• Buku
  • RESENSI BUKU: Mengarungi Samudra Kebijaksanaan, Melihat Dunia Rumi dalam Fihi Ma Fihi

RESENSI BUKU: Mengarungi Samudra Kebijaksanaan, Melihat Dunia Rumi dalam Fihi Ma Fihi

Buku Fihi Ma Fihi menceritakan perjalanan hidup Jalaludin Rumi, mulai dari pengaruh ayahnya hingga pertemuan transformatifnya dengan Syamsuddin al-Tabrizi.

Sampul buku Fihi Ma Fihi karya Jalaludin Rumi. (Foto: Dokumentasi Ardhes Blandhivay Leuanan)

Penulis Ardhes Blandhivay Leuanan12 April 2026


BandungBergerak – Di tengah kebisingan era modern yang serba cepat, kita sering kali merasa seperti pelaut yang kehilangan arah di tengah samudra rutinitas yang riuh namun hampa. Kita mengejar kesuksesan, materi, dan pengakuan, namun sering kali berakhir dengan kelelahan jiwa yang mendalam. Mari kita luruhkan sejenak keangkuhan akal dan menyelam ke dasar samudra yang tak bertepi ini melalui lentera spiritual Jalaluddin Rumi.

Karyanya, Fihi Ma Fihi, bukanlah sekadar teks kuno yang kaku, ini adalah samudra kebijaksanaan yang merangkum percakapan-percakapan mendalam Rumi dalam menjawab kegundahan manusia. Di dalamnya, Rumi menawarkan perspektif yang menjungkirbalikkan logika awam, mengajak kita melihat melampaui selubung duniawi untuk menemukan kembali esensi diri.

Rumi membedah integritas seorang intelektual atau ulama dalam hubungannya dengan kekuasaan. Secara radikal, ia menyatakan bahwa posisi spiritual seseorang tidak ditentukan oleh jabatan formal, melainkan oleh kemurnian niatnya.

Seorang ulama yang tulus adalah mereka yang menuntut ilmu demi Allah. Ia memiliki tabiat yang tidak bisa tidak harus benar, laksana ikan yang tidak bisa hidup kecuali di dalam air. Ia adalah matahari yang memancarkan cahaya tanpa mengharap imbalan; tugasnya adalah memberi, bukan menerima. Meskipun secara fisik ia mendatangi pintu penguasa, sejatinya dialah yang “dikunjungi”. Sebab, sang penguasalah yang sebenarnya fakir karena membutuhkan cahaya dan manfaat darinya.

Seburuk-buruknya ulama adalah mereka yang mengunjungi para pemimpin, dan sebaik-baiknya para pemimpin adalah mereka yang mengunjungi ulama. Sebaik-baik pemimpin adalah ia yang berada di depan pintu rumah orang fakir, dan seburuk-buruk orang fakir adalah ia yang berada di depan pintu rumah pemimpin.” (Hadis Nabi)

Baca Juga: RESENSI BUKU: Antigone, Impunitas, dan Ilalang Ingatan
RESENSI BUKU: Menakar Ikhlas di Tengah Takdir, Kumpulan Cerpen Mustofa Bisri
RESENSI BUKU: Dongeng Pangeran Cilik untuk Orang Dewasa

Mengenal Diri Membaca Semesta

Rumi menggunakan metafora Astrolab (alat astronomi kuno) untuk menggambarkan eksistensi kita. Sebuah Astrolab dari tembaga adalah cerminan bintang-bintang di langit, namun ia hanya seonggok logam tak bermakna di tangan seorang penjual sayur. Alat itu hanya akan berbicara di tangan seorang astronom yang memiliki makrifat untuk membacanya.

Sama halnya dengan manusia, kita adalah Astrolab Allah. Namun, tanpa adanya kesadaran rohaniah, kita hanyalah kepingan “tembaga” yang tak berguna. Rumi menekankan pentingnya Tamyiz, sifat pembeda murni dalam jiwa untuk mengenal diri. Tubuh hanyalah jendela atau “kandang”, sementara cahaya berasal dari esensi jiwa. Jika kita hanya sibuk memberi makan kandangnya namun melupakan penunggangnya, kita tak akan pernah sampai pada hakikat “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”

Rumi mengambil hikmah puitis dari kisah Maryam yang bersandar pada pohon kurma saat merasakan pedihnya persalinan. Dia menganalogikan raga manusia sebagai Maryam dan roh di dalamnya sebagai Isa.

Pesan ini menyiratkan bahwa kegelisahan spiritual dan derita hidup bukanlah kutukan, melainkan “rasa sakit melahirkan” yang diperlukan agar dimensi ketuhanan dalam diri kita bisa muncul. Rasa sakit itulah yang memaksa Maryam menuju pohon kurma yang kering, hingga pohon itu berubah menjadi subur dan berbuah. Tanpa derita, Isa dalam diri manusia akan kembali ke asalnya melalui jalan rahasia, meninggalkan kita dalam kehampaan.

