Ketika Jalan di Pasar Andir Menjadi Sungai
Pasar Andir, urat nadi ekonomi Bandung, lumpuh oleh banjir yang terus berulang. Drainase kecil dan dangkal, memperlihatkan masalah kota yang tak kunjung selesai.
Penulis Yopi Muharam13 April 2026
BandungBergerak - Hujan deras yang turun saat magrib, Sabtu, 11 April 2026, seketika melumpuhkan kawasan Pasar Andir, Kota Bandung. Air meluap ke Jalan Jenderal Sudirman dan berubah menjadi arus deras dari arah Jalan Arjuna, menyeret sampah pasar hingga membuat kendaraan mogok di tengah jalan.
Saat itu, saya baru saja meninggalkan pusat kota untuk mengantar teman ke arah Cimahi. Belum 10 menit berkendara, hujan semakin deras dan lalu lintas tersendat di perempatan Jalan Cibadak.
Awalnya saya mengira kemacetan disebabkan lampu lalu lintas. Namun tak lama, genangan air mulai terlihat. Semakin maju, ketinggian air meningkat—dari sekadar menutup ban hingga mencapai betis.
Saya tetap melaju. Hingga di satu titik, arus dari arah Jalan Arjuna menghantam motor. Kendaraan oleng, lalu mati di tengah jalan.
Seorang pemuda berjas hujan plastik membantu saya menepikan motor. Di sisi jalan, puluhan pengendara lain bernasib sama. Ada yang mendorong motor, ada pula seorang ibu yang terjebak sambil menggendong anak.
Saya sempat menunggu, berharap air surut. Namun arus justru semakin deras. Saat mencoba mendorong motor ke titik yang lebih dangkal, gelombang air dari kendaraan yang melintas nyaris menjatuhkan motor saya. Air bahkan sempat masuk ke knalpot.
Di pertigaan Jalan Arjuna yang disesaki pedagang kaki lima (PKL), arus air menciptakan gulungan ombak yang besar. Motor yang saya dorong nyaris tak bergerak.
Tantangan berikutnya ialah sampah dari pasar berupa sayur-mayur banyak terbawa arus. Sebagian sampah menabrak motor yang saya dorong, beberapa di antaranya tersangkut. Dari arah atas, kotak kayu untuk menyimpan sayuran, hanyut terbawa aliran ke area jalan dengan kecepatan yang lumayan kencang.
Saya tiba di pedestrian depan sebuah ruko tutup. Di sana saya berusaha menyalakan motor. Tak mudah. Saya harus berulang kali menyelah dan menstaternya.
Di bawah ruko yang tutup saya bertemu Anggoro, 23 tahun, warga Kebon Kopi, Cimahi. Motornya juga mogok setelah nekat menerjang banjir.
Ia mengaku sering melintasi jalur ini, tetapi belum pernah mengalami banjir separah ini.
“Da kirain teh kalau lewat sini ya udahlah banjir, tapi enggak sebesar ini,” jelas Anggoro.
Karena jalan satu arah, ia tidak bisa berputar balik. Ia sempat dibantu pengendara lain untuk menyalakan motor, namun upaya itu gagal.
“Pas lagi nyetep, motor si aa-nya juga ikut mati,” terangnya. “Jadi weh sama-sama ngedorong tadi berdua.”
Aktivitas Pasar Lumpuh
Tak jauh dari lokasi, aktivitas pedagang di Pasar Andir berhenti total. Air menggenangi lapak hingga ke atas trotoar.
Pedagang menutup dagangan dengan plastik. Sebagian naik ke atas meja untuk menghindari air. Tidak ada transaksi. Jalan di depan pasar dipenuhi arus dan sampah sayuran yang hanyut.
Fery Sendjaja, 70 tahun, pedagang martabak yang sudah berjualan sejak 1976, menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah. Biasanya air hanya sampai trotoar. Namun kali ini meluap hingga ke area tempat tinggal.
“Airnya sampai masuk ke dalam,” katanya sambil menunjuk ke arah rumah di belakang lapaknya.
Dia menyebut, air yang dipicu cuaca ekstrem berasal dari arah Pasar Andir, hingga menuju jalan Cibadak. Saluran drainase yang dangkal dan kecil semakin memperparah dampak banjir. Akhirnya, banjir membuat omzet dagangan anjlok.
