• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Self Reward, Kesehatan Mental, dan Pemborosan

MAHASISWA BERSUARA: Self Reward, Kesehatan Mental, dan Pemborosan

Hubungan antara kondisi psikologis individu dan pola konsumsi mereka menjadi kunci untuk memahami kapan self reward berubah menjadi pemborosan

Athanasia Adela Pratama Lili

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Ilustrasi. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

29 Mei 2026


BandungBergerak – Di era globalisasi yang serba cepat dan penuh tuntutan produktivitas, fenomena self- reward atau pemberian penghargaan kepada diri sendiri telah menjadi tren yang lazim di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga pekerja profesional. Secara mendasar, self-reward sering kali dipandang sebagai bentuk validasi atas usaha keras dan pencapaian yang telah diraih oleh seorang individu. Secara psikologis, tindakan ini dianggap mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan memotivasi seseorang untuk tetap produktif di tengah tekanan yang konstan.

Namun, seiring dengan masifnya pengaruh media sosial, batas antara apresiasi diri yang tulus dan perilaku konsumtif yang impulsif menjadi semakin kabur. Budaya digital mendorong individu untuk menampilkan standar kehidupan tertentu, di mana "mencintai diri sendiri" sering kali disamakan dengan aktivitas berbelanja atau mengonsumsi barang mewah. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai esensi dari tindakan tersebut. Apakah self-reward benar-benar merupakan investasi pada kesehatan mental, ataukah sekadar eufemisme bagi gaya hidup hedonis dan pemborosan yang tidak terkendali?

Esai ini bertujuan untuk mengeksplorasi dualitas self-reward dengan merujuk pada berbagai literatur penelitian terbaru di bidang psikologi konsumen dan kesehatan mental. Dengan menganalisis pandangan para ahli mengenai dampak emosional, fenomena efek plasebo dalam konsumsi, hingga risiko perilaku konsumtif, tulisan ini akan mencoba membedah batasan sehat dari apresiasi diri agar tidak terjebak dalam lubang pemborosan finansial.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Ketika Sekolah hanya Menjadi Nama
MAHASISWA BERSUARA: Dolar Naik Jadi Candaan, Rakyat Kecil Jadi Taruhan
MAHASISWA BERSUARA: Rebottle Campus, Cara Sederhana Mengurangi Sampah Plastik di Lingkungan Kampus

Self-Reward dan Kesehatan Mental

Dari perspektif psikologi positif, pemberian imbalan kepada diri sendiri memiliki fungsi yang krusial dalam mekanisme motivasi manusia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ernawati et al. (2025), praktik self-reward memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesehatan mental, khususnya dalam lingkungan kerja. Ketika seorang individu  memberikan apresiasi kepada dirinya setelah mencapai target tertentu, otak melepaskan hormon dopamin yang menciptakan sensasi kepuasan dan kebahagiaan. Hal ini berperan sebagai sistem penguatan positif (positive reinforcement) yang memperkuat perilaku produktif di masa depan.

Kesehatan mental karyawan atau mahasiswa sangat bergantung pada keseimbangan antara beban kerja dan waktu pemulihan. Self-reward berfungsi sebagai bentuk jeda atau "interupsi positif" dari stresor harian. Dalam kajian yang dilakukan oleh Ernawati et al. (2025), ditemukan bahwa individu yang secara rutin memberikan penghargaan yang proporsional kepada diri mereka sendiri cenderung memiliki tingkat ketahanan mental yang lebih tinggi dan risiko burnout yang lebih rendah. Hal ini membuktikan bahwa pada tingkat tertentu, self-reward adalah kebutuhan psikologis untuk menjaga keberlanjutan produktivitas.

Lebih jauh lagi, self-reward berkaitan erat dengan konsep self-care. Tindakan ini mencerminkan pengakuan individu bahwa tenaga dan pikiran mereka berharga. Namun, kualitas dari self-reward ini tidak ditentukan oleh nilai nominalnya, melainkan oleh makna emosional yang terkandung di dalamnya. Apresiasi diri yang sehat membantu individu membangun hubungan yang positif dengan dirinya sendiri, di mana mereka tidak hanya menuntut hasil tetapi juga menghargai proses perjuangan yang telah dilalui.

