• Buku
  • RESENSI BUKU: Bayang-Bayang Kuasa Lintas Zaman

RESENSI BUKU: Bayang-Bayang Kuasa Lintas Zaman

Leiden 2020-1920 digambarkan sebagai karya yang melampaui fiksi sejarah, menjadi “mesin” pengorganisasian wacana yang mengungkap ketahanan kuasa lintas zaman.

Buku Leiden 2020-1920 karya Hasbunallah Haris (Gramedia Pustaka Utama, 2025). (Foto: Rudi Agus Hartanto)

Penulis Rudi Agus Hartanto19 April 2026


BandungBergerak - Terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) adalah tiga kata bahasa Indonesia yang sejak 2019 terbaca sebagai tendensi bahasa dalam kehidupan politik Indonesia. Ia (baca: TSM) muncul dalam mimbar-mimbar, persidangan, bahkan obrolan angkringan dalam pelbagai konteks. Membaca Leiden 2020-1920 karya Hasbunallah Haris, seperti diajak meresapi kembali bagaimana hal-hal berkait TSM bekerja.

Leiden menawarkan kisah yang teruangi oleh catatan Alex van der Meer. Sebuah manuskrip yang membicarakan harta karun, kota yang hilang, kelindan antara data-mitos, serta intrik-intrik organisasi Gagak Merah yang mengatur jalannya dunia sejak bubarnya VOC hingga saat ini. Dengan tidak bermaksud menanggalkan kerumitan kerja historiografi, Leiden, memberi tawaran dalam khazanah sastra serta tanda tanya tentang kesejarahan Indonesia.

Kekuasaan selalu menjadi kunci dalam mengamankan banyak hal. Dari masa lalu, dari pelbagai narasi, naskah kuno, bahkan hari ini seperti undang-undang serta alat kebijakan turunannya selalu diperebutkan untuk mengetahui-cipta peristiwa atas nama kepemilikan status quo. Ruang yang penuh teka-teki, serupa labirin, serta bias ke-konkret-an.

Di tengah pelbagai kasus yang terjadi belakangan ini: Penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, penangkapan aktivis, dan intimadasi di pelbagai medan demokrasi, Leiden, seolah-olah menarasikan kejadian sebagai sambung zaman. Hal itu teriring sekaligus lewat tokoh Syamil, Maryati, Kasman, dan Eva dalam penelusurannya atas catatan Meer. “...Sebuah kebetulan yang terlalu kebetulan” (hlm. 478).

Catatan: Penyambung Curiga-dugaan

Selalu ada pekerjaan yang tidak tersentuh. Dalam roman Rumah Kaca garapan Pramoedya Ananta Toer, kita akan dikenalkan dengan tokoh bernama Jacques Pangemanann, seorang intelejen hari ini. Tokoh yang menentukan akhir cerita roman Tetralogi Bumi Manusia itu. Begitu pula, Van der Meer, juga bekerja sebagai seorang peneliti sekaligus intelejen dalam Leiden, melalui organisasi Politieke Inlichtingen Dienst (PID), sebuah organisasi intelejen politik era Hindia Belanda. Van der Meer bukan penentu akhir cerita, namun menjadi pengantar-sambung kisah Leiden.

Ada profesi yang sama sekali tidak terdeteksi di ruang kemasyarakatan. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan protes terkait UMR rendah atau ketidakberpihakan kebijakan atas kehidupan. Mereka duduk sebagai mesin yang ditugaskan untuk mengatur, mengamati, serta membentuk ruang sosial kemasyarakatan sebagai pengaman kuasa.

Tokoh-tokoh dalam Leiden yang awalnya hendak meneliti sebuah naskah kuno, justru berurusan dengan organisasi yang sulit mereka sentuh, meski terasa dekat dan terbaca. Profesi terkait menciptakan ketakutan kepada orang-orang yang mempertanyakan, mereduksi, bahkan sekadar memelajari suatu kasus.

Peristiwa terkait “seolah-olah” menghadirkan keselarasan dengan kondisi kiwari yang serba tak menentu. Ketika seseorang menuntut, mengharapkan, serta memerjuangkan kondisi agar lebih baik justru berbalas keterancaman. Semua itu, terlalu kompleks untuk dibuktikan, sebab pelbagai dugaan mengakar pada pengertian mula dalam tulisan ini: terstruktur, sistematis, dan masif.

