• Berita
  • Di Lio Genteng, Makam Bukan Sekadar Tempat Kematian

Di Lio Genteng, Makam Bukan Sekadar Tempat Kematian

Astana Anyar dan Lio Genteng menyimpan jejak sejarah Bandung, kisah keluarga Inggit Garnasih, hingga kehidupan warga yang bertahan di tengah minimnya ruang publik.

Peserta Kelas Liar #3 di Kampung Lio Genteng, Bandung, Sabtu, 23 Agustus 2025. Kelas Liar membahas tentang sampah. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam18 Mei 2026


BandungBergerak - Aroma bunga kuburan tercium samar saat rombongan peserta susur kampung kota memasuki Tempat Permakaman Umum (TPU) Astana Anyar, Kota Bandung, Sabtu, 16 Mei 2026. Menjelang siang, sekitar pukul 10.30 WIB, peserta yang mengikuti kegiatan kelompok Kelas: Hikayat Kampung Kota berjalan menyusuri area makam hingga gang-gang sempit di Kampung Lio Genteng.

Di sela nisan dan rumah-rumah berhimpitan, peserta diajak menelusuri sejarah kawasan, perubahan ruang hidup warga, hingga jejak tokoh bangsa yang pernah tinggal di sana.

Kegiatan ini dipandu Ridwan Hutagalung dari Komunitas Aleut. Ia membuka tur sejarah di depan sebuah bangunan bekas pabrik yang berada tepat di seberang TPU Astana Anyar.

Ridwan menjelaskan, nama Astana Anyar berasal dari bahasa Sunda yang berarti “kuburan baru”. Namun, menurutnya, penamaan tersebut menyisakan pertanyaan karena tidak ada catatan jelas mengenai lokasi “kuburan lama” yang menjadi pembandingnya. Nama Astana Anyar sendiri ini sudah ada sejak 1880-an.

“Jadi kita enggak punya data tentang gimana yang dimaksud dengan kuburan lama dan seperti apa bentuknya kuburan baru,” terangnya. 

Menurutnya, kawasan permakaman Astana Anyar pada masa lalu jauh lebih luas dibanding kondisi sekarang. Sejumlah jalan dan bangunan di kawasan Lio Genteng disebut berdiri di atas bekas area makam yang telah diratakan.

Pada masa kolonial, kata Ridwan, permakaman di Kota Bandung sempat menjadi persoalan karena tersebar di banyak tempat dan tidak terpusat. Pemerintah kolonial kemudian mulai menata lokasi permakaman umum pada 1887.

Namun, permakaman terpusat itu awalnya lebih diperuntukkan bagi warga Eropa dan kalangan pribumi menak atau elite. Sementara masyarakat biasa umumnya menguburkan anggota keluarga di pekarangan rumah.

“Jadi orang pribumi juga ada dua macamnya, menak sama orang biasa saja,” tandasnya.

TPU Astana Anyar sendiri baru mulai ditata lebih rapi pada 1927 dengan pembangunan tembok pembatas. Hingga kini, area permakaman tersebut masih terbagi dalam beberapa blok yang dipisahkan jalan raya.

Makam Keluarga Abdulrachim

Dari TPU Astana Anyar, rombongan berjalan sekitar lima menit menuju kompleks makam keluarga di belakang rumah warga. Di tempat itu terdapat makam keluarga Abdulrachim, ayah dari Sanusi, suami pertama Inggit Garnasih. Inggit dikenal sebagai istri kedua Presiden pertama RI, Sukarno.

Di kompleks makam tersebut terdapat puluhan nisan keluarga. Dua makam utama yang dinaungi gazebo merupakan makam Abdulrachim dan istrinya, Siti Rachmah. Sementara makam Sanusi berada tidak jauh dari keduanya.

Ridwan menjelaskan, Abdulrachim atau yang dikenal sebagai Haji Empil merupakan saudagar kayu berpengaruh di Bandung pada masanya. Haji Empil wafat pada 14 Juli 1925. Usahanya kemudian diteruskan oleh Sanusi yang berdagang kayu, bahan bangunan, hingga memiliki gudang beras.

Ridwan juga menceritakan hubungan Inggit dan Sukarno yang bermula saat Sukarno tinggal di rumah Sanusi ketika menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool (THS) Bandung, cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selama tinggal di rumah tersebut, kebutuhan Sukarno banyak dibantu oleh Inggit yang berdagang bedak dan rokok. Hasil dagangan itu, kata Ridwan, turut digunakan untuk mendukung aktivitas politik Sukarno saat itu.

“Uangnya dipakai untuk kebutuhan kegiatan politik Sukarno,” ujarnya.

Saat itu Sukarno meminta izin kepada Sanusi untuk meminang Inggit. Sanusi mengizinkan dengan syarat, tidak boleh menyakiti Inggit lahir batin. Jika sampai itu terjadi, Sanusi meminta supaya Inggit dikemablikan kepadanya.

Beberapa waktu kemudian setelah berpisah dengan Sukarno, Inggit kembali menikah dengan Sanusi. “Itu perjanjiannya tertulis,” ungkap Ridwan.

Menurut Ridwan, Sanusi juga merupakan tokoh Sarekat Islam (SI), organisasi yang dipimpin HOS Tjokroaminoto.

Lio Genteng dan Kepadatan Kampung 

Setelah meninggalkan kompleks makam keluarga Abdulrachim, peserta berjalan menuju Balai RW 5 Lio Genteng dengan menyusuri bantaran Sungai Citepus. Bau menyengat tercium sepanjang perjalanan.

