Pesta Titik Temu: Merayakan Pertemuan dengan Kawan Difabel di Ruang Publik Bandung
Budaya ableisme mengakar dalam pembangunan kota di Bandung. Melalui Pesta Titik Temu, komunitas disabilitas berupaya menghadirkan ruang aman, setara, dan inklusif.
Penulis Retna Gemilang25 Mei 2026
BandungBergerak - Teman-teman disabilitas bertemu dengan komunitas dan pegiat seni di ruang yang sama di Bandung. Namun, tantangan menikmati ruang publik yang dihadai kawan difabel dimulai jauh sebelum mereka tiba di tujuan: trotoar yang terputus, ramp yang tidak sesuai standar, transportasi yang tidak terintegrasi, hingga minimnya fasilitas pendukung untuk menikmati karya seni.
Persoalan tersebut berangkat dari ableisme, yakni konstruksi sosial yang menempatkan tubuh “normal” sebagai acuan utama dalam kehidupan sosial. Akibatnya, penyandang disabilitas berada dalam posisi yang tidak diuntungkan karena harus menyesuaikan diri dengan standar mayoritas non-disabilitas.
Presiden Pergerakan Disabilitas dan Lanjut Usia (DILANS) Indonesia, Farhan Helmy, menilai budaya ableisme telah lama mengakar dalam pendidikan, ekonomi, seni, hingga pembangunan infrastruktur. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem dalam mengakomodasi keberagaman masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi penyandang disabilitas usia lima tahun ke atas di Indonesia mencapai 2,17 persen pada 2025. Sementara kelompok lansia mencakup 11,93 persen dari total populasi. Namun, jumlah tersebut belum sebanding dengan tersedianya sistem yang inklusif.

Menurut Farhan, sistem sosial saat ini lebih mengutamakan keseragaman dibanding keberagaman, serta mengejar kecepatan dan efisiensi ketimbang keterlibatan semua kelompok masyarakat.
"Adanya disabilitas bukan menunjukkan orang yang lemah, tetapi menunjukkan sistem yang lemah, sistem sosial ekonomi yang lemah. Karena di situ ada diskriminasi, di situ ada eksklusif," ungkapnya.
Farhan, yang mengalami paraplegia setelah kecelakaan pada 2016, juga mengkritik praktik komodifikasi terhadap penyandang disabilitas dan lansia. Berbagai kebutuhan dasar seperti kursi roda, tongkat, popok, hingga transportasi justru kerap dijual lebih mahal.
Dalam ruang seni di Bandung, penyandang disabilitas juga masih kesulitan menjangkau dan menikmati karya seni. Farhan, yang juga menjabat Wakil Ketua Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (RBM), mengatakan pihaknya selama dua hingga tiga tahun terakhir berupaya menghadirkan ruang pameran yang lebih inklusif di Bandung. Menurutnya, ruang tersebut perlu dibangun berdasarkan prinsip No One Left Behind atau tidak ada satu pun yang tertinggal.
"Jadi kemajuan itu diukur dari orang yang terbelakang," kata Farhan.
Persoalan ableisme ini diangkat dalam rangkaian pameran Pesta Titik Temu dan diskusi publik bertajuk Membedah Budaya Ableis dan Susahnya Mencari Ruang Inklusif di Bandung Creative Hub, Jumat-Sabtu, 22–23 Mei 2026. Kegiatan ini diinisiasi Kelas Liar BandungBergerak melalui program Se(ni)tara dengan menghadirkan pameran karya, lokakarya, dan forum diskusi.
Senada dengan Farhan, Fuza Nihayatul dari Se(ni)tara Universitas Padjadjaran menilai ableisme juga lahir dari narasi yang tidak setara. Persoalan disabilitas sering dibicarakan oleh non-disabilitas tanpa benar-benar melibatkan pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas itu sendiri.
Menurut Fuza, kondisi tersebut terlihat dari sulitnya menemukan ruang seni inklusif di Bandung. Ia menilai inklusivitas di kota ini masih bersifat tokenisme, yakni sekadar memenuhi formalitas tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata warga disabilitas.
Ia mencontohkan halte transportasi publik yang tidak menyediakan ruang cukup bagi pengguna kursi roda untuk berputar, ramp dengan kemiringan yang tidak sesuai standar, hingga guiding block yang dipasang keliru.
"(itu) yang membuat Bandung belum inklusif, karena mereka tidak melibatkan langsung teman-teman disabilitas dalam membangun Bandung ini," tutur Fuza.
Lebih lanjut, ia menilai ruang seni sering terasa eksklusif sehingga membuat penyandang disabilitas kesulitan menikmati karya seni secara nyaman. Menurutnya, seni seharusnya dapat diakses semua orang tanpa stigma maupun sekat sosial.
Pesta Titik Temu, lanjut Fuza, menjadi upaya awal untuk mendestigmatisasi disabilitas dengan mempertemukan teman disabilitas dan non-disabilitas dalam ruang yang setara dan aman.
Baca Juga: Kawan-kawan Difabel Berharap Mendapat Ruang Pemberitaan yang Adil di Media Massa
SUARA SETARA: Bukan Penyandang Disabilitasnya yang tidak Mampu, Lingkunganlah yang Membuatnya Demikian

