RESENSI BUKU: Indonesia sebagai BukuRealisme Magis
Dari lokalitas, mitos, dan konflik identitas, Titah AW merangkai kisah Parade Hantu Siang Bolong. Jurnalisme sastrawi sebagai cara memahami realitas sosial.
Penulis Retna Gemilang12 April 2026
BandungBergerak - Pengeras suara masjid mengumumkan kematian Bapak. Nama itu disebut dengan awalan “Innalillahi”, sesuatu yang terasa ganjil bagi Titah AW. Bapaknya adalah seorang penghayat kepercayaan Kapribaden yang meninggal 2018, tetapi di Kartu Tanda Penduduk tercatat sebagai muslim. Di tengah duka, keluarga harus menerima satu hal: permakaman akan berlangsung secara Islam.
Di permakaman itu, kompromi terjadi. Prosesi dijalankan sesuai syariat Islam, sementara di hari berikutnya, keluarga dan komunitas penghayat menggelar ritual mereka sendiri. Bagi Titah dan ibunya, keputusan ini bukan soal keyakinan semata, melainkan jalan praktis agar semua pihak merasa terakomodasi dalam ruang sosial yang komunal.
Pengalaman personal itu kemudian ditulis Titah dalam reportase berjudul “Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yang Penghayat”, yang menjadi bagian dari buku Parade Hantu Siang Bolong (Warning Books). Jurnalis lepas berbasis di Yogyakarta ini mengumpulkan 16 reportase bergaya jurnalisme sastrawi yang mengeksplorasi mitos, lokalitas, dan pengalaman manusia yang bersinggungan dengan kepercayaan.
Tulisan Titah berdiri di antara reportase dan memoar. Namun, pendekatan itu justru memperkuat nilai jurnalistiknya. Ia menulis berdasarkan peristiwa nyata, menghadirkan tokoh-tokoh yang terlibat, serta menyusun konflik yang jelas antara keyakinan personal dan tekanan sosial.
Konflik utama dalam reportase ini bersifat batiniah. Titah dan ibunya harus menghadapi ketegangan antara identitas Bapak sebagai penghayat dan realitas sosial yang menuntut permakaman secara Islam. Pembaca diajak masuk ke dalam rasa janggal, kehilangan, sekaligus penerimaan yang tidak sepenuhnya tuntas.
Selain konflik, kekuatan tulisan ini terletak pada akses dan kedekatan. Titah tidak hanya melaporkan, tetapi juga menjadi bagian dari peristiwa. Ia memiliki akses langsung pada narasumber utama, keluarganya sendiri, serta pengalaman yang tidak dimiliki jurnalis lain.
Emosi dalam tulisan mengalir tanpa berlebihan: duka, kebingungan, hingga kompromi yang terasa pahit namun perlu. Alur waktu disusun lentur, bergerak dari ingatan masa kecil, momen kematian, hingga kilas balik pertemuan terakhir dengan Bapak.
Di balik kisah personal itu, Titah juga menyinggung isu yang lebih luas: kebebasan beragama dan berkeyakinan di tingkat lokal. Ia memperlihatkan bagaimana penganut aliran kepercayaan masih harus bernegosiasi dengan norma mayoritas, bahkan dalam momen paling intim seperti kematian.
Reportase ini menunjukkan bahwa jurnalisme tidak selalu harus berjarak. Dalam tangan Titah, pengalaman personal justru menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan sosial yang lebih besar tentang identitas, kompromi, dan ruang hidup yang tak pernah sepenuhnya privat di Indonesia.
“Di Indonesia, lahir, mati, menikah, dan acara-acara penting dalam hidup adalah acara komunal. Ruang privat di masyarakat ini selalu bersinggungan dengan kepentingan kelompok. Sifat komunal ini mau tak mau mengendap, tak peduli apapun ideologi, prinsip, kepercayaan, atau kepentingan pribadi apapun. Sikap kompromi Ibuk untuk saya adalah keputusan praktikal yang membuat semua pihak merasa senang dan terakomodasi kepentingannya,” (halaman 53).
