Membaca Sejarah dari Pintu-Pintu yang Tertutup
Buku foto Linger mencoba membaca luka sejarah masyarakat Tionghoa Bandung melalui simbol-simbol arsitektur rumah dan ruang hidup sehari-hari.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 19 Mei 2026
BandungBergerak - Pintu-pintu tinggi itu tampak biasa jika dilihat sekilas. Sebuah gerbang besi menjulang tinggi, gembok yang berlapis, pecahan beling di atas tembok, atau pagar tajam yang mengelilingi rumah-rumah tua di kawasan Cibadak, Andir dan Astana Anyar, Bandung. Namun bagi tiga fotografer muda, objek tersebut menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bentuk arsitektur.
Dari sana, proyek fotografi “Linger, What Is Seen And What Remains Unseen” lahir sebagai upaya membaca jejak trauma yang menetap diam-diam di ruang hidup warga Tionghoa Bandung. Proyek yang digarap oleh Annisa Rahma Putri, Fitri Amanda, dan M. Aldy Fahriansyah ini tidak berhenti sebagai pameran fotografi semata.
Output utama proyek ini hadir dalam bentuk buku foto yang memuat riset lebih luas, visual yang lebih beragam, serta pendekatan yang lebih eksplisit dalam membicarakan sejarah kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Bandung tahun 1963, 1973, hingga Mei 1998.
Buku foto Linger, What Is Seen And What Remains Unseen menjadi medium utama dari proyek yang digarap oleh tiga pameris. Buku ini dijual secara pre-order melalui Raws Syndicate dengan kisaran harga 320 ribu rupiah. Berbeda dengan versi pameran yang tampil lebih simbolik dan subtil, buku foto ini menghadirkan narasi yang jauh lebih lengkap dan tulisan eksploratif mengenai trauma sejarah.
Isi buku didominasi oleh kumpulan foto yang jauh lebih banyak dan variatif dibandingkan karya yang dipajang dalam pameran. Jika pameran menggunakan pendekatan hitam putih dan simbolik, buku foto ini menghadirkan visual yang berwarna dengan ragam sudut pandang, detail ruang, arsip, hingga dokumentasi keseharian yang memperluas pembacaan terhadap isu.
Buku ini juga menjadi hasil dari riset selama tiga bulan yang dilakukan oleh tiga pameris. Proses tersebut melibatkan penelusuran kawasan permukiman Tionghoa di Bandung, pembacaan arsip sejarah, pencarian narasumber, hingga pengumpulan berbagai referensi akademik mengenai kekerasan rasial dan memori kolektif. Karena itu, buku foto ini tidak hanya berdiri sebagai karya artistik, tetapi memiliki pendekatan riset yang kuat.
Menariknya, buku ini tidak berusaha tampil terlalu rapi atau sepenuhnya estetik. Beberapa elemen seperti tulisan tangan, goretan catatan, potongan arsip, hingga tata visual yang terasa mentah justru dipertahankan. Pendekatan tersebut membuat buku ini terasa seperti arsip hidup yang menyimpan jejak pencarian, kebingungan, ketakutan, dan upaya memahami trauma yang selama ini tersembunyi di balik pagar-pagar tinggi rumah warga Tionghoa.
Salah seorang pameris Fitri Amanda menjelaskan, proses awal proyek dilakukan dengan berkeliling ke kawasan yang mayoritas dihuni warga Tionghoa. Mereka mencoba mencari rumah-rumah yang dianggap memiliki keterkaitan dengan memori kekerasan masa lalu. Namun, proses tersebut tidak mudah. Mereka mengalami kesulitan mendapatkan akses dan keterbukaan dari warga.
“Kita nyamperin satu dua rumah, terus dijelasin niatnya ini gitu. Terus dari mereka kayak enggak dulu ya,” ujar Fitri Amanda, Kamis, 14 Mei 2026.
Kesulitan itu kemudian menjadi bagian penting dalam proyek. Ketertutupan warga justru melahirkan pendekatan baru: melihat trauma dari sudut pandang outsider. Dari sana, simbol pagar, pintu, dan lapisan visual menjadi bahasa utama karya mereka.
Simbol Kekerasan di Balik Arsitektur
Kurator pameran, Wahyu Dhian, menyebut proyek ini awalnya berangkat dari ketertarikan pada bentuk pintu-pintu rumah warga Tionghoa. Namun, ia tidak ingin karya tersebut berhenti sebagai dokumentasi estetik semata. Menurutnya, pintu-pintu itu harus dibaca lebih jauh sebagai penanda memori sosial.
“Kenapa pintu-pintu itu seperti itu?” ujar Wahyu dalam wawancaranya.
Pertanyaan itu membawa mereka pada riset selama sekitar tiga bulan. Mereka membaca arsip, mempelajari sejarah kekerasan terhadap warga Tionghoa, sekaligus mengamati bagaimana memori tersebut tampak dalam ruang hidup sehari-hari.
