• Buku
  • RESENSI BUKU: Membunuh Harimau di Dalam Diri

RESENSI BUKU: Membunuh Harimau di Dalam Diri

Mochtar Lubis menggambarkan harimau di roman Harimau! Harimau! dalam dua bingai: harimau liar yang hidup di hutan dan harimau yang ada di diri para tokoh.

Buku novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2020). (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)

Penulis Awla Rajul22 Maret 2026


BandungBergerak.id - Saya tak mengira jalan cerita dari buku karya Mochtar Lubis berjudul Harimau! Harimau! akan menjadi refleksi atas diri sendiri. Mulanya saya menduga bahwa kisah ini adalah bagaimana tujuh orang kawanan pengumpul damar berusaha menyelamatkan diri dari perburuan seekor harimau lapar. Justru saya yang keliru, menilai kisah ini sesederhana itu.

Tujuh orang tokoh utama di dalam kisah ini, utamanya bergulat dengan diri sendiri – terutama atas dosa-dosa yang mereka perbuat – ketika menghadapi bahaya harimau. Mereka yang tak bijak menghadapi dirinya sendiri, lengah, akhirnya diterkam oleh dua harimau sekaligus.

Harimau dalam kisah ini saya maknai sebagai sebuah simbol pergulatan hidup. Ia adalah bahaya yang justru dengan berani mesti dihadapi. Ia adalah ketakutan yang harus diladeni, alih-alih berpaling, menjauh, memberi wajah palsu, lantas meringkuk takut. Ia adalah teka-teki kehidupan: mengembara jauh berkeliling dunia, tapi jawabannya ditemukan di dekat rumah, menjelang kematian. Mungkin pula harimau itu adalah akhlak tercela kita semua.

Harimau itu ada di dalam diri kita dan di sekitar, yang kita hadapi setiap hari dalam berbagai bentuk. Dan Mochtar Lubis, melalui Pak Haji, karakter dalam romannya yang fenomenal ini mengingatkan kita untuk “bunuhlah dahulu harimau dalam dirimu”.

Belantara Rimba yang tak Lagi Ada

Tujuh orang kawanan pencari damar bertualang di dalam hutan rimba, yang kini menurut keyakinan saya sudah tak ada di Indonesia. Buyung, Sutan, Sanip, Talib, Pak Haji, Pak Balam, dan Wak Katok adalah tokoh utama dalam kisah ini. Mereka secara berkelompok pergi ke hutan bersama-sama, mencari damar, meski pada prinsipnya mereka bekerja untuk diri mereka sendiri.

Mochtar Lubis mengisahkan perjalanan dari kampung mereka ke hutan berjarak waktu sekitar satu minggu. Waktu yang mereka habiskan untuk mencari damar bisa sebulan lamanya. Selama di hutan, mereka sering singgah ke ladang Wak Hitam - yang hidup ditemani istri mudanya, Siti Rubiyah – untuk menyimpan damar dan beristirahat.

Di puncak kisah, digambarkan ketika empat kawan yang tersisa tengah balik memburu harimau, sampai di hutan belantara yang gelap. Sedikit sekali cahaya matahari yang mampu melintasi kanopi hutan, saking rimbanya. Tanahnya disebut basah dan berlumut, dengan sulur satu pohon ke sulur lainnya saling berkaitan, layaknya jaring laba-laba.

Ketika sampai di bagian ini, saya membayangkan, betapa lebatnya hutan yang dikisahkan oleh Mochtar Lubis. Bagaimana tidak, penulis dan jurnalis yang lahir pada 1922 di Padang ini sangat mungkin – jika tidak boleh menyebutnya pasti – sempat melihat, atau menikmati langsung hutan-hutan belantara Indonesia pada kurun waktu 1930-1990.

Hutan yang menjadi tempat Buyung dan kawan-kawannya mencari damar adalah hutan belantara di Sumatera Barat. Pulau Sumatera, menurut data BPS tahun 2021, hanya tersisa tutupan hutan seluas 16,05 juta hektare atau sekitar 33 persen dari luas daratannya. 30 persen tutupan hutan itu pun sangat mungkin terkonsentrasi di kawasan-kawasan konservasi, seperti Leuser, Kerinci Seblat, Way Kambas, dan lainnya.

Sisanya, hutan-hutan di Sumatera sudah beralih fungsi menjadi hutan monokultur, mayoritasnya ditanami kelapa sawit. Artinya, hutan belantara yang digambarkan oleh Mochtar Lubis dalam Harimau! Harimau! berikut satwa kuncinya seperti harimau, gajah, dan badak, serta aktivitas mencari damar di hutan sudah hampir punah.

Ketika awal mula memasuki kisah ini, saya sudah menduga akan memasuki dunia lama, mungkin “dunia fantasi” bagi generasi Alpha di masa depan. Jangan dulu bicara soal hutan belantara, harimau saja sudah demikian jauh rasanya.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditetapkan oleh IUCN berstatus kritis dan terancam punah. Populasinya di alam liar tersisa sekitar 400 – 600 individu. Maka, sungguh kita tidak akan diburu harimau di alam liar (kecuali harimau di dalam diri kita).