Ketua pelaksana kegiatan, Tata, mengatakan Sungai Citepus kerap menjadi tempat pembuangan limbah dari kawasan hulu, termasuk dari Pasar Ciroyom.

Di sepanjang gang, rumah-rumah warga berdiri berhimpitan nyaris tanpa halaman atau ruang terbuka.

Tata menjelaskan, kawasan Astana Anyar pada masa lalu dikenal sebagai lokasi pajagalan atau tempat pemotongan sapi. Bangunan bekas pajagalan kini telah berubah menjadi deretan ruko.

"Sapi-sapi yang mau dipotong dikandanginnya di situ,” tandasnya.

Sementara nama Lio Genteng, menurut Ridwan, diduga berkaitan dengan tempat pembakaran genteng. Kawasan itu berkembang seiring rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda ke Bandung yang mendorong pembangunan besar-besaran pada awal abad ke-20. Waktu itu pembangunan kantor pemerintahan dan rumah pegawai membutuhkan banyak genteng.

Tokoh warga Lio Genteng, Sofyan, 59 tahun, membenarkan bahwa kawasan tersebut dahulu memiliki tempat pembakaran genteng yang dikenal sebagai lio.

Ia menuturkan, keluarganya sudah tinggal di Lio Genteng sejak 1920-an. Namun kawasan itu mulai semakin padat setelah gelombang perpindahan warga dari luar Bandung pada sekitar 1957.

“Karena di tahun 57an terjadi pemberontakan di daerah-daearah seperti Garut dan Tasikmalaya,” terangnya.

Menurutnya, kondisi kampung kini jauh berbeda dibanding masa kecilnya. Dulu, kawasan Lio Genteng masih memiliki kebun, area makam yang luas, dan ruang terbuka tempat anak-anak bermain.

“Yang paling saya rasakan sempitnya ruang publik, di mana aktivitas anak-anak tidak seperti dulu pas jaman saya masih kecil,” tandasnya.

Berdasarkan data BPS Kota Bandung 2020, Kecamatan Astana Anyar dihuni lebih dari 74 ribu jiwa. Lio Genteng sendiri terdapat 70an rumah yang kebanyakan berdiri di bantaran sungai. Sementara total kepala keluarga yang menetap di sana berjumlah lebih dari 550 KK.

Komunitas Pemuda dan Lingkungan

Di tengah kepadatan kampung dan minimnya ruang terbuka, sejumlah pemuda Lio Genteng membangun ruang alternatif melalui komunitas Onesix Sauyunan yang berdiri sejak 2014.

Salah satu penggagas komunitas tersebut, Sandi Syarif (35 tahun), mengatakan Onesix Sauyunan fokus pada isu pendidikan, kebudayaan, dan lingkungan.

Menurutnya, salah satu persoalan yang cukup besar di Lio Genteng ialah tingginya angka putus sekolah di kalangan remaja.

“Makanya kami coba bikin ruang kegiatan untuk anak-anak muda di sini,” ujarnya.

Pada 2018, komunitas itu sempat mendirikan Sekolah Rakyat Ibu Inggit yang berfokus pada pendidikan budaya dan lingkungan. Kegiatan tersebut kemudian berhenti saat pandemi Covid-19.

Data BPS Kota Bandung tahun 2024 menunjukkan angka yang tidak/belum sekolah di Astana Anyar sebanyak 12.390 orang, belum tamat SD/Sederajat 8.824 orang, tamat SD/Sederajat 8.064 orang.

Selain pendidikan, Onesix Sauyunan juga aktif mengelola persoalan sampah. Mereka membangun bank sampah dan kandang maggot untuk mengolah limbah organik warga.

Dalam dua pekan, komunitas itu bisa mengumpulkan lebih dari 320 kilogram sampah plastik.

“Sebelum ada maggot, teman-teman pemuda juga sudah rutin turun ke sungai buat bersihin sampah,” kata Sandi.

Baca Juga: KELAS LIAR BESAR: Bandung, Kota yang Terkoyak Sejak Lahir
KELAS LIAR BESAR: Membedah Kepemimpinan Zombie dan Akademisi Toksik

Permakaman sebagai Ruang Hidup dan Memori Kota

Peserta Kelas Liar Bandung Bergerak, Sonya Putri Utami, mengatakan kegiatan susur kampung ini bertujuan mengenalkan kembali sejarah dan dinamika kehidupan di kawasan Astana Anyar.

Menurutnya, kawasan permakaman di Astana Anyar menunjukkan bahwa makam bukan sekadar ruang kematian, melainkan juga bagian dari ruang hidup warga.

“Yang menarik di sini ternyata permakaman itu dijadikan ruang hidup dan ruang bermain untuk anak-anak ya dan juga jadi cadangan pangan bagi warga desa,” ujarnya.

Di area permakaman, warga juga menanam berbagai tanaman pangan seperti singkong, pisang, dan nangka.

Sonya mengatakan masih banyak warga Lio Genteng yang belum mengetahui sejarah kampungnya sendiri, termasuk asal-usul sungai yang melintas di kawasan tersebut.

“Itu sih tujuan kita tuh untuk memberitahu kembali apa aja sih sejarah yang ada di kampung mereka,” tutupnya.

Di Astana Anyar, makam tidak hanya menyimpan jejak kematian. Di antara nisan dan gang sempit, kawasan ini juga merekam sejarah kota, perubahan ruang hidup, dan cara warga bertahan di tengah kepadatan Bandung yang terus tumbuh.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//