• Buku
  • RESENSI BUKU: Menjawab Pertanyaan Apa yang Kau Lupakan Hari ini dari Jein Oktaviany

RESENSI BUKU: Menjawab Pertanyaan Apa yang Kau Lupakan Hari ini dari Jein Oktaviany

Kumpulan cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari ini? karya Jein Oktaviany menyimpan jejak proses kreatif pengarangnya dari waktu ke waktu.

Sampul buku kumpulan cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? karya Jein Oktaviany. (Foto Sumber: langgampustaka.com)

Penulis R Abdul Azis 26 April 2026


BandungBergerak“Aku juga ingin sekali menasihatinya dan berkata untuk jangan terlalu sentimental. Namun, aku malah bertanya, “Mabok?” – Hikayat Olive dalam Apa yang Kau Lupakan Hari ini? (Jein Oktaviany)

Membaca kumpulan cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari ini? karya Jein Oktaviany membikin saya mengingat lagi apa pentingnya cerita dan arsip. Dua kata tersebut, cerita dan arsip, memaksa saya menelusuri arti keduanya. Sebab dalam buku tersebut terdapat 18 cerita pendek yang keseluruhannya sudah ditayangkan oleh media massa, baik cetak maupun digital.

Sependek keyakinan saya pribadi (subjektif), saya percaya cerita merupakan cara manusia memberi makna pada pengalamannya. Sebuah pilihan, apa yang hendak diceritakan dan diabaikan. Cerita tak kan terlepas dari sudut pandang, emosi, serta konteks tempat dan waktu. Sementara arsip, menurut pandangan saya yang dangkal, merupakan jejak pengalaman yang disimpan untuk diingat, dibaca ulang, atau bahkan diwariskan.

Kedua hal tersebut berkelindan, setidaknya bagi sebagian orang, saling melengkapi. Cerita yang telah “dihidangkan” kadang kala perlu “diawetkan” melalui proses pengarsipan. Tujuannya tentu berbeda-beda, ada yang barangkali cukup untuk pengingat pribadi, ada pula yang sengaja untuk diwariskan.

Saya mencurigai, kumpulan cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari ini? merupakan upaya Jein untuk mengarsipkan pengalaman kreatif dirinya ke dalam sebuah buku–alih-alih menyusun kumpulan cerpen secara konseptual atawa tematik. Lantas, apa yang menarik dari membaca arsip karya milik Jein ini? Tentu saja setidaknya saya bisa membaca proses daya kreatifnya berkembang.

Dari rekam jejak pemuatan kedelapan belas cerpen tersebut, saya bisa mengetahui bahwa cerpen-cerpen Jein telah ditayangkan media circa 2018. Sementara cerpen yang paling akhir di dalam bukunya itu bertahun 2024. Apakah dalam kurun enam tahun pengarang hanya menulis delapan belas cerita pendek? Tentu saja saya tidak tahu. Namun, jarak waktu itu tetap memberi kesan bagi para pembaca untuk melihat ragam kreatif si pengarang.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Madonna in a Fur Coat, Begini Rasanya Jatuh Cinta Satu Abad yang Lalu
RESENSI BUKU: Bayang-Bayang Kuasa Lintas Zaman
RESENSI BUKU: Iman, Takdir, dan Kerapuhan Mental Generasi Muda

Percobaan-percobaan

Setelah membaca keseluruhan cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari ini?, saya menemukan adanya beberapa percobaan pengarang untuk “bermain” dengan bentuk plot dan sudut pandang. Setidaknya, pembaca dapat melihat dari dua cerpen yang ada di awal buku. Kenapa saya berasumsi bahwa itu percobaan? Tentu saja lantaran saya melihat adanya upaya pengarang untuk menghindar dari membebek dengan bentuk cerpen konvensional yang sering ditemui: penyusunan plot, tokoh, konflik, dan penutup yang ditata secara umum.

Cerpen pertama berjudul Twitter Titha: Secerpen Thread yang tokoh utamanya merupakan sebuah ponsel bernama Pluk. Cerpen yang bercerita mengenai Pluk yang mengambil alih media sosial pemiliknya bernama Titha. Si tokoh utama menceritakan kesaksian dirinya ke dalam media sosial dalam bentuk Thread. Ia melihat bagaimana Titha dimanipulasi, dilecehkan, dan mendapat kekerasan fisik juga mental oleh lelaki bernama Jimmy. Dimulai dari perkenalan Titha dengan Jimmy, lalu tipu daya Jimmy meminta hal-hal kurang ajar kepada Titha, melakukan ancaman, dan seterusnya.

Dengan apik, cerpen ini mengadopsi bentuk Thread yang kiwari lazim digunakan pengguna media sosial untuk menuangkan cerita atawa menjelaskan suatu peristiwa. Sudut pandang gawai yang memiliki sisi keberpihakan kepada si pemilik, dan menonjolkan sisi manusia pun terlihat meyakinkan.

Cerpen kedua Enam Hal yang Terjadi sebelum Anjani Mati, pembaca dapat menemukan pengolahan cerpen secara fragmentaris. Mengisahkan pengalaman seorang pelacur bernama Anjani kala melayani seorang lelaki berjenggot panjang. Nasib Anjani begitu nahas. Dirinya disiksa sedemikian rupa hingga meregang nyawa secara brutal.

