ULAS FILM: Menerka Karakter Dinamis Tante Yuli dalam Film Tunggu Aku Sukses Nanti
Karakter Tante Yuli dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti garapan sutradara Naya Anindita mencerminkan praktik kekuasaan simbolik yang bersifat ambivalen.
Penulis Arif Syamsul Ma'arif11 April 2026
BandungBergerak – Lebaran Idulfitri menjadi hari kemenangan bagi umat Islam setelah berpuasa sebulan penuh. Pada momen tersebut, silaturahmi antaranggota keluarga yang terpisah jarak terjalin dalam satu atap yang sama. Haru biru, canda tawa, hingga basa-basi mulai terkomunikasikan untuk sekadar menghangatkan suasana. Sayangnya, terkadang beberapa anggota keluarga–yang basa-basinya–acapkali mendapatkan respons yang kurang baik dari pendengar, mulai dari bahasan pendidikan, asmara, hingga pekerjaan. Bahasan tersebut cukup mengganggu suasana rumah yang seharusnya ceria bagi pendengar yang mungkin saja tengah struggling untuk hidupnya.
Itulah hal-hal yang didramatisasikan dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti yang digarap oleh Naya Anindita pada naungan RAPI Films. Film tersebut mengisahkan Arga (Ardhit Erwanda) yang berjuang guna menunaikan dendam-dendam validasi kepada sanak saudaranya. Pasalnya, Arga merasa tertinggal dari sepupu-sepupunya dari segi pendidikan dan karier pekerjaan yang melejit. Tak hanya itu, Arga pun harus berhadapan dengan masalah keluarganya yang sangat perlu pertolongan hingga asmara yang terancam kandas karena tuntutan pernikahan. Sayangnya, meskipun keluarganya merasa Arga sudah mencukupi, sanak saudaranya tetap memandang Arga sebagai anggota keluarga yang tertinggal.
Bagi yang sudah menonton, kalian semua pasti tahu bahwa tokoh sentral yang menyebabkan Arga menjadi insan yang ambisius adalah Tante Yuli. Tante Yuli (Sarah Sechan) adalah biang pemecut Arga supaya menjadi setara dengan sepupu-sepupunya. Namun, uniknya, karakter Tante Yuli tidak hanya hadir sebagai penekan, tetapi juga sebagai juru selamat Arga secara senyap.
Atas keunikan itu, karakter Tante Yuli perlu dibedah secara dalam menggunakan pendekatan sosiologi sastra dari Pierre Bourdieu karena tindakannya sering ditemukan di lingkungan masyarakat. Yeremia, Aslan, dan Ridwan (2025) mengatakan bahwa sosiologi sastra ala Pierre Bourdieu memandang sifat manusia sebagai hasil dari interaksi antara efek lingkungan sosial dan kemampuan individu dalam memanfaatkan peluang yang ada.
Hal tersebut dapat ditemukan via tiga konsep. Pertama, habitus dimaknai sebagai pengatur praktik-praktik sosial yang tercipta dari pengalaman yang panjang sehingga terjadi suatu konstruksi sosial yang terinternalisasi. Kedua, ranah dimaknai sebagai lingkup kompetisi yang di dalamnya terdapat modal-modal sosial untuk mempertahankan kekuasaan yang ada. Ketiga, modal dimaknai sebagai relasi sosial yang ada di dalam suatu sistem pertukaran baik tersurat maupun tersirat.
Baca Juga: ULAS FILM: Panggil Aku Ayah, Film Adaptasi yang Membumi
ULAS FILM: Menilik Fenomena Akar Rumput di Pantura dalam Film Pangku
ULAS FILM: Merasakan Keberadaan Karakter Tak Terlihat Melalui Film Siti dan Sore
Tekanan Tante Yuli
Dari segi habitus, konsep tersebut terjadi dari kebiasaan masyarakat yang berkumpul pada suatu tempat, seperti rumah orang tua hingga tempat wisata. Film tersebut menggambarkan suasana berkumpul keluarga di rumah neneknya–yang ditempati juga oleh keluarga kecil Arga. Hal tersebut rutin dilakukan mulai dari Arga yang masih duduk dibangku SD, lulus sekolah, hingga sudah bekerja–kurang lebih latar terakhirnya pada tahun 2026.
Habitus yang terjadi pada film tersebut menekankan pada pengalaman budaya dalam membentuk disposisi individu ketika bertindak, berpikir, dan merasakan. Dari segi budaya, film tersebut menggambarkan kebiasaan masyarakat yang selalu basa-basi saat bertemu dengan anggota keluarganya, seperti menanyakan kabar pendidikan, asmara, hingga pekerjaan. Budaya tersebut lumrah dilakukan hanya untuk mengetahui kabar dari individu maupun kelompok sebab Lebaran adalah momen di mana sanak saudara yang lama terpisah kembali berkumpul untuk bersilatuhrami.
