Persib, Bandung, dan Kota yang Belajar Percaya pada Kemustahilan
Saya ingin Balai Kota Bandung bukan hanya dikenang sebagai tempat saksi bisu hadirnya juara liga, tapi menjadi episentrum perubahan kota.

Aan Priyatna
Bobotoh, pencinta buku, pemerhati sosial perkotaan, dan berkhidmat sebagai peneliti di lembaga Padjadjaran Strategis Konsultan.
23 Mei 2026
BandungBergerak – "To understand what I'm about to tell you, you need to do something first. You need to believe in the impossible. Can you do that? Good. You see that blur? That is me. My name is Barry Allen. I am the fastest man alive. My story is pretty simple. My whole life I've been running. Usually from bullies. Sometimes I've escaped. Sometimes I did not."–Barry Allen, dalam serial The Flash season 1 episode 1.
Ini adalah sepenggal kisah yang saya alami. Kendati saya bukan tokoh utama dalam sebuah serial, tapi saya ingin mengisahkan satu frasa yang sama, yaitu memaknai sebuah kemustahilan.
Tersebutlah pada tahun 1995. Saat itu, Persib Bandung baru saja merengkuh gelar juara Liga Indonesia edisi pertama, seratus persen dengan skuad pemain lokal. Ingatan saya melayang pada suasana pawai juara yang begitu membekas, lautan biru di mana-mana, orang-orang tumpah ruah di pinggir jalan menyambut tim Persib yang segera lewat membawa piala, merayakannya bersama-sama. Dan keesokan harinya, tidak ada topik lain yang dibahas di sekolah selain gol tunggal Sutiono Lamso. Sepak bola terasa begitu sederhana dan membahagiakan.
Saat itu saya belum menyadari bahwa setelah euforia 1995, Persib memasuki fase puasa gelar yang teramat panjang. Dinamika terus bergulir. Dari datangnya trio asing pertama, Mariusz Mucharski, Piotr Orlinski, dan Maciej Dolega di era kepelatihan Marek Andrzej Sledzianowski, hingga pada 2004 di mana Persib nyaris terdegradasi dan lolos dari lubang jarum melalui babak play-off yang menegangkan di Solo. Siklus harapan dan kekecewaan terus berulang.
Titik balik sempat terasa pada musim 2007. Di bawah asuhan Arcan Iurie, Persib tampil memukau dan berhasil menjadi juara paruh musim, gelar juara sepertinya sudah di depan mata. Sayangnya keputusan manajemen menjual Nyeck Nyobe di paruh musim membuat stabilitas tim menjadi timpang. Performa tim merosot tajam di putaran kedua, dan impian juara pun harus lewat begitu saja.
Baca Juga: Citarum dan Logo Persib
Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal
Saat Persib Menang, Dago Elos Melawan
Masa-masa Meratapi Kemustahilan
Musim-musim berikutnya berjalan dengan pola yang hampir serupa, ekspektasi tinggi yang berakhir dengan sebuah antiklimaks. Kata juara menjadi sebuah the impossible. Namun ada hal yang tidak pernah berubah, stadion tetap penuh, dan jalanan selalu sepi karena warga yang menonton Persib di layar kaca.
Kemudian tibalah era Djadjang Nurdjaman. Di musim keduanya melatih, Persib menjadi tim yang solid, efektif dan bermental juara. Menjelang partai final, saya ingat betul media sosial dipenuhi tagar #ModalFinal. Kisah-kisah tentang bobotoh yang nekat menjual barang kesayangan demi ongkos nonton final ke Stadion Jakabaring, Palembang, banyak sekali ditemui.
Bagi yang memilih di Bandung seperti saya, ada layar tancap yang digelar di setiap daerah, di lapangan hingga di sudut gang. Saya memilih bergabung dengan ribuan orang di Balai Kota Bandung. Ketika adu penalti ditutup dengan gol Achmad Jufriyanto, ada sebuah ketegangan yang pecah menjadi tangis histeris dan pelukan antar-orang asing yang mendadak terasa seperti saudara kandung. “A, juara A!”, begitu seruan seseorang entah siapa, yang menonton di samping saya. Saya entah kenapa jatuh ke tanah, bersujud seraya terharu, melepas sebuah penantian yang tertahan sembilan belas tahun lamanya.
