• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Bisakah Pedalangan Sunda Meninggalkan Humor Seksis?

MAHASISWA BERSUARA: Bisakah Pedalangan Sunda Meninggalkan Humor Seksis?

Humor seksis yang masih kerap muncul di pertunjukan wayang golek hari ini adalah bentuk penyimpangan tradisi dan sama sekali bukan bagian dari kontinuitas tradisi.

Purwa Sundani

Mahasiswa ISBI Bandung. Tertarik mempelajari pedalangan Sunda, mencintai sejarah dan sastra, serta menikmati buku-buku indie.

Penampilan wayang golek menjadi hiburan puncak perayaan Pangeling-ngeling Pamendak Mei Kartawinata, 16 September 2024. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

10 Mei 2026


BandungBergerak – Dalam pertunjukan wayang golek, adegan yang paling ditunggu oleh kebanyakan orang adalah adegan gara-gara, yang mana biasanya dalang mengeluarkan punakawan atau tokoh buta/raksasa untuk berkelakar satu sama lain. Dalam adegan ini, biasanya panggung pertunjukan dipenuhi oleh humor jenaka yang membuat penonton muda maupun tua, tertawa lepas. Jika disandingkan dengan seni modern, tak berlebihan jika adegan gara-gara pada wayang golek cukup mirip dengan Stand Up Comedy di zaman sekarang.

Namun, humor yang muncul dalam adegan gara-gara ini tidak semuanya termasuk humor yang baik. Sebab, dalam beberapa kasus, humor yang dibawakan dalang pada adegan gara-gara sering kali berbau seksis dan cenderung male gaze. Contoh konkretnya masih kita temui beberapa dalang yang dalam membawakan pertunjukan wayang golek, sering kali mengeluarkan humor yang menjadikan perempuan sebagai objek lelucon, atau humor-humor bernada erotis dan vulgar yang ditujukan pada perempuan.

Tanpa disadari, humor seperti ini dalam pedalangan Sunda seakan menjadi hal yang lumrah dan menjadi ciri khas pertunjukan, meskipun perlu digarisbawahi bahwa tidak semua dalang melakukan hal demikian. Realitasnya adalah, humor bernada vulgar dan objektifikasi perempuan dapat mengarah pada penormalisasian seksisme dalam balutan lawakan yang berujung pada langgengnya budaya rape culture. Pertanyaannya, bisakah pedalangan sunda meninggalkan humor seksis dalam pertunjukan?

Baca Juga: Napak Tilas Lakon Wayang dalam Festival Musik Payday Fest 2025
Wayang Golek di Tangan Orang-orang Muda, Menemukan Tantangan Berat di Era Digital
Wayang Golek, Ki Dalang, Cepot, Kabayan, tapi Nyi Iteung-nya Mana Kang Dedi?

Pedalangan Sebagai Seni Adiluhung

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu saya mencatut pandangan Sarah Andrieu, antropolog berkebangsaan Perancis dalam bukunya yang berjudul Raga Kayu Jiwa Manusia, yang menyebut wayang golek termasuk dalam seni yang adiluhung. Hal ini Andrieu lihat dari kacamata sosial maupun kacamata artistik, yang mana dalam pertunjukannya, wayang golek selalu menuntut pengetahuan tentang etika representasi yang sejalan dengan norma-norma sosial dan aturan pagelaran yang simbolis, atau dapat dikatakan bahwa keadiluhungan pertunjukan seni wayang golek dengan jelas terletak pada simbolisme pagelaran dan etika pertunjukan yang harus selaras dengan norma sosial yang berlaku dalam masyarakatnya. Singkatnya, setiap pertunjukan menuntut pada keselarasan norma dan kedalaman simbol, sebagaimana wayang sebagai representasi kaca benggala kehidupan manusia.