Habitus inilah yang dimanfaatkan oleh Tante Yuli. Setiap Lebaran, basa-basi yang selalu Arga dengar dari Tante Yuli adalah perihal pekerjaan karena sepupu-sepupu yang satu angkatan dengannya sudah mendapatkan pekerjaan yang mentereng. Arga yang sudah menganggur selama 3 tahun merasa jengah karena dianggap gagal dan tidak pernah berusaha untuk mencari pekerjaan. Parahnya lagi, tekanan tersebut membuat Arga harus memblokir kontak Whatsapp Tante Yuli.
Dari segi modal, Tante Yuli memiliki kedudukan tinggi di keluarganya sebagai kakak dari ayahnya Arga. Dalam cerita, Terlihat Arga sedang memandangi ruang tamu dari luar rumah. Ia dikabarkan oleh adiknya bahwa ayahnya sedang diceramahi oleh Tante Yuli karena lagi-lagi meminjam uang untuk keperluan pendidikan sang adik. Tak hanya itu, Tante Yuli selalu membanggakan anaknya si Dwiki (Afgansyah Reza) yang sudah menjadi manajer perusahaan di SCBD dalam kurun waktu 11 bulan hingga membeli motor seharga 150 juta rupiah.
Ketimpangan ekonomi dan representasi sosial menjadi senjata bagi Tante Yuli agar bisa menekan Arga perihal pencapaian. Tak hanya sampai situ, pencapaian Arga yang sudah kerja pun masih belum memuaskan hasrat Tante Yuli untuk memberikan apresiasi. Dengan begitu, hal tersebut menunjukkan bahwa seorang individu yang mempunyai modal dapat terus menguasai individu lain sehingga ketimpangan sosial di lingkup kecil terjadi.
Dari segi ranah, Tante Yuli sudah mempunyai bekal untuk “bertarung” di arena cerita. Dari modal, ia sudah mempunyai modal ekonomi dan modal simbolik (representasi sosial); dari habitus, ia memanfaatkan momen Lebaran. Konflik sosial terjadi karena modal ekonomi dan modal simbolik Tante Yuli dalam mode aktif. Selain itu, posisi Tante Yuli bersama saudara perempuannya dari pihak ayah Arga menunjukkan bahwa mereka berada dalam kondisi ekonomi yang mapan. Kemapanan tersebut kemungkinan besar diperoleh melalui perjuangan suami mereka. Sementara itu, ayah Arga justru digambarkan sebagai sosok yang kurang beruntung secara ekonomi sehingga harus menanggung beban hidup yang lebih besar. Dari situlah Tante Yuli bisa leluasa menguasai arena sosial dalam cerita untuk menekan Arga agar menjadi lebih baik.
Kepedulian Tante Yuli
Penonton yang menonton film tersebut memang kesal terhadap Tante Yuli. Sungguhpun begitu, pada bagian antiklimaks hingga resolusi, Tante Yuli ternyata diam-diam memberikan suntikan spirit terhadap Arga.
Hal tersebut dimanfaatkan Tante Yuli dari segi modal sosial, khususnya relasi kuasa. Ceritanya mengisahkan bahwa Arga baru saja diterima kerja sebagai sales perumahan ternama. Sebagai seorang sales, Arga dituntut untuk bisa menjual hunian minimal 2 unit dalam satu bulan. Tante Yuli yang mengetahui kabar tersebut lantas meragukan kemampuan Arga dalam pekerjaan saat kumpul lebaran. Atas kerja kerasnya, Arga pun mendapatkan pembeli pertama sehingga akhirnya mendapatkan komisi.
Si pembeli yang bernama Pak Marwan (Indra Brasco) ternyata mendapatkan rekomendasi dari Tante Yuli. Sayangnya, Arga mendapatkan kabar tersebut saat Pak Marwan mengunjungi makam Tante Yuli yang meninggal akibat serangan jantung. Tak hanya itu, saat Arga melayat, suami Tante Yuli memberikan bukti chat WA-nya dengan Arga–yang tak terbaca sebab diblok–yang berisi kekhawatiran dan dukungan agar Arga semangat bekerja dan bisa mengimbangi para sepupunya.
Secara sosiologis, sikap Tante Yuli mencerminkan praktik kekuasaan simbolik yang bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia menekan Arga melalui standar kesuksesan yang ketat, namun di sisi lain ia memanfaatkan modal sosialnya untuk membantu Arga memperoleh peluang kerja. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hubungan keluarga, tekanan tidak selalu berarti kebencian, tetapi bisa juga menjadi bentuk kepedulian yang tidak diungkapkan secara langsung.
Dari cerita tersebut, kuasa Tante Yuli ternyata tidak separah itu. Kita mengetahui bahwa di balik cerewetnya Tante Yuli, hati kecilnya ingin melihat Arga bisa sukses dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Ia tidak ingin Arga bernasib seperti Ayahnya yang kurang beruntung. Selain itu, Tante Yuli pun mengajarkan bahwa seorang individu harus mengimbangi antara memberikan motivasi–baik lembut maupun kasar–dan solusi. Jika Tante Yuli bodo amat, Arga mungkin tidak akan pernah bisa menyewakan ruko mi ayam, membeli motor PCX, hingga mendapatkan 30 juta pertamanya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

