RESENSI BUKU: Kelabang, Kisah Para Narapidana, dan Siksaan Bagi Pembacanya
Novel Kelabang karya Bima Satria Putra berhasil mempermainkan dan menyiksa pembacanya. Nihilisme menjadi spoiler novel ini.
Penulis Purwa Sundani3 Mei 2026
BandungBergerak – Saya pertama kali mendengar nama Bima Satria Putra sekitar tahun 2021-an, berawal dari bukunya yang berjudul Dayak Mardaheka (2021) yang tersebar liar dan cukup mudah dicari di internet. Belakangan, ketika masuk jurusan Antropologi Budaya di salah satu kampus di Bandung pada tahun berikutnya, saya mulai membaca karya lain yang ia tulis, misalnya buku Anarki di Alifuru (2024) maupun karya lain yang ia terjemahkan, salah satunya Kepingan-kepingan Antropologi Anarkis (2021) karya David Graeber. Tapi, pembaca tentu tidak asing dengan karya teoritis, karya ilmiah, maupun karya terjemahan yang Bima tulis. Pun begitu, saya pun cukup tak asing dengan karya-karyanya–terlebih karya-karyanya yang cukup bernafas antropologis.
Namun bagi saya ada satu keterkejutan, sesuatu yang cukup asing ketika pertama kali mengetahui ternyata Bima menulis fiksi–mengingat kebanyakan karya yang ia tulis bersifat nonfiksi–berjudul Kelabang (2026). Dalam tulisan ini, saya mencoba meresensi, atau barangkali mengulas novel yang Bima tulis secara santai, sekenanya, dan tentu, ditulis tanpa menggunakan bantuan AI yang sedang tren dewasa ini.
Di sampul depan, pembaca dengan usia di atas 30 tahun mungkin akan merasa “nostalgia” dengan sampul novel-novel tahun 1980-1990-an, katakanlah seperti sampul novel-novel Freddy S atau Enny Arrow (cukup kontroversial). Bagi saya, sampul yang dibuat ala-ala 80-90-an ini cukup jujur, sebab dalam keterangannya, Penerbit Jangkar selaku penerbit Kelabang dengan jujur menuliskan gambar sampul dibuat oleh Gemini (Akal Imitasi). Satu poin untuk kejujuran penerbit ini.
Ketika pembaca melihat sampul belakang novel, tertulis deklarasi “NASKAH YANG TIDAK MEMENANGKAN SAYEMBARA NOVEL DKJ 2023”. Informasi yang menurut saya tidak terlalu penting, tapi barangkali menjadi penting sebagai informasi bahwa naskah awal Kelabang ditujukan untuk bertanding dalam Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Lalu kalah. Informasi lain di sampul belakang adalah pernyataan bahwa sudut pandang dalam novel Kelabang tidak akan pernah ditemukan dalam karya yang ditulis oleh sastrawan mana pun, kecuali mereka yang telah “nyemplung ke dalamnya”. Jujur, di sini saya semakin penasaran dengan isi novel Kelabang.