Perjalanan pulang malam itu juga tidak saya duga. Kemacetan mengunci setiap ruas jalan protokol. Dari mulut-mulut gang, manusia tumpah ruah ke jalanan. Ibu-ibu berdaster, bapak-bapak lansia yang berjalan perlahan, hingga anak-anak kecil, semuanya merayakan hal yang sama. Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa Persib mengakar kuat pada eksistensi kultural masyarakatnya. Tagar lainnya, yaitu #LawanKemustahilan yang digaungkan sepanjang fase semifinal dan final menjadi wujud pembuktian bahwa penantian hampir dua dekade bisa dibayar tuntas.
Hari ini, di kota ini, kemustahilan itu telah bergeser maknanya. Persib tidak lagi merindukan trofi yang dinanti selama 19 tahun bagai sang anjing Hachiko yang menunggu tuannya selama bertahun-tahun di Stasiun Shibuya, melainkan telah diantarkan coach Bojan Hodak untuk meraih juara dua kali berturut-turut dan kini tengah berada dalam jalur untuk menyongsong hattrick juara.
Sesuatu yang dahulu dianggap mustahil kini telah menjadi standar. Pencapaian ini membawa ingatan kembali bahwa kita telah sampai di titik ini. Kita telah melewati masa-masa meratapi kemustahilan, hingga akhirnya tanpa disadari, kita sendiri yang telah menjadi kemustahilan tersebut.
Harapan untuk Kota Bandung
Pencapaian juara bagi Persib, adalah bagai hujan sehari bagi tahunan kemarau di kota Bandung. Kita sama-sama tahu, warga Bandung telah lama didera kepenatan akibat berbagai persoalan kronis, mulai dari kemacetan, menumpuknya sampah, hingga tata ruang yang tumpang-tindih. Kondisi ini diperparah oleh runtuhnya kepercayaan publik akibat rentetan vonis pidana yang menimpa para pemimpinnya secara beruntun, mulai dari Dada Rosada, Edi Siswadi, Yana Mulyana, Ema Sumarna, hingga terakhir Yossi Irianto. Kota ini tampak berjalan tanpa arah yang jelas. Bandung autopilot.
Persib menjadi satu-satunya yang bisa dibanggakan dari Kota Bandung. Namun berkaca dari kemustahilan yang didekonstruksi maknanya oleh Persib, saya ingin menyimpan harapan agar kota ini mampu berbenah dan melakukan perubahan, sehingga optimisme di kota ini tidak pernah benar-benar mati. Selalu ada ruang untuk bangkit dari keterpurukan tata kelola sebuah kota.
Saya ingin Balai Kota bukan hanya dikenang sebagai tempat saksi bisu hadirnya juara liga, tapi menjadi episentrum perubahan kota. Pembiaran terhadap salah urus kota jangan terjadi lagi. Tidak boleh lagi ada ruang bagi birokrasi yang tidak kompeten. Diperlukan partisipasi publik yang terorganisasi untuk mengawasi setiap kebijakan, anggaran, proyek infrastruktur, serta program-program pemerintah.
Pemenuhan hak-hak utama mulai dari transportasi publik yang layak, pengelolaan sampah yang sistemik, hingga pemenuhan ruang terbuka hijau, hanya bisa dicapai jika warga aktif menuntut akuntabilitas. Kita tidak bisa menunggu keajaiban terjadi dari balik meja kekuasaan. Partisipasi dan kolaborasi civil society melalui penguatan simpul-simpul komunitas lokal, yang mana bobotoh pun termasuk di dalamnya, harus hadir demi memastikan bahwa setiap hak warga di kota ini bisa terpenuhi tanpa syarat.
"So that's my story. I've spent my whole life searching for the impossible. Never imagining that I would be the impossible. All my life I wanted to just do more, be more. And now I am."
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


