Lima Ribu Rupiah di Tribun Selatan
Untuk beberapa jam, di tengah hidup yang sering terasa berat, mereka akhirnya punya sesuatu untuk dirayakan bersama Persib juara.

Dea Rahmat S
Penulis esai reflektif dan opini sosial.
24 Mei 2026
BandungBergerak – Tas saya lempar melewati pagar sekolah. Setelah memastikan situasi aman, saya menyusul dengan memanjat pagar yang sama. Di antara semak-semak kecil dekat tembok, saya buru-buru mengganti seragam putih biru dengan kaos Persib dan celana jeans yang sejak pagi sudah saya sembunyikan di dalam tas. Kurang dari lima menit, siswa SMP berubah menjadi bobotoh. Seolah-olah pagar sekolah yang saya lompati itu bukan cuma memisahkan ruang kelas dan stadion, tapi juga memisahkan kehidupan lama dengan sesuatu yang sampai hari ini masih saya bawa.
Kejadian itu tahun 2014. Saat saya masih duduk di bangku SMP dan untuk pertama kalinya akan menonton Persib Bandung secara langsung di Stadion Si Jalak Harupat. Rasanya cukup nekat juga kalau diingat lagi sekarang.
Saya berangkat berdua dengan teman sebaya dari Solokanjeruk menuju Soreang menggunakan motor Supra tua yang suaranya lebih berisik daripada lajunya. Modal kami cuma seratus ribu rupiah berdua. Bukan per orang, tapi berdua. Dari awal sebenarnya kami sudah sadar uang itu tidak akan cukup, tapi waktu itu logika terasa kalah jauh dibanding keyakinan bahwa setiap hal bisa dengan cepat terselesaikan dengan pikiran “kumaha engke we”.
Di tengah perjalanan, tepat saat memasuki daerah Ciparay, motor kami mulai memberi tanda-tanda kehabisan bahan bakar. Tarikannya berat dan jarum bensin hampir menyentuh garis paling bawah. Akhirnya kami relakan uang sepuluh ribu untuk membeli bensin. Setelah sampai di area stadion, kami mencari tempat parkir yang lebih murah dari yang lainnya. Ternyata semuanya sama, harga yang harus dibayar untuk menitipkan kendaraan senilai lima ribu untuk kendaraan bermotor. Delapan puluh ribunya habis untuk dua tiket yang saya beli langsung di sekitar stadion, dulu calo sangat marak. Setelah itu, sisa uang kami tinggal lima ribu rupiah. Goceng lurr.
Pertandingannya sore hari. Saat itu Persib menjamu tim luar negeri Warriors FC. Kami masuk ke tribun selatan dengan perasaan campur aduk: takut ketahuan bolos sekolah, deg-degan karena pertama kali masuk stadion, sekaligus merasa seperti sedang menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Lucunya, dari awal pertandingan sampai akhir, mungkin hanya sekitar sepuluh menit saya benar-benar menonton bola. Sisanya saya lebih sibuk mengikuti atmosfer tribun selatan. Bernyanyi bersama orang-orang yang tidak saya kenal, melompat mengikuti chant, lalu sesekali diam memikirkan ongkos pulang.
Sebab hari mulai gelap, pertandingan segera selesai, sementara uang kami benar-benar habis. Setelah sisa uang lima ribu kami putuskan untuk membeli es teh dari pedagang keliling di stadion yang menghampiri.
Namun anehnya, kecemasan itu seperti tertutup oleh suasana stadion. Untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana sepak bola bisa membuat ribuan orang asing merasa begitu dekat satu sama lain.
Menjelang malam kami baru benar-benar sadar bahwa kami sudah tidak memiliki uang lagi. Perut keroncongan, tenggorokan kering, dan bensin motor hampir habis. Kami sempat mencoba menghubungi beberapa teman, berjalan mondar-mandir di sekitar stadion, berharap menemukan orang yang kami kenal. Tapi malam semakin gelap dan semuanya tetap nihil. Pada akhirnya kami menjual telepon genggam ke konter terdekat agar bisa membeli bensin dan makan.
