Craftivism, Alternatif Merawat Ingatan
Tarlen Handayani membuktikan bahwa kerajinan tangan bukan sekadar kegiatan feminin, melainkan sebuah bentuk "gentle protest" yang mampu menjaga memori kolektif.

Virliya Putricantika
Jurnalis foto
14 April 2026
BandungBergerak - “Menjahit itu pekerjaan perempuan,” sebuah kalimat yang sering kali membatasi pandangan kita tentang peran gender dalam aktivitas sehari-hari. Tapi Tarlen Handayani membuktikan bahwa dunia kerajinan tangan tak mengenal batasan sempit semacam itu. Perempuan berkacamata yang satu ini terlahir dalam keluarga dengan latar belakang yang beragam, ayah seorang montir dan ibu seorang akuntan. Keduanya menyukai pekerjaan tangan.
Saya berkesempatan menghadiri diskusi yang dipandu Tarlen di acara Menjelang Yogyakarta Art Book Fair 2026, sebuah agenda pra-acara Booound yang berlangsung di CollabHub Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Sabtu, 11 April 2026. Dalam suasana yang penuh antusiasme tersebut, salah satu topik hangat yang mengemuka adalah Craftivism, sebuah praktik yang menggabungkan keahlian kerajinan tangan dengan aktivisme sosial-kultural. Bersama Harmantyo sebagai moderator, Tarlen membagikan pandangannya tentang bagaimana kerajinan tangan bisa menjadi media untuk merawat dan menjaga ingatan.
Dukungan keluarga menjadi modal besar bagi Tarlen. Tidak ada batasan gender dalam pekerjaan tangan, perawatan, dan pekerjaan harian yang dilakukan sehari-hari. Ia dan saudara kandungnya yang laki-laki selalu mengerjakan kerja-kerja tukang itu, tak terkecuali menjahit dan menyulam, meskipun bukan menjadi aktivitas yang paling disukai.
Tarlen kecil tumbuh di tahun 1980-an, ketika buku harian masih terbilang mewah. Perkataan ibunya bahwa “Kalau bisa bikin, ngapain harus beli?” mendorong Tarlen kecil mencari cara agar ia bisa memiliki buku harian yang cantik.
Era itu, sebelum Orde Baru runtuh, tidak ada toko yang menjual notebook cantik seperti hari ini. Perbedaannya cukup signifikan, hari ini kita dapat mencari kata kunci di aplikasi marketplace dan hitungan detik barang ditemukan, meski butuh waktu memilihnya. Di masa lalu Tarlen, perlu bereksplorasi mendandani buku harian dengan alat jahit. Ketika percobaan itu selesai, ia selalu bercerita pada bapaknya dan mendapat apresiasi darinya.

“Bagus kok. Cuma kalau ini kamu ngerjainnya kayak gini, ini akan lebih kuat,” kenang Tarlen, di diskusi Craftivism.
Namun itu tidak menjadi satu-satunya bekal bagi Tarlen untuk menekuni kerja perawatan ini. Sebelumnya ia mendirikan Tobucil di Bandung pada 2001. Sepanjang itu pula dia bereksplorasi dengan book binding atau kerja penjilidan. Relasi di dunia art book mulai terbangun ketika salah satu peneliti yang memintanya menulis esai tentang laki-laki yang beraktivitas menyulam di Tobucil. Tawaran beasiswa ke New York ia dapatkan dari Asian Cultural Council. Tarlen mulai menekuni kursus gilda khusus penjilidan di Kanada, dan di sana, Julie Schneider berhasil meyakinkan dirinya bahwa inilah dunia yang ingin ia tekuni.
"Cara kita mengerjakan buku itu sangat dipengaruhi oleh dari mana kebudayaan itu berasal." cerita Tarlen mengulang dialog yang disampaikan gurunya.
Baca Juga: Bandung Hari Ini: 20 Tahun Tobucil, Toko Buku Kecil dengan Perjalanan Besar
Akhir Perjalanan Tobucil & Klabs di Ruang Luring

Kerja Perawatan Memori Kolektif
Beberapa karya Tarlen dipajang di meja berbentuk lingkaran, memungkinkan pengunjung untuk menikmati hasil karya tangan yang menghiasi punggung buku hingga penyajian zine yang mengadaptasi kitab Torah. Audiens bisa merasakannya dengan cara menggulung sisi buku. Menurutnya, merawat buku bukanlah hal yang mudah. Justru, semakin mendalami dunia ini, ia semakin mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan untuk membeli buku.
Namun, itu juga yang menjadi cara ia merawat pengetahuan baik secara materiil dan imateriil. Karena dalam sejarah, untuk menghilangkan jejak bangsa cukup dengan memusnahkan manuskrip yang menjadi catatan di masa lampau. Seperti yang terjadi pada tahun 1812 saat 7.000 manuskrip di Keraton Yogyakarta diambil dan dibawa ke Inggris.
Maka, penjilidan bukan sekadar menggabungkan halaman, tapi lebih dari itu. Tarlen meyakini lewat cara gentle protest ini ada banyak catatan dan ingatan yang bisa dijaga. Setidaknya untuk memperpanjang “hidup” manuskrip yang masih bisa diupayakan. Seperti salah satu karyanya yang membahas tentang pengorbanan Marsinah untuk kaum buruh, tapi kemudian dibunuh oleh aparat negara.
Tentu di Indonesia ada begitu banyak tantangan, bahkan instansi Perpustakaan Nasional pun kebingungan untuk menjaga memori kolektifnya karena tidak ada infrastruktur yang menunjang. Apalagi hari ini terbatas dengan efisiensi yang dilakukan penyelenggara negara.
Meski begitu, ada banyak hal juga yang membuat craft dan activism ini layak untuk ditekuni. Ada banyak individu yang semakin tertarik melakukan kerja perawatan. Ada pula anak-anak dari Suku Asmat yang begitu bersemangat berkreasi dengan sampul bukunya meski tidak memiliki jarum.
Di titik inilah praktik penjilidan menjadi lebih dari sekadar teknik—ia menjelma sebagai bentuk pengetahuan yang hidup, yang terbangun dari relasi antara tubuh, materiil, dan konteks sosial. Melalui pendekatan ini, praktik individual berkelindan dengan kerja komunitas, dan pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan pengetahuan kolektif. Tidak perlu besar, cukup dari kerja-kerja kecil yang terus berkelanjutan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

