• Narasi
  • Saya Bersaksi Tidak Ada Macet dan Banjir di Jalan Kopo!

Saya Bersaksi Tidak Ada Macet dan Banjir di Jalan Kopo!

Orang Korea (Kopo Area) sejati adalah mereka yang penuh perhitungan dan disiplin terhadap waktu.

Deni Yudiawan

Jurnalis senior, pengajar, kini pengelola kemitraan dan bisnis BandungBergerak.id

Pembangunan Flyover Kopo, Kota Bandung, Senin (21/2/2022). (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak.id)

10 April 2026


BandungBergerak – Kopo diciptakan saat Tuhan sedang jamedud. Ah, itu sih pendapat mereka yang julid. Bagi orang Kopo sejati, kawasan ini sungguh istimewa.

Jalan Kopo adalah jalan terpanjang di wilayah Bandung Raya. Bisa dikatakan, hanya Jalan ini yang memiliki pangkal tapi tak punya ujung. Tak percaya? Coba sebutkan di mana ujung Jalan Kopo? Bahkan hingga ujung Ciwidey pun, orang Bandung menyebutnya bagian dari Jalan Kopo. Jika diukur dari pangkal Jalan Kopo di pertigaan Jalan Pasirkoja hingga perbatasan Cianjur (via Cipelah), jaraknya dapat mencapai 65 kilometer. Tidak beda jauh-lah dengan jarak dari Alun-alun Kota Bandung ke Alun-alun Garut.

Itu baru satu saja keistimewaan Jalan Kopo. Yang lainnya? Banyak!

Kopo adalah jalan pinggiran yang memiliki mal lengkap dengan bioskop bergengsi. Hanya jalan ini yang punya rumah sakit daerah (milik pemerintah) paling mentereng di Bandung dengan kualitas layanan prima. Selain jalan layang, Kopo juga memiliki dua gerbang tol (meski gerbang tol di bagian selatan agak nyingcet sedikit). Bahkan beberapa waktu lalu, banyak yang menyarankan agar kereta kilat Whoosh punya stasiun pemberhentian di Jalan Kopo. Amazing, kan!

Apa lagi sih yang tidak dimiliki Jalan Kopo?

Terminal Leuwipanjang yang menjadi stanplat paling akbar di Bandung Raya saja pintu keluarnya di Jalan Kopo. Jika ukuran terminal dianggap terlalu kecil, jangan salah, Kopo punya landasan pacu pesawat terbang, tepatnya di Lanud Sulaiman.

Dua jalan legendaris di Kota Bandung yaitu Cibaduyut dan Caringin juga berbatasan langsung dengan Jalan Kopo. Kita tahu bahwa Cibaduyut adalah sentra alas kaki buatan rumah terbesar di Jawa Barat dan Caringin terkenal dengan pasar induk terbesar di kawasan Bandung. Tak akan ada dua kawasan penting ini kalau tak ada Jalan Kopo.

Kopo juga menjadi tempat mekarnya budaya, baik urban maupun tradisional. Selama ini Ujungberung selalu dikaitkan dengan tempat berkembangnya band metal di Bandung. Padahal, Kopo menjadi rahim lahirnya band Rudal, pelopor speed metal di Indonesia. Mereka bersinar tahun 1990-an setelah masuk 10 besar festival rock yang digagas Log Zhelebour. Jangan lupakan pula Mel Shandy, lady rocker yang pernah tinggal di Kopo Permai.

Budaya tradisional pun tumbuh bersemi di Jalan Kopo. Padepokan Jugala pimpinan Gugum Gumbira terletak di pangkal Jalan Kopo. Jugala dikenal sebagai kawah candradimuka-nya tari jaipongan yang menjadi ciri khas budaya Sunda.

Siapa bilang Kopo sumpek? Melajulah sedikit ke selatan. Kita akan bertemu dengan hamparan kebun teh yang menyegarkan mata dan mental.

Kopo memang dikenal sering merendah. Diam-diam dia meroket.

Demi menepis banyaknya komentar julid dan iri dengki tentang Kopo, mari kita bedah tiga kerudetan yang sering dilekatkan ke kawasan ini: kemacetan, banjir, dan tata kelola, setidaknya dari sudut pandang penulis sebagai pituin Kopo yang setiap hari wara-wiri di aspal jalan ini dalam empat dekade terakhir.

