RESENSI BUKU: Madonna in a Fur Coat, Begini Rasanya Jatuh Cinta Satu Abad yang Lalu
Madonna in a Fur Coat karya Sabahattin Ali bukan novel percintaan biasa.
Penulis Raden Muhammad Wisnu Permana19 April 2026
BandungBergerak – Milenial yang lahir pada tahun 90-an seperti saya pastinya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jatuh cinta satu abad yang lalu di Berlin. Hingga akhirnya saya membaca Madonna in a Fur Coat karya Sabahattin Ali setelah direkomendasikan oleh seorang teman saya di sebuah komunitas klub buku. Buku ini pun cukup sering lewat pada lini masa X, Instagram, maupun YouTube saya, jadi tanpa banyak menimbang ini itu, saya putuskan untuk segera membacanya.
Buku Turkiye Pertama yang Saya Baca
Jujur, perbendaharaan saya tentang buku masih sedikit. Dalam artian, selain buku-buku karya penulis Indonesia, buku-buku di luar itu barulah buku-buku karya penulis Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Jepang saja yang saya baru saya baca. Itu pun hanya versi terjemahan Indonesianya saja.
Saya akhirnya paham kenapa buku ini direkomendasikan teman saya maupun netizen. Saya merasakan Anemoia, yang menurut Urban Dictionary, artinya adalah sebuah perasaan rindu atau perasaan nostalgia akan sebuah kenangan di masa lalu yang tidak pernah kita alami secara langsung sama sekali.
Meski di awal cerita latar waktunya pada tahun 1940, sebagian besar buku ini berada pada latar waktu Kota Berlin tahun 1920-an setelah Perang Dunia I berakhir. Betapa indahnya jatuh cinta di era sebelum adanya kamera dan sosial media.
Entah kenapa, saya merasa seperti itu. Rasanya romantis sekali janjian dengan seseorang yang kita sukai tanpa terdistraksi notifikasi smartphone maupun keramaian kota. Berkirim surat dengan kekasih dan menulisnya secara manual dengan pulpen pun rasanya sangat indah dibandingkan saling berkirim pesan lewat WhatsApp. Rasanya lebih autentik. Apalagi, pastinya tidak jarang saat ini muda-mudi yang kebingungan untuk membalas pesan dari kekasihnya dan menggunakan AI untuk membalasnya.
Padahal era tersebut sangat menyeramkan juga kalau dipikir-pikir, saya bisa saja meninggal dunia karena wabah flu Spanyol atau sekadar tifus karena dunia kedokteran belum semaju sekarang. Saya juga bisa saja meninggal dunia karena gejolak politik yang tidak stabil pada zaman tersebut.
Satu hal yang pasti, Kota Berlin pada tahun 1920-an jauh lebih maju dibanding Jakarta maupun Surabaya pada tahun yang sama. Setidaknya, itu perbandingan saya ketika membaca Madonna in a Fur Coat karya Sabahatiin Ali dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer karena tokoh utama buku ini, Raif Effendi, sudah kerja kantoran pada tahun segitu sebagai seorang penerjemah.
Tentu, membandingkan dua kota tersebut hanya bermodalkan buku fiksi itu bias dan tidak tepat. Namun biar bagaimanapun, kedua buku tersebut adalah produk pada zamannya. Produk pemikiran, produk psikologi dan produk sosiologi pada zamannya. Dan betapa jauhnya peradaban kita dan Eropa saat itu.
Raif Effendi dan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya pun produk pada zamannya, namun saya rasa, secara pemikiran, sudah sangat maju. Buku ini pun diterbitkan pada tahun 1943, sehingga saya bisa tahu jalan pikiran dari seseorang pada tahun segitu.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Dongeng Pangeran Cilik untuk Orang Dewasa
RESENSI BUKU: Indonesia sebagai BukuRealisme Magis
RESENSI BUKU: Mengarungi Samudra Kebijaksanaan, Melihat Dunia Rumi dalam Fihi Ma Fihi
Sabahattin Ali
Mudah saja menutup mata dan menilai bahwa Madonna in a Fur Coat sebagai novel percintaan biasa. Tapi ya ini bukan sekadar novel cinta-cintaan biasa. Ini cerita cinta tentang Raif Effendi, pria Muslim Turkiye dengan Maria Puder, gadis Jerman keturunan Yahudi Jerman–Praha dengan segala dinamikanya.
Masih menganggap ini roman picisan? Tengok saja penulisnya. Sabahattin Ali pada tahun 1948 pada usia 41 tahun di perbatasan Turki–Bulgaria. Penyebab kematiannya misterius. Tapi yang jelas, ia dibunuh, entah oleh siapa. Diduga kuat karena ia terlalu keras mengkritik pemerintah Turkiye pada masanya sehingga dilenyapkan penguasa. Who knows?
Sabahatiin Ali pun berkali-kali keluar masuk penjara karena tulisannya yang tajam. Mungkin bisa kita sejajarkan dengan penulis Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer dan Ahmad Tohari yang sama-sama pernah masuk penjara karena alasan politis pada zamannya karena tulisannya.
Membaca Madonna in a Fur Coat bukan cuma tentang melihat Raif Effendi yang jatuh cinta pada Maria Puder di Berlin. Tapi bahwa jatuh cinta, kapan pun dan di mana pun itu sama saja. Seperti kata Chu Pat Kay, si siluman babi dalam serial Kera Sakti, “Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir.”
Informasi Buku
Judul buku: Madonna in a Fur Coat
Penulis: Sabahattin Ali
Penerbit: Mizan
Tahun terbit: 2025
Jumlah halaman: 260
Bahasa : Indonesia
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

