Seniman Tanpa Panggung dari Sukabumi, Irawan Surianatanegara Setia Melukis dalam Diam
Di tengah riuh dunia seni, ia memilih jalan sunyi. Puluhan tahun melukis tanpa panggung setiap hari, merawat keluarga, dan menjaga konsistensi.
Penulis Yopi Muharam15 April 2026
BandungBergerak - Sepuluh bingkai potret berjejer rapi di Galeri Orbital Dago, Kota Bandung. Dari guratan pensil di atas kertas, wajah seorang lelaki paruh baya berkacamata berulang kali muncul, dalam sudut dan ekspresi yang berbeda. Ia adalah Irawan Surianatanegara, seniman yang menempuh jalan sunyi: melukis dengan tekun selama puluhan tahun, jauh dari sorotan.
Karya bertajuk Self Portrait Series itu menjadi penanda bagaimana Irawan memandang dirinya sendiri. Ia berulang kali menggambar wajahnya melalui cermin, menguji ketepatan bentuk, cahaya, dan karakter.
“Bapak banyak melakukan eksperimen untuk lukisan potret dirinya sendiri lewat kaca,” ujar Indah Prianti, anak kedua Irawan, kepada BandungBergerak, Jumat, 10 April 2026.
Di bagian depan galeri, tiga sketsa sederhana menyambut pengunjung. Media yang digunakan beragam seperti kertas karton dan HVS, dengan pensil dan krayon. Dua di antaranya potret Irawan, satu lainnya sketsa anatomi kaki. Tanpa latar yang rumit, arsiran halus dan gradasi lembut justru memberi kesan tiga dimensi yang kuat.
Lukisan lainnya, yang berjudul Son tampil menonjol. Karya cat minyak di atas kanvas berukuran 109 x 69 sentimeter itu dibuat pada akhir 1970-an. Lukisan tersebut menggambarkan anak pertama Irawan saat berusia sekitar enam tahun, bersandar pada sepeda barunya.
Wajah sang anak digarap dengan pencahayaan kontras, sebagian terang, sebagian lain lebih gelap. Efek ini menghadirkan kesan hangat sekaligus realis, seolah menangkap momen sederhana dalam kehidupan keluarga.
Di dinding lain, lukisan Woman in Red Kebaya memperlihatkan sosok perempuan berbaju merah yang menatap lurus seolah memandang pengunjung pameran. Rambutnya jatuh sebahu, matanya memantulkan cahaya. Karya berukuran 59 x 43 sentimeter yang dibuat sekitar 1990-an ini, menurut Indah, adalah model yang sama yang menemani Irawan berlatih potret selama bertahun-tahun.
Di sudut ruangan, satu lukisan terasa lebih personal. Potret Indah kecil berdiri dengan tangan kiri bertumpu di meja. Rambutnya berponi dan dikepang rapi.
“Ini saya disuruh duduk dipakaikan baju (gaun) ini terus dikepang sama ibu,” terang Indah.
Baginya, lukisan itu adalah yang paling bermakna. Ia berencana merawatnya sebagai warisan keluarga. Menariknya, tidak ada tanda tangan pada lukisan-lukisan yang menggambarkan anak-anaknya. Irawan sengaja tidak menandainya karena karya-karya itu ia anggap sebagai milik pribadi keluarga.
Baca Juga: Craftivism, Alternatif Merawat Ingatan
Ketika Jalan di Pasar Andir Menjadi Sungai
Melukis sebagai Disiplin
Pameran retrospektif bertajuk Si Konsisten dari Sukabumi ini menampilkan karya Irawan dari era 1970-an hingga 1990-an. Sekitar 40 karya dipamerkan sepanjang 4 April sampai 3 Mei 2026, mulai dari potret, benda mati, hingga lanskap.
Tidak semua karya dibingkai rapi. Sebagian dibuat di atas kertas kalender bekas, karton, atau HVS. Kesederhanaan medium ini justru memperlihatkan bahwa Irawan sebagai seniman realis yang apa adanya.
Selain dikenal sebagai pelukis potret realis, ia juga menekuni lanskap yang menjadi bagian penting dari proses belajarnya.
Salah satu contohnya adalah lukisan Seascape, dibuat pada 1990-an di atas papan berukuran 40 x 30 sentimeter. Lukisan ini menggambarkan Pantai Pelabuhan Ratu dengan horizon yang luas. Tidak ada dramatisasi berlebihan—tanpa ombak besar atau langit yang penuh kontras. Semua digambarkan sederhana: laut, batu, dan awan.