Kendaraan melalui flyover Kopo,Bandung, saat uji laik fungsi, 22 September 2022. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Kendaraan melalui flyover Kopo,Bandung, saat uji laik fungsi, 22 September 2022. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Kopo (tidak) Macet

Siapa bilang Jalan Kopo selalu macet? Itu mah mitos! Perjalanan harian saya dari Soreang ke tempat kerja di daerah Pasirluyu, Kota Bandung sejauh 15 kilometer, selalu ditempuh dalam waktu tak lebih dari 40 menit dengan sepeda motor. Artinya, rata-rata kecepatan sepeda motor saya adalah 22,5 kilometer per jam. Iya, tergolong pelan sih, tapi kan urang Bandung mah selow, ga perlu grasa-grusu. Toh tidak sedang kebelet juga.

Kondisi Kopo padat, tapi tidak macet.

“Tapi saya mah selalu kena macet saat melintas Kopo. Rudet-lah,” ketus seorang kawan dari timur Bandung.

Wajar saja, karena dia bukan orang Kopo. Orang Korea (Kopo Area) sejati adalah mereka yang penuh perhitungan dan disiplin terhadap waktu. Seperti layaknya orang zaman purba yang bisa membaca arah lewat rasi bintang, orang Kopo itu harus tahu waktu. Tidak ngoyo. Jam 5 sore itu ya jamnya orang pulang kerja, jadi ya jangan lewat Kopo pas jam segitu atuh.

Manajemen waktu adalah kuncinya.

“Tapi, saya kan harus clocking. Kalau telat, tunjangan dipotong,” ucap kawan lain yang jadi budak korporat.

Ya berarti tempat kerja dia tidak paham artinya prinsip efektif dan efisien seperti yang dicetuskan Bapak Manajemen, Peter F. Drucker. Masa iya di tengah harga minyak dunia yang melambung, kita harus tetap WFO (work from office). Penyederhanaan proses dan digitalisasi dapat membuat banyak hal menjadi efisien, termasuk yang menyangkut layanan publik. Berpikirlah lebih cerdas, dibanding harus terus membakar bensin.

Kopo tidak macet. Jika pas macet sesekali, masuk tol saja. Dan jangan kaget, jalan tol Soroja adalah tol dengan ongkos paling mahal se-Indonesia. Jika rata-rata tarif tol di negeri ini Rp1.000-Rp1.500 per kilometer, tarif di tol Soroja bisa mencapai Rp2.800 per kilometer. Coba saja jalan dari gerbang tol Soreang ke Jalak Harupat Kutawaringin yang jaraknya hanya tiga kilometer, niscaya saldo e-toll kita akan langsung berkurang Rp8.500.

Tapi ya itulah privilese para pengguna mobil. Sedikit cambuk untuk kita kaum miss queen untuk menabung lebih banyak agar bisa memanjakan diri dengan kendaraan antihujan.

Masih tentang tuduhan macet, kita beralih ke jalan layang Kopo. Sangat jelas bahwa jalan layang ini terbukti telah mengatasi kemacetan. Maksud saya: betul-betul “meng-atas-i” kemacetan. Jembatan layang di atas, kemacetan di bawahnya. Wajar sih, karena asbabun nuzul pembangunannya tak berakar dari masalah utamanya. Yang macet Jalan Kopo, tapi jalan layang malah dibangun di Soekarno-Hatta. Mestinya jalan layang ini membentang dari pintu keluar tol Kopo hingga RS Bandung Kiwari, bukan membentang di jalan By Pass. Agar relevan, kini waktunya mengganti nama jalan layang Kopo menjadi jalan layang Soekarno-Hatta.

Kopo adalah the street that never sleeps. Ruas jalan ini hidup 24 jam. Jalan Kopo dengan senang hati menjadi penyelamat bagi orang-orang selatan yang menghindari banjir Dayeuhkolot. Ekonomi Kopo bergeliat, terlihat dari jejeran industri besar di sepanjang jalur ini ke arah selatan. Mulai dari beberapa pusat pergudangan, industri sepatu bermerek, hingga pabrik tas lokal berskala internasional. Mobil-mobil raksasa mereka berimpitan dengan pengguna jalan lain yang terasa kerdil di jalan sempit tersebut.

Jadi, “Kopo macet” itu hanya ada pada masalah perspektif. Manajemen waktu adalah kuncinya.

Pemilik warung tenda duduk di sisi dinding penuh kalimat bernada kritik sosial di kawasan Kopo Citarip, Bandung, Kamis (2/9/2021). (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Pemilik warung tenda duduk di sisi dinding penuh kalimat bernada kritik sosial di kawasan Kopo Citarip, Bandung, Kamis (2/9/2021). (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Kopo (tidak) Banjir

Beralih ke persoalan banjir. Cileuncang setinggi lutut sering menggenang di Citarip dan depan RS Bandung Kiwari. Kolam besar dadakan di tengah jalan juga terasa dahsyat di Sayati, tepatnya di jalan dengdek (miring)–agar lebih keren, warga lokal menyebutnya sebagai zadex. Titik-titik baru genangan merata dari Katapang hingga Soreang.

