• Berita
  • Mengapa Pohon Timbang di Kota Bandung Sering Terjadi? Cuaca Ekstrem Bukan Penyebab Utama

Mengapa Pohon Timbang di Kota Bandung Sering Terjadi? Cuaca Ekstrem Bukan Penyebab Utama

Dari hujan angin hingga betonisasi menjadi faktor saling terkait yang memperbesar risiko pohon tumbang di Kota Bandung. Penataan kota terindikasi kurang ramah lingku

Pohon tumbang menimpa sedan mewah dan pagar 2 rumah di Jalan Maulana Yusuf, Bandung, 5 Oktober 2022. Pohon peneduh berusia tua itu tumbang saat hujan lebat mengguyur wilayah perkotaan, tidak ada korban jiwa dalam perisitwa tersebut. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Penulis Yopi Muharam3 April 2026


BandungBergerak - Hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan Riung Bandung, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis, 19 Maret 2026, dua hari menjelang Idulfitri. Di tengah cuaca buruk itu, suara gemuruh keras tiba-tiba terdengar dan mengagetkan Dedi Dian, 53 tahun, seorang tukang parkir di sebuah minimarket.

Sumber suara berasal dari pohon ketapang yang tumbang hingga menutup separuh jalur lambat jalan by pass Sukarno Hatta. Pada saat bersamaan, sejumlah spanduk di ruko sekitar terlepas dan beterbangan terbawa angin.

“Saat itu lagi berteduh, terus ada suara kencang. Pas hujan reda, saya lihat pohon sudah menutup jalan,” ujar Dedi, kepada BandungBergerak, Rabu, 1 April 2026.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kurang dari dua jam, petugas pemadam kebakaran berhasil mengevakuasi pohon, sementara polisi mengatur arus lalu lintas hingga kembali normal.

Namun, bagi Dedi, peristiwa itu bukan yang pertama. Selama setahun bekerja di lokasi tersebut, ia mengaku kerap menyaksikan pohon tumbang setiap kali hujan deras disertai angin.

Fenomena berulang ini memunculkan pertanyaan: apakah pohon tumbang di Bandung semata akibat cuaca ekstrem, atau ada persoalan lain terkait penataan kota yang dijalankan secara tidak ramah lingkungan?

Pohon Tumbang Terus Berulang

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mencatat, hingga Maret 2026 terdapat 32 kejadian saat hujan angin, dengan 28 di antaranya berupa pohon tumbang. Dalam beberapa tahun terakhir, tren serupa terus terjadi:

- 2020: 229 kejadian

- 2021: 165 kejadian

- 2022: (hingga triwulan III): 217 kejadian

- 2023: (Oktober–November): 42 kejadian

- 2024: (Januari–Agustus): 44 kejadian

- 2025: setidaknya 18 kejadian.

Ketua Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bandung, Robbi Darwan, menyebut peningkatan kejadian tahun ini cukup signifikan. Salah satu faktor yang disoroti adalah kondisi pohon yang terlalu rimbun sehingga rentan roboh saat diterpa angin kencang.

“Pohon yang terlalu rimbun tidak akan kuat menahan angin,” ujar Robbi, kepada BandungBergerak.

BPBD bersama dinas terkait rutin melakukan pemangkasan dan pemeliharaan. Namun, tingginya frekuensi kejadian menunjukkan upaya tersebut belum sepenuhnya efektif.

Cuaca Ekstrem hanya Pemicu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan lebat disertai angin kencang dipicu aktivitas atmosfer, seperti gelombang Rossby ekuatorial dan Kelvin, serta peralihan monsun Asia ke Australia.

Kondisi ini mendorong terbentuknya awan konvektif intens yang menghasilkan hujan lebat dan angin kencang. Kecepatan angin di Bandung bahkan sempat mencapai sekitar 40 kilometer per jam.

Meski demikian, prakirawan BMKG Bandung Aris Krisna Ningsih menilai kondisi tersebut masih dalam kategori normal.

“Kalau dilihat masih cukup normal,” ujar Aris, kepada BandungBergerak.

Artinya, cuaca ekstrem menjadi pemicu langsung, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan tingginya kejadian pohon tumbang.

Faktor Teknis di Lapangan

Dari sisi operasional, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Bandung Timur mencatat peningkatan signifikan kejadian pohon tumbang dalam waktu bersamaan.