Baca Juga: RESENSI BUKU: Dongeng Pangeran Cilik untuk Orang Dewasa
RESENSI BUKU: Menakar Ikhlas di Tengah Takdir, Kumpulan Cerpen Mustofa Bisri
Merekam Lokalitas yang Kerap Terlewat
Pengumuman kematian lewat pengeras suara masjid itu bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana ruang hidup di Indonesia bekerja: komunal, berlapis, dan sarat negosiasi. Dalam ruang seperti itulah mitos, kepercayaan, dan praktik lokal tumbuh—sering hadir dalam keseharian, tetapi jarang benar-benar dipahami.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak selalu tampak di permukaan. Ia hidup dalam kebiasaan, ritual, hingga cara masyarakat memaknai peristiwa sehari-hari. Namun, liputan media arus utama kerap berhenti pada permukaan—sekadar mendeskripsikan tradisi tanpa menggali makna, konflik, dan pengalaman manusia di dalamnya. Akibatnya, cerita tentang budaya terasa datar dan kehilangan daya hidup.
Di titik inilah kepekaan menjadi penting. Jurnalisme tidak cukup hanya mencatat, tetapi juga merasakan, mengamati, dan menentukan keberpihakan. Titah AW dalam buku kumpulan reportase Parade Hantu Siang Bolong, mengangkat beragam tema: dari praktik dukun di Gunung Lawu yang memberi petunjuk tentang orang hilang, konvoi motor “blombongan” di Yogyakarta saat musim politik, hingga tradisi kawin batu di Majalengka.
Tema-tema tersebut mungkin terdengar ganjil, tetapi justru di situlah letak kekuatannya—menghadirkan sisi Indonesia yang jarang dilihat, namun nyata. Titah memandang realitas Indonesia sebagai sesuatu yang tak sepenuhnya rasional.
“Jika Indonesia adalah buku, pasti genre-nya adalah realisme magis,” tulis tulis Titah dalam laporan bertajuk “Pengalamanku Ikut Pesta Antar-Dimensi Bareng Roh Halus di Ebeg Banyumas” (halaman 10).
Cerita-cerita yang ditulis Titah sama-sama memiliki realitas yang umumnya belum diterima di masyarakat, tapi pada dasarnya realitas ini hadir di kehidupan sehari-hari kita sebagai negara dengan beragam budayanya.
Melalui pendekatan realisme magis, ia tidak memisahkan mitos dari kehidupan sehari-hari. Keduanya hadir berdampingan, membentuk cara masyarakat memahami dunia.
Pendekatan tersebut ia bangun lewat jurnalisme sastrawi—genre yang menggabungkan ketelitian reportase dengan kekuatan narasi. Tulisan disusun berdasarkan fakta, tetapi disampaikan dengan alur, karakter, dan emosi yang kuat. Pembaca tidak hanya mengetahui peristiwa, tetapi juga merasakannya.
Jurnalisme sastrawi, jurnalisme naratif atau literary journalism, merupakan genre jurnalisme yang dikenalkan oleh Tom Wolfe, penulis dan jurnalis Amerika pada 1960-an dengan sebutan ‘new journalism’ (jurnalisme baru).
Andreas Harsono dalam pengantar buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2008) menjelaskan, jurnalisme sastrawi adalah salah satu genre jurnalisme yang mana reportasenya dikerjakan dengan mendalam, penulisan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca.
Robert Vare dalam buku Jurnalisme Sastrawi (2008) memformulasikan tujuh aspek yang harus ada saat menulis narasi: fakta, konflik, karakter, akses, emosi, perjalanan waktu, dan unsur kebaruan.
Berbeda dengan liputan konvensional, jurnalis yang menulis dalam genre ini tidak mengambil jarak. Titah, misalnya, ia terlibat langsung dalam peristiwa, menggunakan observasi imersif untuk menangkap pengalaman secara utuh. Kedekatan ini membuat laporannya terasa personal sekaligus otentik, tanpa kehilangan pijakan faktual.
Melalui cara itu, lokalitas tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang “asing” atau “kuno”. Ia justru hadir sebagai bagian dari identitas yang terus hidup dan berubah. Cerita-cerita ini mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan praktik yang dijalani sehari-hari—sering kali tanpa disadari.
Dengan jurnalisme sastrawi, Titah berhasil membangun cerita lokalitas menjadi lebih hidup dan kaya. Buku ini dapat menjadi rujukan dalam menulis budaya dengan pendekatan jurnalisme sastrawi.
Pada akhirnya, reportase Titah bukan hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga membuka ruang refleksi. Bahwa di tengah modernisasi, kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merawat lokalitas menjadi semakin penting—karena di sanalah kita menemukan cara untuk tetap terhubung dengan siapa kita sebenarnya.
Informasi Buku
Judul Buku: Parade Hantu Siang Bolong
Penulis: Titah AW
Genre: Sosial-Budaya
Penerbit: Warning Books
Tebal buku: xxi + 247 halaman
Cetakan: Kedelapan, Desember 2025
ISBN: 978-623-93304-8-4.