Meskipun memiliki landasan manfaat psikologis, praktik self-reward di era modern sering kali terjebak dalam distorsi makna. Riza et al. (2025) menyoroti adanya "efek plasebo" dalam praktik self-reward kontemporer. Dalam konteks ini, banyak orang melakukan aktivitas konsumtif seperti berbelanja barang bermerek, makan di restoran mahal, atau melakukan perjalanan ke luar negeri dengan label self-love. Namun, kebahagiaan yang dihasilkan sering kali bersifat semu dan hanya menyentuh permukaan psikologis tanpa menyelesaikan akar permasalahan stres atau kelelahan yang dialami.

Penelitian Riza et al. (2025) menekankan bahwa tindakan tersebut sering kali hanyalah saran atau sugesti mental yang memberikan perasaan relaksasi sesaat. Sama halnya dengan obat plasebo yang tidak memiliki zat aktif tetapi memberikan efek kesembuhan karena kepercayaan pasien, self-reward konsumtif memberikan perasaan dicintai karena narasi sosial yang dibangun oleh media. Pada kenyataannya, tindakan tersebut justru memicu perilaku konsumtif  yang  berlebihan.  Alih-alih  mendapatkan  kedamaian  batin,  individu  justru terjerumus dalam siklus pengeluaran yang lebih besar, yang pada akhirnya dapat memicu stres finansial baru.

Ilusi ini diperkuat oleh peran media sosial sebagai panggung digital. Ketika seseorang melihat figur publik atau rekan sebaya melakukan "self-reward" yang mewah, muncul keinginan untuk meniru sebagai bentuk aktualisasi diri. Riza et al. (2025) menyimpulkan bahwa self-love yang sejati tidak seharusnya didasarkan pada konsumsi materi yang impulsif, melainkan pada pemahaman esensial tentang kebutuhan diri yang paling mendasar. Tanpa pemahaman ini, self-reward hanyalah mekanisme pelarian (escapism) yang dibungkus dengan  istilah psikologis yang terdengar mulia.

Hubungan antara kondisi psikologis individu dan pola konsumsi mereka menjadi kunci untuk memahami kapan self-reward berubah menjadi pemborosan. Khan et al. (2024) melakukan penelitian mendalam mengenai bagaimana harga diri (self-esteem) memengaruhi niat pembelian barang-barang mewah atau "masstige" (mass-prestige) sebagai bentuk self- gifting. Ditemukan bahwa individu sering kali menggunakan barang bermerek untuk meningkatkan citra diri dan status sosial mereka.

Pemberian hadiah untuk diri sendiri (self-gifting) seringkali dijadikan alat untuk mengompensasi kekurangan dalam harga diri. Ketika seseorang merasa gagal dalam satu aspek kehidupan, mereka cenderung melakukan pembelian impulsif untuk mendapatkan validasi instan. Khan et al. (2024) menjelaskan bahwa konsumsi simbolis ini memberikan kepuasan ego yang cepat. Namun, risiko utamanya adalah ketergantungan pada materi untuk merasa berharga. Jika self-reward dilakukan hanya untuk menutupi rasa rendah diri, maka tindakan tersebut bukan lagi bentuk apresiasi, melainkan bentuk kompensasi psikologis yang mahal dan tidak sehat.

Selain itu, perilaku self-gifting ini sangat dipengaruhi oleh kepribadian merek. Konsumen cenderung memilih merek yang mereka rasa dapat mewakili identitas ideal mereka. Hal ini menciptakan jebakan di mana individu merasa harus terus membeli produk terbaru agar tetap merasa relevan dan dihargai. Dalam jangka panjang, pola pikir ini akan mengarah pada perilaku boros karena kepuasan yang didapat dari barang materi selalu memiliki masa kadaluwarsa yang singkat (hedonic treadmill).

