• Opini
  • Perbandingan Donna Donna dan Pupuh Maskumambang dalam Narasi Penderitaan dan Kuasa Manusia

Perbandingan Donna Donna dan Pupuh Maskumambang dalam Narasi Penderitaan dan Kuasa Manusia

Lagu Donna Donna dan Pupuh Maskumambang bertemu pada benang merah yang sama, yaitu respons manusia terhadap ketidakadilan yang dilihatnya.

Arini Joesoef

Bergiat di Nyimpangdotcom. Menulis, melukis, dan bermusik tipis-tipis.

Ilustrasi kuda penarik delman. (Foto: Dokumentasi Arini Joesoef)

6 Mei 2026


BandungBergerak – Semenjak menulis draft buku keempat saya yang berjudul Yusuf dan Sapi Betina, saya kembali mendengarkan Donna Donna. Seorang teman bahkan berkata, “Membaca bukumu seperti mendengarkan ulang lagu Donna Donna.” Lagu itu pertama kali saya dengar lewat film Gie.

Donna Donna berkaitan erat dengan Holocaust. Lagu ini diciptakan oleh Sholom Secunda dan Aaron Zeitlin, lalu pertama kali dipentaskan pada 1940-an.

Donna Donna mengisahkan perjalanan seekor anak sapi yang dibawa menuju penjagalan. Karena itu, setiap melihat karya bertema Holocaust seperti Life Is Beautiful, The Pianist, Schindler's List, atau The Boy in the Striped Pajamas, bahkan video sapi menjelang Idul Adha, saya spontan mendengar lagu itu dalam kepala.

Beralih ke Pupuh Maskumambang, saya memang gandrung pada lagu-lagu Sunda. Saat sekolah, pelajaran Mulok memperkenalkan saya pada pupuh. Pupuh Kinanti mungkin yang paling diingat banyak teman seangkatan saya. Adapun Maskumambang baru belakangan saya dengar kembali.

Liriknya membawa saya pada kenangan seekor kuda delman di Jalan Kebon Kopi, Cimahi, yang pernah menyenggol motor saya. Kawasan itu memang masih banyak delman. Warga biasa membayar ongkos Rp5.000 untuk ke pasar atau sekadar menenangkan anak kecil dengan naik delman.

Saat kuda itu menabrak motor saya, perhatian saya justru tertuju pada tubuhnya. Berjalan mundur, liurnya menjuntai, matanya sedih, geraknya lambat dan letih. Saya membayangkan betapa berat hidup hewan yang harus menarik beban manusia sepanjang hari. Ketika ia melambat, kusir bisa saja mencambuknya.

Mungkin itulah sebabnya Pupuh Maskumambang terasa begitu menikam. Saya sulit membayangkan hidup sebagai makhluk yang tenaganya diperas, bahkan mungkin minum saja tak cukup. Ketika mendengar dua lagu itu, saya hanya bisa menyanyikannya dengan suara seadanya sambil mengingat hewan-hewan tersebut dengan pemahaman yang tentu terbatas.

Secara historis, Donna Donna lahir dari konteks trauma kolektif yang sangat spesifik. Lagu ini diciptakan oleh Sholom Secunda dan Aaron Zeitlin dan pertama kali dipentaskan dalam panggung teater awal 1940-an, tepat ketika Eropa berada di bawah bayang-bayang Holocaust.

Ada pun Pupuh Maskumambang yang merupakan bagian dari tradisi sastra lisan Sunda yang saya yakini bisa jadi jauh lebih tua, berakar pada kebudayaan agraris dan relasi manusia dengan alam. Dalam tradisi pupuh yang awalnya berbentuk puisi dan dinyanyikan, Pupuh Maskumambang ini dipakai untuk menuturkan kisah kuda delman yang dipaksa bekerja tanpa jeda. Lagu ini saya pikir bekerja sebagai kritik halus terhadap relasi kuasa sehari-hari yang kerap dianggap lumrah seperti yang terjadi pada manusia kepada hewan, majikan kepada pekerja, dan pemerintah kepada rakyat..

Meskipun lahir dari konteks sejarah, geografis, dan kebudayaan yang sangat berbeda, kedua lagu ini bertemu pada benang merah yang sama, yaitu respons manusia terhadap ketidakadilan yang dilihatnya.

Baca Juga: Krisis dan Ketidakadilan Sosial
Minke dan Warisan Ketidakadilan, Relevansi Bumi Manusia di Era Modern
Tokécang dan Dunia yang Rakus, Membaca Ketidakadilan Global dari Kearifan Tradisi Sunda

Posisi Hewan dalam Dua Masa

Kisah paling terkenal yang saya tahu terkait sapi adalah ketika sebagian kaum Bani Israil menyembah patung sapi saat Musa pergi ke Gunung Sinai dan pemecahan kasus pembunuhan yang menggorok sapi betina. Dalam tradisi agama samawi, sapi yang saya tahu kerap hadir sebagai bagian dari kehidupan pastoral yang menemani lingkup spiritualitas manusia, digunakan sebagai persembahan. Meskipun memang, lirik Donna Donna mengisahkan sapi sebagai hewan yang fungsinya sudah beralih menjadi tenaga dalam ekonomi masyarakat.

Dalam kisah Musa, manusia tampaknya memiliki kecenderungan membekukan yang “tak tampak” ke dalam bentuk yang bisa disentuh dan disembah. Sedangkan dalam kisah sapi betina, meskipun memang hanya dijadikan “objek” untuk pembuktian kebenaran, keduanya tetap menempatkan sapi pada proses spiritual dan pengorbanan.