Dan, hal itu pula, dalam dugaaan pendek saya, digunakan Haris untuk membebaskan beban data sejarah sebagai bahan garapan Leiden. Ia mengutak-atik data sebagai kebutuhan cerita. Haris memberi kelegaan pada data sejarah sebagai bahan imajinasi alih-alih kontrol. Karena itu, Leiden, seperti kepingan celah dalam narasi kesejarahan yang terus mengambil posisi atas pertanyaan yang tak pernah usai. Ketergantungan narasi sejarah pada kuasa besar coba diurai lewat kehadiran Syamil dan Eva, yang merepresentasikan seorang peneliti muda penuh ambisi dan semangat resisten.

Tangkapan lain yang kemudian menghardik saya adalah pengertian bahwa kekuasaan selalu memiliki alat kontrol yang tidak terdeteksi. Dalam studi linguistik, dipelajari bagaimana bahasa bekerja sebagai bayang-bayang lewat critical discourse analysis. Sudut pandang linguis radikal melihat bahwa siapa yang menguasai dan mengontrol wacana, dialah pemenangnya.

“Eva, ada beberapa kekuasaan yang tak bisa kau lawan di dunia ini...” (hlm. 464).

Situasi sosial selalu dihadapkan dengan kondisi serupa peringatan di atas, sekalipun ditemukan perlawanan. Di situlah jarak antara fiksi dan realitas menjadi sangat tipis. Pertanyaan selanjutnya, ke mana waktu berpihak?

Baca Juga: RESENSI BUKU: Antigone, Impunitas, dan Ilalang Ingatan
RESENSI BUKU: Kumpulan Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang

Kejadian-kejadian

Tanda-tanda kerja kekuasaan dapat ditinjau dari peristiwa dalam suatu rentang waktu tertentu. Zaman kemudian merekamnya sebagai bahan refleksi di kemudian hari. Karena itu, setiap peristiwa selalu terikat dengan waktu dan lanskap sosial. Namun, ada satu hal yang terkadang lepas dari keduanya: narasi.

Sampai hari ini, terutama di tempat saya tinggal, masih ada narasi mengenai harta republik yang terpendam. Konon, harta itu akan digunakan ketika kondisi negara sedang genting. Atau, sampai Indonesia disebut negara maju, maka urutan presiden dari pertama hingga terakhir mesti dapat menghasilkan akronim yang berbunyi notonegoro.

Leiden, menyimpan narasi mengenai harta karun itu. Namun, dari kejadian yang muncul, pertanyaan tentang harta karun justru mengantar para tokohnya menuju kerja-kerja penelitian. Mereka menemukan ada sistem yang berjalan di balik realitas khalayak. Hal itu memberi pengertian tipisnya jarak antara realitas, historiografi, mitos, konspirasi, dan praktik sosiokultural. Seolah-olah, semua itu berjalan dengan sangat TSM.

Di dunia ini, pada saat setiap orang sedang memerjuangkan hajat hidupnya, di hadapan sistem, ternyata serupa mainan anak-anak yang semestinya diarahkan. Kondisi demikian selaras dengan kontrol bahwa ada pengetahuan yang sebaiknya tidak berada di ruang publik. Sebab, hal itu dapat mengganggu keamanan dan kestabilan.

Dengan begitu, status quo selalu dipertahankan oleh siapa pun yang berkuasa. Lewat Leiden, suguhan mengenai sistem yang terasa abu-abu hadir serupa jalinan yang kompleks. Bahkan, Syamil dan Eva ketika mempertanyakannya, berhadapan dengan sosok—bisa juga disebut bayang-bayang, yang sama sekali tidak bisa mereka sentuh, namun mereka merasakan keberadaannya.

Air mata, ketakutan, pengaturan, dan bentuk-bentuk resisten hadir dalam Leiden sebagai konteks. Buku ini mungkin akan disebut fiksi sejarah. Tetapi, ketika buku lepas dari pelekatannya atas sesuatu, dapat berubah posisi sebagai mesin. Leiden, sangat mungkin sedang mengambil peran pengorganisasian. 

Tanda tanya besar tentang kuasa yang hidup bertahun-tahun dan melewati zaman merupakan keniscayaan. Mungkin, sosok yang berperan di balik kuasa berganti, namun status quo tetap berada di situasi aman. Agar hadir satu perubahan besar perlu persebaran dan penguasaan wacana yang membutuhkan aktor dan waktu bertahun-tahun. Leiden, berada di antaranya, sebagai karya sastra atau realitas sesungguhnya. Blur.  Penuh lapisan. Terlihat sekaligus persis terasa serupa tiga kata pembuka tulisan ini. 

Informasi Buku:

Judul: Leiden 2020-1920

Penulis: Hasbunallah Haris

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Pertama, 2025

ISBN: 978-602-06-8553-3

Tebal: 552 halaman.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//