• Berita
  • Merayakan Menopause Perempuan: Melampaui Stigma dan Menemukan Pemberdayaan

Merayakan Menopause Perempuan: Melampaui Stigma dan Menemukan Pemberdayaan

Buku Foggy FF mengajak publik memahami menopause sebagai fase hidup manusiawi. Perempuan di usia matang layak didukung dan dirayakan.

Peserta aksi mengusung poster Marsinah, buruh perempuan yang dibunuh di zaman Orde Baru karena protes upah murah, di Hari Perempuan Intenasional, Bandung, 8 Maret 2025. Suara perempuan, Bandung. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak).

Penulis Retna Gemilang10 Mei 2026


BandungBergerak – Di tengah anggapan bahwa perempuan kehilangan nilai ketika tubuhnya tak lagi produktif, buku "Merayakan Menopause dengan Progresif" justru mengajak publik melihat menopause sebagai fase yang manusiawi. Buku karya Foggy FF ini diskusikan di acara Ruang Kata #6 bersama Kembang Kata di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat malam, 8 Mei 2026.

Buku setebal 107 halaman ini memuat kumpulan esai reflektif yang membahas menopause sebagai pengalaman hidup perempuan yang kerap distigmatisasi.

Buku yang diterbitkan Kolofon Media (cetakan pertama Februari 2026) ini juga menyoroti bagaimana penuaan dan tubuh perempuan kerap dinilai, diatur, dan sering kali disenyapkan.

Dipandu Raffi dari Kembang Kata, Foggy menceritakan alasan mengangkat isu menopause dalam bukunya, bahwa ia berangkat dari lingkungan perempuan sekitarnya. Di hadapan peserta diskusi, ia menjelaskan bahwa isu menopause masih dianggap tabu dan jarang dibicarakan, bahkan dalam ranah privat.

"Padahal dia punya identitas personal gitu, tapi ketika perempuan menikah, identitas kedirian dia secara individu lambat-laun luntur," ujar Foggy. "Dalam konstruksi masyarakat di kita, itu rata-rata perempuan di usia matang, itu sudah tidak tahu lagi apa maunya."

Berdasarkan studi literatur kebidanan 2024, menopause sendiri merupakan akhir dari masa reproduksi perempuan yang ditandai dengan ovarium berhenti menghasilkan sel telur dan berkurangnya hormon estrogen serta progesterone. Rentang usia perempuan yang mengalami menopause berkisar antara usia 50-70 tahun dengan beragam perubahan fisik dan psikis.

Berbagai perubahan biologis terjadi pada fase menopaus, seperti berhentinya menstruasi, kekeringan vagina, menurunnya kesuburan, hingga sensasi panas pada tubuh.

Tidak hanya berfokus pada perubahan biologis, buku ini banyak membahas persoalan nilai produktivitas perempuan menopause secara sosial. Foggy mengkritik bagaimana produktivitas perempuan tidak semata-mata selesai ketika kesuburan reproduksinya berhenti di usia matang. Perempuan juga dapat tetap berdaya tanpa terhalang usia.

Diskusi buku Merayakan Menopause dengan Progresif karya Foggy FF di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 8 Mei, 2026 (Foto: Nidan Nurhamidah/BandungBergerak)
Diskusi buku Merayakan Menopause dengan Progresif karya Foggy FF di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 8 Mei, 2026 (Foto: Nidan Nurhamidah/BandungBergerak)

Persoalan Sosial dalam Feminisme Interseksional

Dalam bukunya, Foggy membedah isu menopause dalam kacamata feminisme interseksional. Ia menilai, pengalaman perempuan di Indonesia memiliki konteks sosial yang berbeda dengan negara barat. Pendekatan feminisme juga perlu disesuikan dengan realitas masyarakat setempat.

Feminisme interseksional sendiri merupakan kerangka berpikir yang memahami bahwa penindasan perempuan tidak tunggal, melainkan berlapis akibat tumpang tindih identitas. Misalnya, gender, ras, kelas sosial, agama, dan kemampuan. Istilah ini dicetuskan oleh akademisi hukum Kimberle Crenshaw pada tahun 1989.

Dalam perspektif ini, permasalahan perempuan berkaitan dengan masalah kemiskinan, kewarganegaraan, hukum, sosiopolitik, hingga kultural yang belum setara. Masalah-masalah interseksional ini juga berkaitan erat dengan perempuan menopause yang kerap mengalami ageism atau diskriminasi.

Dalam ranah karier, pekerja perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sering mengalami perbedaan perlakuan. Mereka sulit diberikan ruang berekspresi dalam bekerja, karena dianggap tidak lagi kompetitif dan produktif. Padahal di lain sisi, perempuan matang tetap memiliki kemampuan, daya intelektual, dan pengalaman yang lebih kompeten.