Meski demikian, daerah Kopo tidak dikenal sebagai daerah banjir. Karena saat banjir terjadi di Bandung selatan, media pasti menyorot Dayeuhkolot dan Baleendah, bukan Kopo. Itu artinya genangan cileuncang di Kopo tak seberapa dibandingkan dua wilayah tadi.

Betul, sering terjadi banjir di Kopo. Tapi lagi-lagi masalah manajemen waktu yang menjadi kunci. Jika hujan besar, ya tunggu saja sambil menyeruput kopi hitam dan mengunyah bala-bala. Apalagi pas Persib tanding, ya bisa nonton dulu sebelum pulang ke rumah sembari menunggu banjir surut.

Kita juga bisa berstrategi. Jika terjadi banjir besar di Sayati, ya tinggal lewat tol. Jika tidak bawa mobil, ya pakai Metro Jabar Trans dari Pasirkoja langsung ke Soreang. Murah meriah, cepat pula.

Jadi, jika ada yang selalu berkomentar bahwa di Kopo sering banjir, fix dia bukan orang Kopo!

Baca Juga: Sudah Kopo, Cimahi Pula
Mendengar Kopo, Mengapa Kita Memilih Putar Balik

Medan Perebutan Kekuasaan

Kebanyakan orang bingung, mana wilayah kota dan kabupaten Bandung di ruas Jalan Kopo. Kebingungan ini (mungkin) dimanfaatkan juga oleh aparat kepolisian. Saat kemacetan terjadi di Jalan Kopo, jarang ada polisi hadir. Apakah dari Polrestabes (Kota Bandung) ataupun dari Polresta (Kabupaten Bandung). Seakan terjadi lempar-lemparan tanggung jawab di daerah tak bertuan ini. Jangan heran, warga sendiri yang kerap mengatur lalu lintas saat macet. Ya, sering kali mereka menerima lembaran uang seribu dua ribu rupiah dari pengendara.

Pada tahun 1980-an, batas Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung di Jalan Kopo itu ada di dekat SPBU di pinggir Pesantren Sirnamiskin. Seiring dengan dibangunnya tol Padaleunyi, wilayah Kota Bandung menggembung. Batasnya menjauh hingga di bawah lintasan jalan tol. Itu menjadi bukti bahwa Kota Bandung ingin mendapatkan porsi yang lebih banyak di Jalan Kopo.

Kopo adalah medan pertempuran ekonomi. Mal dan area perbelanjaan di wilayah kota tentu ingin menyasar juga orang kabupaten. Di sisi lain, area wisata yang selalu dikunjungi orang kota menjadi sasaran empuk penyerapan cuan oleh orang kabupaten.

Dan terkait masalah tata kelola, Jalan Kopo adalah autopilot sesungguhnya. Kawasan ini tak pernah disentuh wali kota Bandung. Pun bupati Bandung. Meski sering dilintasi, tapi tak pernah dibenahi. Ya begitu-begitu saja dari dulu.

Namun, pemandangan yang sangat kontras akan terlihat saat menjelang pilkada. Jangan heran jika baliho besar calon bupati akan merangsek hingga wilayah kota. Demikian juga sebaliknya. Layaknya Al Quds di Yerusalem, Kopo menjadi medan pertempuran sesungguhnya untuk memperebutkan simpati orang Kopo yang sebenarnya tak pernah tahu yang mana pemimpin mereka.

Status Jalan Kopo sebenarnya adalah jalan provinsi. Jangan heran kalau jalan ini tak dilirik oleh wali kota maupun bupati. Jadi, tunggu saja, dalam waktu dekat, KDM akan ujug-ujug berjalan menyusuri jalan ini sambil vlogging, membagikan selembar dua lembar uang warna merah ke warga yang ditemuinya di jalan, lalu memberikan solusi instan meski tak menyentuh persoalan utama. Puja-puji kemudian akan mengiringi postingannya di media sosial.

Ahhh... menceritakan Kopo sama panjangnya dengan bentangan ruas jalannya meski ia hampir tak pernah mencolok di atas peta Bandung dan tak pernah muncul di FYP layaknya Jalan Dago dan Jalan Braga. Kopo tergolong rendah hati, jauh dari kata flexing.

Hai orang Bandung, berbahagialah jika kalian memiliki kawan atau bahkan pasangan orang Kopo, karena sudah pasti mereka terlatih menjadi orang yang sabar, tawakal, gigih, dan penuh perhitungan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//