• Berita
  • Punk Fotografi: Melawan Pakem, Meretas Ruang Baru di Bandung

Punk Fotografi: Melawan Pakem, Meretas Ruang Baru di Bandung

Dari kios kecil di Pasar Antik Cikapundung, Bandung Raws Syndicate mengusung fotografi sebagai sikap dan alat kritik sosial.

Diskusi dan pameran punk photography di Red Raws Center Pasar Antik Cikapundung, Bandung, Rabu, 8 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam10 April 2026


BandungBergerak - Di kios berukuran 2×2 meter Red Raws Center Pasar Antik Cikapundung, Bandung lagu Infected dari Bad Religion diputar pelan melalui televisi Android. Dinding bercat putih dipenuhi tulisan kritis tentang fotografi. Tema “Punk Fotografi Tidak Sekadar Praktik Berfotografi, tetapi Praktik Kemanusiaan”, tertulis di sana.

Sementara itu, di bagian tengah dinding terpampang tulisan besar: “God Save The Raws, Burn The Rules”. Kalimat ini terinspirasi dari lagu God Save The Queen milik Sex Pistols yang dirilis pada 1977, yang mengkritik keras monarki Inggris dan tatanan politik mapan yang diwakilinya.

Di lorong kios, orang-orang berbincang tentang fotografi modern yang kini diposisikan sebagai medium perlawanan. Mereka tengah bersiap membuka pameran bertajuk Punk Raws Showcase, Rabu, 8 April 2026.

Pameran ini diselenggarakan oleh Raws Syndicate sebagai eksperimen berpameran sekaligus ruang komersial bagi karya. Sebagai pembuka, diskusi bertajuk Punk Fotografi sebagai Metode Kerja digelar, dipandu oleh Wahyu Dhian dan Zaki Eka.

Membongkar Kemapanan Fotografi

Zaki Eka membuka diskusi dengan kritik terhadap praktik fotografi yang kaku dan berorientasi pada estetika semata. Ia menilai fotografi seharusnya menjadi sikap untuk melawan hegemoni standar visual, bukan sekadar mengejar keindahan.

Ia menawarkan punk photography sebagai metode kerja: cara memotret yang keluar dari pakem dan menolak anggapan bahwa foto harus selalu indah. Pendekatan ini mendorong pembongkaran cara pandang atas realitas visual, menolak kebenaran tunggal, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk mendefinisikan makna dalam praktiknya.

Eka juga mengkritik struktur hierarkis dalam fotografi—terutama di institusi formal—yang menentukan validitas dan estetika karya. Menurutnya, kondisi ini melahirkan relasi tidak seimbang, seperti senior–junior, serta mendorong repetisi karena fotografer mengikuti standar yang sudah mapan.

“Ketika penilaian bagus atau tidaknya foto ditentukan standar luar—entah institusi, pasar, atau algoritma—praktik fotografi cenderung berulang,” ujarnya.

Zaki Eka menegaskan bahwa punk photography lahir sebagai upaya untuk mendobrak cara pandang yang sudah mapan. Punk Fotografi hadir untuk mendorong kebebasan berpikir dan keberanian keluar dari standar yang telah ditentukan.

Baca Juga: Saya Bersaksi Tidak Ada Macet dan Banjir di Jalan Kopo!
Sudah Kopo, Cimahi Pula

Wahyu Dhian menambahkan, punk photography dapat dipahami sebagai “pisau bedah” untuk mengkritik standar visual itu sendiri. Ia menegaskan bahwa visual tidak pernah netral; selalu ada posisi dan keberpihakan di dalamnya.

Menurutnya, metode ini berangkat dari ideologi punk era 1970-an di Inggris dan Amerika, terutama semangat DIY (Do It Yourself) dan kemandirian. Dalam konteks fotografi, prinsip tersebut mendorong fotografer untuk berani bereksperimen dan tidak tunduk pada standar baku.

“Tidak ada yang netral dalam visual. Punk Fotografi selalu berpihak,” katanya.

Wahyu Dhian menyebut semangat punk yang berasal dari skena musik dapat diterapkan dalam fotografi sebagai alat perlawanan. Praktiknya bisa hadir lewat visual yang konfrontatif, termasuk penambahan teks kritis hingga bernuansa propaganda. Ia juga menekankan pentingnya melepaskan ketakutan terhadap penilaian estetika dalam berkarya.

“Apa yang harus kita takutkan dari berfotografi? Mau jelek atau bagus itu adalah karya kita,” katanya.

Dalam tulisan Anala Agusnur berjudul Fotografi Kontemporer sebagai Media Kritik Sosial dan Budaya, ditegaskan bahwa fotografi kini tidak lagi sekadar soal estetika. Karya fotografer seperti Oscar Motuloh dan Rio Helmi menunjukkan bahwa foto dapat berfungsi sebagai teks visual yang memuat ideologi dan kritik sosial.

Di Indonesia, fotografi kontemporer dinilai berperan dalam membangun kesadaran kolektif terhadap isu sosial dan budaya, melalui beragam strategi visual yang menyampaikan pesan kritis.

Tentang Pameran dan Komersialisasi

Pameran “Punk Fotografi Tidak Sekadar Praktik Berfotografi, tetapi Praktik Kemanusiaan” tidak hanya menampilkan visual, tetapi juga memuat sikap, narasi, dan muatan propaganda dalam satu kesatuan.

Raws Syndicate memperkenalkan format “ruang edisi” sebagai eksperimen pameran sekaligus ruang komersial. Selain memamerkan karya, program ini juga membuka penjualan karya dan produk turunannya.

Pameran berlangsung 8 April–3 Mei. Pengunjung dapat melihat sekaligus membeli karya Wahyu Dhian, termasuk zine dan berbagai merchandise seperti gantungan kunci, stiker, pin, baju, hingga kaset mixtape berisi kurasi band punk yang terhubung dengan isi zine.

Ruang edisi dirancang untuk memamerkan sekaligus menjual karya sebagai upaya menjangkau kolektor baru. Setiap bulan, satu seniman mempresentasikan satu proyek publikasi dengan tema bebas. Selain karya utama, turunan seperti kartu pos, artwork, dan merchandise juga dapat dipasarkan.

Format ini memberi ruang bagi seniman untuk memamerkan sekaligus mendistribusikan karya secara mandiri. Dengan demikian, seniman diharapkan bisa terfasilitasi untuk menjangkau kolektor-kolektor baru.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//