Melihat Interelasi antara Konsep Tritunggal dan Tri Tangtu
Tritunggal merupakan misteri iman yang khas dalam tradisi Kristiani, sementara Tri Tangtu lahir dari refleksi budaya masyarakat Sunda terhadap tatanan kehidupaan.

Ignatius Bintang Bala Surya dan Paskalis Ronaldo
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Ignatius) dan Calon Imam Diosesan Keuskupan Malang (Paskalis).
10 April 2026
BandungBergerak – Fenomena perjumpaan antara iman Kristiani dan budaya lokal menjadi medan refleksi teologis yang penting dalam masyarakat plural. Dalam konteks ini, Gereja dipanggil untuk mengembangkan pemahaman iman yang kontekstual melalui dialog dengan kearifan budaya-budaya setempat. Salah satu ajaran pokok iman Kristiani adalah Allah Tritunggal Mahakudus, yakni Allah yang esa dalam tiga pribadi yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sementara itu, dalam budaya Sunda dikenal konsep Tri Tangtu, yang menggambarkan tiga unsur dasar yang membentuk keseimbangan hidup dan kosmos.
Konsep Tri Tangtu mencerminkan struktur relasional yang menekankan harmoni dan keteraturan dalam kehidupan. Meskipun berasal dari latar belakang kosmologis yang berbeda dengan teologi Kristiani, konsep ini memiliki nilai reflektif yang memungkinkan untuk didialogkan dengan ajaran Tritunggal. Keduanya sama-sama berbicara tentang kesatuan dalam kejamakan, meskipun tidak dapat disamakan secara langsung dalam makna dan kedalaman teologisnya.
Tulisan ini akan mencoba menelaah interelasi antara konsep Allah Tritunggal dan Tri Tangtu dalam budaya Sunda. Kami mencoba untuk menggunakan pendekatan dialogis, analitis, dan mungkin cocokologi, untuk mencari titik-titik analogi yang dapat membantu pemahaman iman dalam konteks budaya lokal, namun tanpa mencampuradukkan kedua konsep tersebut. Lebih jauh, tulisan ini berupaya mengeksplorasi pemahaman iman Kristiani yang lebih kontekstual, khususnya bagi masyarakat Sunda. Dengan mendialogkan Tritunggal dan Tri Tangtu, diharapkan dapat tercipta jembatan untuk memperdalam penghayatan iman. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa iman Kristiani mampu berakar dan berkembang secara kritis dan kreatif dalam kebudayaan lokal.
Baca Juga: Beragama, Persimpangan antara Iman dan Penguasaan Diri
Satu Lebaran, Banyak Iman
Orang Muda Lintas Iman di Kota Bandung Menggali Akar Krisis Iklim dari Kehidupan Sehari-hari
Konsep Allah Tritunggal dalam Gereja Katolik
Konsep Allah Tritunggal merupakan inti iman Kristiani yang menegaskan bahwa Allah adalah satu dalam hakikat, tetapi hadir dalam tiga pribadi, yaitu Bapa, Anak (Putra), dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ini tidak terpisah, melainkan sehakikat (homoousios), sehingga tetap mempertahankan ke-esa-an Allah. Pemahaman ini tidak dimaksudkan untuk membagi Allah menjadi tiga, tetapi untuk mengungkapkan kekayaan misteri kehidupan ilahi yang melampaui akal manusia. Dalam Alkitab, khususnya melalui refleksi atas konsep Logos (Sabda) dan Theos (Allah) dalam Yohanes 1:1, tampak bahwa Bapa dan Anak memiliki perbedaan pribadi, namun tetap satu dalam kodrat ilahi. Dengan demikian, Tritunggal merupakan kesatuan yang dinamis, di mana perbedaan pribadi justru memperkaya kesatuan, bukan merusaknya.
