Menjelajahi Yogyakarta Art (YKART) Book Fair 2026, Merayakan Guyubnya Penerbit Independen
Yogyakarta Art (YKART) Book Fair 2026 merupakan agenda urunan yang menyatukan pegiat penerbit independen ke dalam ruang artistik kontemporer.
Penulis Virliya Putricantika12 Mei 2026
BandungBergerak – Hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang, Yogyakarta Art (YKART) Book Fair 2026. Besar pengaruhnya karena saya tidak memiliki kesempatan untuk hadir di Bandung Zine Fest beberapa waktu lalu. Acara yang diselenggarakan di Langgeng Art Space pada 8-10 Mei 2026 sepertinya mengundang para pecinta rilisan artistik. Tentu saja saya datang di hari pertama.
Perjalanan yang saya tempuh hanya memerlukan waktu kurang lebih empat menit dengan berjalan kaki dari tempat tinggal. Parkiran motor sudah dipenuhi para pengunjung. Antrean pembelian tiket on the spot terlihat sejak pintu masuk, ada empat pengunjung lain di depan saya. Sebetulnya tiket masuk ke YKART bisa dibeli di platform online, tapi cara konvensional tetap lebih menarik.
YKART merupakan agenda urunan, tiket masuk diberlakukan untuk menyokong dan menghidupi dunia kreatif satu ini. Dengan membayar 35 ribu rupiah untuk merawat ruang ini rasanya nominal itu tidak membebani. Tapi, ada pula paket bundling yang ditawarkan tiket lokakarya sekaligus daily pass di hari tertentu dan tawaran lainnya. Menyenangkannya, saya mendapatkan tote bag berwarna hitam dengan desain YKART di salah satu sisi dan sisi lainnya bertuliskan tema tahun ini, booound.

Setelah berkeliling di lantai satu yang diperuntukkan untuk open table, area diskusi dan area anak-anak. Acara yang berlangsung sejak pukul satu siang hingga jam sembilan malam diisi dengan berbagai agenda. Salah satunya yang saya ikuti pada Jumat, 8 Mei 2026, sore, diskusi buku Mentaok, salah satu hasil dari residensi Lumintu. Bagian ini belum bisa saya ceritakan detail, karena saya belum mampir ke pamerannya yang berada di Sumsum Gallery Jalan Tirtodipuran.
Setelah berkeliling saya melanjutkan berjalan ke lantai dua. Tapi, ada yang mencuri perhatian saya sebelum menaiki tangga dengan sisi kaca itu. Terdapat sebuah meja yang di atasnya terletak cap dengan ukuran 5×10 cm, kertas putih dengan ukuran sedikit lebih besar yang dilengkapi panduan. Intinya pengunjung bisa mendapatkan gambar utuh di setiap cap yang berada di masing-masing lantai. Tanpa ragu saya langsung membubuhkan cap di kertas yang tersedia. Tinta warna merah yang membentuk outline gedung terlihat jelas.

