• Berita
  • Saat Persib Menang, Dago Elos Melawan

Saat Persib Menang, Dago Elos Melawan

Nobar Persib vs PSM Makassar di Terminal Dago bukan sekadar perayaan sepak bola, tetapi juga ruang solidaritas warga yang masih menanti putusan PK sengketa tanah.

Nobar Persib Bandung vs PSM Makassar di Terminal Dago, Coblong, Kota Bandung, Minggu, 17 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah18 Mei 2026


BandungBergerak - “Kemenangan Persib hari ini semoga menjadi kemenangan warga Dago Elos,” seru seorang warga melalui pengeras suara, seusai gol Julio Cesar membawa Persib Bandung menang 2-1 atas PSM Makassar dalam nobar di Terminal Dago, Coblong, Kota Bandung, Minggu, 17 Mei 2026. Tepuk tangan dan yel-yel spontan menggema di tengah malam yang masih basah selepas hujan mengguyur Bandung.

Puluhan warga, anak-anak, perempuan, dan bobotoh lainnya duduk rapat menyaksikan laga klasik itu. Di antara celetukan dan teriakan sepanjang pertandingan, nobar itu bukan sekadar soal sepak bola. Warga Dago Elos tengah merawat ruang kebersamaan di tengah penantian putusan Peninjauan Kembali (PK) 2 di Mahkamah Agung yang sedang berproses. Hasil PK 2 akan menentukan nasib dan hak hidup warga yang tinggal di tanah sengketa.

Ketegangan sempat menyelimuti layar nobar hingga menit ke-33, ketika tendangan kaki kiri Thom Haye membawa Maung Bandung unggul di babak pertama. Sorak warga pecah. Di Terminal Dago, kemenangan Persib terasa seperti harapan yang sedang dicoba untuk terus dijaga bersama.

Babak kedua, ketegangan semakin memuncak ketika layar nobar memperlihatkan gol PSM Makassar dari tandukan Yuran Fernandes yang membuat skor sama kuat 1-1. Emosi dan rasa tegang mulai dirasakan para bobotoh yang menyaksikan laga lewat layar proyektor. Mereka kemudian menyanyikan yel-yel untuk menyemangati Sang Pangeran Biru. “Persib Taklukkan Lawan, Persib Sang Pahlawan”, “Persib is Wonderful”.

Chants itu terus menggema selama babak kedua bersama irama snare drum yang dibawa warga. Mereka berharap suara dukungan itu juga terdengar oleh kesebelasan di rumput hijau Stadion BJ Habibie, Parepare, Sulawesi Selatan. Sampai injury time babak kedua, bukan lagi yel-yel dukungan yang terdengar, melainkan rapalan doa dan harapan yang digumamkan pelan-pelan.

Di antara penonton ada yang gelisah dan berdiri. Sepanjang pertandingan babak kedua, sejumlah peluang didapatkan skuad Maung Bandung, tetapi penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat para bobotoh mulai gusar.

Di dekat tempat saya duduk, seorang warga berkata, “A, untung ini Borneo dan Persijap imbang, alhamdulillah,” kata seorang warga sembari memperlihatkan siaran di gawainya.

Borneo FC merupakan pesaing terkuat Persib di laga kali ini. Untuk sementara, Borneo FC menduduki peringkat kedua. Skor imbang tersebut menguntungkan Persib Bandung untuk selangkah lagi menuju juara berturut-turut pada 2024 dan 2025.

Di menit terakhir, Julio Cesar berhasil menanduk bola hingga masuk ke gawang PSM. Maung Bandung berbalik unggul 2-1 atas PSM.

Layar lebar dimatikan. Dari pengeras suara, lagu “Sweet Caroline” milik Neil Diamond menggema, mengadopsi kultur suporter di Inggris. “Sweet Caroline, good times never seemed so good. Sweet Caroline, I believe they never could.”

Disusul lagu DT09 - Kebanggaan Bandung: “Terima kasih Tuhan, Bandung tempat kelahiranku, punya tim kebanggaan Persib Bandung, dengan sejarah yang melambung.”

Warga Dago Elos dan bobotoh menari, menyanyi, berpelukan, dan merayakan kemenangan.

Mika, salah seorang warga, berharap perjuangan mempertahankan ruang hidup mereka dapat berjalan lancar seperti kemenangan yang dirayakan malam itu. Perempuan tersebut berharap dukungan dan doa dari warga serta masyarakat yang selama ini berpihak kepada Dago Elos menjadi kekuatan penting untuk terus bertahan menghadapi proses hukum dan konflik yang belum selesai.

Ia mengakui, selama perjuangan berlangsung selalu ada pro dan kontra. Setiap aksi warga kerap memunculkan dukungan sekaligus penolakan dari berbagai pihak. Namun, bagi warga, hal itu bukan sesuatu yang terlalu dipikirkan. Fokus utama mereka tetap pada perjuangan yang dinilai masih panjang dan belum selesai.