Dalam cerpen tersebut, penggunaan sudut pandang ketiga memberikan keleluasaan pengarang mengatur plot untuk disusun. Mulanya, saya mengira pengarang sengaja membuat plotnya maju-mundur dengan penyisipan waktu agar pembaca lebih jeli. Namun di bagian akhir, pengarang justru memberikan catatan agar cerita bisa dibaca ulang dengan urutan fragmen tertentu. Ketika saya mengikuti saran tersebut, plot cerita tersusun lebih kronologis.

Dari dua contoh cerpen barusan, saya memandang ada upaya kepengrajinan pengarang dalam mengelola bentuk cerita pendeknya. Hal tersebut tentu saja memberikan sensasi lain bagi pembaca, yang terbiasa mengikuti cerita dari awal sampai akhir normal saja.

Selain percobaan bentuk dan sudut pandang, saya juga melihat adanya percobaan eksplorasi tema. Mulai dari kisah korban manipulatif dan kekerasan seksual, pembunuhan, magis, hingga futuristik. Meski demikian, urat yang merentang dalam cerita adalah persoalan hubungan.

Secara sadar atau tidak, pembaca akan berulang kali menemukan jalin perasaan antarmanusia yang kerap dipertanyakan. Semisal hubungan sepasang kekasih, sahabat, suami-istri, maupun relasi lain yang mengemban ketegangan.

Refleksi Tokoh atawa Pengarang

Saya mendapati adanya beberapa pertanyaan reflektif yang disuarakan tokoh-tokoh di dalam beberapa cerita. Misalnya pada cerpen Twitter Titha: Secerpen Thread terdapat kutipan:

“... saya tak berharap apa-apa kecuali retweet. Karena, saya pikir ponsel seperti saya tak berhak menasihati manusia tentang kemanusiaan.”

Atau dalam cerpen Enam Hal yang Terjadi sebelum Anjani Mati terdapat kutipan:

“Dia hanya mengingat ibunya yang menggendongnya saat dia kecil. Maafkan Anjani kecilmu ini, Mama, batinnya.”

Dari dua contoh kutipan dua cerpen yang berbeda, saya mengira ada upaya pengarang mempertegas sisi “manusia dan norma”. Tokoh, dengan latar belakang dan identitas tertentu, dicipta untuk setidaknya kembali memahami batas etis manusia. Permintaan maaf dari seorang tokoh pelacur saat dirinya “disiksa” oleh konsumennya, dan pemahaman atas hak berbicara kemanusiaan dari sebuah ponsel, memperlihatkan bagaimana pengarang mempertimbangkan kesadaran atas hal yang insani.

Belum lagi dalam cerpen Rekuiem, seorang tokoh yang memiliki tetangga kos, yang ia “tuduh” bisa berbicara dengan roh. Terdapat kutipan:

“’Kamu mungkin benar. Hidup bagi saya juga kurang lebih hanyalah petualangan yang nista.’ Kemudian dia tertawa nyaring menyerupai dentingan gelas yang dipukul”, juga “Kesendirian adalah altar kebebasan. Jangan menggangguku.”

Dalam cerpen Lukisan Petani dalam Mimpi terdapat kutipan:

“Di usia di mana kau baru merasakan ciuman pertama dengan sembunyi-sembunyi di toilet sekolah, dia sudah merasakan lelahnya membanting tulang. Kau tahu bahwa bekerja sejak muda di kampung adalah hal biasa, tapi kau merasa itu tidak adil.”

Atau dalam cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? terdapat kutipan:

“Kita menemukan secercah cahaya kecil berisi nostalgia.. yang hangat. Sebuah sejarah dan masa... Wanita Tua memandang mata Pria Tua. Rasanya mereka menjadi muda kembali.. perasaan bahagia itu. Lalu....”

Dari beragam kecenderungan tersebut, saya mencurigai adanya keinginan berlebih dari pengarang untuk mempertanyakan, atau setidaknya membicarakan, makna hidup juga makna suatu hubungan. Sebab kecenderungan tersebut bukan hanya ada dalam cerpen yang saya nukil narasi atau dialognya, tetapi juga hampir dalam keseluruhan cerpen.

Akhirnya, melalui Apa yang Kau Lupakan Hari ini?, saya memandang buku ini sebagai muara antara arsip, percobaan, dan refleksi. Cerpen-cerpen yang dihimpun menyimpan jejak proses kreatif pengarang dari waktu ke waktu. Percobaan atas bentuk, sudut pandang, dan tema memperlihatkan ketekunan pengarang dalam mengolah cerita pendek, sekaligus menunjukkan kecenderungan cara bercerita yang terus dimutakhirkan.

Di saat yang sama, refleksi-refleksi yang muncul lewat suara para tokoh menempatkan cerpen-cerpen ini sebagai ruang untuk menimbang hubungan, kesendirian, dan kemanusiaan. Di titik inilah suara tokoh dan sudut pandang pengarang kerap saling beririsan, bahkan saling tumpang-tindih, selaras dengan pertanyaan dalam judul utama buku tersebut: Apa yang Kau Lupakan Hari ini?. Irisan tersebut memberi kesempatan untuk pembaca memahami realitas yang dibiarkan terbuka, ganjil, dan terus mempertanyakan seabrek peristiwa.

Informasi Buku

Judul: Apa yang Kau Lupakan Hari ini?

Penulis: Jein Oktaviany

Penerbit: Langgam Pustaka

Cetakan Pertama: November, 2025

Tebal: vi + 162 halaman

ISBN: 978-634-251-085-8

ISBN Digital: 978-634-251-086-5

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//