Kesatuan Allah Tritunggal juga tampak secara nyata dalam karya keselamatan manusia. Prinsip teologis klasik opera Trinitatis ad extra indivisa sunt (Karya-karya Trinitas ke luar–dalam ciptaan–tidak dapat dipisahkan) dalam pemikiran Santo Agustinus menegaskan bahwa segala karya Allah di luar diri-Nya dilakukan secara bersama-sama oleh ketiga pribadi ilahi. Artinya, tidak ada karya yang dilakukan oleh satu pribadi tanpa keterlibatan pribadi lainnya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus senantiasa bekerja dalam kesatuan yang tidak terpisahkan dalam seluruh sejarah keselamatan manusia. Walaupun dalam pengalaman iman tampak adanya peran khusus seperti Bapa sebagai pencipta, Anak sebagai penebus, dan Roh Kudus sebagai pengudus dan penghibur, namun semuanya merupakan satu tindakan ilahi yang utuh. Prinsip ini menjaga keseimbangan antara pengakuan akan perbedaan pribadi dan kesatuan hakikat dalam Allah Tritunggal.
Relasi antarpribadi dalam Tritunggal menunjukkan bahwa Allah adalah persekutuan kasih yang sempurna. Bapa sebagai asal tanpa asal, Anak yang diperanakkan oleh ‘Bapa’ itu sendiri, dan Roh Kudus yang berasal dari Bapa (dan dalam tradisi Gereja Katolik Barat melalui Anak), hidup dalam hubungan yang kekal dan saling mengasihi. Roh Kudus bahkan dipahami sebagai ikatan kasih antara Bapa dan Anak, yang mempersatukan keduanya dalam kesatuan ilahi. Relasi ini tidak menunjukkan adanya tingkatan atau subordinasi, melainkan kesetaraan yang sempurna dalam keilahian. Dengan demikian, Allah Tritunggal bukan hanya satu secara ontologis (keberadaan atau realitas), tetapi juga satu dalam cinta kasih yang hidup dan dinamis.
Pemahaman tentang Allah Tritunggal mencapai puncak relevansinya dalam kehidupan Gereja sebagaimana ditegaskan dalam Konstitusi tentang Gereja yaitu Lumen Gentium (LG). Dalam LG artikel 4, dinyatakan bahwa Gereja hidup dari karya Allah Tritunggal yaitu Bapa merencanakan keselamatan, Putra melaksanakan penebusan, dan Roh Kudus menguduskan serta menghidupkan Gereja. Oleh karena itu, Gereja bukan sekadar lembaga manusiawi, tetapi merupakan persekutuan ilahi yang bersumber dari Tritunggal. Kemudian, dalam LG artikel 49 dan 50, dinyatakan bahwa Gereja dipahami sebagai persekutuan para kudus yang melampaui batas dunia, mencakup umat beriman di dunia, jiwa-jiwa yang dimurnikan, dan para kudus di surga. Semua anggota persekutuan ini dipersatukan dalam Allah Tritunggal dan mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya.
Dengan demikian, misteri Allah Tritunggal Mahakudus bukan hanya sebuah ajaran teologis yang abstrak, tetapi memiliki dampak yang mendalam bagi kehidupan iman Kristiani. Allah yang adalah persekutuan kasih menjadi model bagi kehidupan Gereja dan umat beriman untuk hidup dalam kesatuan, kasih, dan relasi yang harmonis. Keselamatan yang dialami manusia merupakan karya Tritunggal yang mengundang setiap orang untuk masuk ke dalam persekutuan ilahi tersebut. Oleh karena itu, iman kepada Allah Tritunggal mengarahkan manusia pada tujuan akhir hidupnya, yaitu bersatu dengan Allah dalam kasih yang kekal, sebagaimana dihidupi dalam persekutuan Gereja dan para kudus.
Tri Tangtu Dalam Falsafah Sunda
Dalam naskah sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M), masyarakat sunda kuno mengenal konsep nilai kearifan lokal yang disebut Tri Tangtu. Dalam penelitian Tri Tangtu on Sunda Wiwitan Doctrine in the XIV-XVII Century, dicatat bahwa “Tri Tangtu absorbs the three to unite, one for three, essentially three things in fact one” artinya konsep Tri Tangtu dibentuk sebagai konsep tiga untuk ber-satu, satu untuk ber-tiga, yaitu tiga unsur yang pada hakikatnya terjalin menjadi satu kesatuan.
