• Kolom
  • Membaca Papan Nama Toko-toko di Cicadas sebagai Arsip Kota

Membaca Papan Nama Toko-toko di Cicadas sebagai Arsip Kota

Bagi mereka yang pernah tumbuh di Bandung pada era 1980-an dan 1990-an, setiap huruf di papan nama toko Cicadas menyimpan kenangan. Hasil karya pelukis reklame.

Gan Gan Jatnika

Pegiat Komunitas Pendaki Gunung Bandung (KPGB), bisa dihubungi via Fb Gan-Gan Jatnika R dan instagram @Gan_gan_jatnika

Papan nama Toko Buku King’s di Cicadas mulai pupus tergerus waktu, Mei 2026. (Foto: Gan Gan Jatnika)

4 Juni 2026


BandungBergerak – Sore di penghujung Mei 2026, matahari mulai turun di balik atap-atap pertokoan Cicadas. Deretan papan nama tua yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik deretan kios pedagang kaki lima (PKL), spanduk, dan kanopi, kembali muncul menatap jalanan. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun justru di sanalah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.

Papan-papan nama toko di Cicadas bukan hasil cetak digital. Bukan pula stiker vinil yang bisa dibuat dalam hitungan jam. Inilah hasil karya sign painting, atau yang oleh orang-orang sekarang disebut sebagai vintage sign painting. Huruf-hurufnya dibuat langsung dengan tangan oleh para pelukis reklame masa lalu yang mengandalkan ketelitian tangan dan kepekaan artistik, sebelum mesin cetak digital sekarang ini mengambil alih hampir seluruh wajah kota. 

Saya memperhatikan satu per satu huruf di papan. Dari lengkungan aksara, kombinasi warna, bayangan huruf tiga dimensi, hingga teknik sapuan kuas yang khas. 

Di balik lapisan cat yang mulai retak, saya membayangkan seseorang berdiri di atas tangga puluhan tahun lalu. Dengan kuas di tangan, ia mengukur jarak antarhuruf, mencampur warna, lalu melukiskan identitas sebuah toko dengan keterampilan dan kesabaran yang kini semakin jarang ditemukan.

Bagi sebagian orang, papan-papan nama itu mungkin hanyalah cat tua yang mulai kusam dimakan usia. Namun bagi mereka yang pernah tumbuh di Bandung pada era 1980-an dan 1990-an, setiap huruf menyimpan kenangan. Nama-nama toko yang terpampang bukan sekadar penanda usaha, melainkan penanda kehidupan. Di sanalah orang membeli kebutuhan sekolah, mencari nafkah, bertemu teman, beristirahat, bahkan membangun kenangan yang bertahan puluhan tahun.

Salah satu toko potret legendaris di Kota Bandung dengan papan nama yang dibuat dengan lukisan tangan. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Salah satu toko potret legendaris di Kota Bandung dengan papan nama yang dibuat dengan lukisan tangan. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Ingatan Putih-Biru

Saya berdiri di trotoar, mengamati papan-papan nama toko lama itu. Lalu tanpa disadari, ingatan melangkah lebih jauh daripada kaki. Saya merasa kembali menjadi anak SMP berseragam putih-biru.

Selama tiga tahun, dari 1988 hingga 1991, saya menjadi murid SMP Negeri 22 Bandung di Jalan Supratman. Rumah berada di Antapani, dan pada masa itu berjalan kaki pulang sekolah bukanlah sesuatu yang aneh. Bersama beberapa teman, kami menyusuri trotoar Cicadas yang ramai. Suara kendaraan dan pedagang kaki lima, serta aroma makanan bercampur menjadi satu.

Perjalanan pulang itu bukan sekadar berpindah tempat dari sekolah ke rumah. Ia adalah sebuah petualangan kecil yang hampir selalu menghadirkan cerita baru.

Jika buku paket pelajaran mulai usang atau ada daftar bacaan baru dari guru, langkah kami akan melambat di deretan pedagang buku yang berjajar di trotoar. Tumpukan buku bekas dan baru memenuhi meja-meja sederhana. Bau kertas, debu, dan tinta yang amat khas masih bisa saya ingat hingga hari ini.

Ketika guru memberi tugas praktikum elektronika, tujuan berikutnya adalah Linggar Jaya. Di sana, komponen-komponen kecil yang saat itu terasa begitu rumit tersusun di etalase kaca. Resistor, transistor, kabel, dan lampu kecil seolah menjadi bagian dari dunia orang dewasa yang sedang kami coba pahami. Bukan proyek besar, hanya membuat rangkaian lampu flipflop atau bel 10 nada. Pernah juga kami membuat rangkaian radio AM/FM.

