• Narasi
  • Pameran SatuKata Vol.2: Seni Bertahan Tanpa Harus Sembuh

Pameran SatuKata Vol.2: Seni Bertahan Tanpa Harus Sembuh

Karya-karya dalam pameran “SatuKata Vol.2” seolah mengatakan pada pengunjungnya bahwa resiliensi juga tentang menerima, mengelola, dan bertahan menghadapi trauma.

Virani Rikza Oktavia

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Riuh yang Sunyi karya Faza, pameran SATUKATA Vol.2 di Griya Seni Popo Iskandar, Rabu, 20 Mei 2026 (Foto: Virani Rikza Oktavia)

1 Juni 2026


BandungBergerak – Kalau kita mendengar kata “resiliensi” apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Kebanyakan dari kita mungkin membayangkan sosok yang kuat, sukses, bangkit dari keterpurukan, lalu tersenyum sambil bilang, “Aku sudah sembuh!” Nyatanya, di lingkungan awam, ada tuntutan tidak tertulis yang menyatakan bahwa orang yang punya trauma atau rasa sakit harus bisa cepat-cepat pulih. Fenomena ini sering disebut sebagai toxic positivity, sebuah keyakinan keliru bahwa sesulit apa pun keadaan, seseorang harus selalu berpikir positif dan mengabaikan emosi negatif. Hal ini ditegaskan oleh Nikita dan Sari dalam penelitian mereka tahun 2025.

Namun, pandangan ini berubah ketika penulis mengunjungi pameran seni “SatuKata Vol.2” di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung, pada 13 -31 Mei 2026, dengan tema besar resiliensi. Pameran ini justru terasa sangat jujur.

Selama menyusuri tiap karya yang dipamerkan, hampir keseluruhan karya tidak menggambarkan definisi umum resiliensi yang selalu berakhir dengan kesembuhan total. Tidak ada satu karya yang memvisualisasikan seseorang yang benar-benar bersih dari trauma. Sebaliknya, pameran ini terasa seolah menentang toxic positivity.

Sepeti yang dijelaskan oleh Kojongjan dan Wibowo dalam jurnal tahun 2022, emosi negatif sejatinya tidak bisa dihindarkan dari kehidupan manusia, maka miskonsepsi bahwa “selalu positif” adalah solusi terbaik, justru mencegah seseorang untuk memproses dan mengelola apa yang benar-benar ia rasakan. Pameran “SatuKata Vol.2” seolah mengatakan kepada pengunjungnya bahwa resiliensi bukan hanya soal sembuh dan bangkit, tetapi bagaimana seseorang menerima, mengelola, dan bertahan di tengah emosi negatif juga merupakan esensi adaptasi psikologis yang nyata.

Severance karya Adelina Putri Irawan pameran SATUKATA Vol.2 di Griya Seni Popo Iskandar, Rabu, 20 Mei 2026. (Foto : Virani Rikza Oktavia)
Severance karya Adelina Putri Irawan pameran SATUKATA Vol.2 di Griya Seni Popo Iskandar, Rabu, 20 Mei 2026. (Foto : Virani Rikza Oktavia)

Baca Juga: Sindiran di Pameran Asal Pamer dari Partai Asal Ketawa
Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi
Sisi Gelap Manusia di Pameran Harry Suliztiarto

Titik Sunyi

Keselarasan tema ini bisa kita lihat jelas dalam karya berjudul “Severance (2026)” milik Adelia Putri Irawan. Melalui goresan tinta di atas kertas, Adelia memvisualisasikan figur perempuan yang matanya ditembus oleh gunting. Gestur ini terasa mengerikan sekaligus membingungkan, yaitu sebuah usaha untuk memotong dan mengakhiri rasa sakit yang sudah tidak tertahankan lagi. Melalui karya ini, Adelia menunjukkan bahwa resiliensi bukan kekuatan yang rapi, melainkan proses rapuh yang penuh luka, tapi tetap berjalan. Karya ini tidak menawarkan akhir yang bahagia atau penyelesaian, melainkan sebuah titik sunyi di mana seseorang harus bernegosiasi dengan lukanya sendiri.

Kesunyian yang sama juga bisa dirasakan melalui karya Faza yang berjudul “Riuh yang Sunyi (2026). Faza menggambarkan sosok wajah dengan mata gelap tanpa pantulan. Dikelilingi oleh serpihan pikiran yang berantakan di sekitar kepalanya. Karya ini menjadi tamparan keras untuk toxic positivity yang selalu menyuruh kita untuk memendam kesedihan.

Penelitian Sumakul dan rekan-rekannya pada 2025 menunjukkan bahwa menolak atau meremehkan emosi negatif secara terus-menerus dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, seperti cemas, stres, dan kelelahan batin akibat overthinking. Faza membuktikan bahwa trauma sering kali bekerja di bawah permukaan, dari luar terlihat tenang dan diam, tapi dari dalam kepala sebenarnya sangat berisik dengan ketakutan dan kenangan masa lalu. Bertahan untuk tidak hancur di tengah berisiknya batin yang melelahkan itu sudah menjadi bentuk ketahanan diri yang luar biasa.

Pandangan bahwa resiliensi tidak harus berakhir dengan kesembuhan total ini ternyata dikonfirmasi langsung oleh para pembuat karyanya. Saat ditanya makna resiliensi dan toxic positivity, pembuat karya menegaskan bahwa resiliensi memang tidak harus membuat seseorang benar-benar sembuh. Bagi mereka, ketika kita masih mampu bertahan hidup dan melangkah hari ini di tengah trauma yang belum selesai, kita sudah menjadi individu yang resilien.

Pameran ini mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa jika hari ini kita belum benar-benar sembuh. Menolak berpura-pura bahagia dan memilih untuk tetap bertahan di tengah riuhnya isi kepala juga bentuk dari kekuatan yang sesungguhnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//