Baca Juga: RESENSI BUKU: Novel Tengah Tengah, Cinta, dan Pilihan yang Tak Pernah Utuh
RESENSI BUKU: David Van Reybrouck dan Orang-orang Biasa di Panggung Sejarah Indonesia

Mengambil Hikmah

Buyung yang termuda dalam kawanannya. Masih bujang pula. Sementara Sutan, Sanip, dan Talib juga terbilang muda, namun sudah berkeluarga. Wak Katok adalah tetua terpandang di kampung. Ia sekaligus dukun, guru silat, dan orang pintar. Pak Haji punya banyak pengalamannya merantau di berbagai belahan dunia. Sementara Pak Balam seorang yang pendiam.

Tujuh orang tokoh ini bergulat dengan harimau dalam dirinya sendiri ketika harimau memburu mereka. Pak Balam, mengingatkan kawanannya bahwa harimau itu dikirim oleh Tuhan agar mereka mengakui dosa-dosa yang telah mereka buat. Harimau itu adalah hukuman untuk mereka semua. Di sinilah mereka menghadapi diri mereka sendiri, ego, keengganan mengakui bahwa mereka adalah harimau yang telah menerkam (baca: mencelakai) manusia lain.

“Jangankan membukanya kepada orang lain, kepada sendiri pun, masing-masing enggan dan tak hendak mengakuinya. Karena orang yang mencoba membuka kebenaran dibenci dan dimusuhi oleh mereka yang bersalah dan berdosa,” halaman 104.

Menarik pula bagaimana Mochtar Lubis menjahit karakter setiap tokoh dan membeberkan masa lalunya. Di samping Buyung, tokoh yang diberi banyak lampu sorot, Wak Katok adalah karakter yang menarik untuk dibedah. Melihat karakter ini, saya sekaligus berharap, semoga kita tidak dipimpin oleh pemimpin serupa Wak Katok.

Wak Katok adalah pemimpin yang sesungguhnya memakai topeng. Ia seolah-olah pintar ilmu perdukunan, bisa menyembuhkan segala penyakit, pintar silat, ahli berburu dan menembak, serta piawai memimpin. Justru sebenarnya ia adalah pemimpin yang inkompeten. Ia tidak pandai melakukan itu semua. Ia pandai mengelabui, apa yang berhasil dilakukan oleh orang lain diakui sebagai karyanya.

Wak Katok sebenarnya penakut, tapi ia selalu ingin dipandang, ingin berkuasa. Ia melakukan hal-hal brutal, bengis, untuk mendapatkan pengakuan. “Kekuasaan” Wak Katok dalam kawanan disimbolkan dengan kepemilikannya atas senjata. Senjata memberi kesan gagah dan perkasa bagi yang menyandangnya. Tapi kesan itu luntur ketika yang menyandangnya tidak mampu membidik musuh dengan tepat. Karena inkompetensi dan keegoisannya, kawanan ini harus menanggung akibat yang lebih besar.

Pikiran inilah yang terbayang oleh saya, ketika memandang kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Ketika kita keliru memilih pemimpin, justru kitalah, rakyat, yang menanggung akibat lebih banyak.

Oh ya, kisah ini juga menyinggung masyarakat yang percaya akan takhayul, jimat, dan perdukunan. Keyakinan akan hal-hal itu mesti diluruhkan. Sebab bukan itu semua yang menyelamatkan kita, melainkan kuasa Tuhan.

“Apakah semua orang demikian, berubah dari yang biasa jika berada di bawah tekanan bahaya, atau tekanan lain yang terlalu berat?” halaman 160.

Di samping itu, selama membaca Harimau! Harimau! saya kerap melihat ke dalam diri, semacam evaluasi. Mochtar Lubis menceritakan tujuh tokoh dalam cerita ini bercermin ke dalam diri ketika bahaya harimau mengintai. Mereka menyadari perbuatan buruk mereka kepada sesama manusia, tapi tak kunjung mau mengakuinya. Mereka membiarkan harimau bersarang di dalam diri mereka.

Saya sangat relate dengan berefleksi diri ketika berpetualang, ditambah dalam kondisi bahaya. Combo maut yang otomatis membuat berserah diri kepada Tuhan dan meminta maaf kepada sesama. Saya membayangkan, entah bagaimana pergulatan dalam jiwa dan tindakan saya, ketika naik gunung bersama kawan-kawan, lalu diserang oleh macan.

Dua hal itu memang cocok untuk mempertanyakan ulang apa yang telah kita lakukan selama ini, sudah baikkah kita kepada sesama, seberapa banyak dosa yang sudah kita perbuat, dan sebagainya. Pemilihan konflik cerita atas dasar dua hal itu sangat wajar, karenanya mudah dinikmati, dan karena itulah, saya mengambil hikmah.

Saya menaruh apresiasi pada karya ini. Cerita petualangan yang diisi bumbu magis, pergulatan diri, dan ekstraksi dakwah yang tidak begitu kentara. Sayangnya, buku ini tak luput dari kekurangan, misalnya typo. Buku ini saya rekomendasikan untuk kawan-kawan pinang, ringan dibaca (dengan aksen bahasa Melayu), dan merenunglah setelah mengkhatamkannya:

Sudahkah kita membunuh harimau di dalam diri kita?

Identitas Buku

Judul Buku      : Harimau! Harimau!

Penulis             : Mochtar Lubis

Genre              : Sastra

Penerbit           : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Terbit               : Cetakan kesebelas, Februari 2020

Tebal Buku      : vi+214 hlm; 17 cm

ISBN               : 978-602-433-893-0.

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//