Namun, sebagaimana yang kita lihat dalam praktiknya, keadiluhungan tersebut tidak selalu terwujud secara utuh. Adegan gara-gara justru kerap menjadi ruang negosiasi antara tuntutan estetika dan etika, selera pasar, dan kebebasan improvisasi dalang. Dalam tuntutan ruang selera pasar inilah humor seksis agaknya menemukan tempat dan tumbuh subur di panggung pertunjukan. Dalam kacamata dalang, humor bermuatan seksis dan vulgar sejatinya memang bukan bagian dari “pakem” pedalangan, melainkan sebatas strategi untuk mempertahankan perhatian penonton saat pertunjukan melalui banyol.

Padahal, jika kita merujuk pada fungsi etis kesenian sebagai medium refleksi kehidupan, pertunjukan wayang golek semestinya tidak hanya menghibur dan mengundang gelak tawa semata, melainkan menghadirkan nilai-nilai yang dapat memperhalus budi dan memperluas kesadaran sosial penontonnya. Dalam kerangka ini, humor yang merendahkan perempuan justru bertolak belakang dengan semangat keadiluhungan itu sendiri, yang alih-alih menjadi ruang pembebasan dan ruang pendidikan, munculnya humor-humor tersebut berpotensi berubah menjadi ruang reproduksi nilai-nilai problematik yang telah lama mengakar dalam masyarakat.

R. Gunawan Djajakusumah dalam buku Pengenalan Wayang Golek Purwa di Jawa Barat menegaskan bahwa pertunjukan wayang golek selalu bersifat universal. Dalam artian, penonton pertunjukan yang hadir tidak dibatasi oleh gender tertentu maupun usia tertentu. Baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua maupun anak-anak, semuanya memperoleh hak yang sama dalam menikmati pertunjukan. Akan tetapi, dengan kerap munculnya humor bernada seksis dan vulgar itu, prinsip universalitas dalam pertunjukan wayang golek menjadi paradoks. Di satu sisi, pertunjukan ini terbuka bagi semua kalangan, tapi di sisi lain, tidak semua kalangan diperlakukan secara setara dalam representasinya.

Tentang universalitas tersebut, memang perempuan hadir sebagai penonton, tetapi sekaligus dijadikan objek lelucon. Pun demikian anak-anak hadir sebagai penonton, tetapi sekaligus menjadi saksi awal normalisasi bahasa dan imaji yang problematik. Dalam hal ini, universalitas tidak lebih dari sekadar akses fisik, tanpa diiringi tanggung jawab etik terhadap isi pertunjukan. Sebab, dalam pertunjukannya sering dijumpai humor berbau objektifikasi bahkan rape joke.

Humor-humor semacam ini pada akhirnya mendorong pada turunnya minat menonton pertunjukan–khususnya bagi perempuan–karena menimbulkan rasa risi dan tidak nyaman dalam ruang pertunjukan yang seharusnya inklusif, serta memicu regenerasi cara pandang problematik di mana seksisme diwariskan secara halus melalui tawa yang dianggap wajar.

Pengalaman risi saat menonton wayang golek dirasakan RR, mahasiswi semester akhir di salah satu kampus negeri di Bandung yang mengaku, dalam pengalamannya menonton wayang–meskipun menonton wayang golek dakwah di acara pernikahan–terdapat kesan risi dan tidak nyaman ketika muncul humor-humor vulgar. Ia menjelaskan bahwa ketidaknyamanannya itu berasal dari materi humor yang mengarah pada sexual jokes.

“Ih, apa, sih, kayak.. aduh aku udah ga mau mendengar [humor]-nya”, ucap RR saat menceritakan betapa tidak nyamannya mendengar humor bernada vulgar saat pertunjukan wayang golek, meskipun itu pertunjukan wayang golek dakwah. “Apalagi kalo nontonnya sama yang masih di bawah umur, agak gimana begitu,” tambahnya.