Dalam proyek ini, layering menjadi elemen visual penting. Foto-foto yang dipamerkan menampilkan dua lapisan visual: hitam putih dan warna merah. Lapisan hitam putih memperlihatkan apa yang tampak di permukaan—gerbang tertutup, gembok, pagar, tembok tinggi. Sementara lapisan merah menjadi metafora luka, trauma, dan memori kekerasan yang tidak sepenuhnya terlihat.
Wahyu menjelaskan bahwa layering tersebut merepresentasikan posisi orang luar yang mencoba melihat melalui celah kecil menuju sesuatu yang tersembunyi. Baginya, memori tidak hanya hidup dalam tubuh manusia, tetapi juga tersimpan di ruang dan bentuk bangunan.
“Pagar berduri, kawat, pecahan beling itu simbol-simbol kekerasan,” katanya. “Trauma-trauma yang mereka hadapi tiap kali.”
Gagasan itu kemudian diperluas dalam buku foto yang menjadi medium utama proyek. Berbeda dengan versi pameran yang cenderung subtil dan menggunakan hitam putih, buku foto menampilkan visual warna yang lebih variatif serta narasi yang lebih eksplisit. Buku tersebut memuat hasil riset, arsip, serta rangkaian foto yang lebih luas untuk menjelaskan bagaimana trauma diwariskan secara diam-diam lintas generasi.
Dalam teks kuratorial pameran, proyek ini disebut sebagai “kontra-arsip”, yakni upaya menghadirkan kembali ingatan yang dipinggirkan atau dihapus dari narasi resmi negara. Pameran dan buku foto ini tidak mencoba menjadi sejarah resmi, melainkan ruang untuk membaca jejak-jejak kecil yang masih tertinggal dalam tubuh, kebiasaan, rasa waspada, dan ruang hidup masyarakat.
Baca Juga: Bagaimana Proyek Pembuatan Sejarah Resmi Versi Pemerintah Berpotensi Menggerus Inklusivitas, Mengerdilkan Penulisan Sejarah Lokal, dan Menghilangkan Fakta Pelanggara
Penulisan Ulang Sejarah Nasional dalam Bayang-bayang Novel 1984
Trauma yang Hidup dalam Diam
Gagasan tentang trauma yang diwariskan secara diam-diam juga muncul dalam wawancara dengan Sonny Hermawan, seorang keturunan tionghoa yang saya wawancarai. Sonny menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Tionghoa tumbuh dalam situasi yang membuat mereka terbiasa bersikap apatis dan memilih bertahan hidup dibanding bersuara.
“Kami memang jadi orang yang apatis. Sudah dididik apatis dari kecil,” ujarnya.
Menurut Sonny, banyak keluarga Tionghoa memilih “cari aman” dan menghindari konflik karena merasa tidak memiliki kekuatan ditambah masih banyak ketakutan. Sikap tersebut bukan sekadar pilihan pribadi tapi bagian dari pengalaman kolektif yang dibentuk oleh sejarah kekerasan dan diskriminasi yang menumpuk sejak lama.
Penjelasan Sonny memperlihatkan bagaimana trauma bekerja tidak selalu dalam bentuk ingatan yang diucapkan secara langsung, tetapi hadir dalam pola hidup sehari-hari. Ketakutan itu hidup dalam cara membangun rumah, cara bertahan hidup dan memikirkan kepentingan dirinya, cara bersikap terhadap pribumi, hingga bagaimana mereka menjaga jarak dengan isu politik atau HAM.
Sonny bahkan melihat keterkaitan langsung antara pengalaman tersebut dan karya fotografi yang dibuat para seniman. Baginya, pintu-pintu tertutup dan tembok tinggi dalam foto-foto itu memang mencerminkan kenyataan yang pernah dialami masyarakat Tionghoa.
“Ketakutan-ketakutan dengan tembok tinggi dan lain sebagainya itu memang terjadi di masa lalu,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa rumah-rumah dengan pagar tinggi dibangun sebagai bentuk perlindungan. Rumah terbuka dianggap rentan. Karena itu, rasa aman kemudian diwujudkan melalui arsitektur dan ruang fisik.
Meski begitu, Sonny mengaku senang ada anak-anak muda yang mencoba mengangkat isu tersebut melalui fotografi. Menurutnya, proyek seperti ini penting untuk menunjukkan bahwa luka sejarah belum benar-benar hilang.
“Memang luka itu masih ada,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penting karena proyek “Linger” tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masa lalu terus bekerja dalam kehidupan hari ini. Trauma tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau cerita verbal, melainkan hadir dalam diam, kewaspadaan, dan kebiasaan bertahan hidup.
Buku foto yang menjadi output utama proyek akhirnya berfungsi sebagai arsip alternatif tentang memori yang sulit diucapkan. Melalui riset, arsip, dan pendekatan visual yang lebih eksplisit, buku tersebut mencoba memperlihatkan bahwa sejarah kekerasan tidak pernah benar-benar selesai.
Apa yang tampak di permukaan mungkin hanyalah pagar, pintu, atau rumah-rumah tua yang biasa kita lewati begitu saja. Namun di baliknya terdapat lapisan memori yang terus tinggal, diwariskan, dan membentuk bagaimana juga kehidupan banyak orang hingga hari ini.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


