• Cerita
  • Cara Kolektif Breaking The Chains Mendobrak Batas Seni

Cara Kolektif Breaking The Chains Mendobrak Batas Seni

Seniman visual Nisa Rizkya dan Gevi Noviyanti dari kolektif Breaking The Chains menyuarakan persoalan pernikahan anak usia dini di di Aceh dan Cirebon.

Zine Breaking The Chains, catatan proses pembuatan karya Nisa Rizkya dan Gevi Noviyanti. (Foto: Virliya Putricantika/BandungBergerak)

Penulis Virliya Putricantika21 April 2026


BandungBergerak – Breaking The Chains, sebuah nama pengguna akun Instagram yang saya temukan di pertengahan tahun 2025 lalu. Warna merah muda terisi di foto pengguna akun ini. Selang beberapa hari, barulah pengikut akun ini, termasuk saya, mengetahui bahwa ada seniman visual dibaliknya. Nisa Rizkya dan Gevi Noviyanti diperkenalkan.

Sedikitnya asumsi bahwa akun ini akan berbicara tentang topik perempuan mulai hadir ketika dua nama itu keluar. Tentu bukan tanpa sebab, melihat jejak karya keduanya yang menceritakan dari perspektif perempuan menjadi latar belakang dugaan itu.

Lewat proyek bersama ini, baik Nisa maupun Gevi keduanya sama-sama membicarakan tentang pernikahan anak usia dini di kampung halamannya masing-masing. Aceh dan Cirebon. Dua kota yang dikenal kental dengan agama Islam ini, justru menjadi kota dengan banyak kasus yang menjerat perempuan.  

Hal baru yang dicoba dua seniman visual ini yakni tidak hanya menjadi ini sebatas proyek sesaat, tapi juga berharap dapat tumbuh terus sebagai kolektif sekaligus ruang aman untuk benar-benar memutus rantai yang menjerat perempuan. Kerja berkesenian mereka kali ini tentunya tidak terlepas dari hadirnya patron Musawah Art Collective yakni sebuah organisasi yang mendukung seniman memiliki kesempatan untuk membuat pekerjaan advokasi berlapis-lapis untuk menjangkau masyarakat umum dalam istilah yang mudah, tidak rumit, dan terfokus. Tentunya organisasi lainnya yang memiliki fokus yang sama terhadap situasi sosial ini. Pameran dua karya ini dilakukan di tiga kota di pertengahan tahun 2025: Yogyakarta, Cirebon dan Aceh.

Tingginya angka pernikahan anak merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang paling kompleks. Tidak dapat dipungkiri bahwa kendali patriarki masih sangat berpengaruh di kehidupan, terlebih bagi perempuan. Seolah menikah, mengurus pekerjaan rumah dan kembali ke dapur menjadi hal yang seharusnya dikerjakan untuk perempuan. Mirisnya tidak jarang pula dianggap untuk mengurangi beban orang tua.

Ada rentetan dampak panjang atas keputusan yang mengambil alih ruang tumbuh perempuan. Mulai dari permasalahan sosial seperti ekonomi, hingga kesehatan yang tidak hanya berdampak pada psikis perempuan tapi juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan anak mereka kelak.

Nisa dan Gevi sama-sama ingin membuka kenyataan yang sebenarnya ada di sekitar kita bahwa pernikahan anak memiliki konsekuensi yang sangat luas dan mendalam. Mereka meyakini bahwa sebagai seniman tidak sebatas membuat karya, tapi juga sekaligus melakukan tanggung jawab sosial. Setidaknya untuk membicarakan hal yang nyaris tidak ada di ruang obrolan publik hari-hari ini.

“Seni memiliki kemampuan istimewa untuk menyentuh perasaan, membangkitkan empati dan menggerakan perubahan sosial,” satu kalimat pernyataan yang tertulis dalam Zine Breaking The Chains yang memiliki sampul berwarna merah muda.

Seperti yang dikatakan Pierre Bourdieu yang memandang seni tidak hanya hadir sebagai suatu medium yang dipenuhi keindahan. Tapi juga sebagai medium yang memiliki wacana budaya yang sarat makna. Seni tidak lagi ada hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan penikmatnya, justru hadir sebagai alat yang merombak struktur sosial.