Ketika membaca beberapa halaman muka, pembaca disuguhi kutipan dari Shabkar Tsokdruk Rangdrol, seorang penyair Tibet yang menyatakan “Jika kamu suka menakut-nakuti orang lain, kamu akan terlahir kembali sebagai kelabang.” Jelas, ini adalah kutipan bijak agar orang senantiasa berlaku baik dari seorang penyair Tibet yang namanya baru saya dengar. Namun apakah kutipan ini merupakan “clue” dari sebagian besar novel ini? Baiknya pembaca harus membaca novel ini sampai tuntas, sebab dalam pengalaman saya membaca novel ini, cukup menyiksa dalam menyelesaikannya.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Bayang-Bayang Kuasa Lintas Zaman
RESENSI BUKU: Iman, Takdir, dan Kerapuhan Mental Generasi Muda
RESENSI BUKU: Menjawab Pertanyaan Apa yang Kau Lupakan Hari ini dari Jein Oktaviany
Siksaan bagi Pembacanya
Siksaan bagi pembaca novel ini rasa-rasanya dimulai sejak bab pertama. Dengan berlatar penjara di Yogyakarta, para tahanan merasakan berbagai hal yang cukup rumit, aneh, sedih, haru, dan frustasi. Di tengah menjalani masa hukuman, pembaca diperlihatkan semacam realitas penjara yang sungguh mengerikan. Kutipan homo homini lupus benar-benar dipertontonkan dalam novel ini. Di penjara, siapa yang kuat, dia yang menang. Begitulah ketika Bima menuliskan kisah John, seorang mahasiswa sekaligus bandar narkoba yang seringkali diperas oleh Dedi, seorang preman yang hampir seluruh tubuhnya dipenuhi bekas jahitan yang mirip dengan kelabang. Pemalakan, kesewenang-wenangan, dan tindakan tak menyenangkan Dedi pada tahanan lain (jelas dalam novel ini Dedi menikmati tindakan itu) menjadi siksaan awal pembaca karena harus menahan kesal, marah, dan dongkol di tiap membaca sikap Dedi.
Kutipan homo homini lupus terlihat kembali ketika di suatu bab, diceritakan terjadi gesekan antara kelompok Pakde Wahid dan Pakde Bakrie yang berujung pemberontakan tahanan dan pembunuhan anak buah Pakde Wahid oleh anak buah Pakde Bakrie. Awal mula chaos ini ditengarai dendam kesumat Pakde Wahid pada Pakde Bakrie, hingga akhirnya menyulut emosi pada “pengikut” masing-masing jago penjara. Ketika chaos berlangsung, pembaca dipaksa untuk membaca tiap kengerian dan kebrutalan anak buah Pakde Bakrie saat membantai anak buah Pakde Wahid. Rata-rata pembantaian dilakukan menggunakan sendok yang ditajamkan ujungnya–dijadikan pisau. Menurut saya, ini menjadi hal yang paling menyiksa tapi nikmat. Bima berhasil membungkus kengerian dan kebrutalan dengan seru dan mengalir. Satu poin lagi untuk Bima.
Siksaan kedua bagi pembaca novel ini berkaitan dengan Kelabang memuat pandangan patriarkal ekstrem dan misogini, sebagaimana terlihat dalam kesewenang-wenangan Wicak, seorang bajak laut, pada istrinya sebelum ia dipenjara. Yang membuat saya tersiksa adalah munculnya rasa tidak nyaman ketika bagaimana Wicak memperlakukan istrinya tak lebih dari budak dan hanya menjadi bagian dari pemuas nafsunya saja; begitu juga kelakuan Dedi pada selingkuhannya, Sri; dan begitu juga kelakuan Mahendra pada Ira, istrinya. Pembaca harus melewati siksaan rasa tidak nyaman dalam menyelesaikan novel ini. Tentu, penggambaran adegan per-adegan itu tanpa basa-basi. Fyuhhh.. bayangkan bagaimana tersiksanya saya ketika membaca kelakuan ketika para tokoh tadi sedang ngeseks (betul-betul diceritakan saat hubungan seks itu). Namun menjadi poin untuk Bima dalam novelnya ini, adalah bagaimana seks, romantisisme, dan dinamika percintaan antartokoh tidak ditulis sebagaimana novel picisan remaja, Bima unggul dalam memainkan kata dan kalimat di tiap menggambarkan sesuatu yang erotik.
