• Buku
  • RESENSI BUKU: Sisi Lain Surga di Ibu Kota

RESENSI BUKU: Sisi Lain Surga di Ibu Kota

Nyatanya bagi sebagian orang, ibu kota bukanlah tempat untuk mengejar kemewahan, melainkan tempat untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.

Sampul buku Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna (Cetakan kelima belas, September 2025). (Foto: Malika Shafa Nur Fadiya/BandungBergerak)

Penulis Malika Shafa Nur Fadiya19 April 2026


BandungBergerak - Jakarta kerap kali menjadi tujuan bagi banyak orang, bagaikan surga bagi mereka yang ingin mengadu nasib. Gedung-gedung menjulang tinggi dengan beragam kemewahan yang tampak dari kejauhan. Namun, di balik gemerlap itu, pada realitasnya ibu kota ini berubah menjadi kota kejam bagi mereka, tidak ada kata kemewahan namun kata bertahan hidup.

Kehidupan di kota besar sering kali menyimpan paradoks. Kota ini juga menyimpan banyak cerita tentang ketimpangan, kemiskinan, dan perjuangan hidup yang tidak pernah selesai. Buku ini mampu membangun empati, kisah yang disajikan menghadirkan sisi kemanusiaan, bukan hanya diajak melihat kesulitan, namun memahami secercah harapan yang mereka jaga di tengah keadaan yang serba terbatas.

Melalui novel Sisi Tergelap Surga, Brian Khrisna menyuguhkan banyak sisi dari potret kehidupan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Novel ini memuat 18 kisah tentang masyarakat yang tinggal di sebuah perkampungan di pinggiran ibu kota dengan kondisi yang serba marginal. Lewat cerita-cerita tersebut, Brian menggambarkan sisi gelap kota Jakarta melalui celah-celah kecil kenyataan, dengan memperlihatkan bayang-bayang perjuangan mereka yang berada di garis lapisan bawah masyarakat.

Bukan buku tentang surga, melainkan tentang manusia yang merasa dirinya tidak pantas masuk ke dalamnya. Membaca novel ini rasanya seperti memasuki ruang sempit yang minim cahaya dan ventilasi. Tidak ada hiburan yang ditawarkan di buku ini, namun justru mengajak pembaca menyelami kehidupan dari berbagai sudut pandang yang jarang terlihat.

Kisah-kisah di dalamnya menghadirkan potret orang-orang yang tinggal dipinggiran kota, mereka  tersesat, berdosa, dan berantakan, bahkan tak pernah benar-benar tahu bentuk cinta. Namun, di balik itu semua mereka pun manusia. Memiliki 304 halaman, rasanya setiap lembaran kertas yang dibuka mampu membuat saya sebagai pembaca perlu menyiapkan hati agar tidak sesak.

Jika dapat dirangkum secara sederhana, buku ini seperti menghadirkan tiga tamu tak diundang yang datang tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu. Mereka adalah kematian, takdir, dan rezeki. Bagaimana manusia mampu menjalani dan menerimanya, karena pada akhirnya tidak ada yang benar-benar mampu mengendalikan kapan ketiganya akan datang.

Lingkaran Setan Kemiskinan

Tampaknya lembaran uang kecil yang sering dianggap sepele oleh sebagian orang justru menjadi harapan besar bagi mereka untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan untuk kemewahan, namun sekadar untuk memastikan ada nasi yang bisa dimakan hari itu.

Salah satu kisah yang membekas bagi saya adalah tentang seorang ayah yang bekerja sebagai badut keliling untuk menghidupi tiga anak perempuannya.

Bagi sang ayah, anak-anaknya adalah oase di tengah padang yang gersang. Ia menunggu rezeki dari pagi hingga tengah malam. Tak jarang hujan membanjiri jalanan ibu kota. Hujan bagi sebagian orang adalah bentuk dari rezeki, namun nestapa bagi pak badut.

Berkilometer ia arungi di jalanan ibu kota setiap hari, hal yang tak mudah di umur kadung senja. Sementara itu, ketiga anak gadisnya diam di rumah kontrakan sempit untuk menunggu sang ayah pulang dengan membawa cukup uang untuk makan esok hari.

Nyatanya tidak ada yang mengajari bagaimana cara bertahan hidup, dengan mengakali setiap langkah hari tanpa perlu mengorbankan banyak hal. Belajar dari ribuan kegagalan adalah guru terbaik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tidak semua orang dilahirkan secara beruntung di tengah keluarga yang berkecukupan materi. Sisanya beruntung karena diberi hati dan tulang yang kokoh untuk bertahan dan berusaha sendiri.

Salah satu kutipan yang membekas di ingatan saya, “Hidup mau sebahagia apa juga, ujung-ujungnya pasti berakhir. Begitu juga sebaliknya. Hidup semenderita apa pun, ujung-ujungnya pasti mati juga, jadi jalani aja.”

Menggambarkan pesan bahwa kehidupan, baik bahagia maupun penuh penderitaan tetap memiliki akhir yang sama, sehingga manusia perlu belajar menerima dan menjalani dengan sebaik mungkin.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Mengarungi Samudra Kebijaksanaan, Melihat Dunia Rumi dalam Fihi Ma Fihi
RESENSI BUKU: Indonesia sebagai BukuRealisme Magis

Realitas Sosial Ibu Kota

Novel ini menghadirkan beragam tokoh dari latar belakang yang berbeda, mulai dari preman terminal bus, badut keliling, penjual nasi goreng yang telah bertobat dari masa lalunya sebagai bandar judi, tunasusila, suami istri penjual tahu, seorang suami joki game, hingga manusia silver.

Jika dijabarkan rasanya pekerjaan itu sangat hina di kota ini, namun buku ini membuka mata saya bahwa sering kali kita melihat hanya permukaannya saja. Padahal pada akhirnya bahwa manusia itu sama di mata Tuhan, yang membedakan bagaimana mereka memilih berbuat baik atau buruk dalam hidupnya.

Novel ini memang bukan buku bertema religi, namun dialog-dialog yang disajikan mampu mengetuk hati bagi pembacanya. Betapa seringnya memakai agama sebagai “topeng”, bukan arah pulang bahwa kita merasa lebih baik dari orang lain hanya karena kita menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya. Sering kali menutup mata kala diri sendiri masih punya hati yang penuh penghakiman padahal kita diajarkan menegur dengan penuh kelembutan.

Bukan berarti membenarkan dosa, tetapi mencari cara agar nasihat dapat disampaikan dengan hati yang sejajar, bukan dengan kepala yang tinggi.

Di tengah kerasnya kehidupan, banyak orang akhirnya melakukan pekerjaan apa pun demi bertahan hidup, bahkan yang melanggar norma. Namun, tidak semua tindakan yang melanggar norma lahir dari niat buruk. Banyak di antaranya muncul karena atas dasar keterpaksaan, ketika ketidakberpihakan dunia pada mereka yang lemah.

Lalu muncul pertanyaan yang sulit dijawab, apakah seseorang layak dicap jahat jika ia terpaksa melanggar aturan demi sesuap nasi esok hari?

Informasi Buku

Judul Buku: Sisi Tergelap Surga

Penulis: Brian Khrisna

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Cetakan kelima belas, September 2025

Halaman: 304

Bahasa: Indonesia.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//