• Buku
  • RESENSI BUKU: Dongeng Pangeran Cilik untuk Orang Dewasa

RESENSI BUKU: Dongeng Pangeran Cilik untuk Orang Dewasa

Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry mengajak pembaca kembali melihat dunia dengan mata yang sederhana. Dan sering terlupakan saat dewasa.

Sampul buku Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. (Foto: Natalia Daniella Carla Sitorus/BandungBergerak)

Penulis Natalia Daniella Carla Sitorus5 April 2026


BandungBergerak - Di antara deretan buku yang memenuhi rak Perpustakaan Bunga di Tembok, mata saya berhenti pada sebuah novel bersampul sederhana namun mencuri perhatian. Buku itu tampak tenang. Judulnya Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Di sampulnya, seorang bocah berdiri sendirian di hamparan angkasa dikelilingi bintang-bintang. Sunyi, tapi mengundang rasa ingin tahu.

Novel yang aslinya berbahasa Prancis ini telah diterjemahkan lebih dari 300 bahasa, salah satunya bahasa Indonesia. Meskipun terlihat seperti buku dongeng anak-anak, kenyataannya novel ini dapat dibaca dan dinikmati juga oleh orang dewasa. Cerita di dalamnya membawakan kisah seorang anak laki-laki yang mengamati dunia dengan mata naif dan lugu, seperti layaknya anak kecil. Namun, kisahnya dapat menyentuh nilai-nilai dan berbagai pengalaman dasar yang dialami orang dewasa.

Meski merupakan cerita fiksi, pembuka novel ini mengisahkan karakter si “Aku” yang gemar menggambar sejak kecil, tepatnya ketika berumur enam tahun. Menariknya, kisah ini terinspirasi dari sang penulis, Antoine de Saint-Exupéry, yang merupakan seorang pilot berkebangsaan Prancis yang bertugas pada masa Perang Dunia II berlangsung.

Si “Aku” Bertemu Pangeran Cilik

Karya yang pertama kali digambar tokoh “Aku” adalah seekor ular sanca yang telah menelan gajah secara utuh. Gambar tersebut ditunjukannyalah kepada orang dewasa. Namun, sayangnya, orang dewasa tidak memahami apa yang digambar, hingga akhirnya orang dewasa menyuruhnya untuk berhenti menggambar.

Tokoh aku diminta berfokus pada ilmu-ilmu bermanfaat, seperti ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, dan tata bahasa. Tidak membantah, tokoh Aku mematuhi permintaan orang dewasa dan tumbuh besar menjadi seorang pilot yang telah menerbangkan pesawatnya ke mana-mana di dunia.

Enam tahun yang lalu, ketika Aku sedang menerbangkan pesawatnya, tiba-tiba pesawatnya mogok dan mendarat di Gurun Sahara akibat ada sesuatu yang patah dalam mesin.

Di tengah padang gurun yang sangat jauh dari peradaban manusia itu, Aku hendak hendak memperbaiki mesinnya sendiri. Namun, ternyata, ia tidak sendirian. Tibalah seorang anak kecil laki-laki tidak tahu dari mana asalnya dengan perawakan seperti pangeran cilik. Ia meminta tolong kepada Aku untuk menggambarkannya seekor domba.

Aku mengakui bahwa ia sudah tidak bisa menggambar lagi, maka ia menunjukkan gambar ular sanca yang memakan gajah kepada Pangeran Cilik. Tercengang, sang Pangeran Cilik ternyata mengerti apa maksud dari gambar itu lalu tetap meminta “Aku” untuk dibuat gambar seekor domba.

Begitulah awal mulanya Aku bertemu dan berkenalan dengan Pangeran Cilik. Waktu terus berlalu dan mereka berdua menghabiskan banyak waktunya bersama, hingga Aku mengetahui dari mana asal sang Pangeran Cilik dan bagaimana alur kehidupannya.

Diketahui bahwa Pangeran Cilik awalnya berjalan di sebuah planet sebesar rumah hingga pada akhirnya hanya tinggal sendirian ditemani dengan mawar kesayangannya.

Cerita pertemuan ini memberikan banyak pembelajaran di kehidupannya yang sudah tua ini, terutama ketika sang Pangeran Cilik berkelana melihat alam semesta dan mengunjungi beberapa asteroid. Ia telah bertemu dengan banyak penghuni di sana, kebanyakan mereka orang-orang dewasa dengan sifat yang berbeda-beda.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Kapitalisme, Kelas, dan Perubahan Agraria di Perdesaan
RESENSI BUKU: Malice, Misteri yang Membongkar Kedalaman Jiwa

Kedalaman Makna di Balik Kerumitan Bahasa

Novel yang terbilang tipis ini menyimpan makna mendalam dari sang penulis. Melalui narasinya, Antoine de Saint-Exupéry berhasil menggambarkan realitas dunia yang dijalani orang dewasa, kesalahpahaman yang kerap terjadi, hingga kebenaran sederhana yang sering terlupakan seiring proses pendewasaan manusia.

Melalui novel ini, pembaca akan diajak menyelami makna tersirat yang mampu menyentuh sisi emosional pembaca dan meninggalkan kesan yang membekas pada ingatan. Selain itu, daya tarik novel ini juga semakin diperkuat dengan adanya berbagai ilustrasi pendukung yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga membantu pembaca memvisualisasikan cerita yang tertulis.

Namun, sayangnya, novel ini bukanlah bacaan yang bisa dibaca sepintas saja, melainkan harus dibaca dengan ketelitian untuk memahami tiap diksi dan kalimat yang ditulis oleh Antoine. Penggunaan gaya bahasa yang kompleks mungkin akan membuat pembaca perlu menelaah alur cerita berulang kali untuk menangkap makna dari pesan yang disampaikan oleh penulis.

Terlepas dari kompleksitas penulisannya, karya ini tetap menjadi bacaan yang bagus dan sangat bermakna. Setiap bab pada novel ini menyajikan perspektif yang menarik, sehingga memicu rasa penasaran pembaca untuk terus membacanya hingga halaman terakhir.

Informasi Buku

Judul: Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

Penulis: Antoine de Saint-Exupéry

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Cetakan: Ke-36, Juli 2025

Jumlah Halaman: 120 halaman.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//