• Cerita
  • CERITA ORANG BANDUNG #112: Laju Sela di Balik Kemudi Angkot Panyileukan

CERITA ORANG BANDUNG #112: Laju Sela di Balik Kemudi Angkot Panyileukan

Di tengah riuh Bandung, Sela mengemudi angkot dan mengurus rumah tangga. Berbagi peran dengan suami.

Sela, sopir angkot Cicadas Cibiru Panyileukan di Terminal Panyileukan, Bandung, Senin siang, 20 April 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang23 April 2026


BandungBergerak – Angkot hijau tua dengan polet biru itu pelahan masuk mulut Terminal Panyileukan. Di balik kemudi, Sela perlahan memutar setir, badan mobil lalu berbelok mulus mengisi celah parkir yang sempit. Mesin masih menyala saat ia merapikan posisi kendaraan, memastikan angkotnya sejajar dengan deretan lain yang sudah lebih dulu berhenti.

Panas matahari menggantung di udara. Ia baru saja menuntaskan satu rit perjalanan sepanjang 24 kilometer trayek Cicadas Cibiru Panyileukan. Rute ini memakan waktu tempuh satu setengah jam, jika tidak macet. Tapi kapan Bandung tidak macet?

Di kursi sebelah, suami Sela duduk menemani, sesekali melirik ke arah terminal yang tak pernah benar-benar sepi. Setelah mesin dimatikan, suasana sempat terasa hening. Sela menghela napas pendek, melepaskan tangan dari setir yang sejak pagi digenggamnya.

Kini, mereka bisa menikmati jeda sejenak sambil makan siang, sebelum Sela menyalakan lagi mesin angkot itu untuk melanjutkan perjalanan mencari penumpang di tengah riuh redam Kota Bandung.

“Betah di Panyileukan teh, muatannya kan tetap gitu, terus (penumpangnya) udah pada tahu,” terang Sela, kepada saya, Senin siang, 20 April 2026.

Perempuan yang berusia 23 tahun itu telah menjadi sopir angkot sejak tahun 2017. Awalnya ia menarik angkot merah rute Cicaheum-Cileunyi. Seiring berjalannya waktu, ia pindah ke rute komplek dan kini sudah mau berjalan tiga tahun lamanya.

Menurutnya, rute yang ia pegang telah memiliki penumpang tetap, yakni warga komplek, siswa, mahasiswa, hingga pekerja yang mengadu nasib ke perkotaan. Berbeda halnya dengan rute angkot lain. Penumpangnya yang tidak tetap dan tidak terduga, membuat risiko keamanannya sulit diprediksi.

Setiap harinya, Sela menargetkan empat rit perjalanan. Rutinitas ini ia jalani setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sekitar pukul sembilan sampai pukul delapan malam, ditemani sang suami.

Angkot Cicadas-Cibiru-Panyileukan yang ia operasikan memang sudah puluhan tahun menjadi andalan warga Bandung Timur, khususnya Komplek Panyileukan, menuju tengah kota.

Penghasilan harian Sela bersumber dari penumpang pekerja dan murid sekolah. Bila sedang ramai, ia bisa mengantongi pendapatan 150-200 ribu rupiah. Namun bila sedang sepi, ia hanya mengantongi 100 ribu rupiah.

"Kalau ada mah ada, kalau enggak ada, enggak ada," ungkapnya. "(Kalau) hari libur, sepi Panyileukan mah."

Penghasilannya itu belum dipotong setoran 100 ribu rupiah per hari. Karena mobil yang ia kendarai bergantian dengan sopir tetap, ia hanya cukup menyetorkan 70 ribu rupiah. Selain itu, ia juga harus membayar pengeluaran rutin BBM.

Dengan penghasilan tersebut, ia merasa bisa mencukupi kebutuhan hariannya. “Gimana kitanya sih yang pegang uang,” ucapnya.

Perempuan di Balik Kemudi

Angkot sudah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, meskipun profesi ini mayoritas diisi laki-laki. Kondisi tersebut membuat kehadiran perempuan di sektor ini masih terbilang jarang. Dan Sela menjadi satu-satunya perempuan yang menjadi sopir di trayek Panyileukan ini.   