“Enggak ada yang beli. Mau gimana lagi, mobil juga enggak mau berhenti kalau lagi banjir gini mah,” keluhnya.
Di tengah banjir, anak Fery, Ahmad Nurdiana, berusaha menahan air dengan papan kayu agar tidak masuk lebih jauh ke tempat usaha mereka.
Ahmad menduga banjir kali ini tidak hanya disebabkan hujan deras, tetapi juga karena saluran air yang tidak berfungsi.
Ia menyoroti proyek galian kabel optik di kawasan tersebut yang diduga menutup aliran drainase.
“Gara-garanya proyek galian kabel optik, jadi si pembuangan airnya ini ditutup semua,” jelasnya.
Menurutnya, sejak proyek dilakukan beberapa bulan lalu, banjir yang sebelumnya cepat surut kini berubah menjadi genangan yang bertahan lebih lama.
Masalah Lama yang Terus Berulang
Dalam laporan pengembangan drainase Kota Bandung tahun 2021, tercatat puluhan titik rawan genangan yang disebabkan buruknya sistem drainase. Penyebabnya beragam, mulai dari pendangkalan saluran, kapasitas yang tidak memadai, hingga alih fungsi lahan.
Kawasan Jalan Jenderal Sudirman—termasuk Pasar Andir—merupakan salah satu titik yang kerap terdampak. Penanganan memang telah dilakukan di sejumlah lokasi sejak beberapa tahun terakhir, namun belum menyentuh seluruh kawasan. Akibatnya, setiap hujan deras turun, persoalan yang sama kembali terulang.
Peristiwa tersebut menunjukkan banjir di Pasar Andir bukan lagi kejadian insidental, melainkan bagian dari masalah tata kota yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Memahami Akar Masalah Mengapa Warga Menghabiskan Waktunya di Jalan Kopo
Kecamatan Andir: Antara Lapang Terbang dan Pasar Malam

Pasar Lama di Tengah Tekanan Kota
Pasar Andir merupakan salah satu pasar legendaris di Kota Bandung. Pasar ini mulai dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1911, ketika pemerintah kolonial menyediakan lahan seluas kurang lebih 2.500 meter persegi untuk menampung sekitar seribu pedagang.
Pada tahun 1915, Pasar Andir resmi berdiri dan berkembang menjadi salah satu pusat perekonomian penting di kawasan tersebut.
Namun, pada tahun 1942 saat pendudukan Jepang, fungsi Pasar Andir berubah drastis. Berdasarkan buku Bandung: Citra Sebuah Kota yang dikutip oleh Fauzan, R.P.G.A. Voskuil menyebutkan bahwa tentara Jepang menjadikan Pasar Andir sebagai kamp interniran. Sekitar 550 orang tercatat pernah ditahan di lokasi ini.
Selain itu, dalam buku panduan Konferensi Asia Afrika disebutkan bahwa Andir merupakan salah satu wilayah permukiman tertua di Bandung. Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe juga menyebutkan bahwa Andir termasuk wilayah yang pertama kali mengalami pembangunan pada era Parijs van Java sekitar tahun 1920–1925.
Secara administratif, Pasar Andir berada di Kecamatan Andir yang memiliki luas wilayah sekitar 370,74 hektare. Kecamatan ini berbatasan dengan Kota Cimahi.
Sejak masa kemerdekaan hingga saat ini, Pasar Andir tetap berperan sebagai salah satu penggerak utama roda ekonomi di Kota Bandung. Lokasinya berdekatan dengan Pasar Ciroyom, yang berjarak sekitar 300 meter dan dihubungkan oleh Jalan Arjuna. Pasar Andir dikenal sebagai pasar yang hampir tidak pernah tutup, beroperasi selama 24 jam, serta memiliki sekitar 1.214 unit pertokoan dan tempat makan.
Tidak Ada Transaksi
Malam itu, tidak ada transaksi di Pasar Andir. Pedagang menunggu air surut, pengendara mendorong kendaraan, dan arus terus membawa sisa-sisa aktivitas pasar ke badan jalan.
Sebuah kawasan yang selama puluhan tahun menjadi penggerak ekonomi kota, mendadak lumpuh hanya oleh hujan beberapa jam.
Di sisi lain, Pasar Andir adalah salah satu pusat ekonomo penting di Kota Bandung. Jika kawasan ini dibiarkan ‘tenggelam’, perdagangan terganggu. Perlu kebijakan serius agar banjir tak terulang kembali.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

