PAMERAN SATUKATA: Merawat Diri Lewat Goresan
Karya-karya dalam SATUKATA Vol.2 memperlihatkan bagaimana menggambar menjadi medium untuk mengurai trauma dan menata ulang kehidupan.
Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 22 Mei 2026
BandungBergerak - Tubuh dua perempuan tanpa busana itu berdiri dalam satu garis barisan. Wajah keduanya tertusuk gunting besar. Tidak ada warna mencolok, hanya ribuan titik pena yang disusun telaten hingga membentuk gambar berukuran 120 x 120 sentimeter. Namun justru karena tampil lugas dan gamblang, karya milik Suci Fuzty Rabbani itu menahan langkah pengunjung lebih lama di ruang pamer SATUKATA Vol.2 di Griya Seni Popo Iskandar.
Suci, atau akrab disapa Uci, mengangkat isu motherless melalui karya bergaya pointilis tersebut. Isu tentang anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ibu itu bukan sekadar tema yang ia amati dari jauh, melainkan pengalaman yang pernah ia rasakan sendiri.
“Ternyata anak-anak yang motherless itu cenderung kesepian, tpi mereka itu justru self reliance-nya justru lebih kuat gitu. Nah, si self reliance ini kelihatannya kaya jadi reliansi atau kebangkitan diri mereka yang gak dapet sosok Ibu itu tadi,” ujar perempuan 20 tahun itu, ditemui di sela-sela pameran, Rabu, 13 Mei 2026.
Karya Uci menjadi salah satu penanda kuat dalam pameran bertajuk Drawing as Act of Resilience yang digelar sepanjang Mei, bertepatan dengan Bulan Kesadaran Kesehatan Mental. Pameran ini memaknai seni menggambar bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan bagian dari proses manusia bertahan dan bangkit dari krisis, luka, hingga pengalaman traumatis.
Ruangan pameran bernuansa putih berukuran sekitar 5 x 10 meter itu dipadati belasan pengunjung. Percakapan terdengar minim. Sebagian besar orang memilih berdiri diam menatap karya-karya yang memenuhi dinding. Garis pena, arsiran pensil, hingga titik-titik tinta di atas kertas menjadi medium bagi sembilan seniman untuk menceritakan pergulatan batin mereka masing-masing.
Setidaknya lebih dari 10 karya dipamerkan dengan pendekatan visual yang beragam. Meski sebagian besar hadir tanpa warna, karya-karya tersebut tetap menyampaikan emosi yang kuat tentang perjuangan menghadapi hidup.
Bagi Uci, menggambar menjadi ruang aman untuk mengurai keresahan yang selama ini menumpuk di kepalanya. Proses pengerjaan karya yang ia selesaikan selama empat hari itu juga menjadi cara untuk memahami dirinya sendiri.
Sebelum menuangkan gagasan ke atas kertas, ia lebih dulu membaca sejumlah riset dan kajian tentang isu motherless. Dari sana, ia menemukan jawaban-jawaban yang kemudian diterjemahkan menjadi visual tubuh perempuan dengan luka yang tampak nyata.
“Ketika aku menggambar, kalau dari pengalaman aku pribadi, aku jadi lebih tenang, pikiran aku lebih kosong. Jadi kaya menggambar itu bener-bener pelarian dan akhirnya aku bisa mikirin atau menata lagi pikiran aku sendiri,” imbuhnya.
Alghifara Maulidansyah, selaku kurator pameran, menjelaskan alasannya memilih tema kebangkitan atau resilience dalam pameran yang digelar pada tanggal 13 -31 Mei 2026 ini. Ia memandang seni menggambar memiliki peran penting yang sejalan dengan upaya manusia untuk bangkit dan lepas dari keterpurukan.
“Resilience sendiri aku ambil dari ilmu psikologi yang secara sederhananya resilience itu artinya cara bagaimana manusia bangkit dari keterpurukan atau bagaimana cara ia mengadaptasikan dirinya untuk tetap bangkit dari masa-masa sulit,” ungkap Alghifara.
Alghifara menyadari, bangkit dari masa sulit bukanlah perkara yang mudah, hal ini pernah dialami olehnya pada masa-masa pendaftaran perguruan tingggi. Pengalamannya yang sempat ditolak oleh perguruan tinggi sempat mematahkan semangatnya, namun, beruntungnya Alghifara tetap menggambar dan menolak berhenti mencoba. Hingga, akhirnya gambar yang ia buat membawanya masuk ke masuk perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Cerita Alghifara sejalan dengan apa yang tertulis dalam tulisan pengantar pameran yang terpajang besar tepat di awal tembok pintu masuk ruang pameran. “Ketahanan bukan dimaknai sebagai upaya kembali menjadi ‘utuh’, melainkan proses untuk terus bergerak dan bertahan di tengah perubahan.”
Baca Juga: Sisi Gelap Manusia di Pameran Harry Suliztiarto
Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Dari Pameran Menjadi Komunitas
Nama SATUKATA menjadi pengikat berbagai karya seniman dalam pameran yang mengangkat tema kebangkitan ini. Adapun, SATUKATA sendiri merupakan sebuah kolektif seni rupa yang mengumpulkan orang-orang baik itu mahasiswa seni rupa UPI dan beberapa seniman aktif yang berdomisili di Kota Bandung.
Pada mulanya, SATUKATA lahir sebagai nama judul dan tema dari pameran sebelumnya yang berlangsung pada bulan September 2025. Melalui pameran, SATUKATA mencoba mengumpulkan kembali orang-orang dari lintas generasi beserta karyanya. Hal tersebut dapat terlihat dari beragamnya pameris yang terlibat dalam pameran SATUKATA Vol.2 saat ini.
Baik itu pameris dengan status mahasiswa, seniman aktif, atau dosen sekalipun, semuanya turut menyumbang karya dalam pameran dan melebur menjadi kesatuan yang tak lagi tersekat oleh tingkatan status tertentu.
Lebih lanjut, Taris Barikan sebagai ketua pelaksana pameran SATUKATA Vol.2 sedikit berbagi cerita tentang kisah awal terbentuknya komunitas SATUKATA dan terlaksananya pameran SATUKATA VOL.2.
“Pada dasarnya, SATUKATA itu dibentuk akibat ada event Mei menggambar yang diadakan pada tahun lalu. Sebenarnya pada bulan Mei tahun sekarang pun tujuan diadakan pameran ini salah satunya untuk merayakan bulan Indonesia Raya Menggambar, yang di mana pameran pusatnya ada di Yogyakarta,” terang Taris Barikan.
Pameran SATUKATA Vol.2 ini menjadi salah satu titik dari banyaknya titik pameran yang digelar dalam rangka merayakan bulan Indonesia Raya Menggambar yang diadakan secara serentak di berbagai wilayah di Indonesia pada bulan Mei. Melalui menggambar, orang-orang dapat kembali berkumpul, merayakan hal-hal kecil yang mereka senangi sedari lama, juga kembali menata pikiran dari berbagai permasalahan dan keterpurukan yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari selama ini.
Di tangan para seniman muda dalam SATUKATA Vol.2, menggambar akhirnya tidak berhenti sebagai praktik estetika. Tarikan garis dan titik-titik tinta menjelma menjadi cara untuk bertahan, memahami luka, sekaligus mencari jalan pulang bagi diri mereka sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