Dalam konsep praktisnya, Tri Tangtu diterapkan di tiga bidang kehidupan yakni: Tri Tangtu di Raga (salira), Tri Tangtu di Nagara (masyarakat/pemerintahan), dan Tri Tangtu di Buana (alam semesta). Tri Tangtu di Raga berfokus pada dimensi individu, yang terdiri dari raga (badan), rasa (perasaan), dan ingsun (jiwa). Ketiga unsur ini memiliki interelasi yang penting. Analoginya kurang lebih seperti ini: tanpa ingsun (jiwa), keberadaan raga dan rasa dapat diibaratkan sebagai mayat. Ketiadaan rasa (perasaan), meskipun ada raga dan ingsun, akan menjadikan individu tersebut sebagai orang gila. Jika hanya ada rasa dan ingsun tanpa raga, entitas tersebut bukanlah manusia melainkan hanya roh.
Dalam tata masyarakat Tri Tangtu di Nagara, ketiga unsur itu diidentifikasi sebagai: Prabu/Ratu yang melambangkan pemimpin atau penguasa yang menjaga ketertiban kehidupan bersama, Rama yang melambangkan sosok pengayom yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, dan Resi yang melambangkan kebijaksanaan spiritual, sosok yang menjaga dimensi moral dan religius kehidupan.
Ratu adalah penguasa atau pemimpin pemerintahan yang memiliki fungsi pelaksana pemerintahan, dan pengambil keputusan kebijakan sosial. Dalam naskah siksa kandang karesian, Ratu dikenal dengan ratu ngagurat batu (menulis di batu), punya kesan kokoh-teguh, yang melambangkan ucap, pikiran/jembatan dari kehendak kemudian menjadi tindakan nyata. Ratu punya peran untuk memimpin negara dan bertanggung jawab atas kesentosaan rakyat.
Rama adalah pemimpin rakyat atau komunitas yang sering dikaitkan dengan tanah (dasar), maka dikenal istilah rama ngagurat lemah (menulis di tanah), mengajarkan tentang perbuatan nyata atau lampah. Rama adalah pemimpin rakyat di tingkat lokal, dan pelaksana teknis di masyarakat, ia adalah pengejawantahan langsung dari kehendak (Resi) dan pikiran (Ratu).
Resi berperan sebagai pemimpin agama, penasihat spiritual, dan penjaga nilai-nilai etika yang diajarkan. Maka dikatakan resi ngagurat cai (menulis di air), hal ini melambangkan kehendak dan tekad. Air dianggap punya sifat tenang namun menjiwai, yang melambangkan tekad dan kehendak/asal perbuatan.
Sementara itu, Konsep Tri Tangtu di Buana lebih jauh menguraikan sebuah pandangan mendalam mengenai keseimbangan fundamental yang harus dijaga dalam semesta kehidupan. Intinya adalah harmoni esensial antara tiga elemen utama yaitu, manusia (jalma atau manusa), alam semesta (buana atau lingkungan), dan Sang Hyang (atau Tuhan).
Manusia (Jalma), merupakan elemen sentral yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keharmonisan. Manusia tidak dilihat sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian integral yang harus selaras dengan lingkungannya. Keseimbangan ini menuntut kesadaran diri, etika, dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai spiritual.
Alam Semesta (Buana), meliputi seluruh lingkungan fisik, mulai dari tanah, air, udara, hingga flora dan fauna. Tri Tangtu menekankan bahwa alam adalah sumber kehidupan yang harus dihormati dan dilestarikan. Eksploitasi yang berlebihan atau perusakan alam dianggap sebagai tindakan yang mengganggu keseimbangan kosmis dan berakibat buruk bagi manusia itu sendiri.
Sang Hyang (Tuhan), melambangkan dimensi transendental, kekuatan tertinggi, atau prinsip ilahi yang menjadi sumber segala eksistensi. Keseimbangan spiritual (hubungan antara manusia dengan Sang Hyang) adalah fondasi bagi dua keseimbangan lainnya. Pengakuan dan ketaatan terhadap prinsip-prinsip ilahi inilah yang memandu manusia untuk memperlakukan alam dan sesamanya dengan penuh kebijaksanaan.
Ketiga unsur Tri Tangtu dalam Raga, Nagara, dan Buana tidak dapat berdiri sendiri. Mereka saling melengkapi dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam pandangan kosmologi Sunda kuno, harmoni kehidupan tidak tercapai jika salah satu unsur mendominasi atau menghilang.
Di dalam situasi masyarakat sunda kontemporer, Tri Tangtu di Nagara lebih banyak dikenal dan populer karena banyak naskah modern yang mengulas tentang hal itu. Konsep Tri Tangtu di Nagara juga seringkali dikomparasikan dengan konsep Trias Politica ala Montesquieu yang datang dari Perancis, karena pada hakikatnya sama-sama mengatur tentang pemerintahan.
