• Buku
  • RESENSI BUKU: Menakar Ikhlas di Tengah Takdir, Kumpulan Cerpen Mustofa Bisri

RESENSI BUKU: Menakar Ikhlas di Tengah Takdir, Kumpulan Cerpen Mustofa Bisri

Buku Kumpulan Cerpen Mustofa Bisri mengajak pembaca menyelami dunia pesantren, menggugat prasangka, dan memahami bahwa kebaikan merupakan jalan pulang kepada Tuhan.

Sampul buku Lukisan Kaligrafi (Kumpulan Cerpen) karya Mustofa Bisri, Cetakan 1, 2003. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah5 April 2026


BandungBergerak –  Hidup tak selalu dimenangkan oleh mereka yang kuat atau berkuasa. Namun dari keseharian yang tampak remeh mulai dari dapur, teras, sampai ruang-ruang pengajian itu lahir hikmah yang mengendap-endap.  Bisa jadi takdir berpihak baik kepada kita. Hal itulah yang dihadirkan Mustofa Bisri dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi (2003).

Sebanyak enam belas cerpen dalam buku ini mengisahkan kehidupan yang kerap tak berjalan sesuai harapan, tetapi menyimpan pelajaran tentang keikhlasan dan laku hidup. Seluruh cerita berlatar dunia pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, membawa pembaca menyusuri kehidupan kiai kampung, anak pewaris pesantren, sampai cerita santri yang mengabdi kepada gurunya.

Dalam tradisi pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, keturunan atau pewaris pesantren akrab disapa “Gus” atau “Cak”, sementara di Jawa Barat dikenal dengan sapaan “Ceng”. Sapaan “Gus” pula yang melekat pada penulis buku ini, Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, seorang ulama, penyair, sekaligus budayawan asal Rembang.

Gus Mus lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Ia menempuh pendidikan di sejumlah pesantren, seperti Lirboyo di Kediri dan Krapyak di Yogyakarta, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Latar pendidikan dan pengalaman hidupnya di dunia pesantren memberi warna kuat pada cerpen-cerpen dalam buku ini.

Kumpulan cerpen ini menjadi perkenalan saya dengan karya prosa Gus Mus, setelah sebelumnya mengenal puisinya melalui karya Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana dari secuplik video yang tayang di YouTube dibacakan Peri Sandi Huizche. Buku ini saya dapatkan dari seorang pedagang buku langganan, dengan seharga semangkuk bakso dan segera saya tuntaskan.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Membunuh Harimau di Dalam DiriRESENSI BUKU: Perlawanan Sunyi Kaum Hawa Melalui Cerpen

Keikhlasan yang Diuji dalam Laku Hidup Sehari-hari

Dalam tradisi Islam dikenal istilah dakwah. Menurut KBBI, dakwah adalah penyiaran agama; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.

Cerpen Mustofa Bisri ini banyak menceritakan para pendakwah yang menyerukan dan mengamalkan ajaran agama agar senantiasa ikhlas. Buku ini dibuka dengan cerita berjudul “Gus Jakfar” seorang kiai sakti yang disebut memiliki ilmu kasyaf, ilmu yang mengetahui hal gaib dan batin.

Pengetahuan yang dikuasai Gus Jakfar, pewaris Pesantren Sabilul Muttaqin yang didirikan oleh ayahnya Kiai Saleh, membuat ia dekat dengan masyarakat. Namun, ilmu kasyaf itu tak lagi digunakan oleh Jakfar setelah ia bermimpi bertemu mendiang ayahnya dan meminta untuk berguru ke ulama bernama Kiai Tawakkal.

Kiai Tawakkal dikenal Mbah Jogo. Saat berilmu ke Kiai Tawakkal, Jakfar dengan kekuatan ilmu kasyafnya melihat tanda bertuliskan “Ahli Neraka” di jidatnya. Hal itu mendorongnya mengikuti dan mengintip gurunya pada malam hari. Ia mendapati sang guru berada di sebuah warung, dikelilingi orang-orang kecil dan perempuan yang tidak menutup aurat.

Upaya mengintip Jakfar ketahuan. Ia dipanggil oleh gurunya hingga duduk sama-sama di warung. Kemudian, mereka pulang. Setibanya di pondokan, Kiai Tawakkal memberikan wejangan kepada Jakfar.

