• Berita
  • Ketika Trauma Kekerasan Seksual Menjadi Kanvas yang Melawan

Ketika Trauma Kekerasan Seksual Menjadi Kanvas yang Melawan

Melalui pameran Neo-Femisida, para seniman di Bandung menghadirkan arsip pengalaman, trauma, dan perlawanan terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan

Pameran Neo-Femisida Arsip Respon Seni Rupa atas Kekerasan terhadap Perempuan di Theeuis Gellery, Bandung, Jumat, 24 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam31 Mei 2026


BandungBergerak - Sudah 19 tahun Ratna Muliasari Dinangrit menyimpan rasa sakit atas perisitwa kelam yang pernah dialaminya saat masih remaja. Di usia ke-19 tahun ia menjadi korban kekerasan seksual. Saat itu ia sedang giat-giatnya mengeksplorasi karya lewat lukisan seni rupa.

Kejadian tersebut menjadi luka lama yang terpendam dalam benaknya hingga kini. Kendati begitu, diam atas rasa sakit bukan sebuah pilihan. Ia terus menyibak luka menjadi karya yang kini bisa dilihat oleh setiap orang yang melihatnya.

Lewat pameran Neo-Femisida, Arsip Respon Seni Rupa atas Kekerasan Terhadap Perempuan yang digelar di Theeuis Gellery, Kota Bandung, Ratna memamerkan lukisan berjudul ‘T19 Tahun di Bawah Kulit’. Judul ini mengandung rasa sesak, kerahasiaan, sekaligus ketahanan yang luar biasa bagi Ratna.

Angka 19 menurutnya bukan sekadar durasi, melainkan sebuah masa inkubasi di balik kekuatan yang kini siap untuk ‘pecah’ ke permukaan. Kulit sendiri dimaknai sebagai batas antara dirinya dan dunia. Selama 19 tahun, kulit menjadi penjaga bagi ingatan yang sulit terucapkan; fisik memar, kata-kata menyayat, dan sentuhan yang merampas kedaulatannya.

Sembilan belas tahun waktu yang cukup baginya untuk mengubah rasa sakit menjadi identitas baru. “Karya ini adalah momen ketika kulit itu retak, dan aku tidak lagi bersembunyi di baliknya. Aku adalah apa yang berhasil bertahan,” tulis Ratna mengenai karyanya.

Dari 30an lukisan dan instalasi yang dipamerkan di pameran Neo-Femisida, karya Ratna salah satu yang paling mencolok. Di bawah kanvas berukuran 80 x 100 centimeter itu terdapat sebuah penyuara jemala dan audio dalam sebuah tablet untuk bisa didengarkan pengunjung berdurasi 1 menit 56 detik.

Para pengunjung bisa mendengarkan ambien musik dan teriakan bocah yang terisak-isak. Suaranya cukup menyayat hati. Tak sedikit orang yang mendengarkan bisa langsung merasakan dan meneteskan air matanya.

Suara teriakan dan tangisan itu milik Ratna. Dia berkolaborasi dengan Ayusita Leonisfatan dan Nabil Ariezkya untuk membuat komposisi musik tersebut.

“Audio itu bukan mau membangun trigger atau sesuatu yang negatif. Tetapi audio itu saya rangkum dalam durasi 1 menit 55 detik itu adalah bagaimana perjalanan saya selama 19 tahun ini. Melepaskan rasa sakit, trauma, dan lainnya,” ujarnya, kepada BandungBergerak di acara penutupan pameran, Jumat, 24 Mei 2026.

Sementara lukisannya menggambarkan setengah anak kecil yang di bagian tubuh sebelah kirinya berupa tengkorak. Lukisan ini tak memilih banyak komposisi warna. Warna hitam-putih monokrom dia gunakan sebagai dominasi karyanya. Hal itu menjadi representasi pengalaman pahit Ratna saat waktu remaja dulu.

“Rentang waktu 2007 itu saya lagi suka banget ngelukis, tiba-tiba dapat kejadian itu. Jujur hidup saya terengut. Masa depan saya terengut, kebahagiaan saya terengut. Saya menganggap warna adalah kebohongan,” jelasnya.