Dalam Tri Tangtu di Nagara, Ratu harus memiliki sikap ngagurat batu, dalam menjalankan tugasnya, harus tegas dan tidak pandang bulu. Sedangkan rama harus mampu ngagurat lemah yang maknanya bisa membuat tanda di atas permukaan tanah, dan berfungsi sebagai petunjuk arah. Tanpa petunjuk yang dibuat rama, mereka yang berjalan diatasnya bisa kehilangan arah. Begitu juga seorang prabu dalam menjalankan tugasnya, harus mengikuti petunjuk yang dibuat oleh rama, yang pada dasarnya menyuarakan isi hati nurani rakyat.
Prabu dan rama akan bertambah kuat dalam mengelola negara jika dimbangi oleh resi yang tugasnya ngagurat cai. Resi mempunyai tugas jika ada pihak-pihak yang bersengketa, harus mampu mengembalikan ke kondisi semula tanpa bekas, tak ubahnya permukaan air yang tetap menyatu meskipun dengan susah diukir.
Analog dan Keterkaitan Tri Tangtu dan Tritunggal
Meskipun lahir dalam konteks berbeda, kedua konsep tersebut sama-sama membayangkan harmoni lewat tatanan tiga unsur. Tri Tangtu menekankan tiga peran sosial/spiritual yang membuat kehidupan manusia selaras, sementara Tritunggal menegaskan satu Allah dalam tiga pribadi sebagai inti iman Katolik. Kedua konsep ini menghargai keberagaman dalam kesatuan.
Dalam Tri Tangtu, unsur Ratu, Rama, Resi bersifat makrokosmos dan kontekstual dengan agama, negara, masyarakat. Sedangkan dalam doktrin Tritunggal, ketiga Pribadi Ilahi Bapa, Putra, Roh Kudus adalah hakikat Tuhan yang sama, saling berperan dalam karya keselamatan. Pada titik inilah muncul kemungkinan refleksi yang menarik, tentu tanpa harus memaksakan kesamaan antara konsep Tri Tangtu dan iman Katolik tentang Tritunggal. Jika dilihat secara simbolik, ada kemiripan dalam cara kedua tradisi ini memandang relasi antara tiga unsur yang berbeda namun tetap terhubung satu sama lain.
Dalam refleksi yang bersifat analogis, kami melihat kemiripan simbolik antara konsep Tri Tangtu di Nagara dengan Tritunggal. Seperti peran ratu yang mengingatkan pada gambaran Allah Bapa sebagai sumber dan pemelihara kehidupan. Rama, yang dekat dengan kehidupan manusia, yang mengingatkan pada sosok Yesus Kristus yang hadir di tengah manusia. Sementara itu, resi, yang melambangkan kebijaksanaan spiritual dan bimbingan batin, mengingatkan pada peran Roh Kudus yang menuntun kehidupan rohani umat.
Ratu dalam konsep Tri Tangtu melambangkan otoritas tertinggi, sumber hukum, dan pemelihara kehidupan di nagara (kerajaan). Perannya adalah memberikan landasan yang kokoh dan perlindungan bagi seluruh rakyat, Peran ini seolah mengingatkan pada gambaran Allah Bapa. Dalam konsep Tritunggal, Allah Bapa diyakini sebagai sumber segala sesuatu (Pencipta), yang darinya segala kehidupan berasal dan yang memelihara keberadaan alam semesta serta umat-Nya. Sifat Ratu yang digambarkan sebagai "ngagurat Batu" mengidentifikasi sifatnya yang kekal, tak berubah, mutlak, dan menjadi fondasi yang tak tergoyahkan. Identik dengan sifat Bapa yang transenden dan tidak berubah. Sifat ini menekankan bahwa Allah Bapa adalah kebenaran yang absolut, kekal, dan menjadi sumber hukum moral serta penciptaan yang tidak dapat diubah oleh waktu atau keadaan.