Sebagai kiai muda, kata Kiai Tawakkal, Jakfar telah menilai orang lain dengan cepat, seolah bisa memastikan siapa yang layak masuk neraka atau surga. Jakfar diingatkan bahwa pandangan manusia sering keliru dan tidak sepenuhnya jernih. Soal surga dan neraka adalah hak Allah, bukan sesuatu yang bisa dipastikan manusia.

Ia juga diingatkan bahwa tidak ada orang yang bisa menjamin dirinya masuk surga atau memastikan orang lain masuk neraka. Kebaikan yang dilakukan bukan untuk menuntut balasan, melainkan untuk mendekat kepada Allah. Bahkan kebaikan itu sendiri berasal dari-Nya, sehingga manusia tidak pantas menyombongkannya.

“Kau tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau neraka,” ucap Kiai Tawakkal, kepada Jakfar.

“Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? kebaikan kita pun berasal dari-Nya, bukankah begitu?” sambungnya (halaman 11).

Cerita mengenai keikhlasan dan cobaan bagi para pendakwah juga diperlihatkan oleh Gus Mus dalam cerita lainnya. Pada judul “Gus Muslih”, Gus Mus menceritakan seorang ulama kondang yang berceramah kontroversial dan dianggap memelihara hewan anjing.

Hewan anjing penuh perdebatan dalam fiqh Islam karena dianggap najis dan haram. Saat itu Gus Muslih baru selesai memberikan khutbah salat Idulfitri di suatu kampung. Ia kemudian pulang dan diantarkan oleh jamaah. Namun, jamaah kaget saat Muslih menyelamatkan hewan anjing di pinggir jalan.

Kabar itu kemudian ramai di seluruh penjuru. Gus Muslih mengurus hewan anjing. Muslih bilang ke murid-muridnya,

“Aku sedih, ternyata Ramadan masih belum sebenar-benarnya berpengaruh hingga ke sanubari kaum muslimin. Banyak yang seperti merayakan kemenangan kosong. Setiap saat, khususnya di bulan Ramadan kemarin, mereka selalu membaca basmalah, bukan saja tidak tertulari kasih sayang-Nya, malahan banyak yang masih memelihara kebencian setan,” (halaman 19).

Tentang keikhlasan dalam berdakwah juga termuat pada beberapa cerpen lainnya seperti “Amplop-Amplop Abu” dan “Bidadari Dibawa Jibril”.

Sementara beberapa cerpen lainnya menceritakan mengenai laku hidup. Hidup yang kadang garis takdir berkata lain semisal cerita “Ning Umi” kembang pesantren yang digadang-gadang akan menikah dengan anak kiai terkenal. Namun Umi justru menjadi istri kedua dari kiai ternama.

Kemudian ada pula seorang santri yang mengabdi lama kepada kiai. Ia selalu menjadi panitia pernikahan anak perempuan kiai. Berharap bisa menikahi serta dijodohkan, namun takdir berkata lain. Ia justru menikahi istri mendiang kiai, seperti terlihat pada cerita berjudul “Kang Amin”.

Adapun cerpen “Lukisan Kaligrafi” mengisahkan seorang ustaz melukis dan mengikuti pameran. Ia tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan melukis, hanya mempunyai bekal ilmu kaligrafi. Keajaiban justru datang dari lukisan berjudul ‘Alifku Tegak Di Mana-mana’ yang ditawar oleh kolektor dengan harga jutaan dollar.

Cerpen pamungkas ditutup dengan kisah seorang perempuan tua dengan pasangannya yang selalu beristigfar saat melaksanakan salah satu rukun haji yakni wukuf di Arafah. Perempuan tersebut merupakan mantan pekerja seks komersial yang diselamatkan oleh suaminya. Mereka menjalani hidup lebih baik dan menabung untuk membiayai haji.

Seluruh cerpen di dalam buku ini membawa pesan transedental dari keseharian sosial. Kita tak tahu di depan ada cerita apa dan bagaimana. Barangkali semua sudah ditakdirkan oleh-Nya dan kita hanya bisa mengusahakan sebisa-bisanya. Allahu’allam.

Informasi Buku:

Judul: Lukisan Kaligrafi (Kumpulan Cerpen)

Penulis: Mustofa Bisri

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun: Cetakan 1, 2003.

ISBN: 979-709-101-5

Jumlah Halaman: x-134 halaman.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//