MAHASISWA BERSUARA: Katanya Orang Desa Tak Terpengaruh Dolar AS
Masyarakat desa mungkin tidak pernah memegang sepeser pun uang dolar AS, tapi mereka dipaksa untuk menanggung beban dari tingginya nilai tukar mata uang tersebut.

Azwin Zamharir
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo
23 Mei 2026
BandungBergerak – Di satu sisi, layar bursa saham berkedip merah menunjukkan kepanikan karena nilai tukar rupiah sempat melemah tajam hingga Rp17.600 per dolar AS. Namun, disisi lain, cerita yang sangat berbeda terdengar dari peresmian 1.061 unit koperasi desa merah putih di Nganjuk, Jawa Timur. Presiden Prabowo Subianto menyatakan dengan santai, “Rakyat di desa enggak pakai dolar.” Pernyataan tersebut sepertinya sengaja diucapkan sekedar untuk menenangkan masyarakat dan mencegah kepanikan di tengah kondisi dunia yang tidak menentu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa segera memberikan dukungan atas pandangan positif tersebut. Beliau menyatakan bahwa dasar kekuatan ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan negara tetangga. Beliau membantah tuduhan bahwa pemerintah sengaja membiarkan nilai rupiah turun demi mempermudah penjualan barang keluar negeri. Menurutnya, naik turunnya nilai uang lebih disebabkan oleh kepanikan pasar sesaat. Secara bahasa politik dan hitungan ekonomi negara, alasan tersebut lebih masuk akal untuk menenangkan para investor. Namun, menanggapi bahwa kehidupan desa sama sekali tidak terpengaruh oleh kuatnya dolar merupakan kesalahan berpikir, karena hal itu mengabaikan kejamnya dampak kenaikan harga barang akibat mahalnya harga impor bahan baku.
Kenyataannya, masyarakat desa mungkin tidak pernah memegang sepeser pun uang dolar AS, tapi mereka dipaksa untuk menanggung beban dari tingginya nilai tukar mata uang tersebut dalam kebutuhan sehari hari. Hal itu sejalan dengan peringatan dari Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, yang menyatakan bahwa pelemahan rupiah tetap mengancam harga kebutuhan pokok masyarakat desa secara langsung. Seperti para pembuat tahu dan tempe kini kesulitan karena harga bahan baku dari luar negeri yang melonjak tajam dari kisaran Rp9.600 menjadi Rp11.000 per kilogram. Karena tidak bisa menaikkan harga jual di saat daya beli masyarakat sedang lemah, para pedagang pun terpaksa menurunkan kualitas dagangnya sekedar untuk bertahan hidup.
Di sektor peternakan ayam, berdasarkan keluhan peternak di lapangan, harga pakan ayam ras otomatis melonjak karena tingginya harga bahan baku mentah yang masih harus dibeli dari luar negeri. Sektor usaha kecil didesa tidak pernah benar-benar kebal dari dolar, karena jalur pemenuhan kebutuhan pangan mereka sudah lama bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Pekerja Platform Digital Tanpa Payung Regulasi dan Negara yang Sibuk Bertransformasi
MAHASISWA BERSUARA: Beasiswa LPDP dan Budaya Baris-berbaris
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Keadilan Ditentukan Keramaian
Melemahnya Rupiah
Meski demikian, mengeluh melemahnya nilai rupiah tidak akan menyelesaikan masalah. Merujuk pada pernyataan akademisi Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, masa krisis saat ini harus dimanfaatkan sebagai peluang emas untuk mempercepat kemandirian produksi pangan lokal. Ketika harga barang impor melonjak, barang lokal otomatis menjadi lebih menguntungkan dan mampu bersaing dipasar. Waktu seperti inilah yang paling tepat untuk memaksa produksi pangan lokal tanpa bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Selain itu, sektor pertanian lokal adalah peluang terbesar penyelamat ekonomi yang terus mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 4,97 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Masa sulit seperti ini harus dijadikan dorongan untuk berhenti membeli bahan mentah dari luar negeri dan mulai meningkatkan pengolahan hasil desa. Contohnya adalah memproduksi tepung singkong sebagai pengganti gandum, hingga mengganti pupuk kimia impor dengan pupuk alami buatan lokal.
Pada akhirnya, langkah pemerintah membangun ribuan Koperasi Desa Merah Putih yang juga ditargetkan untuk mendukung sarana penyalur makan bergizi gratis merupakan kebijakan yang patut dihargai. Namun, koperasi akan kehilangan tujuan utamanya jika barang yang dikelola masih barang-barang impor. Koperasi harus didorong menjadi penggerak utama untuk mengolah hasil panen desa menjadi barang yang bernilai tinggi, bukan sekedar tempat menyalurkan barang yang biaya pembuatannya ditentukan oleh mata uang asing. Jika tidak, anggapan bahwa orang desa kebal dari dolar membuat kita lengah di saat urusan ketersediaan pangan warga terancam oleh tekanan pasar global.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


