• Narasi
  • Sudah Kopo, Cimahi Pula

Sudah Kopo, Cimahi Pula

Saya membeku. Badan ini terlalu kaget untuk menolong keduanya saat itu.

Pembangunan Flyover Kopo, Kota Bandung, Senin (21/2/2022). (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak.id)

9 April 2026


BandungBergerak - Berawal dari penolakan warga Bandung atas narasi yang meromantisasi kota ini sebatas Jalan Braga, Lengkong Besar, dan Cihapit, belakangan banyak sekali orang penasaran dengan Kopo. Kata Akmal Firmansyah di tulisan terbarunya: Kopo lebih sering muncul sebagai keluhan ketimbang tujuan. Saya sepakat, tapi ada masanya, pada tahun 2023, saya memilih Kopo sebagai tujuan. Dan tantangannya, atau keluhan dalam bahasanya Akmal, jadi berlipat karena saya pun harus melintas bolak-balik jalur Cimahi. 

Memulai perjalanan setelah jam berangkat sekolah, saya tidak menemukan terlalu banyak hambatan. Hanya satu dua orang pengendara yang tiba-tiba memberi riting untuk nyelonong ke jalan kecil atau gang di kawasan permukiman di Cimahi. Sendatan akibat mobil atau bus yang putar arah di Jalan Soekarno-Hatta juga tidak jadi masalah pada jam-jam itu. 

Namun, suasana berbeda segera terasa di bawah Jalan Layang Perempatan Kopo ketika saya bersiap berbelok kanan, ke arah selatan, menuju Kopo. Fokus pandangan perlu ditingkatkan. Pemanasan jari-jemari yang memegang kendali gas dan rem dilakukan sembari menunggu lampu berganti warna menjadi hijau. Tak lupa, sarung tangan dikencangkan. 

Entah kenapa Jalan Kopo selalu ramai. Kendaraan besar bergantian keluar dari gerbang. Antrean kendaraan seketika memanjang. Anak-anak SD yang lalu lalang dengan berjalan kaki terasa lebih cepat dibandingkan orang-orang dewasa yang berkendara.

Baru selepas antrean, saya bisa bersiap menambah kecepatan. Tapi tunggu dulu, di depan masih ada jalan bergelombang yang harus dihindari dengan cekatan. Memang tidak ada papan tanda di sana, tapi saya hafal karena terlalu sering melewatinya.

Di Jalan Kopo, tentu bukan saya saja yang ingin bisa melenggang dengan kecepatan di atas 40 kilometer per jam. Ada ratusan orang pengendara lain. Ada juga truk-truk pengangkut logistik. Kami semua harus berbagi bidang jalan. 

Dan sudah bisa ditebak, baru setelah berbelok ke anak jalan, saya mendapati kondisi lalu lintas yang jauh lebih longgar dan memungkinkan untuk menambah kecepatan. Lumayan, tensi berkendara berkurang setidaknya 10 menit sebelum sampai tujuan.

Menjelang Buka Puasa

Dari sekian banyak perjalanan ke Kopo, ada satu yang perlu diceritakan: berkendara untuk berbuka puasa dan menikmati segelas kopi. Ketika itu tumpukan kendaraan memenuhi jalan. Bukan hanya dari arah Jalan Soekarno-Hatta ke selatan, tapi juga sebaliknya. Tidak sedikit warga selatan yang ingin berbuka di pusat Kota Bandung.

Harus diakui, perjalanan sore itu sungguh menguras kesabaran. Klakson bersahut-sahutan. Gestur kepala yang melakukan peregangan terlihat di mana-mana, meski ada pula seorang anak yang terus memperhatikan takjil yang baru saja dibeli. Saya terjebak di tengah kemacetan selama sekitar 30 menit. 

Ketika waktu sudah mepet benar ke azan magrib, barulah antrean kendaraan mulai terurai. Pedal gas di tangan kanan pun ditarik sekuat-kuatnya. Satu kilometer dilewati dengan lancar. 

Namun, beberapa kendaraan di depan tiba-tiba menepi. Saya pun memperlambat laju kendaraan. Ada seorang perempuan yang terjatuh karena terserempet kendaraan lain. Dia menangis sambil memegangi kakinya yang terluka. Terlihat beberapa gelas takjil yang tumpah membasahi sisi kiri jalan. Seorang perempuan memeluk sang korban, sementara seorang pengendara laki-laki mencoba menyelamatkan takjil yang masih bisa diambil.

Kendaraan yang diduga menyebabkan kecelakaan tidak berhenti. Mungkin pengemudinya terburu-buru, meski isi pikiran saya dengan jujur mengatakan hal lain: “Sakirana rusuh mah angkatna ti kamari.” 

