• Berita
  • Memahami El Niño Godzilla: Seberapa Besar Ancaman bagi Jawa Barat?

Memahami El Niño Godzilla: Seberapa Besar Ancaman bagi Jawa Barat?

Di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan, potensi kemarau ekstrem mengancam ketahanan pangan dan memperlemah kelompok rentan.

Warga menggiring ternak bebek di dasar Sungai Cipamokolan yang nyaris kering, Desa Tegalluar, Kabupaten Bandung, Kamis, 5 Oktober 2023. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Penulis Yopi Muharam1 Mei 2026


BandungBergerak - Fenomena El Niño berintensitas tinggi yang dijuluki Godzilla diprediksi berpotensi terjadi pada 2026 dan memicu kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Kelompok rentan seperti perempuan, petani, dan nelayan disebut akan menjadi pihak yang paling terdampak jika kondisi ini terjadi.

Prediksi tersebut disampaikan oleh Tim Kampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Musdalifah. Ia menilai fenomena El Niño kali ini tidak bisa dipandang sebagai siklus alam semata, melainkan berkaitan erat dengan krisis iklim yang semakin memburuk.

"Ada salah kaprah pemerintah dalam merespons krisis iklim ini sendiri, yang ternyata justru melahirkan persoalan baru dan mempercepat krisis iklim yang meningkatkan suhu panas global itu terjadi," kata Musdalifah dalam diskusi bertajuk El Nino Mode Godzilla: Jabar Siap-Siap Overheat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Selasa, 28 April 2026.

Mengacu pada riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Niño diperkirakan berlangsung pada periode musim kemarau, sekitar April hingga Oktober 2026. Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan intensitasnya yang lebih kuat, dengan durasi cuaca ekstrem lebih panjang, peningkatan suhu global, serta risiko kebakaran hutan dan lahan yang lebih tinggi.

WALHI mencatat, sepanjang 1–24 Maret 2026 terdapat 11.189 titik panas di Indonesia, dengan 1.351 titik berada di dalam area konsesi perusahaan tambang, perkebunan sawit, dan kehutanan. Data ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan turut memperparah dampak krisis iklim.

“Mengembangkan sebuah usaha di kawasan yang seharusnya itu menjadi ekosistem esensial yang harus dijaga, yang harus dilindungi, justru itu dialihfungsikan menjadi sebuah perusahaan tambang, perusahaan sawit, dan lain sebagainya,” tegas Musdalifah.

Secara umum, El Niño berpotensi menyebabkan peningkatan suhu ekstrem, penurunan curah hujan, kekeringan, krisis air bersih, serta gangguan pada produksi pangan. Dampak lanjutan yang mungkin terjadi meliputi gagal panen, kenaikan harga pangan, hingga meningkatnya risiko penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan.

Dampak Nyata bagi Kelompok Rentan

Dosen Komunikasi Lingkungan Universitas Pasundan, Dhini Ardianti, menilai kelompok rentan akan merasakan dampak paling besar, terutama perempuan dan masyarakat yang bergantung pada sektor alam.

Menurutnya, perempuan, khususnya ibu rumah tangga, akan menghadapi tekanan tambahan dalam memenuhi kebutuhan dasar ketika terjadi krisis air. Selain itu, petani dan nelayan juga berada dalam posisi rawan. Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu produksi pertanian, sementara kenaikan suhu laut berpotensi menurunkan hasil tangkapan ikan.

Untuk mengantisipasi krisis pangan, Dhini mendorong diversifikasi sumber pangan. Ia mencontohkan masyarakat adat di Cirendeu yang telah lama mengonsumsi singkong sebagai alternatif beras.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi pemerintah yang sederhana dan inklusif agar informasi terkait perubahan iklim dapat dipahami oleh masyarakat hingga tingkat akar rumput.

“Fungsi penyamaan persepsi ini yang menjadi salah satu ruang lingkup yang harus dikaji terus-menerus, bagaimana menyederhanakan berbagai data sains lingkungan atau bahkan regulasi kebijakan undang-undangnya sudah ada. Tapi implementasi ke masyarakat terutama yang tadi masyarakat rentan, mereka kan perlu ada narasinya harus sesuai dengan pemahaman mereka yang memudahkan mereka untuk menafsirkan berbagai pesan dari regulasi yang ada," ungkap Dhini.

Baca Juga: Dibutuhkan Terobosan dari Pamkot Bandung untuk Mengantisipasi Dampak Kemarau
Kekeringan Menghantui Bandung Raya

Diskusi bertajuk El Nino Mode Godzilla Jabar Siap-Siap Overheat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Selasa, 28 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Diskusi bertajuk El Nino Mode Godzilla Jabar Siap-Siap Overheat di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Selasa, 28 April 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penjelasan Ilmiah

Peneliti BRIN Eddy Hermawan menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang dapat memicu perubahan pola cuaca global. Di Jawa Barat, sejumlah wilayah seperti Karawang, Indramayu, Subang, hingga Cirebon berpotensi mengalami dampak kekeringan jika El Niño menguat.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa istilah El Niño “Godzilla” bukan istilah ilmiah resmi dan belum dapat dipastikan terjadi pada 2026.

“Jadi mohon dipahami bahwa BRIN amat sangat hati-hati dalam mendefinisikan satu fenomena kecuali didasari atas kajian ilmiah yang sangat mendalam begitu,” jelasnya.

Menurutnya, hingga awal tahun 2026 kondisi cuaca masih relatif normal. Pemanasan mulai meningkat sejak April, tetapi belum mencapai kategori ekstrem. Artinya, suhu akan mulai merangkak naik dan mencapai puncaknya sekitar Agustus-September.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa panik, serta mulai melakukan langkah antisipasi seperti pengelolaan cadangan air.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang. Kepala Bidang Pencegahan BPBD Jawa Barat, Edy Heryadi, mengatakan pihaknya belajar dari pengalaman 2023, ketika kemarau panjang memicu sekitar 700 kejadian kebakaran, termasuk kebakaran TPA Sarimukti.

Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain pengelolaan sumber daya air, pemantauan cadangan air di waduk dan embung, serta pengaturan pola tanam berdasarkan kalender musim dari BMKG.

Pemerintah daerah juga menyiapkan cadangan beras sekitar 337 ton untuk mengantisipasi potensi krisis pangan.

"(Beras) akan disalurkan ke daerah rawan pangan, krisis pangan, bencana, dan keadaan darurat,” jelasnya.

Selain itu, koordinasi lintas sektor dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur air, kesehatan, dan pertanian dalam menghadapi dampak kekeringan.

Meski demikian, potensi El Niño berintensitas tinggi tetap menjadi peringatan bagi semua pihak. Kombinasi antara faktor iklim dan kerusakan lingkungan dinilai dapat memperbesar risiko bencana. Kesiapsiagaan pemerintah, adaptasi masyarakat, serta perbaikan kebijakan lingkungan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.

Tanpa langkah mitigasi yang serius, krisis serupa berpotensi terulang dengan skala yang lebih besar.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//