• Berita
  • Persib Juara Tiga Kali Beruntun, Euforia Bobotoh Menjelma Solidaritas dan Berkah Ekonomi Warga Bandung

Persib Juara Tiga Kali Beruntun, Euforia Bobotoh Menjelma Solidaritas dan Berkah Ekonomi Warga Bandung

Gelar juara Persib Bandung tak hanya memicu pesta di jalan, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan, suara warga Dago Elos, hingga rezeki pedagang kecil.

Ribuan bobotoh menyemut sambut pemain Persib yang di arak di mobil terbuka saat pawai kemenangan Persib Bandung di BRI Super League 2025/2026 di Bandung, 24 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah25 Mei 2026


BandungBergerak - Penantian bobotoh terbayar lunas setelah Persib Bandung memastikan gelar juara Liga Indonesia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kepastian itu diraih usai Maung Bandung menahan imbang Persijap Jepara pada laga pamungkas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu malam, 23 Mei 2026.

Meski tak semua bobotoh bisa hadir langsung di stadion, euforia juara tetap meledak di berbagai sudut Kota Bandung. Warga menggelar nonton bareng secara swadaya, mulai dari lapangan Bale RW Dago Elos hingga lapak pedagang hewan kurban yang disulap menjadi ruang berkumpul. Di tengah perayaan itu, seorang ibu di Bandung Timur bahkan mengajak anaknya ikut konvoi demi merasakan suka cita juara bersama ribuan warga lainnya.

Agus Mano, salah seorang penjual hewan kurban di Cibaduyut, Kabupaten Bandung, sengaja menyulap lapaknya menjadi tempat nobar Persib versus Persijap Jepara. Kain putih dibentangkan di antara deretan domba yang berjajar di pinggir jalan, sementara sebuah proyektor kecil memantulkan tayangan pertandingan ke permukaannya.

Agus bersama keluarganya biasa berjualan hewan kurban setiap menjelang Idul Adha. Hewan-hewan didatangkan dari peternakannya di Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. Di lapaknya, tidak sedikit orang-orang yang lewat berhenti untuk menonton laga.

“Orang-orang yang mau lewat ke arah pusat Kota Bandung juga biasanya berhenti dulu buat nonton di sini,” kata pria berusia 31 tahun tersebut.

Menurut Agus, menonton pertandingan bukan halangan untuk tetap berjualan. Kecintaannya kepada Persib merupakan warisan yang senantiasa diteteskan dan dititiskan. Salah satu pengalaman yang paling diingat ialah ketika mengajak putra pertamanya yang masih berusia satu tahun menonton pertandingan melawan Persija Jakarta.

“Waktu itu suasananya juga cukup panas. Banyak flare juga waktu itu, jadi situasinya sempat tegang. Tapi karena memang sudah cinta sama Persib, tetap dijalani dan jadi pengalaman yang nggak terlupakan,” ujarnya.

Setelah memastikan Persib juara, Agus meninggalkan sebentar lapaknya untuk merayakan kemenangan. Wajahnya tampak lega melihat Persib kembali mempertahankan gelar juara.

“Alhamdulillah, selama ada Bojan Hodak jadi lebih tenang,” katanya.

Kegembiraan juga terpancar dari Mariam, 36 tahun, yang bersama suami dan anaknya menggunakan dua sepeda motor dari Cileunyi. Di tengah lautan biru bobotoh, Mariam menikmati euforia ini. Menurutnya, perayaan ini bukan semata-mata sepak bola, tapi luapan kebanggaan sebagai warga Bandung.

“Seru, senang. Apalagi lihat banyak orang antusias banget, jadi ikut senang juga,” ujarnya . Mariam mengaku tidak memiliki cerita personal yang terlalu mendalam dengan Persib. Namun, atmosfer kebersamaan yang tercipta setiap kali Maung Bandung bertanding membuatnya selalu ingin ikut merasakan kemeriahan itu.

Ia berharap, Persib terus berjaya dan kembali menjadi juara di musim-musim berikutnya. “Semoga terus jadi juara lagi dan jadi kebanggaan Jawa Barat,” katanya, seraya menyerukan: “Persib aing.”

Persib dan Suara-Suara yang Tetap Kritis

Kemenangan Persib tak hanya dirayakan dengan nyanyian dan konvoi. Ada suara-suara yang tetap menjaga ingatan tentang perjuangan ruang hidup, keadilan, dan harapan yang belum benar-benar dimenangkan, seperti yang dituturkan Dika, warga Dago Elos.