Baca Juga: Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal
Lebih dari Sepak Bola: Persib sebagai Ikon Budaya
Persib, Bandung, dan Kota yang Belajar Percaya pada Kemustahilan
Bobotoh dan Persib
Kalau dipikir lagi sekarang, kejadian itu terdengar sangat bodoh. Dua anak SMP bolos sekolah, pergi jauh, lalu menjual telepon genggam hanya demi pertandingan sepak bola. Tetapi anehnya, saya tidak pernah menyesali hari itu. Bahkan setelah kejadian itu, saya tidak kapok. Saya justru jadi lebih sering pergi ke stadion.
Dan bertahun-tahun setelahnya, setiap kali melihat orang-orang konvoi saat Persib juara, saya selalu teringat perjalanan itu. Saya melihat orang-orang memenuhi jalan sambil membawa bendera biru. Motor berjejer panjang. Klakson berbunyi tanpa aturan. Orang-orang bernyanyi sambil berdiri di atas bak mobil. Ada yang rela kehujanan, ada yang membeli flare, ada yang menghabiskan uang hanya untuk ikut merayakan kemenangan yang sebenarnya tidak mengubah hidup mereka secara langsung.
Besok pagi tetap harus kerja. Kontrakan tetap harus dibayar. Upah tetap terasa kecil. Bahan pokok tetap mahal karena MBG. Teu ketang, tong ngaler ngidul beda bahaseun. Bahkan, mungkin sebagian orang yang malam itu ikut konvoi masih bingung uang makan minggu depan datang dari mana. Dan kalau dipikir-pikir lagi, kemenangan Persib memang tidak benar-benar memberi apa-apa kepada sebagian besar bobotoh selain rasa senang yang sementara.
Kalau menimbang untung rugi, yang paling untung tentu pemain, klub, sponsor, penjual merchandise, dan industri di sekitarnya. Sementara bagi orang biasa, kemenangan itu tidak membuat hidup mendadak lebih mudah. Namun orang-orang tetap datang. Tetap setia. Tetap merayakan. Tidak ada yang benar-benar bertanya: “Kalau Persib juara, saya dapat apa?” Kita hanya ingin melihatnya menang dan merasakan kemenangan itu.
Dan semakin dewasa, saya semakin iri pada cara orang-orang mencintai Persib seperti itu. Bukan karena sepak bolanya. Tetapi karena ada bentuk kesetiaan yang terasa sangat tulus di sana. Orang tetap menonton meski sering kecewa. Tetap percaya meski musim berganti tanpa gelar. Tetap mencintai sesuatu yang secara material hampir tidak memberi mereka keuntungan apa-apa bahkan mereka yang mengeluarkan uang cukup banyak, entah membeli kaos, flare, poster ataupun atribut lainnya.
Belakangan ini saya sering diam-diam bertanya pada diri sendiri: bisakah saya mencintai Tuhan seperti bobotoh mencintai Persib?
Bukan menyamakan agama dengan klub sepak bola. Saya hanya sedang memikirkan cara manusia mencintai sesuatu. Sebab dalam beragama, saya sering merasa terlalu penuh hitung-hitungan. Hubungan dengan Tuhan kadang-kadang terasa transaksional. Saya berdoa ketika sedang membutuhkan sesuatu. Saya mendekat ketika hidup terasa sempit. Saya kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Sementara kepada Persib, banyak orang bisa setia tanpa syarat yang jelas. Tetap mengikuti tanpa berharap imbalan apa pun. Tetap percaya meski berkali-kali gagal untuk juara.
Mungkin karena manusia memang membutuhkan harapan, meski kadang hanya berlangsung beberapa jam. Dan mungkin itu sebabnya orang-orang tetap turun ke jalan ketika Persib juara. Karena untuk beberapa jam, di tengah hidup yang sering terasa berat, mereka akhirnya punya sesuatu untuk dirayakan bersama.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