Ratna berharap karyanya dapat memperluas pemahaman masyarakat tentang femisida sebagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dampak femisida tidak hanya dirasakan perempuan sebagai korban langsung, tetapi juga keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Melalui karyanya, ia ingin mendorong keberanian untuk bersuara sekaligus meningkatkan kepekaan terhadap berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.

Senimom dan Pekerjaan Domestik

Saya melakukan penyuntingan terbatas dengan fokus pada efektivitas bahasa jurnalistik, konsistensi istilah, ejaan, dan pengurangan repetisi tanpa mengubah substansi.

Pameran yang digelar pada 21–29 Mei ini menghadirkan sekitar 30 karya seni rupa dari lintas generasi mahasiswa, alumnus, hingga akademisi Seni Rupa UPI. Selain itu, para ibu yang tergabung dalam Komunitas Senimom turut memamerkan karya sekaligus menyuarakan isu femisida. Senimom merupakan komunitas yang beranggotakan perempuan yang telah berkeluarga.

Salah satu karya yang dipamerkan adalah Fragile karya Ima Suswanto. Karya tersebut merepresentasikan tubuh dan kehidupan perempuan sebagai sesuatu yang kerap diposisikan rapuh oleh sistem sosial. Melalui visual tangan yang menggenggam mawar merah dan putih, Ima menggambarkan dualitas perempuan antara kelembutan dan kehidupan.

Dalam diskusi, Ima menjelaskan banyak anggota Senimom, yang berdiri pada 2024, merupakan penyintas kekerasan berbasis gender. Karena itu, tema pameran dinilai sangat relevan bagi para anggota komunitas.

Ia juga menyoroti pengalaman Ratna yang menjadi inspirasi pameran dan menunjukkan bagaimana pengalaman personal dapat menjadi pendorong lahirnya karya seni. Lebih dari sekadar ruang regulasi emosi dan berbagi cerita, Ima berharap pameran ini menjadi titik awal gerakan perlawanan yang lebih besar bagi para penyintas.

“Jadi makin berani, jadi makin merasa bahwa ini bukan aib tapi sesuatu yang bisa kita gerakin bareng-bareng buat bikin hal seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, Yuli Puspita, dosen Seni Rupa UPI, menyoroti berbagai bentuk kekerasan yang kerap dinormalisasi dalam ruang domestik dan personal. Menurutnya, kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan psikologis, ekonomi, maupun seksual.

Yuli menjelaskan bahwa kekerasan dapat berawal dari candaan sehari-hari terhadap tubuh seseorang. Jika terus dinormalisasi, hal tersebut dapat berkembang menjadi kekerasan psikologis.

“Itu adalah salah satu bentuk kekerasan juga yang mungkin tidak kita sadari hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ia berharap diskusi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan yang sering kali tersembunyi. Menurutnya, seni dapat menjadi salah satu medium untuk menyuarakan persoalan tersebut.

“Kalau misalkan tidak bisa bersuara secara nyata begini, kita bisa action. Action-nya dengan cara apa? Dengan berkesenian salah satunya,” katanya.

Pameran Neo-Femisida Arsip Respon Seni Rupa atas Kekerasan terhadap Perempuan di Theeuis Gellery, Bandung, Jumat, 24 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)
Pameran Neo-Femisida Arsip Respon Seni Rupa atas Kekerasan terhadap Perempuan di Theeuis Gellery, Bandung, Jumat, 24 Mei 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Toksik Maskulinitas yang Harus Disingkirkan

Di bagian tengah galeri, tepat setelah pintu masuk, berdiri karya berjudul All Rites All Rights yang disandarkan pada dua bilah kayu. Berbeda dengan karya lain yang digantung, karya ini sengaja ditempatkan di lantai.

Lukisan berukuran 80 x 100 sentimeter berbahan cat akrilik di atas kanvas dan kayu itu merupakan karya Muhammad Nashruullaah. Dominasi warna-warna terang seperti merah muda dan hijau stabilo membuat karya tersebut tampak mencolok.