Komandan regu UPT Hendri Nugraha mengatakan, dalam satu hari timnya dapat menangani beberapa kejadian di lokasi berbeda. Keterbatasan personel dan peralatan menjadi tantangan utama.

“Tahun ini saja, sampai April, kami sudah menangani hampir 20 kasus pohon tumbang di Bandung Timur,” ujar Hendri, kepada BandungBergerak.

Ia menyoroti sejumlah faktor teknis, seperti keterbatasan ruang akar akibat pembangunan, serta minimnya perawatan dan keterlambatan peremajaan pohon. Pohon yang tua atau terlalu rimbun menjadi lebih rentan tumbang. 

Selain itu, keberadaan kabel utilitas yang semrawut juga menghambat mobilitas kendaraan pemadam, terutama mobil tangga (aerial ladder truck).

Di sisi lain, UPT Bandung Timur memiliki sejumlah keterbatasan. Saat ini UPT hanya memiliki dua regu, masing-masing terdiri dari lima personel. Peralatan yang tersedia pun terbatas, termasuk gergaji mesin yang masih berukuran standar.

Baca Juga: Dampak Proyek Galian Kabel di Bandung, dari Jalan Rusak hingga Pengendara Motor Terjatuh sampai Pingsan
Jalan Rusak di Pinggiran Bandung Luput dari Proyek Pemeliharaan

Pohon tumbang di Jalan Maulana Yusuf, Bandung, Rabu (5/10/2022). Jumlah pohon di Bandung terus berkurang. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Pohon tumbang di Jalan Maulana Yusuf, Bandung, Rabu (5/10/2022). Jumlah pohon di Bandung terus berkurang. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Persoalan Tata Kota dan Lingkungan

Di luar faktor cuaca dan teknis, persoalan yang lebih mendasar terletak pada tata kota Bandung sendiri.

Jefry Rohman dari Walhi Jawa Barat menilai betonisasi di kawasan perkotaan melemahkan daya dukung tanah terhadap pohon. Permukaan tanah yang tertutup beton menghambat penyerapan air dan pertumbuhan akar.

Akibatnya, pohon menjadi lebih mudah tumbang saat hujan dan angin kencang.

“Satu penyebab utamanya adalah karena di sisi kiri kanan berdirinya pohon tersebut sudah tidak bisa lagi mengikat kontur tanah di dalamnya,” jelas Jefry kepada BandungBergerak, Kamis, 2 April 2026.

Berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) turut memperparah kondisi perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem. Saat ini jumlah pohon di Kota Bandung sekitar 229 ribu, jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 920 ribu pohon.

Minimnya ruang resapan air serta meningkatnya suhu perkotaan juga memperbesar tekanan terhadap pohon. Untuk mengatasi masalah tersebut, Jefry mendorong pemerintah memperluas hutan kota, tidak hanya mengandalkan pohon di tepi jalan.

“Karena kalau kita mengandalkan pepohonan di pinggir jalan walaupun bisa bertahan tapi tidak bisa bertahan sekian lama. Beda dengan keberadaan hutan kota,” katanya.

Rekomendasi Penanganan

Sejumlah kajian juga menyoroti pentingnya penanganan menyeluruh. Dalam penelitian Bambang Sulistyantara berjudul Upaya Menurunkan Risiko Pohon Tumbang, disebutkan beberapa faktor utama penyebab kerentanan pohon, antara lain, pemilihan jenis pohon yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan, penempatan pohon yang tidak tepat, tekanan lingkungan perkotaan seperti polusi, serta minimnya pemeliharaan.

Penelitian tersebut merekomendasikan empat langkah utama bagi pemerintah daerah, yaitu: memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam program penghijauan, merancang penanaman yang sesuai dengan ruang dan infrastruktur kota, memilih jenis pohon yang sesuai dengan kondisi iklim dan lingkungan, serta meningkatkan kualitas penanaman dan pemeliharaan. 

Jadi, tingginya kejadian pohon tumbang di Kota Bandung menunjukkan bahwa persoalan ini tidak semata dipicu cuaca ekstrem. Faktor teknis, keterbatasan perawatan, hingga tata kota yang kurang ramah lingkungan menjadi penyebab yang saling berkaitan.

Kombinasi faktor inilah yang membuat kejadian pohon tumbang terus berulang setiap tahun, bahkan ketika kondisi cuaca masih dalam kategori normal.

...

 *Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//