Sela belajar menyetir angkot secara alamiah. Sejak masih sekolah ia terbiasa ikut keluarga menarik angkot. Hampir seluruh keluarganya memang berprofesi sebagai sopir angkot, mulai dari orang tua, kakak, adik perempuannya, termasuk suaminya yang juga menjalankan trayek lain.

Lingkungan keluarga pula yang mendukungnya untuk bekerja di jalur ini. "Menurut saya mah (jadi sopir angkot) biasa weh," ungkapnya, singkat, sembari tertawa renyah.

Pilihan Sela bukan datang dari ruang hampa. Ia sudah ditempa cara hidup mandiri sejak belia.

"Enak gitu 'kan bisa cari uang sendiri mah. Biar sedikit pun, juga halal ya," tuturnya. 

Dan sopir angkot, ataupun profesi lainnya, adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh siapa pun. Ia tak mau ambil pusing dengan pandangan orang-orang atas perofesinya.

Baca Juga: CERITA ORANG BANDUNG #111: Hari Kartini di Meja Sibuk Guru Honorer
CERITA ORANG BANDUNG #110: Hal-Hal Kecil Membesarkan Adin

Angkutan kota melaju di Jalan Jakarta, Bandung, 21 September 2023. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)
Angkutan kota melaju di Jalan Jakarta, Bandung, 21 September 2023. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Berkompromi di Ruang Jalan Bandung

Sela mafhum bahwa setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk sopir angkot dengan risiko konflik antarpengendara, premanisme, kriminalitas, hingga kekerasan seksual. Suatu waktu, Sela menarik angkot malam-malam sendirian. Semua penumpangnya laki-laki.

Perjalanan malam itu ia lalui via Soekarno-Hatta yang panjang, sepi, mencekam, dengan penerangan jalan yang minim. Situasi seperti ini kerap menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang bekerja di ruang publik. Sepanjang perjalanan Sela hanya bisa diam sembari berharap-harap cemas akan keselamatannya. Beruntung, ia tidak mengalami hal buruk malam itu.

Akan tetapi, pengalaman itu menjadi refleksi besar baginya. Kini, ia tidak pernah lagi menarik penumpang sendirian baik siang maupun malam. Ia selalu ditemani oleh suami di pinggir kursi sopir.

Dalam praktiknya, kehadiran perempuan di ruang jalan di Bandung masih diiringi berbagai penyesuaian untuk menjaga rasa aman.

"Takut ya cowok semua mah gitu. Kalau berdua sama suami mah, aman-aman sih kalau penumpang cowok juga gitu," tutur Sela.

Bersama suaminya, ia selalu bekerja sama dan bergantian menyetir. Ketika malam hari tiba, suaminya yang akan mengambil alih kemudi.

Risiko lain, mobil mogok atau ban kempes. Dalam hal ini keberadaan suami sangat membantu.

"Kalau mogok gitu kan, takutnya sendiri, enggak ada yang bantuin," ujar Sela.

Bila suami sedang menarik angkot rute lain, terkadang Sela ditemani oleh temannya, istri sesama sopir angkot. Ini menjadi bentuk antisipasi Sela dalam menyikapi ruang-ruang publik di Bandung yang belum sepenuhnya aman.

Bagi Sela, menjadi sopir angkot adalah bagian dari tanggung jawab yang ia jalani sehari-hari. Di luar jam menarik penumpang, ia tetap mengurus rumah dan menjalankan peran domestik seperti perempuan lain pada umumnya. Namun situasi ini menunjukkan bahwa masuknya perempuan ke ruang kerja tidak selalu diikuti dengan pembagian peran domestik yang setara.

Di antara pekerjaan hariannya menyetir, menunggu penumpang, pulang, lalu mengulang rutinitas yang sama, Sela terus mengambil peran untuk bertahan dan menjaga hidupnya tetap berjalan. Di Hari Kartini yang jatuh 21 April lalu, kisah Sela menjadi pengingat bahwa jalan perempuan tidak harus selalu seragam.  

“Tanggung jawab perempuan gede. Kalau punya anak, ya ngurus anak, terus kerja. Pada akhirnya, jadi ibu sekaligus bapak,” ucap Sela.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//