• Berita
  • Membaca Wajah Kampung Kota dari Kembang di TPU Astana Anyar

Membaca Wajah Kampung Kota dari Kembang di TPU Astana Anyar

Kelas Liar Besar di TPU Astana Anyar mengungkap persoalan sanitasi, kepadatan, dan minimnya ruang terbuka di Kampung Lio Genteng, Astana Anyar.

Kegiatan pra-event Kelas Liar Besar bertajuk Ngariung Nyieun Penyada Buku di Kampung Lio Genteng, Astana Anyar, Minggu 19 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam20 April 2026


BandungBergerak - Pagi di Tempat Permakaman Umum (TPU) Astana Anyar, Bandung langkah-langkah kecil menyusuri jalan setapak di antara nisan tua dan rerumputan liar. Sepuluh peserta dari kelompok yang berfokus pada isu kampung kota memetik bunga-bunga liar yang tumbuh di sela-sela kuburan.

Bunga-bunga itu akan mereka olah menjadi penyada atau pembatas buku. Namun di balik kerajinan pembatas buku ini mencuat isu sanitasi, kepadatan penduduk, ruang terbuka hijau yang rumit dan menjadi wajah dari permasalahan Kota Bandung.

Kegiatan ini bagian dari Kelompok Kampung Kota Projek, dalam pra-event Kelas Liar Besar bertajuk Ngariung Nyieun Penyada Buku  di Kampung Lio Genteng, Minggu 19 April 2026.  TPU Astana Anyar menjadi bagian penting dari lanskap Kampung Lio Genteng.

TPU Astana Anyar sendiri termasuk salah satu pemakaman tertua di Kota Bandung, yang telah ada sejak awal abad ke-20 pada masa kolonial Belanda. Dalam bahasa Sunda, “astana” berarti permakaman, sementara “anyar” berarti baru—sebuah penamaan yang kini terasa kontras dengan usianya yang telah melampaui satu abad.

Menurut Fauziansyah Hartadi atau akrab disapa Tata, salah satu penggagas kegiatan, permakaman Astana Anyar memiliki karakter yang unik. Di antara nisan, tumbuh tanaman pangan yang dimanfaatkan warga. Di sisi lain, kawasan ini juga dipenuhi pedagang kaki lima yang menjajakan makanan hingga barang elektronik bekas di sepanjang jalan utama Astana Anyar.

Tak hanya itu, ruang pemakaman juga kerap berubah fungsi menjadi area bermain anak-anak. Minimnya ruang terbuka di lingkungan padat membuat anak-anak memanfaatkan lahan makam untuk beraktivitas, termasuk bermain sepak bola.

“Di Astana Anyar ini (Lio Genteng) masih kekurangan lahan apalagi lahan terbuka untuk anak-anak,” jelas Tata.

Sejak Januari hingga April, kelompok ini melakukan observasi dan riset terkait persoalan kampung kota di kawasan tersebut. Mereka menemukan kesenjangan yang cukup mencolok. Di bagian depan, rumah-rumah besar berdiri di sepanjang jalan utama. Namun, semakin masuk ke dalam gang, kondisi berubah drastis—permukiman menjadi padat, bahkan ada rumah yang ruangannya digunakan sebagai akses jalan bagi warga.

Kepadatan penduduk menjadi persoalan lain. Dalam satu rumah, bisa dihuni lebih dari dua kepala keluarga. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sanitasi dan kelayakan hunian. Tata juga menyebut, sebagian lahan yang ditempati warga merupakan milik Pemerintah Kota Bandung, yang hingga kini belum memiliki kejelasan status bagi para penghuni.

Tata juga menyoroti pentingnya pendidikan. Observasi mereka menunjukkan tingkat pendidikan warga Lio Genteng, Astana Anyar kebanyakan lulusan SD. Banyak angkatan sekolah yng tinggal kelas dan akhirnya memilih bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Peningkatan terjadi setelah tahun 2020 di mana jumlah warga lulusan SMA mulai bertambah.

