• Opini
  • Lampu Merah Republik

Lampu Merah Republik

Republik menjadi semacam jembatan yang aneh, menghubungkan kemewahan yang melaju cepat dengan kemiskinan yang berjalan tertatih.

Suko Wahyudi

Pegiat literasi di Yogyakarta

Ilustrasi - Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan juga punya mimpi dan cita-cita. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

19 Mei 2026


BandungBergerak – Jalanan di negeri ini bukan sekadar ruang lalu lintas, melainkan semacam panggung terbuka yang tidak pernah meminta izin untuk terus mementaskan drama sosialnya. Di bawah lampu merah, republik tampak seperti sedang berkaca tanpa sempat berdandan. Mobil-mobil mengilap berhenti sejenak, seolah memberi waktu kepada kehidupan untuk mengatur napas, sementara di sisi lain, tangan-tangan kurus terulur seperti doa yang tidak pernah benar-benar selesai diucapkan.

Di titik itu, kita menyaksikan pertemuan dua dunia yang sebenarnya hidup dalam satu negara, tetapi seolah berbeda alamat sejarah. Yang satu duduk nyaman di balik kaca berpendingin, yang lain berdiri di bawah terik dengan harapan yang sederhana: cukup untuk makan hari ini. Republik menjadi semacam jembatan yang aneh, menghubungkan kemewahan yang melaju cepat dengan kemiskinan yang berjalan tertatih.

Pemandangan ini telah menjadi terlalu biasa, sehingga kita sering kehilangan kemampuan untuk terkejut. Padahal, di balik kebiasaan itu tersimpan keganjilan yang terus berulang: mengapa kemajuan selalu tampak begitu jauh dari mereka yang paling membutuhkan? Mengapa pembangunan sering terlihat megah di atas kertas, tetapi terasa sempit di perut rakyat kecil?

Baca Juga: Kemiskinan tidak Berbanding Lurus dengan Kemalasan
Ilusi Nol Persen Kemiskinan
Mengurai Kemiskinan Struktural, Menghapus Jarak dengan Akar Rumput

Kemiskinan

Di jalanan, kemiskinan tidak sedang bersembunyi. Ia hadir terang-terangan, bahkan kadang terlalu jujur untuk diabaikan. Ada pengamen dengan gitar yang suaranya lebih mirip keluhan hidup daripada melodi. Ada pengemis yang sudah hafal ritme lampu merah lebih baik daripada jadwal bus kota. Ada pula anak-anak yang menjadikan perempatan sebagai ruang belajar pertama tentang kerasnya kehidupan.

Namun yang menarik, perhatian publik dan kebijakan sering kali tidak berjalan seiring dengan kenyataan itu. Yang sibuk justru bukan pertanyaan mengapa mereka ada di jalanan, melainkan bagaimana cara “membersihkan” jalanan dari keberadaan mereka. Maka lahirlah berbagai penertiban, seakan-akan kemiskinan adalah gangguan estetika kota, bukan gejala sosial yang lebih dalam.

Di sinilah kita sering tersandung pada logika yang tidak sepenuhnya adil. Pengemis dilarang diberi uang dengan alasan ketertiban. Pengamen ditertibkan dengan alasan kenyamanan. Anak jalanan dipindahkan dengan alasan keindahan kota. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar sering tidak dijawab: ke mana mereka harus pergi? Apakah kemiskinan bisa disapu seperti debu di trotoar?

Republik ini sebenarnya tidak kekurangan program. Hampir setiap tahun kita mendengar istilah baru: pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, bantuan sosial, dan berbagai istilah lain yang terdengar indah di ruang rapat. Namun di jalanan, istilah-istilah itu sering kali terasa seperti gema yang jauh, tidak sepenuhnya menyentuh realitas yang sedang berlangsung di bawah lampu merah.

Kita hidup dalam situasi yang paradoks. Di satu sisi, angka pertumbuhan ekonomi bisa dibacakan dengan penuh optimisme. Di sisi lain, di sudut kota yang sama, orang masih harus menunggu belas kasih untuk sekadar bertahan satu hari lagi. Seolah ada dua cerita yang berjalan bersamaan: satu di layar presentasi, satu lagi di trotoar.

Wajah Republik

Jalanan akhirnya menjadi semacam cermin sosial yang tidak bisa berbohong. Ia memantulkan wajah republik apa adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Di sana terlihat jelas bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh mereka yang paling rentan. Dan bahwa kemajuan, jika tidak dibarengi pemerataan, hanya akan menjadi pemandangan yang indah dari kejauhan tetapi dingin ketika didekati.

Kita sering lupa bahwa yang berdiri di lampu merah itu bukan sekadar “pengemis” atau “pengamen”, melainkan manusia dengan sejarahnya masing-masing. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang terjebak biaya hidup, ada yang tersingkir dari sistem yang terlalu cepat berlari. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan sosial, melainkan potongan-potongan cerita yang belum selesai.

Karena itu, barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar penertiban, melainkan keberanian untuk menata ulang cara kita memandang kemiskinan. Bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai tanda bahwa ada yang belum selesai dalam sistem kita. Sebab selama akar persoalan tidak disentuh, jalanan akan terus menjadi ruang pengulangan yang sama.

Pada akhirnya, lampu merah di republik ini bukan hanya alat pengatur lalu lintas, melainkan juga semacam pengingat yang diam-diam terus menyala. Ia mengingatkan kita bahwa di antara mobil-mobil yang melaju dan tangan-tangan yang terulur, ada jarak yang belum selesai dijembatani. Dan selama jarak itu masih ada, jalanan akan terus menjadi catatan paling jujur tentang wajah negeri ini.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//