Pernyataan senada pun diucapkan S, sinden muda yang merasa risi dan tidak nyaman ketika di atas panggung dalang membawakan humor vulgar. “Jujur, jadi hal yang membuat risi banget karena pertunjukan wayang kan memiliki nilai budaya sama estetika kan ya, jadi jokes yang kaya gitu menurut aku selain membuat risi aku sebagai pelaku seninya, juga mempengaruhi estetika pertunjukannya,” ucap S.

S menambahkan bahwa materi humor tersebut dirasa kurang pantas, mengingat dalam pertunjukan wayang golek, yang hadir tidak hanya orang dewasa saja, melainkan juga terdapat anak-anak. “Kaya kurang pantas aja si menurut aku ada jokes yang terlalu vulgar apalagi wayang kan dinikmati bukan hanya sama orang dewasa aja, hampir semua umur gak sih suka banget sama wayang golek?” tambahnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, saya pikir pedalangan tidak hanya gagal dalam menjaga keadiluhungannya, tetapi juga berkontribusi dalam melanggengkan cara pandang yang timpang terhadap gender. Melihat realitas seperti ini, apakah nilai adiluhung masih terkandung secara penuh dalam pertunjukan wayang golek? Mengingat humor seksis masih direproduksi di atas panggung? Barangkali pembaca dapat menilainya sendiri.

Tinggalkan Humor Seksis, Ganti dengan Humor Edukatif dan Humor Kritik

Terkait batasan-batasan humor dalam pertunjukan wayang golek dan apakah pedalangan sunda bisa meninggalkan humor seksis, kiranya saya akan membawa pembaca kembali ke tahun 1960-an. MA Salmun melalui buku Padalangan yang terbit pada tahun 1961 (cetakan kedua) telah mewanti-wanti para dalang perihal humor apa saja yang diperbolehkan dan humor apa saja yang dilarang dalam pertunjukan. Hal ini rupanya merupakan upaya dalam menjaga keadiluhungan seni wayang golek sebagai juru pendidikan rakyat sekaligus penuntun kehidupan lewat lakon yang dibawakan. Salmun mengklasifikasikan empat humor yang dilarang dibawakan dalam pertunjukan wayang golek, yakni sindir-sumampir, kaleuleuwihan, serta humor jorang dan cawokah.

Sindir-sumampir berarti humor yang ditujukan khusus pada seseorang dengan maksud tertentu. Dalam buku Padalangan, Salmun memberi contoh perilaku ini sebagaimana seorang dalang melayangkan suatu tujuan yang dibalut humor pada seorang perempuan lewat “kode” di atas panggung, hal ini mengindikasikan seorang dalang dilarang berperilaku cunihin atau cabul. Sedangkan humor kaleuleuwihan yang berarti keterlaluan, Salmun contohkan sebagaimana humor yang saking keterlaluannya, membawa materi objektifikasi demi memanen tawa penonton.

Sedangkan humor jorang dan cawokah, merupakan humor yang merendahkan/mengandung objektifikasi seksual serta humor yang menggunakan bahasa cabul. Hal ini saya pikir masuk akal mengapa Salmun sejak awal telah memberikan batasan yang tegas terhadap bentuk-bentuk humor dalam pedalangan. Sebab, tanpa adanya batasan etik, humor berpotensi keluar dari fungsi awalnya sebagai sarana refleksi dan justru berubah menjadi medium yang mereproduksi nilai-nilai yang merendahkan, khususnya dalam merendahkan perempuan.

Jika merujuk pada pemikiran tersebut, maka barangkali tak berlebihan jika saya melihat fenomena humor seksis yang masih kerap muncul dalam pertunjukan wayang golek hari ini adalah bentuk penyimpangan tradisi dan sama sekali bukan bagian dari kontinuitas tradisi. Dengan kata lain, apa yang kerap dianggap sebagai “ciri khas banyolan” pada wayang golek justru tidak sepenuhnya memiliki legitimasi dalam kerangka pedalangan itu sendiri. Oleh karena itu, barangkali upaya-upaya dalam meninggalkan humor seksis dalam pedalangan Sunda bukanlah bentuk dari penghilangan tradisi, melainkan pengembalian wayang golek pada ruh awal seni yang mengandung nilai pendidikan, etika, kebijaksanaan, dan pembebasan.