Baca Juga: Membedah Zine Penyitaan Buku di Raws Syndicate, Mengarsipkan Literatur yang Dirampas di Bandung
Kedewasaan Prematur: Beban Psikologis Pasca Pernikahan Dini
Potret Opresi Perempuan di Tengah Penghidupan Perkebunan Salak Banjarnegara

Pendekatan untuk Memproduksi Makna

Dalam pencariannya keterangan yang Gevi temukan atas fenomena ini karena tingginya angka kehamilan di luar pernikahan. Namun bukankah itu permasalahan moral yang terjadi secara struktural. Jika didalami dengan pertanyaan kritis, mengapa perempuan yang masih masuk dalam kelompok anak-anak ini, di bawah usia 18 tahun, harus menanggung semua itu?

Proses pencarian narasumber yang Gevi lakukan untuk menceritakan permasalahan ini menjadi proses penting dan krusial. Karena seorang seniman perlu menjelaskan tujuan pembuatan karya. Tentunya, yang terpenting, cerita dari kawan-kawan yang bersedia membagikan ceritanya menjadi hal yang tak ternilai. Karena dari cerita mereka, sedikit demi sedikit rantai yang mengekang perempuan dapat terputus, meski perlahan.

Pendekatan yang dilakukan pun cukup personal. Gevi menggunakan metode yang sebelumnya pernah ia lakukan, yakni bersurat. Seketika teringat dengan cara-cara Mia Bustam dan Kartini yang menulis entah memoar atau surat untuk menuliskan kisah hidupnya.

Surat balasan dari narasumber Gevi tidak secara langsung di foto dan ditampilkan menjadi karyanya berjudul Buried Dreams. Ia sebagai seniman sadar betul ada relasi kuasa yang hadir di sana dan ia tidak ingin menanggalkan rasa kemanusiaan yang ada. Maka surat balasan itu ia lipat menjadi origami berbentuk burung. Bentuk ini sebagai simbol harapan dan kebebasan yang mewakili mimpi anak-anak perempuan yang sering gugur karena menikah di usia muda. Melipat origami ini bukan sekadar aktivitas sederhana, malinkan sebagai bentuk perlawan yang sunyi dengan harapan yang terus dijaga

Tidak jauh berbeda, Nisa mendalami isu ini dengan metode reflektif. Kesadaran akan dampak panjang yang merenggut masa anak-anak mereka yang menikah di usia anak menjadi titik eksplorasi visual yang akan dihadirkan. Babysitting  menjadi tajuk karyanya. Penelusurannya tidak terbatas pada data yang tersedia saja, tapi juga melihat kembali konteks budaya dan historis pernikahan anak di Aceh.

“Setiap objek dan sudut ruangan dipilih dengan cermat untuk menampilkan kontras antara masa kanak-kanak yang hilang dan peran dewasa yang dipaksakan,” jelas Nisa Rizkya.

Penggabungan elemen nyata dan fiksi yang dilakukan Nisa menjadi satu proses artistik yang dilakukan secara detail. Karena ini bukan hanya dokumentasi faktual tapi juga bermaksud menghadirkan kritik sosial yang sangat kompleks dan berlapis.

Dari proses berkesenian dan kreatif Nisa dan Gevi publik dapat melihat bahwa seni tidak melulu tentang hal yang tiba-tiba datang sebagai anugerah yang diperoleh seniman. Justru datang dari keseharian bahkan keresahan yang paling dekat, dari kampung halaman. Berawal dari karya seni, Breaking The Chains tumbuh menjadi kolektif untuk ruang aman. Seperti penggalan kalimat dari Henri Cartier Bresson “It just comes by enriching yourself and living,”.

Aktivitas terakhir kolektif Breaking The Chains pada Februari 2026 menyelenggarakan pameran foto dari karya terbaru Nisa, Gevi dan Shindy Lestari. Agenda terdekat kolektif ini akan turut meramaikan Yogyakarta Art Book Fair 2026 bulan Mei mendatang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//