Kesetaraan dalam Ruang Seni
Di tengah keterbatasan ruang publik yang aksesibel, Se(ni)tara mencoba menghadirkan ruang perjumpaan yang berbeda melalui Festival Pesta Titik Temu, bagian dari rangkaian Festival Bandung Menggugat 2026.
Mujahidah Aqilah dari Se(ni)tara mengatakan festival ini bertujuan membangun kesadaran bahwa penyandang disabilitas maupun non-disabilitas memiliki potensi yang sama dalam berkarya.
Selain diskusi publik, festival menghadirkan instalasi seni dan berbagai aktivitas interaktif bersama teman tuli, netra, daksa, dan disabilitas mental. Kegiatan lain meliputi lokakarya Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) bersama Karya Seni Tuli (KST), sesi baca inklusif bersama Asian African Reading Club (AARC), serta pertunjukan “Harmoni Setara” bersama Rere. Seluruh rangkaian acara didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan Teman Bisik.
Pada hari pertama, sebanyak 15 karya seni dipamerkan tanpa membedakan latar belakang senimannya. Beberapa di antaranya merupakan karya Ajeng Larasati, Althiffa Zahra Dzakiyyah, Dahayu Raya, Harun AK, Sagara Biru, Ghaniyyutra Al-Fattah, hingga fotografer Hirza, Tata, dan Racka Fitra.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak tidak hanya melihat karya seni, tetapi juga hadir dalam ruang perjumpaan yang setara untuk meruntuhkan stigma terhadap disabilitas.
Salah satu peserta pameran, Gumelar Shalahuddin Al-Ghazi atau Ael, memamerkan tiga karya digital yang terinspirasi dari pengalamannya sebagai teman tuli. Salah satu karyanya berjudul Sad in Sea (Deaf!?) (2024), menampilkan sosok anak muda yang menangis di tengah latar laut biru.
Karya tersebut lahir dari pengalaman diskriminasi dan gunjingan yang kerap ia alami semasa sekolah. Pengalaman itu membuatnya merasa terasing dan terkungkung. Meski begitu, Ael mengatakan kehidupannya mulai membaik sejak kuliah karena memiliki teman-teman yang berusaha belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengannya.
"Ada (teman) yang bisa menggunakan bahsa isyarat karena sering bertanya, sering berkomunikasi, dan bahkan membantu studi, dan lain-lain," ujar Ael.

Selain Ael, festival juga menghadirkan Dini Lestari dan Taufik Hidayat atau Opik dari DILANS. Dini, penyandang cerebral palsy sejak lahir, telah menulis hampir 15 buku, salah satunya Sepuluh Kehidupan terbitan Ultimus. Ia juga aktif sebagai motivator difabel.
Sementara Opik dikenal sebagai penulis dan pemain teater yang aktif menulis puisi dan prosa. Baginya, keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk berkarya.
"Lewat puisi dan teater, aku menyadari bahwa keterbatasan bukanlah akhir cerita, melainkan sebuah keberanian yang lahir dari gestur tubuh yang bergerak meski tampak kaku," tuturnya.
Pada akhir sesi diskusi hari pertama, Opik menampilkan koreografi teatrikal dari puisinya berjudul Drama yang ditulis pada 2018 dan dibacakan oleh Nidan.
Meski ruang publik di Bandung masih jauh dari inklusif, Pesta Titik Temu berupaya menjadi ruang aman bagi penyandang disabilitas untuk berkomunikasi dan berkarya. Sebab, akses terhadap informasi, ekspresi seni, dan keterlibatan dalam ruang sosial bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan hak fundamental setiap warga negara tanpa terkecuali.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