Pada titik ini, saya pikir tantangannya bukan sekadar apakah pedalangan mampu meninggalkan humor seksis semata, tetapi melibatkan perubahan esensial terkait: apakah para dalang dan penonton bersedia mendorong perubahan tersebut? Sebab, sebagaimana seni lainnya, pedalangan jelas tidak hidup dalam ruang hampa, melainkan tumbuh bersama nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Jadi, relevansi humor berbau objektifikasi dalam pedalangan saya pikir memang perlu ditinggalkan dan menggantinya dengan humor yang lebih segar dan berdampak positif bagi khalayak luas.

Saya pikir, humor-humor seksis dapat diganti dengan humor yang bernafaskan edukasi. Sebab bagaimanapun, sebagaimana pernyataan Atik Soepandi dalam buku Tetekon Padalangan Sunda,  pertunjukan wayang golek sejatinya adalah pertunjukan yang bertujuan untuk mendidik rakyat, dengan dalang sebagai juru penerang bagi rakyat. Maka, sudah sepatutnyalah adegan gara-gara menjadi adegan yang penuh edukasi bagi rakyat.

Sebagaimana S, yang memiliki keresahan terhadap humor vulgar dalam pertunjukan, mengharapkan pertunjukan wayang golek menjadi tempat rakyat memetik pelajaran dari humor yang diangkat berdasarkan kejadian sehari-hati. “[inginnya] humor yang edukatif sih, misal humor kejadian di kehidupan sehari-hari we tapi mengandung pesan moral buat si penontonnya,” harap S.

Nada serupa pun diucapkan oleh RR. RR mengharapkan humor dalam pertunjukan wayang golek harus bisa mengolah tren isu sehari-hari menjadi pelajaran yang dapat dipetik oleh penonton,  “Kalau wayangnya buat pertunjukan di acara nikahan, mungkin jokes-nya ke wejangan rumah tangga sehari-hari, atau olah tuh tentang tren isu rumah tangga hari ini kayak tingginya perceraian akibat ekonomi, kesiapan menikah, atau jokes-in pola asuh yang berdampak ke karakter anak,” ucap RR.

Di samping harus memunculkan humor-humor edukatif sebagai pengganti humor-humor seksis, saya rasa pedalangan juga perlu mulai menghadirkan lebih banyak humor kritik. Dalam pandangan saya, dewasa ini saya rasa para dalang masih kurang keras dalam menyampaikan kritik yang menghantam pemerintah, kurang pedas dalam membikin pemangku kebijakan berpikir dan sadar. Maka daripada itu, menghadirkan lebih banyak humor kritik ketika pertunjukan adalah langkah konkret dalam upaya menyadarkan rakyat terkait kondisi sosial, ekonomi, dan stabilitas negara; serta sebagai bentuk penyampaian aspirasi, keluh kesah, dan kekesalan rakyat pada pemerintah melalui adegan gara-gara yang ditujukan pada pemangku kebijakan yang sering membuat kebijakan tidak pro rakyat. Dalam humor kritik, tokoh-tokoh punakawan haruslah menjadi corong suara rakyat dan adegan gara-gara menjadi panggung kritik oto kritik bersama.

Maka, meninggalkan humor seksis yang bersandar pada objektifikasi individu dan menghadirkan humor kritik yang berdasar pada kecerdasan membaca realitas sosial, menjadi langkah yang lebih relevan di kondisi sosial ekonomi dewasa ini. Sebab, humor tidak hanya mengundang gelak tawa, tetapi juga menggugah kesadaran.

Jika hal ini dapat dilakukan, dengan optimis dapat saya katakan pedalangan sunda tidak hanya mampu meninggalkan humor seksis, tetapi juga memperkuat kembali posisinya sebagai seni adiluhung yang tidak kehilangan relevansi etiknya di tengah perubahan zaman.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//