Baca Juga: Mengenal Kecamatan Astana Anyar: Kuburan Tua di Tengah Kota
JELAJAH KUBURAN-KUBURAN DI BANDUNG (2): Dari Banceuy ke Pajajaran

Kegiatan pra-event Kelas Liar Besar bertajuk Ngariung Nyieun Penyada Buku  di Kampung Lio Genteng, Astana Anyar, Minggu 19 April 2026.  (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Kegiatan pra-event Kelas Liar Besar bertajuk Ngariung Nyieun Penyada Buku di Kampung Lio Genteng, Astana Anyar, Minggu 19 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Kembang Permakaman

Selama mencari bunga-bunga di permakaman Astana Anyar, Sonya Putri Utami, salah satu angota kelompok, menjelaskan ada tiga tumbuhan yang menjadi ciri khas tersendiri di TPU ini, yaitu pohon hanjuang, puring, dan kamboja.

Ketiga pohon kembang itu, kata Sonya, memiliki arti khusus. Misalnya, pohon hanjuang memiliki dua warna, hijau dan merah. Warna hijau diartikan sebagai pembatas antara lingkungan warga dan permakaman. Sementara warna merah mencirikan area permakaman.

“Hanju sendiri artinya tadi napas terakhir karena dia menanda apa perbatasan antara dunia roh sama dunia kita,” jelas Sonya.

Ada juga pohon kamboja yang identik dengan bunga keabadian dan disimbolkan sebagai bunga kesucian. Bunga kamboja tumbuh di pucuk pohon dan memiliki lima helai berbentuk mahkota.

Sementara pohon puring di permakaman disebut sebagai pohon yang paling ningrat atau berkasta. Pohon ini memiliki simbol pelindung, penolak bala, dan penghormatan kepada almarhum. Salah satu tokoh sejarah yang dimakamkan di Astana Anyar adalah Sanoesi, suami pertama Inggit Ginarsih.

“Di kuburannya (Sanoesi) banyak di kelilingi pohon puring,” jelas Sonya.

Kendati begitu, permakaman di Astana Anyar ini juga banyak ditanami pohon-pohon berbuah, seperti jambu batu, nagka, hingga singkong. Menurut Sonya ada alasan mengapa banyak tumbuhan berbuah di TPU ini.

Di tahun 1960an, setelah pergantian lurah, tanaman sakral seperti kamboja banyak diganti menjadi tanaman pangan, seperti melinjo, nangka, ada juga pisang. Katanya, buah tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga setempat untuk dikonsumsi.

“Tapi kalau pohon singkong diambil cuma daunnya, aja. Kalau buahnya, nanti bisa rembes tanahnya,” ungkapnya.

Setelah menyusuri permakaman, para peserta berkumpul di salah satu kelas, di SD Negeri 249. Sonya  sudah menyiapkan beberapa plastik berbahan Oriented Polypropylene atau OPP, kertas, hingga setrika untuk membuat pembatas buku.

Mereka telah mengontongi berbagai jenis tumbuhan yang sudah dipetik seperti zinia, pacar air, hingga marigold. Bunga yang sudah dikumpulkan dipetik satu per satu dari tangkainya. Lalu disusun di atas kertas untuk disetrika.

Setelah permukaan daun atau bunga rata, selanjutnya ditata di atas plastik OPP sesuai selera. Plastik itu ditempelkan kembali dan disetrika. Maka, pembatas buku sudah siap digunakan.

Sonya menjelaskan, bunga yang ditempelkan di dalam plastik bakal awet, meski lama kelamanaan ia akan berubah warna dan mengering. Kendati demikian, ia akan tetap estetik secara tampilan dan masih bisa berfungsi sebagai pembatas buku.

Setelah acara Ngariung Nyieun Penyada Buku, Kelas Liar masih memiliki rangkaian agenda selanjutnya, yaitu ‘main event’ tanggal 16 Mei 2026. Tujuan utama dari Kelas Liar adalah mengenalkan warga secara utuh tentang tempat tinggal mereka, tentang sejarahnya hingga isu-isu yang melingkupinya. Diharapkan warga mengenali tempat tinggalnya secara utuh.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//