Merekonstruksi Rumah Bersejarah Lekra Melalui Film Dokumenter Tjidurian 19
Tjidurian 19 bukan sekadar rumah tua yang kini telah dirobohkan. Melalui nonton bareng dan diskusi film, publik diajak merekonstruksi sejarah kesenian Lekra.
Penulis Muhammad Jihadil Akbar25 Mei 2026
BandungBergerak - Rumah bergaya arsitektur Belanda itu bukan tempat tinggal biasa. Berdiri di Jalan Tjidurian No. 19, Cikini, Jakarta Pusat, rumah keluarga tersebut sekaligus merangkap sebagai ruang untuk berkumpul, berdiskusi, dan berkarya bagi seniman-seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Sebelum tragedi berdarah 1965 dan penumpasan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta pihak-pihak yang dituduh terafiliasi, Rumah Tjidurian 19 menjadi salah satu titik penting lahirnya berbagai karya dalam sejarah kebudayaan Lekra.
Kisah para pelaku sejarah di Tjidurian 19 dituangkan dalam film melalui wawancara dengan sejumlah tokoh, seperti Martin Aleida, T. Iskandar, dan seniman lainnya yang pernah tergabung dalam Lekra sebelum organisasi itu dibubarkan rezim Orde Baru pada 1965. Mereka menceritakan pengalaman hidup dan tumbuh di rumah milik Oey Hay Djoen itu.
Oey Hay Djoen merupakan tokoh penting dalam Lekra sekaligus sosok yang membuka rumahnya sebagai ruang pertemuan dan tempat tinggal seniman-seniman Lekra. Pria yang akrab disapa Bung Hay Djoen itu bekerja sebagai penerjemah utama Tionghoa–Indonesia. Setelah dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September, ia diasingkan ke Pulau Buru sebagai tahanan politik dan mendapat nomor tahanan 001. Bung Hay Djoen meninggal dunia pada 2008 dalam usia 79 tahun.
Setelah peristiwa penculikan para jenderal pada 1965, penumpasan terhadap PKI dilakukan secara besar-besaran dan menyasar orang-orang yang dianggap terafiliasi dengan partai tersebut. Selain Bung Hay Djoen yang ditangkap dan diasingkan, Lekra dan Rumah Tjidurian 19 juga dituduh berada di bawah naungan PKI. Rumah itu kemudian diambil alih negara.
“Anda bisa bayangkan bagimana peranan organisasi itu buat hidup saya, ditampung oleh satu organisai yang pada saat itu dia memberikan inspirasi yang luar biasa kepada seniman. Saya meninggal orang tua dan masuk ke pangkuan orang tua lain yang namanya Lekra,” tutur Martin Aleida dengan mata berkaca, dikutip dari salah satu adegan wawancara di film.
Baca Juga: Kritik untuk Para Penonton Film Pesta Babi
Merefleksikan Persoalan Sungai dan Sampah melalui Film Dokumenter
Film Dokumenter Tjidurian 19
Film dokumenter Tjidurian 19 diputar di di Auditorium Gedung 11 Universitas Parahyangan, Jumat sore, 22 Mei 2026. Sejumlah penonton antusias menyaksikan film yang disutradarai Lasja Fauzia Susatyo dan M. Abduh Aziz.
Selama 42 menit pemutaran film yang diproduksi 2009 berlangsung, tidak seorang pun beranjak dari kursinya. Suasana ruangan dijaga tetap hening agar setiap narasi dan kesaksian dalam film terdengar jelas.
Keterkaitan antara Tjidurian 19 dan Lekra dibahas lebih lanjut dalam diskusi selepas pemutaran film yang menghadirkan Lasja Fauzia Susatyo dan sejarawan Hilmar Farid. Keduanya berbicara sebagai pihak yang terlibat dalam produksi film sekaligus peneliti sejarah Lekra.
Menurut Lasja, tuduhan tanpa bukti terhadap Lekra membuat banyak seniman mengalami penangkapan, pengasingan, hingga pemusnahan karya. Namun, selama proses wawancara film berlangsung, ia tidak menemukan penyesalan dari para mantan anggota Lekra.
“Yang paling luar biasa bagi saya itu adalah tidak satu kata pun dari mereka yang menyesali atau tidak ada satu pun yang bilang bahwa lembaga Lekra atau Tjidurian ini membuat hidup mereka sengsara,” kata Lasja.
Seperti halnya Lekra yang kini tinggal jejak sejarah, Rumah Tjidurian 19 juga telah berubah bentuk. Pada 1966–1990, bangunan itu diambil alih Kodam Jaya dan dijadikan mess Angkatan Darat yang dihuni sembilan keluarga militer. Setelah itu, bangunan dijual kepada seorang pengusaha bernama Iwan tanpa dilengkapi surat-surat resmi.
Bangunan tersebut kemudian kembali dijual kepada Andi, yang merobohkan rumah itu dan menggantinya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Widya.
Hilang sudah rumah yang menjadi saksi penting sejarah kesenian Lekra. Nasibnya serupa dengan ribuan karya para seniman Lekra yang tidak pernah utuh sampai hari ini. Banyak karya hanya tersisa sebagai cerita.
“Bayangkan pada masa itu ada dua puluh ribu orang berkarya dengan caranya mereka sendiri yang catatannya hari ini kita gak tahu, bahkan kita gak punya referensi apa sih yang mereka lakukan dalam berkarya, pemikiran dan seterusnya,” ujar Hilmar.
Menurut Hilmar, kondisi itulah yang melatarbelakangi pembuatan film Tjidurian 19. Melalui medium film, keberadaan rumah itu kembali dihadirkan dalam ingatan generasi hari ini. Tjidurian 19 direkonstruksi bukan sekadar sebagai bangunan yang telah hilang, tetapi sebagai ruang tumbuh bagi para seniman dan pemikir pada zamannya.
“Bahwa beliau-beliau ini orang-orang hebat yang luar biasa, punya mimpi dan datang untuk mengembangkan kekuatannya masing-masing. Buat saya pribadi, saya baru pertama kali ketemu dengan mereka dan sangat terkesan dengan sosok-sosok ini,” terangnya.
Nonton bareng dan diskusi film Tjidurian 19 merupakan bagian dari rangkaian Festival Film Kecil-kecilan yang diinisiasi komunitas film dan laboratorium audiovisual Sinesofia di bawah Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