“Sekarang berobatlah, karena Isa mu sedang berada di bumi. Ketika Isa telah kembali ke langit, maka semua harapan akan sirna.” (Sajak Khaqani)

Kita sering kali merasa diperbudak oleh ratusan keinginan seperti harta, jabatan, hingga makanan lezat. Rumi menjelaskan dalam bukunya, bahwa ratusan keinginan itu hanyalah selubung. Beliau mengibaratkan seseorang yang menginginkan berbagai jenis makanan bihun, perkedel, atau manisan. Meski namanya beragam, asalnya hanya satu, yakni “rasa lapar”.

Begitu lapar terpuaskan, semua keinginan itu sirna. Ini adalah pelajaran bagi manusia modern bahwa pencapaian materi sering kali menyisakan kekosongan karena kita hanya mengejar bentuk yang fana, padahal jiwa kita sebenarnya sedang merindukan satu hakikat tunggal, yaitu penyatuan dengan sang pencipta.

Rumi mengajak kita melakukan refleksi psikologis yang tajam. Di mana dia mengisahkan seekor gajah yang ketakutan saat melihat bayangannya sendiri di permukaan air, mengira ada gajah lain yang mengancam. Padahal, ia hanya takut pada dirinya sendiri.

Rumi menyatakan bahwa “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Keburukan yang kita benci pada orang lain sering kali merupakan proyeksi dari bisul atau kudis di jiwa kita sendiri. Kita sering kali merasa jijik melihat sedikit luka gores di tangan orang lain, namun kita justru mampu mencelupkan tangan yang dipenuhi penyakit ke dalam sup dan menjilatinya tanpa rasa jijik. Mengenali aib orang lain adalah cara halus Tuhan memberitahu kita tentang bisul di jiwa kita yang selama ini tersembunyi dari pandangan kita sendiri.

Perbedaan Tak Akan Hilang di Dunia

Banyak yang mendambakan persatuan agama secara mutlak, namun Rumi menegaskan bahwa hal itu “mustahil” selama kita masih berpijak di bumi. Di dunia ini, manusia memiliki tujuan yang berbeda-beda laksana tikus yang menarik sangkarnya ke bawah dan burung yang menariknya ke atas.

Harmoni dan ketunggalan hanya terjadi jika tujuan sudah tunggal, yakni di hari kiamat ketika semua tabir tersingkap. Perbedaan di dunia adalah bagian dari malam yang belum tersingkap cahayanya. Bagi mereka yang telah mencapai kedalaman spiritual, mereka sudah melihat hakikat ini sejak di dunia.

“Sekalipun tabir tersingkap, keyakinanku tidak akan bertambah.” (Ali r.a.)

Rumi menjelaskan konsep Hijab (selubung). Allah menciptakan selubung berupa kasih sayang orang tua, harta, dan kesenangan dunia sebagai bentuk rahmat dan perlindungan. Laksana matahari yang memberi manfaat dari jauh yang mematangkan buah dan menghasilkan permata, namun jika mendekat sedikit saja ke bumi, segala sesuatu akan hangus terbakar.

Selubung-selubung duniawi adalah “roda latihan” bagi jiwa. Jika kita melihat keindahan absolut secara langsung tanpa persiapan, ego kita akan hancur seketika. Akal manusia laksana kupu-kupu yang merindukan cahaya lilin. Dia akan terus mengitari cahaya itu hingga akhirnya lebur (fana) di dalamnya. Manusia sejati adalah mereka yang tak pernah berhenti terbang mendekati cahaya keagungan Tuhan, meskipun mereka tahu bahwa untuk menyatu, mereka harus melepaskan keakuannya.

Jika dibayangkan, hidup menurut kacamata Rumi, dalam buku ini adalah sebuah proses “mati sebelum mati”, sebuah perjalanan melepas keterikatan pada bentuk lahiriah demi meraih hakikat spiritual yang abadi. Seluruh perjalanan kita di dunia ini hanyalah untuk menunaikan satu amanah besar yang bahkan langit dan bumi pun enggan memikulnya.

Mari tanyakan pada diri sendiri dengan penuh kejujuran, di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan ini, apa yang selama ini kita beri makan? Apakah kita hanya sibuk memperindah kandangnya (tubuh), ataukah kita sudah mulai memperhatikan sang penunggangnya (jiwa)? Pilihan ada di tangan kita, terus berputar di permukaan yang dangkal, atau berani menyelam ke dalam samudra kebijaksanaan yang tak bertepi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//