro Paramo”. Kemudian saya pikir, saya ingin mencoba menggunakan pendekatan itu untuk membangun “Ketika Senja Jatuh di Nara”. Dari Juan Rulfo pula saya meminjam sudut pandang atas kekejian manusia, yang dia tampilkan dalam kumpulan cerpennya “En Llano En Llamas”/”The Burning Plain” (saya terjemahkan jadi “Dataran Dalam Kobaran Api”, juga diterbitkan Gramedia Pustaka Utama).
Dalam menarasikan kisah, saya berutang inspirasi pada banyak penulis lain. Gaya penggambaran lanskap yang puitis, saya mencoba mendekati dengan cara Mo Yan dalam “Sorgum Merah”, Luis Sepúlveda dalam “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta”, dan Cormac McCarthy dalam “The Road”.
Tentang hantu yang mewakili trauma, saya mencoba belajar dari Toni Morrison dalam “Beloved”, Alina Bronsky dalam “Cinta Terakhir Baba Dunja”, Gabriel García Márquez dalam “Seratus Tahun Kesunyian”, Theresa Cheung dalam “The Element Encyclopedia of Ghosts and Hauntings”, dan tentu saja hantu-hantu dalam folklore nusantara.
Saya juga menggunakan folklore Papua, gaya puitis ayat-ayat Alkitab, juga literatur tentang hutan, pertambangan, dan sawit.
Saya berutang teknik penulisan pada penulis-penulis dan buku-buku tersebut dan mungkin penulis-penulis lain yang luput dari ingatan saya. Namun, untuk isi cerita, sebagian besar adalah hasil observasi, bacaan, percakapan, serta pengalaman fisik dan batin saya sendiri, yang saya olah menjadi imajinasi dan dituliskan menjadi kisah fiksi.
Baca Juga: Zaky Yamani Pemenang Pertama Sayembara Novel DKJ 2021
Kesaksian dari Titik Konflik dalam Novel Ketika Senja Jatuh di Nara
Saat membandingkan karya—dalam hal ini novel—sering terjadi salah paham: belajar dari sebuah karya bukanlah menyalin karya itu.
Jika setiap penggunaan struktur non-linear, suasana surealis, atau kehadiran arwah dianggap sebagai “plagiarisme”, maka sebagian besar tradisi sastra dunia harus kita curigai ulang. Dari Amerika Latin hingga Asia, dari realisme magis hingga folklore lokal, kita akan menemukan gema yang saling bersahutan.
Apakah itu berarti semuanya saling menjiplak? Atau justru menunjukkan bahwa sastra bekerja melalui dialog panjang antarkarya?
Saya membaca banyak penulis. Saya belajar dari mereka. Itu bukan sesuatu yang saya sembunyikan. Tetapi membaca bukanlah tindakan menyalin; ia adalah proses menyerap, mengolah, dan mencipta kembali.
Saya menulis “Ketika Senja Jatuh di Nara” selama lima tahun, dan selama itu pula saya belajar: kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, revisi demi revisi. Untuk itu, bolehlah kiranya saya berharap, karya itu dibaca dengan utuh dan adil—serta kalau memungkinkan—dipertimbangkan proses penulisannya.
...
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