Rama, yang berarti “Bapak” atau “Pembimbing”, adalah sosok yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia berperan sebagai pamong, pengayom, dan pemandu dalam urusan sosial, adat, dan etika. Rama hadir di tengah-tengah rakyat untuk mendampingi dan memberikan petunjuk praktis. Peran ini mengingatkan pada sosok Yesus Kristus, Sang Putra, yang hadir di tengah manusia. Yesus Kristus diyakini sebagai Firman (Logos) yang menjadi manusia, hidup bersama manusia, dan menjadi teladan serta jalan menuju kebenahan. Sifat Rama yang digambarkan sebagai "ngagurat Lemah" mengidentifikasi sifatnya yang imanen, dapat dijangkau, fleksibel dalam konteks praktik kehidupan sehari-hari, dan akrab dengan kondisi kemanusiaan. Jejaknya bersifat nyata dan dapat diikuti. Identik dengan sifat Putra yang menjadi pedoman perilaku dan Menjadi Teladan. Sifat ini menekankan bahwa Yesus Kristus adalah manifestasi kasih Allah yang paling nyata, menjadi pedoman perilaku bagi umat manusia melalui ajaran dan kehidupan-Nya, serta menjadi jembatan penghubung antara yang ilahi dan yang insani.
Resi melambangkan kebijaksanaan spiritual tertinggi, bimbingan batin, dan penjaga nilai-nilai luhur keagamaan. Perannya adalah menuntun manusia pada pemahaman yang lebih dalam tentang kebenaran spiritual dan kesucian diri. Peran ini mengingatkan pada peran Roh Kudus, yang diyakini sebagai kuasa ilahi yang diutus untuk menghibur, memberi pencerahan, mengajarkan kebenaran, dan menuntun kehidupan rohani umat dari dalam hati. Sifat Resi yang digambarkan sebagai "ngagurat cai" mengidentifikasi sifatnya yang halus, meresap, menyebar luas, dan memiliki kemampuan untuk membersihkan serta memberi kehidupan. Meskipun jejaknya tidak kasat mata, dampaknya terasa. Identik dengan Roh Kudus yang meresap, memberi daya hidup, dan menghidupkan spiritual. Sifat ini menekankan bahwa Roh Kudus bekerja secara batiniah, menembus hati dan pikiran, menghidupkan iman dan rohani, serta membersihkan jiwa, memungkinkan umat untuk memahami dan melaksanakan kehendak Ilahi yang bersumber dari Bapa dan dicontohkan oleh Putra.
Dari situ kami melihat adanya kemiripan simbolik yang mendalam antara konsep Tri Tangtu di Nagara dalam tradisi Sunda kuno dengan doktrin Tritunggal dalam teologi Kristen. Tentu saja, analogi ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan kedua konsep tersebut secara teologis. Tritunggal tetap merupakan misteri iman yang khas dalam tradisi Kristiani, sementara Tri Tangtu lahir dari refleksi budaya masyarakat Sunda terhadap tatanan kehidupan, kemiripannya terlihat melalui peran dan sifat dari masing-masing elemen dalam kedua konsep tersebut.
Perjumpaan gagasan semacam ini menunjukkan bahwa berbagai kebudayaan manusia sering memiliki intuisi yang serupa tentang pentingnya keseimbangan dan relasi. Refleksi seperti ini juga mengingatkan bahwa iman tidak pernah hidup di ruang kosong. Ia selalu hadir dalam kebudayaan, bahasa, dan cara berpikir manusia di tempat tertentu. Pertemuan antara iman dan budaya lokal seharusnya tidak menghasilkan penyingkiran salah satunya, melainkan sebuah dialog yang saling memperkaya.
Hal semacam ini dapat menjadi pengingat bahwa misteri iman Kristiani tidak hanya dapat direnungkan melalui bahasa teologi yang formal, tetapi juga melalui kearifan budaya yang hidup di sekitarnya. Dalam perjumpaan antara iman dan budaya, sering kali kita menemukan cara baru untuk memahami kembali pesan yang sama: bahwa kehidupan yang harmonis lahir dari relasi yang saling melengkapi. Walaupun keduanya datang dari bahasa dan konteks berbeda, kedua konsep tersebut sama-sama merayakan kekuatan tiga unsur yang saling melengkapi, sebuah benang merah universal menuju harmoni. Dalam terang itu, baik Tritunggal dalam iman Katolik maupun Tri Tangtu dalam falsafah Sunda sama-sama mengajak manusia untuk melihat kehidupan bukan sebagai kumpulan unsur yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jaringan relasi yang saling menopang. Di sanalah harmoni menemukan tempatnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