Karya itu merupakan respons atas isu kekerasan terhadap perempuan melalui gagasan resistensi dan solidaritas. Sosok yang dihadirkan adalah Durga Mahisasuramardini, tokoh dalam mitologi Hindu yang menjadi simbol kekuatan perempuan dalam melawan ketidakadilan.

Warna-warna mencolok tersebut merefleksikan kisah Durga yang diciptakan dari pancaran cahaya para dewa untuk menaklukkan Mahisasura yang berwujud kerbau serta para Asura.

Dalam diskusi penutup pameran, Nashrul menyoroti persoalan patriarki dan maskulinitas toksik. Menurutnya, di balik banyak laki-laki dewasa yang memilih diam, terdapat anak-anak yang sejak kecil tidak diberi ruang untuk mengekspresikan emosi.

Ia menjelaskan bahwa anak laki-laki sering dilarang menangis atau mengekspresikan diri dengan warna-warna yang dianggap ceria. Kondisi tersebut, menurutnya, merupakan produk budaya patriarki yang melahirkan maskulinitas toksik.

Nashrul menegaskan bahwa laki-laki juga berhak bercerita dan menangis untuk mengekspresikan emosinya. Selama ini, laki-laki kerap diasosiasikan sebagai sosok yang harus tangguh sehingga banyak yang kebingungan saat menghadapi masalah karena merasa tidak memiliki ruang untuk mengungkapkannya.

“Dunia tidak membutuhkan laki-laki yang tangguh. Sebetulnya yang dibutuhkan adalah laki-laki yang berani jujur tentang dirinya sendiri,” tandasnya.

Baca Juga: Femisida Bukan Kejahatan Biasa, Ada Unsur Gender yang Melatarbelakanginya
Data Kekerasan terhadap Perempuan di Kota Bandung 2020, Kekerasan Seksual Paling Banyak Dilaporkan

Tentang Pameran dan Neo-Femisida

Galih Jatu Kurnia, dewan kurator pameran, menjelaskan bahwa tema yang diangkat menawarkan perspektif baru mengenai isu perempuan dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi saat ini.

Ia mengatakan ide pameran muncul setelah mengamati banyaknya pemberitaan tentang pembunuhan perempuan di berbagai televisi nasional pada akhir 2025.

“Banyak berita di TV-TV nasional yang memberitakan bahwa ada apa dengan relasi antara laki-laki dan perempuan, ada apa dengan kejadian-kejadian saat itu tentang ini (femisida). Kebanyakan korbannya adalah perempuan,” ujarnya.

Mengutip laporan Komnas Perempuan, pada periode 1 November 2024 hingga 31 Oktober 2025 tercatat 10 kasus femisida. Dari jumlah tersebut, tiga pelaku merupakan pacar korban, sementara tujuh lainnya terdiri atas ayah tiri, mantan pacar, suami, tetangga, kenalan, orang tidak dikenal, dan pelanggan pekerja seks.

Menurut Galih, istilah Neo-Femisida dipilih untuk menggambarkan perkembangan konsep femisida pada masa kini. Ia menilai pembunuhan terhadap perempuan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui penghancuran karakter, kesehatan mental, akses, dan ruang perkembangan perempuan.

Dalam pemilihan seniman, kurator berupaya menjaga keseimbangan gender meski mayoritas peserta merupakan perempuan. Dari 30 seniman yang terlibat, komposisinya terdiri atas perwakilan komunitas seniman, akademisi, dan seniman profesional undangan.

Karya yang dipamerkan terbagi dalam tiga klaster. Klaster pertama merespons isu perempuan dalam relasi sosial dan berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Klaster kedua berfokus pada isu tubuh perempuan. Sementara klaster ketiga menampilkan karya yang lahir sebagai bentuk penyembuhan dan pelepasan pengalaman personal.

Galih menambahkan, pendekatan artistik dalam ketiga klaster tersebut juga beragam, mulai dari karya naratif yang bercerita, karya ekspresif yang menyuarakan emosi, hingga karya yang menempatkan proses berkesenian sebagai bentuk terapi.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//