Kesederhanaan itu justru menghadirkan ketenangan. Rifky ‘Goro’ Effendy sebagai kurator menjelaskan, bagi Irawan lanskap bukan representasi geografis, melainkan "pengalaman diam terhadap keluasan.”
Indah juga menambahkan, ayahnya terbiasa mencari objek di sekitar sebagai bahan latihan.
“Bapak selalu mengambil objek rata-rata yang ada di sekitarnya, sebagai latihan, sebagai belajar. Bukan sesuai objek yang dikhayalkan,” tandasnya.
Kebiasaan itu juga hadir dalam keseharian. Setiap pagi, Irawan kerap mengajak anak-anaknya melihat matahari terbit. Momen tersebut kadang ia tuangkan ke dalam lukisan. Perubahan warna langit di pagi hari menjadi sumber ide yang sederhana tetapi kelak menjadi karya.
Ia juga melukis halaman rumahnya sendiri yang dulu masih dipenuhi ilalang dan pepohonan. Kini, lanskap itu telah berubah menjadi bangunan. Lukisan-lukisan tersebut menjadi semacam arsip visual tentang ruang hidup yang telah hilang.
“Tapi sekarang, halaman itu sudah berubah jadi bangunan,” tutur Indah.
Jauh dari Sorotan
Irawan lahir di Tasikmalaya pada 12 April 1944, lalu sempat tinggal di Jakarta sebelum menetap di Sukabumi setelah menikah pada akhir 1960-an. Di kota inilah ia membangun hidupnya sebagai pelukis.
Ia belajar melukis secara otodidak sejak usia 17 tahun. Meski sempat mendapat tawaran untuk belajar ke Eropa, kesempatan itu tidak terwujud. Ia kemudian menekuni seni lukis dengan caranya sendiri—melalui buku dan mengamati karya seniman lain.
Nama-nama seperti Abdullah Suryosubroto, Basuki Abdullah, hingga Affandi menjadi referensinya. Ia bahkan pernah berpameran bersama Affandi di Sukabumi pada 1980-an.
Di luar itu, hidupnya berjalan sederhana. Ia melukis potret untuk menghidupi keluarga. Salah satu kliennya pernah datang dari kalangan pejabat, termasuk Menteri Pariwisata era Orde Baru, Joop Ave.
Namun, sebagian besar karyanya tidak beredar luas. Ia tidak aktif membangun nama di ruang publik. Bahkan, ia tidak pernah menggelar pameran tunggal selama hidupnya.
“Bapak hanya ingin karyanya aja yang dikenal,” ungkapnya.
Julukan “si konsisten” muncul dari keluarga dan kerabat dekat—merujuk pada kebiasaannya melukis setiap hari, tanpa banyak perubahan gaya, tanpa ambisi tampil.
Kini, di usia 82 tahun, Irawan masih melukis secara rutin. “Alhamdulillah sehat, dan masih melakukan aktivitas melukis setiap hari,” jelasnya.
Membuka yang Tersembunyi
Pameran ini digagas oleh Indah bersama Galeri Orbital Dago. Karya-karya yang selama ini disimpan di rumah, kini ditampilkan ke publik.
Kurator Rifky ‘Goro’ Effendy melihat pameran ini sebagai upaya menghadirkan kembali mata rantai yang hilang dalam sejarah seni rupa Indonesia—khususnya seniman daerah yang luput dari perhatian.
Menurutnya, kualitas karya Irawan tidak kalah dengan seniman yang lebih dikenal luas.
Ia sengaja menampilkan karya secara apa adanya, termasuk gambar yang retak, sobek, atau menguning. Bagi Goro, jejak waktu itu justru memperlihatkan proses belajar yang jujur.
“Itu justru menurut saya bisa diterima zaman sekarang. Kalau dulu ya gaya-galeri salon belum tentu diterima,” jelasnya.
Pameran ini tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga cara hidup: tentang ketekunan, kedisiplinan, dan pilihan untuk tetap berkarya tanpa mencari panggung.
Di tengah dunia seni yang kerap riuh, Irawan menunjukkan kemungkinan bahwa menjadi seniman tidak selalu berarti menjadi terkenal. Kadang, cukup dengan terus melukis, setiap hari, dalam diam.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