Rupanya ada juga orang yang menyeret percakapan tentang keruwetan lalu lintas kawasan Kopo ke dalam sebuah penelitian. Rozanah Dzatil Bayan, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pada tahun 2023 menulis skripsi yang membahas pengaruh kemacetan di Jalan Raya Kopo terhadap perilaku mengemudi yang agresif (aggresive driving) pengendara motor. Kuesioner disebar ke 100 orang responden, yakni warga berusia 17-35 tahun yang secara rutin berkendara melintasi Jalan Kopo, dan hasilnya: nilai pengaruh diketahui cukup signifikan sebesar 28,9 persen. 

Baca Juga: Tentang Bocah Perempuan Pengamen di Persimpangan Kopo, tentang Kota yang Gagal Memberikan Ruang Aman
Dari Kopo ke Saparua, Konvoi Solidaristreet Mengantar Sahur bagi Perempuan Tunawisma Bandung

Membeku di Cimahi 

Dari Kopo, saya melanjutkan perjalanan ke barat: Cimahi. Kota ini memang bukan tujuan akhir, tapi harus saya lalui. Jalan Kopo sudah tidak begitu padat. Tensi berkendara bisa diturunkan, meski keawasan mata tidak boleh kendur. Bisa saja kelopak mata tiba-tiba terasa memiliki berat yang melebihi massa tubuh saya.

Di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta menuju Bundaran Cibeureum, suasana tidak jauh berbeda. Di lampu merah Perempatan Pasir Koja, dengan waktu menunggu yang terasa begitu lama, beberapa pengendara motor nekat naik ke trotoar.

Di Jalan Jendral Sudirman, ketika para pengendara lain memilih melesat, saya memilih melambat meski berdiam di jalur kiri kadang bukan keputusan yang bijak juga. Ada angkot yang berhenti terlalu lama, pejalan kaki yang harus turun ke badan jalan, dan kendaraan yang keluar dari Jalan Raya Cijerah. 

Namun, sejujurnya saya terlalu takut berada di jalur sebelah kanan. Malam itu, sekitar pukul sembilan, terdengar suara kendaraan cukup kencang di jalur tersebut. Tepat di median (trotoar di tengah jalan) setelah SPBU, dua orang muda terjatuh dari motornya matic-nya. Masih mengenakan sarung dan tanpa helm. Agaknya, si pengemudi gagal memperkirakan jarak antara ban depan dengan median yang akan ia lewati untuk memutar arah agar bisa berpindah jalur.

Saya membeku. Badan ini terlalu kaget untuk menolong keduanya saat itu. Beruntung masih ada banyak warga yang terjaga dan segera membantu. 

Perjalanan menuju batas kota Bandung-Cimahi, menurut saya, bukan sekadar usaha untuk bisa melewatinya, tapi juga memahami bagaimana pola para pengendara lain. Sudah jelas, bukan hanya dua orang muda yang terjatuh itu saja yang berkendara dengan kecepatan tinggi. 

Ketika batas kota sudah terlewati, saya harus bersiap menaiki Jalan Layang Cimindi yang tak kalah ekstrem. Penerangan jalan umum (PJU) di sana mati. Tak heran, pengendara motor berlomba-lomba adu terang lampu depan, seakan mereka ingin memindahkan cahaya matahari ke malam hari. Pola lubang dan gelombang di sini juga perlu dihafal karena setelah diperbaiki penyelenggara kota, hanya butuh dua bulan untuk rusak lagi.

Selepas jalan layang, di waktu tertentu jalanan yang memiliki lebar setara tiga mobil pribadi bisa berubah menjadi arena kesabaran selanjutnya. Cobalah melintas di sana pada kisaran jam empat sore sampai enam petang. Jalanan amat padat karena ada banyak siswa dan pekerja yang menempuh perjalanan pulang.

Titik puncak keruwetan ada di Jalan Lurah dan Jalan Gandawijaya. Jalur ini menjadi klimaks dari perjalan yang saya lewati. Kemacetan seperti terjadwal, yakni setiap momentum libur panjang, akhir pekan, menjelang hari raya, dan satu pekan terakhir ramadan. Saya membutuhkan bekal cukup untuk membantu terjaga sepanjang perjalanan. 

Bagi saya, rute bolak-balik Kopo-Cimahi terlalu kejam. Mungkin saya masih punya pilihan untuk tidak melewatinya, tapi tidak dengan mereka yang memang hidup dan bekerja di kawasan tersebut. Termasuk para pengemudi ojek online. 

Pernah saya mengatakan bahwa jalanan telah membuat saya lebih cepat tua. Namun salah seorang kawan melontarkan kalimat yang berhasil membuat saya merenung: “Jangan gitu, malu sama orang tua.” 

Doa baik untuk semua yang menghabiskan banyak waktu di jalan. Semoga keselamatan selalu menyertai! 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//