• Berita
  • Rungkad: Novel Tentang Rakyat Kecil dan Reformasi yang Gugur

Rungkad: Novel Tentang Rakyat Kecil dan Reformasi yang Gugur

Di diskusi di Bandung, Herry Dim dan sejumlah pembicara membahas novel yang merekam kemiskinan struktural, aktivisme , hingga kebohongan politik yang diwariskan.

Diskusi novel Rungkad Rakyat Mati karya Herry Dim di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam25 Mei 2026


BandungBergerak - Jajang, seorang sarjana muda yang menganggur, bertekad mengubah kondisi kampungnya yang dilanda kemiskinan. Ia percaya situasi tersebut lahir dari politik dan pemerintahan yang culas hingga membuat rakyat hidup sengsara.

Namun, kondisi sosial di kampungnya tidak mudah diubah. Tingkat pendidikan warga rendah; sebagian besar hanya lulusan SD atau SMP. Kesadaran terhadap persoalan ekonomi-politik pun sulit dibangun.

Suatu hari, saat mengantre beras murah, Jajang bertemu Hamidah, seorang ibu muda yang menggendong bayinya. Suami Hamidah telah lama pergi menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri demi mengubah nasib keluarga, tetapi tak pernah lagi memberi kabar. Hamidah akhirnya membesarkan anaknya seorang diri di tengah kemiskinan ekstrem yang dialami warga Kampung Lamping Gagak.

Melihat kondisi itu, Jajang yang aktif berorganisasi tak lagi tahan menyaksikan penderitaan masyarakat dan abainya pemerintah. Namun, alih-alih turun ke jalan, ia memilih meminta bantuan seorang seniman terkenal di kampungnya untuk menyuarakan persoalan tersebut kepada publik.

Sayangnya, seniman bernama Oom Doroaryo itu bersikap apatis. Meski memiliki galeri seni besar dan dihormati warga, ia menolak mencampurkan seni dengan politik. Saat Jajang meminta bantuan untuk biaya makan dan pengobatan anak Hamidah, Oom Doroaryo menolak mentah-mentah. Ia merasa masalah yang dihadapi Hamidah bukan urusannya.

“Saya ini pelukis. Pekerjaan saya melukis, bukan mengurus orang sakit,” kata Oom Doroaryo.

Kisah tersebut merupakan penggalan novel Rungkad: Rakyat Mati karya Herry Dim yang diterbitkan Penerbit Kelir pada 2026. Novel ini dibagi menjadi dua sudut pandang utama: Jajang dan Hamidah.

Novel 116 halaman itu didiskusikan di acara Ruang Kata di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. Diskusi dimoderatori Cici Purnama Sari dengan menghadirkan Herry Dim, akademisi Unpas Hawe Setiawan, Faiz Manshur dari Odesa Padasuka, dan Hirza Musyaffa dari Kembang Kata.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Kelabang, Kisah Para Narapidana, dan Siksaan Bagi Pembacanya
RESENSI BUKU: Menjawab Pertanyaan Apa yang Kau Lupakan Hari ini dari Jein Oktaviany

Novel yang Lahir dari Situasi Hari Ini

Herry Dim, penulis novel sekaligus seniman, mengatakan cerita dalam novel sebagian diambil dari kehidupan masyarakat di Cimenyang, Padasuka. Novel ini tidak hanya menggambarkan kemiskinan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana persoalan itu terus berlangsung setelah Indonesia merdeka.

Di usianya yang ke-71 tahun, Herry mengaku telah melewati delapan rezim pemerintahan, dari Sukarno hingga Prabowo. Menurutnya, setiap rezim memiliki dinamika sosial-politik berbeda, tetapi situasi saat ini merupakan yang paling buruk yang pernah ia rasakan.

“Mohon maaf harus saya katakan, anak-anakku sekalian, ini zaman terburuk yang saya rasakan,” ujar Herry kepada audiens yang mayoritas anak muda.

Di tengah proses menulis, Herry mengaku sempat dilanda keputusasaan melihat kondisi bangsa. Novel itu menjadi saluran untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya terhadap situasi sosial-politik hari ini.

“Percayalah, kalau kita membangun piramida dengan dasar kebohongan, maka yang tumbuh adalah piramida kebohongan itu sendiri,” katanya.

Ia menilai kebohongan yang terus dipelihara hanya akan melahirkan kehancuran, baik secara moral maupun sosial.

Akademisi Unpas, Hawe Setiawan, menilai novel Rungkad dapat menjadi refleksi atas kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, kekuatan novel terletak pada karakter-karakternya yang diambil langsung dari realitas masyarakat Padasuka.

Hawe menilai tema besar novel ini adalah matinya agenda reformasi. Ia menyebut pendekatan Herry dalam menulis novel bersifat etnografis, yakni memahami masyarakat dari pengalaman hidup mereka sendiri. Dengan pendekatan ini pembaca diajak memahami gejolak politik Indonesia dari masa lalu sampai sekarang.

“Makanya judulnya Rungkad. Dalam bahasa Sunda, rungkad berarti tumbang,” tambah Hawe.

Faiz Manshur, kolega Herry Dim, mengatakan selama ini Herry lebih dikenal sebagai pelukis yang mengekspresikan kegelisahan melalui karya visual. Namun kali ini, Herry memilih medium novel untuk memotret situasi sosial secara lebih luas.

“Karya ini bagus sebagai dokumentasi,” ungkapnya.

Menurutnya, karakter-karakter dalam novel terasa kuat karena merepresentasikan kondisi masyarakat hari ini.

Sementara itu, Hirza Musyaffa, pembicara yang mewakili generasi muda, mengatakan novel Rungkad dapat dibaca dalam sekali duduk, tetapi memiliki substansi yang kuat. Baginya, novel tersebut memperlihatkan bagaimana aktivisme dapat dilakukan melalui berbagai cara.

Ia membagi aktivisme ke dalam dua bentuk: melalui gagasan dan turun langsung ke masyarakat. Hirza mencontohkan ibunya yang aktif mendirikan TK, PAUD, dan majelis taklim di Padasuka untuk membantu warga kurang mampu.

“Mamah saya tuh berupaya bagaimana sebisa mungkin hidup mereka (masyarakat) produktif dengan mendirikan TK, Paud, dan majelis taklim,” tuturnya.

Menurut Hirza, pengalaman dalam novel terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di lingkungannya. Ia juga mengkritik aktivisme elitis yang hanya sibuk membangun citra, tetapi enggan membantu masyarakat secara langsung, sebagaimana tokoh Oom Doroaryo dalam novel.

Hirza menilai novel ini menunjukkan bahwa keputusan politik selalu berdampak pada kehidupan masyarakat kecil. Karena itu, ia merasa prihatin melihat kenyataan yang digambarkan dalam cerita.

“Setelah membaca sampai akhir, saya merasa prihatin, menyedihkan dan ironi melihat keadaan yang seperti ini,” tandasnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//