Hedonisme Berkedok Self-Reward

Kritik yang paling tajam terhadap fenomena ini adalah maraknya perilaku hedonisme yang disamarkan. Wahyuningsari et al. (2022) dalam studinya mengungkapkan bahwa saat ini banyak individu, terutama kalangan remaja dan dewasa muda, terjebak dalam pola hidup hedonis namun melabelinya sebagai self-reward. Mereka cenderung memprioritaskan keinginan sesaat di atas kebutuhan mendasar, sering kali dengan membeli barang-barang tren yang tidak fungsional dengan harga yang tidak rasional.

Perilaku ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dari apresiasi diri menjadi pemuasan hawa nafsu. Wahyuningsari et al. (2022) mencatat bahwa gaya hidup hedonis ini dapat merusak masa depan ekonomi individu jika tidak segera disadari. Masalahnya terletak pada kurangnya kontrol diri dan pemahaman tentang skala prioritas. Seseorang yang merasa telah bekerja satu minggu penuh merasa berhak menghabiskan seluruh gajinya dalam satu hari belanja dengan alasan self-reward. Logika ini sangat cacat karena menghancurkan keamanan finansial yang sebenarnya merupakan pondasi utama dari ketenangan pikiran dan kesehatan mental jangka panjang.

Di samping itu, Sintia Syahrani (2025) menambahkan bahwa paparan iklan digital yang masif memperparah kecenderungan ini. Algoritma media sosial terus-menerus menyuguhkan konten yang memvalidasi bahwa "Anda layak mendapatkan yang terbaik," yang sering kali diterjemahkan sebagai "Anda layak membeli barang ini." Ketika regulasi diri (self-regulation) seseorang melemah, mereka akan dengan mudah terjebak dalam perilaku konsumtif. Self-reward dalam kondisi ini hanyalah sebuah alasan (pretext) untuk melegitimasi pengeluaran yang tidak terencana.

Untuk menghindari jebakan pemborosan, diperlukan redefinisi mengenai apa yang dimaksud dengan penghargaan bagi diri sendiri. Self-reward tidak harus selalu melibatkan transaksi finansial atau konsumsi barang materi. Apresiasi diri yang paling efektif sering kali adalah hal-hal sederhana yang memberikan dampak pemulihan nyata bagi tubuh dan pikiran. Misalnya, memberikan waktu tidur yang cukup, bermeditasi, menekuni hobi tanpa gangguan, atau sekadar menikmati waktu tenang di alam terbuka. Bentuk self-reward non-materi ini sering kali lebih berkelanjutan dan memberikan dampak kesehatan mental yang lebih dalam dibandingkan kepuasan belanja sesaat.

Namun, jika seseorang memilih untuk memberikan hadiah berupa materi, maka diperlukan manajemen keuangan yang bijak. Sintia Syahrani (2025) menekankan pentingnya regulasi diri dan kontrol atas perilaku konsumtif hedonis. Salah satu cara praktis adalah dengan mengalokasikan anggaran khusus untuk self-reward setiap bulannya. Dengan adanya batasan anggaran, individu dipaksa untuk berpikir lebih kritis mengenai apa yang benar-benar mereka inginkan dan apakah hadiah tersebut sebanding dengan usaha yang telah mereka lakukan. Ini mengubah tindakan impulsif menjadi tindakan yang terencana dan bermakna.

Selain itu, individu perlu melakukan refleksi diri secara berkala. Menanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya membeli ini karena saya benar-benar menghargai pencapaian saya, ataukah saya hanya sedang merasa kesepian, stres, atau ingin pamer?" Kejujuran pada diri sendiri adalah benteng terkuat melawan manipulasi pasar dan tekanan sosial. Dengan memiliki harga diri yang stabil, seseorang tidak lagi membutuhkan barang mewah sebagai penopang identitasnya, sehingga self-reward dapat kembali ke fungsi aslinya sebagai instrumen kesehatan mental.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//