Dago Elos saat ini tengah menanti putusan akhir Peninjauan Kembali (PK) 2 di Mahkamah Agung (MA). Hampir satu dekade puluhan warga Dago Elos melawan mafia tanah yang membayang-bayangi rumah mereka. Dika mengibaratkan perjuangan Dago Elos seperti perjalanan Persib menuju juara: penuh ketegangan, harapan, dan penantian akan hasil akhir.

Ia mengaku pernah bolos sekolah demi mengejar waktu agar bisa menonton pertandingan Persib secara langsung. Antusiasmenya terhadap klub kebanggaan Bandung itu tumbuh sejak kecil dan terus bertahan hingga sekarang.

Kemenangan Persib, katanya, bukan hanya tentang sepak bola. Ia berharap keberhasilan Maung Bandung dapat membawa semangat positif bagi warga Dago Elos yang tengah berjuang mempertahankan ruang hidup mereka. Kemenangan Persib menjadi simbol bahwa perjuangan panjang dapat berbuah hasil.

“Karena namanya berjuang, hasil tidak akan pernah mengkhianati,” jelas Dika.

Bagi warga Dago Elos, sepak bola atau Persib memiliki makna lebih luas. Heri Pramono, Direktur LBH Bandung, mengatakan tribun Persib memiliki makna lebih luas karena mampu menjadi medium untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.

Menurut Heri, banyak Bobotoh yang tidak hanya peduli pada pertandingan, tetapi juga terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Karena itu, tribun menjadi ruang publik tempat solidaritas dan aspirasi tumbuh bersama.

Ia juga berharap Bobotoh semakin solid, bukan hanya dalam mendukung Persib, tetapi juga dalam menjaga ruang-ruang sosial di Kota Bandung.

Baca Juga: CERITA DARI LAPANGAN BARUTUNGGUL: Persib dan Terasingnya Sepak Bola Tarkam
KESAKSIAN BOBOTOH PEREMPUAN: Ketika Persib Menjadi Napas

Nonton Persib di lapak hewan kurban di Cibaduyut, Bandung, Sabtu malam, 23 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)
Nonton Persib di lapak hewan kurban di Cibaduyut, Bandung, Sabtu malam, 23 Mei 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Berkah Pangeran Biru

Puncak kemenangan Persib dirayakan Minggu, 24 Mei 2026. Ratusan manusia membiru dan memadati jalanan, mereka bernyanyi, berjoget diiringi teriakan juara, knalpot motor, musik dangdut hingga disko di setiap sudut jalan.

Persib juga bisa menjadi sumber rezeki bagi warganya. Hal ini diceritakan oleh Rijal yang datang dari Garut untuk berjualan bendera Persib di Cibaduyut selama dua hari, Sabtu dan Minggu.

Rijal menceritakan, sejak tahun lalu ia rutin berdagang aksesoris Persib. Ketika Persib meraih gelar back to back musim lalu, omzet pendapatannya mencapai jutaan rupiah.

Dari Garut ia membawa 15 kodi bendera berukuran besar dan 15 kodi bendera berukuran kecil. Saat malam perayaan di hari Sabtu, omzet jualannya bisa mencapai 3 juta rupiah.

Sehari-hari, Rijal bekerja di sebuah pabrik di Garut. Namun demi memanfaatkan momen keramaian, ia rela mengambil cuti. Kecintaannya pada sepak bola memang sudah lama tumbuh. Ia gemar bermain futsal dan sering ikut pertandingan antarkampung di daerahnya.

Rijal pernah merasakan langsung gemuruh dukungan suporter Persib di Stadion GBLA. Meski belum pernah mengikuti laga tandang, ia berharap suatu saat bisa melakoninya.

Berkah Persib juga dirasakan oleh Wida, 50 tahun, warga Bandung yang berjualan sosis di area rute konvoi Maung Bandung. Ia mendapatkan keuntungan yang lumayan dari peserta konvoi. Ia berharap Persib bisa terus juara.

Dikethui, konvoi juara dimulai dari Gedung Sate dan berakhir di JPO Asia-Afrika melalui sejumlah ruas utama Kota Bandung, Persib, Minggu, 24 Mei 2026. Persib memastikan gelar Super League 2025/26 usai bermain imbang tanpa gol melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu, 23 Mei 2026.

Hasil itu mengantar Maung Bandung mencatat sejarah sebagai klub pertama yang menjuarai kompetisi kasta tertinggi Indonesia tiga musim beruntun. Gelar tersebut juga menjadi bintang kelima Persib di era Liga Indonesia sekaligus trofi kesepuluh di kasta tertinggi nasional.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//