Kalau kita menonton Khrisna dan Suling Ajaib saja, kita bisa melihat bahwa penghormatan pada sapi masih dilakukan. Sebetulnya di masyarakat agraris juga mirip-mirip. Dalam kebudayaan Sunda, sapi hadir dengan dekat dan membumi. Turun ke sawah pagi sampai sore. Tapi memang, proses “perkenalannya” tentu tidak lewat ayat dan hadis saja.

Menariknya, ketika memasuki zaman industri, makna itu menjadi bergeser. Sapi menjadi mesin produksi dan status ekonomi. Donna Donna buktinya. Anak sapi yang digiring ke pasar sebagai metafora makhluk yang tak berdaya di hadapan sistem yang lebih besar dari dirinya. Burung layang-layang di langit bebas, sementara sapi berjalan menuju nasib yang ditentukan manusia.

Pergeseran yang ciamik. Di dunia yang serba profit ini, sapi dan hewan tak lagi ditempatkan di altar, sekarang sapi-sapinya berjalan di atas pisau. Pada saat lebaran haji, juga. Sapi-sapi dipotong dan seringnya malah dijadikan media pamer.

Lagi-lagi, tak bisa apa-apa.  Yang satu jadi tumbal, yang lainnya jadi buruh yang dibayar semaunya.

Jangan-jangan, dari kecil kita juga sudah dibikin nirempati dengan lagu Naik Delman Istimewa.

Perbandingan Donna Donna dan Pupuh Maskumambang

Secara garis besar, kedua lagu ini memang ditulis dalam dua sudut pandang yang sama: orang ketiga serba tahu. Meskipun dalam Pupuh Maskumambang, ada bagian yang menunjukkan /aku lirik/ adalah si sapi atau subjek.

Dalam penggunaan /aku lirik/ sebagai orang ketiga serba tahu, saya mengamati dan menyusun penderitaan-penderitaan tersebut sebagai kisah yang kemudian dimunculkan dalam lirik keduanya.

Dalam Donna Donna, sudut pandang orang ketiga konsisten digunakan. Anak lembu tidak diberi suara secara langsung. Ia menjadi objek yang dilihat dan dibicarakan pelantun. Bahkan ketika penderitaannya memuncak, yang berbicara tetaplah si pelantun itu.

Pertanyaan dalam lirik

“Who told you a calf to be?” tidak berasal dari si anak lembu, namun berasal dari si farmer yang direka ulang oleh pelantun, dan si anak lembu yang kasihan itu tetap menjadi objek wacana.

Sebaliknya, Pupuh Maskumambang mencampurkan dua sudut pandang. Si kuda diberikan suara untuk menjadi narator dan menyuarakan kesedihannya sekaligus. /Aku lirik/ muncul dari dalam tubuh hewan itu sendiri.

“Naha abong-abong teuing / Nasib abdi jadi hewan”

Di sini, kata abdi yang berarti “aku” merupakan pernyataan dari si kuda, objek yang pada lirik sebelumnya hanya dibicarakan dan dikisahkan oleh orang ketiga serba tahu.

Pupuh Maskumambang memindahkan penderitaan dari yang diamati menjadi yang dirasakan. Hal ini ditegaskan kembali pada lirik:

“Digawekeun beurang peting / Dirangket taya ras rasan”

Kemudian, diperjelas lagi pada:

“Abong kena abdi sato teu ngarasken kana cape”

Aku lirik (dalam lirik tersebut “abdi”) menempatkan diri sebagai hewan (sato) yang seolah teu nagraskeun kana cape. Sebagai sato, ia dianggap tidak merasa lelah dan tidak pantas mengeluh.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa Donna Donna sepenuhnya mempertahankan sudut pandang sebagai orang ketiga, dan Pupuh Maskumambang memiliki pergeseran sudut pandang dari orang ketiga serba tahu menjadi orang pertama.

Meskipun begitu, persamaan suara yang berasal dari penderitaan hewan pada kedua lagu tersebut tetap tidak berkurang. Kedua lagu ini menunjukkan bahwa kuasa manusia bekerja paling efektif ketika disandingkan dengan makhluk lain, bahkan sejak zaman baheula.

Dalam konteks itu, mendengar dan menyanyikan kembali lagu-lagu tersebut menjadi upaya kecil untuk merenungkan peran manusia. Mencintai leluhur dan tanah kelahiran bukan hanya soal merawat ingatan, tetapi juga berani menatap ulang warisan kuasa yang selama ini dianggap biasa. Eksploitasi hewan memperlihatkan bahwa sejak dulu manusia menempatkan dirinya sebagai pusat rasionalitas, penentu nilai, sekaligus pemilik otoritas atas hidup dan mati makhluk lain.

Eksploitasi hewan oleh manusia bekerja sebagai rezim kuasa yang sistemik, yang membuktikan bahwa sejak dulu, manusia menegaskan posisinya sebagai pusat rasionalitas, penentu nilai, sekaligus pemilik otoritas atas hidup dan matinya makhluk lain.

Saya lalu membayangkan bagaimana jadinya jika manusia tidak diberi akal? Akankah bumi serusak sekarang?

Sebab tak ada salahnya juga saya rasa apabila saya berkata bahwa punahnya satu per satu spesies hari ini adalah konsekuensi dari manusia yang selalu menempatkan dirinya sebagai pusat semesta. Hutan yang gundul, laut yang kotor, hewan-hewan yang terus diburu adalah buktinya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//