Peralatan olahraga dapat dicari di Aneka Jaya Sport. Kue untuk dibawa pulang tersedia di Sari Rasa. Sedangkan kebutuhan membeli alat tulis hampir selalu berakhir di Toko Buku King's. Nama-nama toko ini begitu akrab hingga terasa seperti anggota keluarga yang diam-diam ikut menemani masa remaja kami.

Papan-papan nama lawas kembali muncul setelah trotoar Cicadas dibersihkan dari PKL. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Papan-papan nama lawas kembali muncul setelah trotoar Cicadas dibersihkan dari PKL. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Di tengah perjalanan melintasi Cicadas, rasa haus kadang menyerang. Itulah saatnya kami menepi ke penjual cendol legendaris di dekat halte bus Cibeunying. Sosoknya masih jelas dalam ingatan: seorang abah bertopi laken, bertubuh tambun, sibuk meracik cendol di tengah kerumunan pembeli. Segelas cendol dingin terasa cukup untuk mengusir lelah setelah seharian belajar.

Tak jauh dari sana, aroma harum Awug Cibeunying membuat langkah kembali berhenti. Kepulan uap dari kukusan bambu mengundang siapa saja untuk mampir. Bahkan mereka yang tidak berniat membeli.

Bagi penggemar burung dan hewan peliharaan, ada toko Mang Kengkong yg selalu ramai dari pagi sampai petang. Untuk urusan pakaian, nama Kalimas, Horizon, Cherry, dan Matahari Super Bazzar Cicadas adalah semacam penanda zaman. Toko-toko ini selalu ramai menjelang Lebaran atau tahun ajaran baru. Di sana orang-orang dewasa mencari baju terbaik, sementara anak-anak sibuk memilih warna dan model yang sedang populer.

Bukan sekadar pemberi informasi, papan nama toko adalah arsip kota. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Bukan sekadar pemberi informasi, papan nama toko adalah arsip kota. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Jika membutuhkan pas foto untuk keperluan sekolah, ada Potret Wijaya dan beberapa kios afdruk foto kilat. Lampu petromaks yang terang-benderang menjadi teknologi yang terasa canggih pada masanya. Dalam waktu singkat, lembaran foto ukuran 2x3, 3x4, atau 4x6 sudah bisa dibawa pulang. Deretan tukang afdruk foto ini banyak mangkal di dekat Bioskop Taman Hiburan.

Dan di atas semua hiruk-pikuk itu, berdiri sebuah jembatan penyeberangan yang dikenal banyak orang sebagai Jembar, singkatan dari Jembatan Baru. Ia menjadi titik temu, titik tunggu, sekaligus penanda bahwa perjalanan menuju rumah tinggal sedikit lagi.

Hasil karya sign painting puluhan tahun lalu saat ini terkesan vintage. (Foto: Gan Gan Jatnika)
Hasil karya sign painting puluhan tahun lalu saat ini terkesan vintage. (Foto: Gan Gan Jatnika)

Arsip Kota

Puluhan tahun berlalu. Trotoar yang sama masih ada, tetapi suasananya telah berubah. Banyak toko berganti nama, sebagian tutup, sebagian lagi bertransformasi mengikuti zaman. Namun setelah kawasan Cicadas ditertibkan dan wajah pertokoannya kembali terlihat, muncul sesuatu yang selama ini tersembunyi: papan nama.

Papan-papan nama tua itu sesungguhnya adalah arsip kota yang diam-diam masih bertahan. Ia merekam selera visual suatu zaman, keterampilan para pelukis reklame, serta denyut kehidupan masyarakat yang pernah memenuhi trotoar Cicadas setiap hari.

Ketika saya menekan tombol kamera di telepon genggam, yang saya potret sebenarnya bukan hanya papan nama. Saya sedang memotret waktu. Karena kadang yang paling membekas dari sebuah kota bukanlah gedung-gedung besarnya, melainkan hal-hal kecil yang nyaris luput dari perhatian: sebuah trotoar yang pernah ramai, segelas cendol di pinggir jalan, toko buku langganan masa sekolah, atau huruf-huruf tua yang masih bertahan di atas fasad pertokoan.

Dan di Cicadas, cerita-cerita itu masih ada. Diam. Menunggu untuk kembali dibaca.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//