Baca Juga: Cara Kolektif Breaking The Chains Mendobrak Batas Seni
Menyaksikan Kolektif Hip-hop Tumbuh di Bandung Timur
Menyusuri Jejak Skena Musik Metal di Ujungberung: Dari Lapangan Kampung, Kamar Kos, hingga Studio
Jajaran Pelapak Kreatif
Berada di lantai dua seperti pada umumnya berada di bagian paling atas bangunan di Yogyakarta, panas. Bedanya antusias untuk berburu koleksi rilisan independen segera mengisi energi saya. Sebelum memasuki ruangan terdapat peta petunjuk untuk mengetahui letak lapakan yang akan dituju.
Tentu saya memutuskan berkeliling, walaupun sebetulnya ini bukan keputusan yang bijak. Saya memulai perjalanan dari sisi kanan, melawan arah jarum jam. Melihat lapakan dari kawan-kawan Raws Syndicate yang berasal dari Bandung. Dilanjutkan ke lapakan Lingkar Malam yang sebelumnya sudah saya adopsi dua rilisannya: Yang Lebih Indah dari Menjalani Hidup adalah Memaknainya dan Monumen Kekalahan yang berkolaborasi dengan seniman Enka Komariah. Sepasang mata ini pun tidak perlu diragukan fungsinya, ia dengan mudah menandai rilisan dan barang yang akan ditengok ulang untuk dimasukkan ke dalam tas.
Perhentian pertama saya tertuju pada Lazy Sunday Zine Club. Di lapakan ini saya tertarik pada satu rilisan dengan judul Growing Up/Growing Old. Pengkaryanya, Talitha Ali, ada di balik meja sambil memangku laptopnya. Sekilas zine ini terasa menceritakan tentang perempuan yang tumbuh. Namun, jika memaknainya dengan waktu yang lebih panjang, saya sendiri merasakan banyak hal. Karya ini saya bawa pulang bersama dengan hasil photobooth yang dicetak pada label berwarna hitam putih.
Pelapak di sini tidak hanya berasal dari Yogyakarta saja, ada juga kawan-kawan dari luar kota dan mancanegara. Salah satunya lapakan 51 Personae yang berasal dari Shanghai, China. Pria yang mengenakan atasan beskap itu menyambut saya dengan ramah, sehingga bola matanya semakin tidak terlihat. Butuh waktu untuk saya menyadari bahwa ia bukan memang orang China yang begitu fasih berbahasa Indonesia. Terima kasih pada Wulang Sunu yang membuat saya sadar.
Lelaki penjaga lapak ini ternyata sudah memilih nama Indonesianya, Setiyono, begitu katanya. Ia mengambil studi Sastra Indonesia di bangku kuliah dan sedang melakukan pertukaran pelajar. Di YKART ia membantu kawannya yang tidak dapat hadir karena harga tiket pesawat yang semakin tidak masuk akal. Entah sampai kapan penyelenggara negara tidak akan mengakui bahwa peperangan yang sedang terjadi sudah semakin terasa dampaknya.
Setelah bertengger di sana dengan waktu yang cukup lama saya mengadopsi satu kumpulan cetak grafis yang terinspirasi dari puisi. Tentu tulisannya khas aksara China. Perlu Google translate untuk membacanya, tapi di bagian belakang terdapat keterangan menggunakan bahasa Inggris.
Selepas menyelesaikan perbincangan dengan Setiyono saya melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya menemukan meja di lantai ini. Segera saya menyiapkan kertas yang sudah dibawa sedari tadi dan langsung menekan cap itu kuat-kuat. Tinta warna hijau memperlihatkan outline manusia yang sedang antre di luar gedung.

Membuat Zine Mini
Setelah mengisi tote bag dengan beberapa rilisan dan aksesori gemas, tujuan terakhir saya menuju basement. Tidak lain dan tidak bukan untuk menyelesaikan perburuan cap. Meja kali ini terletak di pojok ruangan. Tinta berwarna biru melengkapi kertas ini.
Sebelum keluar, saya mengamati meja besar. Alat-alat membuat zine seperti kertas, pensil, gunting, papermatt dan lainnya terlihat di permukaan. Mungkin ekspresi penasaran saya terlalu kentara untuk dilihat salah satu volunteer yang menjaga area ini.
“Mau buat zinenya kak?” tanya perempuan yang mengenakan tag crew berbentuk awan. Tanpa aba-aba kepala ini mengangguk. Segera duduk di bangku paling pojok. Mengambil selembar kertas polos dan mulai melipat menjadi empat bagian. Adapun salah seorang pengunjung perempuan lain yang minta diajari untuk melipat zine. Kami melipat bersama, tapi tangan dia rasanya jauh lebih cekatan.
Sambil melipat saya memikirkan banyaknya pertemuan yang terjadi dalam kurun waktu empat jam ini. Tema booound yang diusung sebagai satu cara yang dapat menggambarkan penerbitan artistik dan eksplorasinya menjadi sebuah tindakan atas ide-ide. Energi itu yang menyatukan pegiat penerbitan independen ke dalam ruang artistik kontemporer.

Terlalu ambisius mungkin kalau menyebutnya sebagai cara melawan, diksi “gentle protest” seperti yang ada pada diskusi Craftivism sebelumnya lebih pas digunakan. Bukan melawan dalam artian harus berdarah-darah, tapi semangat itu bisa disalurkan lewat aksi nyata para penerbit. Lewat kreativitas pada setiap rilisan atau bahkan ide-ide yang digagas, menjadi refleksi untuk tetap berkarya. Salah satu kalimat yang saya dapatkan di ruang kelas Jumat pagi ini:
Bukankah tidak ada hal yang politis?
Peristiwa YKART selalu dinantikan bagi para pecintanya. Sesederhana melihat kertas bersama, juga mendengarkan diskusi yang bahkan bukunya belum kita baca. Menjadi warga negara Indonesia memang banyak (banget) tantangannya.
“Setidaknya kita masih lucu dan menggemaskan” kalimat yang saya tulis dalam zine mini yang digantung di basement.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