Mika mengatakan warga memilih untuk terus bergerak dibanding memusingkan komentar dari pihak-pihak luar yang tidak mendukung Dago Elos. Menurutnya, yang terpenting warga telah berupaya mempertahankan hak dan ruang hidup mereka semaksimal mungkin.

“Yang penting kita sudah berusaha. Semoga apa pun yang diperjuangkan warga hasilnya baik,” kata Mika.

Warga Dago Elos lainnya, Dika, mengaku sulit menggambarkan kebahagiaannya melihat Maung Bandung semakin dekat menuju hattrick juara. Ia menyebut pencapaian tim kebanggaan Jawa Barat itu menghadirkan rasa haru dan bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ia menyampaikan terima kasih kepada jaringan solidaritas, komunitas, dan warga yang hadir serta ikut berdonasi untuk perjuangan Dago Elos. Dukungan tersebut menjadi energi penting bagi warga yang hingga kini masih bertahan menghadapi persoalan sengketa tanah dan dugaan praktik mafia tanah.

“Terima kasih untuk semua pihak yang terus mendukung Dago Elos sehingga perjuangan ini bisa bertahan sampai sekarang. Panjang umur perjuangan,” jelas Dika.

Baca Juga: Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal
Membaca Jernih Polemik Hari Lahir Persib Bandung: 1919 atau 1933?

Sepak Bola dan Politik

Nobar Persib melawan PSM Makassar di Dago Elos merupakan bagian dari Festival Budaya Perlawanan yang digelar warga sejak Kamis hingga Minggu melalui rangkaian doa bersama, pertunjukan seni, hingga diskusi publik.

Sebelum nobar dimulai, warga dan jaringan solidaritas lebih dulu mengadakan diskusi bertajuk Sepak Bola dan Sosial Politik: Tribun, Solidaritas, dan Perlawanan Rakyat. Diskusi itu membahas bagaimana sepak bola kerap menjadi ruang bertemunya keresahan sosial dan solidaritas warga.

Rizki Sanjaya menjelaskan bahwa sepak bola selalu berkaitan dengan dinamika sosial dan politik. Menurutnya, sejak lahir di Inggris, sepak bola berkembang dari permainan rakyat yang dianggap kasar dan bising menjadi olahraga kalangan elite, lalu menyebar dan populer secara global.

Dalam konteks Indonesia, Rizki mengatakan sepak bola dibawa pada masa Hindia Belanda dan berkembang lewat klub-klub yang memiliki latar sosial berbeda-beda, seperti komunitas pekerja kereta api.

“Jadi sepak bola itu lahir dari unsur-unsur sosial di belakangnya. Begitu juga Persib, yang awalnya adalah perserikatan klub-klub di Bandung,” katanya.

Rizki menegaskan bahwa Persib Bandung tidak dapat dilekatkan pada kepentingan politik praktis tertentu karena sejak awal berdiri sebagai perserikatan yang merepresentasikan masyarakat Bandung secara luas. Meski demikian, tribun sepak bola tetap bisa menjadi ruang bagi suporter untuk menyuarakan keresahan sosial selama disampaikan secara damai dan tidak provokatif.

Menurutnya, banyak persoalan warga, termasuk konflik agraria di Dago Elos, kerap kurang mendapat perhatian melalui jalur politik formal.

“Mungkin dengan masuk ke arena sepak bola dan membuka ruang di sana, isu-isu seperti ini bisa lebih didengar,” ujarnya.

Rizki juga melihat kultur suporter semakin terbuka terhadap isu sosial pasca-Tragedi Kanjuruhan. Banner solidaritas terkait kekerasan, kemanusiaan, hingga konflik agraria kini lebih sering hadir di tribun stadion. Namun, ia mengingatkan pentingnya menyampaikan pesan solidaritas secara cerdas agar tidak menimbulkan salah tafsir antarsuporter.

“Misalnya bukan hanya membawa tulisan ‘Dago Melawan’, tapi bisa diperjelas jadi ‘Solidaritas Bobotoh untuk Dago Elos’,” jelasnya.

Ia berharap tribun sepak bola tidak hanya menjadi ruang dukungan bagi klub, tetapi juga tempat tumbuhnya kesadaran sosial dan keberpihakan terhadap warga terpinggirkan.

“Saya berharap nanti lahir pemain-pemain sepak bola dari tempat seperti Dago Elos yang bukan cuma hebat di lapangan, tapi juga berani bersuara soal penindasan dan konflik kepentingan,” jelasnya.

Menjelang malam di Terminal Dago, lagu-lagu Persib masih terdengar ketika warga mulai membereskan spanduk dan perlengkapan acara. Bagi warga Dago Elos, perjuangan belum berakhir. Setelah hampir satu dekade menghadapi konflik dengan mafia tanah, mereka masih menanti putusan yang akan menentukan nasib rumah dan ruang hidup mereka.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//