Dalam hak pendidikan, perempuan matang yang sudah berperan sebagai ibu pun sulit mendapatkan beasiswa. Foggy mengatakan, akses pendidikan tetap layak diberikan kepada siapa pun tanpa melihat usia selama ia kompeten.

Di sisi lain, perempuan menopause minim mendapatkan layanan kesehatan negara. Saat ini, layanan BPJS Kesehatan lebih berfokus pada kesehatan reproduksi perempuan usia produktif, seperti pemeriksaan kehamilan dan persalinan, program keluarga berencana (KB), pemeriksaan kesehatan reproduksi, deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, serta perawatan pascakehamilan.

"Masa kalau sudah habis (usia produktif) tidak disokong lagi daya hidupnya? Itu yang harus kita suarakan juga," kritik Foggy. 

Foggy menekankan, nilai fertilitas perempuan kerap dilekatkan sejak lahir. Perempuan sering dibedakan antara yang subur dan tidak, bahkan saat memasuki menopause. Padahal, fase fertilitas sejatinya bagian dari kondisi biologis yang tak perlu dijadikan stereotipe sosial.

"Semua perempuan akan melewati fase itu, dan enggak ada yang aneh dengan menopause," tuturnya.

Baca Juga: Pentingnya Membela Perempuan dengan Perspektif Perempuan
Feminisme: Cantik itu Luka, Pintar itu Sok Tahu?

Merayakan Pemberdayaan

Stereotipe sosial terhadap perempuan turut berdampak pada laki-laki. Budaya patriarki menuntut laki-laki sebagai maskulin yang selalu kuat, dominan, pemimpin utama, dan tidak boleh terlihat lemah. Kondisi ini membuat banyak laki-laki merasa terancam ketika perempuan mampu berdaya, baik secara ekonomi maupun dalam ruang pengambilan keputusan.

Padahal Foggy menegaskan, feminisme bukanlah gerakan membenci laki-laki, melainkan upaya membangun hubungan yang lebih adil dan setara bagi semua orang.

"Memang betul, yang diperjuangkan (dalam feminisme) itu adalah pilihan," ungkapnya.

Dalam suatu hubungan, perempuan memiliki pilihan untuk tetap berkarier atau menjadi ibu rumah tangga. Hal ini juga termasuk menentukan identitas diri dan memperjuangkan haknya saat ia memasuki fase menopause.

Maka, Foggy menekankan, pemahaman feminisme perlu hadir di antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian akan terbangun relasi yang sehat melalui ruang dialog yang egaliter. Laki-laki dan perempuan dapat saling mendukung tanpa mereasa lebih tinggi satu sama lain.

Selain itu, Foggy menekankan pentingnya membangun budaya "perempuan dukung perempuan" sebagai bentuk nyata pemberdayaan perempuan. Menurutnya, solidaritas perempuan dapat hadir di ruang-ruang kecil dalam keseharian, seperti menanyakan apa cita-cita ibunya semasa muda atau mendengarkan cerita yang disampaikan oleh ibu di rumah.

Dalam diskusi tersebut, peserta sekaligus anggota Kembang Kata, Suci Atmarani, 25 tahun, tutut membagikan pengalamannya. Ia melihat bagaimana Foggy secara konsisten hadir memberikan perhatian dan dukungan kepada perempuan-perempuan di sekitarnya, mulai dari sekadar menanyakan kabar, hingga membangun ruang aman untuk saling mendengar.

Menurutnya, empati terhadap perempuan perlu dipahami sebagai bentuk pengetahuan sosial, bukan sekadar belas kasih individu. Ia sepakat bahwa fase menopause penting disuarakan. Perempuan muda harus mengetahui isu yang kerap dilupakan dan sering dianggap sebagai kondisi individu.

"Hubungan kita sama sesama perempuan tuh jadi knowledge, bukan hanya knowledge subjektif saja, tapi memang harus menjadi sebuah belas kasih yang sifatnya sistemik," tutur Uci.

Sama halnya dengan Raffi, 25 tahun, yang mengatakan perempuan menopause merupakan satu fase normal tanpa membuat mereka menjadi lebih rendah atau tidak utuh.

"Orang yang mengalami menopause ya tetap manusia yang utuh seperti biasa, enggak ada yang berkuang dari esensi dirinya," ungkapnya.

Pada akhirnya, menopause bukanlah akhir dari perempuan, melainkan fase hidup yang layak dipahami tanpa stigma. Di penghujung diskusi, semua sepakat dengan pernyataan, bila kelahiran bisa dirayakan, maka menopause juga bisa dirayakan dengan progresif.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//