Siksaan ketiga yang dialami pembaca adalah pergulatan rasa sedih yang bercampur aduk. Jujur, Bima sebagai penulis unggul (lagi) dalam mempermainkan perasaan pembaca; pembaca dibawa marah, kesal, jijik, tapi juga kadang dibawa tersentuh dan sedih. Ini dapat dilihat ketika John mendapat kabar bahwa Mawar, pacarnya, lebih memilih lelaki lain daripada menunggu John keluar penjara; Bagaimana Wicak merasa gagal menjadi seorang ayah ketika anaknya hamil oleh seorang anak polisi yang tak mau bertanggung jawab, ditambah ia harus kehilangan istrinya saat ia dipenjara; juga ketika Dedi mendapat kabar bahwa selingkuhannya harus pergi meninggalkannya ke Sulawesi karena ikut program transmigrasi; bagaimana Mahendra mengalami hari penuh kesendirian di penjara sebab istrinya tak mau menunggu; bagaimana Pakde Bakrie merasa malu dan merasa gagal menjadi ayah karena anaknya cacat dan jadi bahan olok-olok kelompok saingan; dan beragam kesedihan, kesendirian, dan depresi yang dialami para tahanan. Poin lagi untuk Kelabang.
Siksaan keempat yang membuat pembaca bingung adalah terkait entitas-entitas asing yang hanya sekelebat ditampilkan dalam novel. Sosok bayangan hitam atau entitas lain barangkali adalah bumbu horor penjara, jujur saya tersiksa dalam pertanyaan di kepala saya sendiri, seperti “apa maksudnya? Ini sebetulnya genre novel apa? Mengapa penuh pertanyaan?”. Pembaca novel ini dibawa dalam teka-teki dan kebingungan. Kelabang-kelabang datang seperti teror bagi para tahanan, meskipun kelabang tak selalu berbentuk “kelabang”.
Novel Eksperimental
Bima, sebagai penulis saya pikir telah menyiksa saya dengan novel yang kalau boleh saya bilang “novel eksperimental”. Perasaan pembaca dipermainkan. Dan jujur, sempat saya ingin menjauhkan novel ini dari hadapan saya, bahkan terpikir untuk membuangnya karena kadung tidak nyaman saat membacanya. Tetapi, ketika saya telah menyelesaikan novel ini, saya baru paham atas segala perasaan jijik, bingung, sedih, dan marah selama membaca novel ini. Tapi, saya harap pembaca jangan kecewa jika saya tak beri tahu jawabannya di sini. Ada semacam perjanjian antara saya dan para tokoh dalam novel Kelabang (saya serius, tidak bohong). Tak berlebihan jika pernyataan “inilah akibatnya kalau nihilisme diizinkan masuk ke ranah sastra” yang tertulis di sampul belakang adalah sebuah spoiler isi dari novel ini.
Meski Kelabang cukup banyak mendapat poin plus di mata saya, bukan berarti Kelabang sepenuhnya sempurna. Sebagai pembaca yang sebetulnya jarang membaca karya sastra, Kelabang memang menawarkan suatu “keasyikan” baru dalam sastra, dengan penulisan yang apik dan penceritaan yang cukup berani. Akan tetapi, menurut saya alangkah baiknya di awal halaman depan novel diberi peringatan atau trigger warning. Sungguh, saya membayangkan bagaimana tidak nyamannya pembaca yang memiliki trauma ketika membaca novel ini. Selebihnya saya rasa sudah cukup.
Jika ditanya bagian mana yang paling berkesan bagi saya dalam Kelabang ini, dengan mantap saya jawab: bagian ketika Dedi menghisap tembakau sintetis atau lebih dikenal sebagai sinte, sebab entah bagaimana semacam ada kelucuan ketika membayangkan seorang gentho brangasan sedang ngefly, bagaimana visual imajinasi Dedi ketika menghisap sinte digambarkan dengan teks yang absurd dan sulit saya jelaskan. Baiknya pembaca silakan baca novel Kelabang ini sendiri.
Tip dari saya, jika pembaca masih berusia di bawah 18 tahun, harap jangan membaca novel ini, alangkah baik silakan baca novel lainnya.
Informasi Buku
Judul Buku: Kelabang
Penulis: Bima Satria Putra
Tahun Terbit: 2026
Penerbit: Penerbit Jangkar
Jumlah Halaman: 224 hlm
ISBN: Tanpa ISBN
Keterangan Tambahan: Berisi kekerasan dan muatan erotis. Novel Khusus Dewasa!
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


