• Opini
  • Pesan Paus Leo XIV, Hari Kenaikan, dan Solidaritas Kristiani

Pesan Paus Leo XIV, Hari Kenaikan, dan Solidaritas Kristiani

Jika nurani kita tidak terusik dengan masalah kemanusiaan, berarti ada yang salah dengan cara kita beragama.

Kevin Septian

Dokter Gigi dan Penggemar Literasi.

Agama sepatutnya menjadi rumah hangat bagi keberagaman. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

4 Juni 2026


BandungBergerak – "Biarlah mereka yang memiliki senjata meletakkannya. Mereka yang memiliki kuasa untuk memicu perang, pilihlah perdamaian”, demikian Paus Leo XIV dalam pidato Pesan Paskah. Media Jerman, DW.com, melaporkan mengenai Pesan Paskah Paus Leo XIV menjurus untuk menyerukan perdamaian di tengah konflik terutama di Timur Tengah. Pesan yang sama juga pernah diserukan setahun yang lalu pasca terpilihnya melalui Konklaf. Tema utama pidato pembuka Paus Leo XIV ialah Perang dan Perdamaian. Ia pernah berujar, “damai yang tanpa senjata dan meluluhkan hati, rendah hati dan gigih”. Konsistensi sikap dan pernyataannya juga dibuktikan saat ia diwawancarai dalam penerbangan menuju Aljazair. “Saya tidak akan mundur”, ujarnya, “dari mewartakan pesan Injil dan mengundang semua orang untuk mencari jalan membangun jembatan damai dan rekonsiliasi.” Semangat perdamaian ini sejalan dengan Paus Fransiskus, pendahulunya.

Menurut hemat saya, pimpinan Katolik Roma ini patut diteladani dengan semangat menyuarakan kedamaian. Ia memandang setiap nyawa manusia itu berharga dan sah untuk hidup (apa pun agamanya), maka dengan menghentikan peperangan berharap dunia akan pulih. Kehadirannya menjadi ikon dan figur Kedamaian bagi sesama manusia. Walaupun ia sendiri memiliki darah di Chicago, Amerika Serikat, namun ia tidak takut mengkritik Pemimpin Negara Adidaya, Donald Trump.

Sepertinya kedamaian dapat dikatakan sebagai identitas yang melekat bagi umat Kristiani di mana pun–selama mereka memegang ortodoksi, ortopraksi, dan ortolatria. Akan tetapi sayang sekali, fakta di lapangan berbeda. Kita memandang kedamaian sebagai urusan individu masing-masing. Kurang diperhatikan. Berbicara soal kurang mendapat perhatian, ada pula satu Hari penting dalam Teologi Kristen yang tampaknya kurang diperingati yaitu Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Sebagaimana Guru Besar STFT Jakarta, Joas Adiprasetya pernah menulis, hari Kenaikan menjadi peristiwa yang sering kurang mendapatkan perhatian ketimbang peristiwa lain yang mengimpitnya, seperti kebangkitan (Paskah), 40 hari Yesus di bumi, dan Pentakosta (turunnya Roh Kudus). Sebenarnya Hari Kenaikan pun memiliki pesan penting dan menyentuh bagi umat Kristiani. Pertama, Kristus naik beserta dengan tubuh kemanusiaan yang memungkinkan kita–manusia ikut ke dalam Surga. Kedua, naik-Nya ke Surga, mengakibatkan Roh Kebenaran itu datang dan berdiam ke dalam kita di bumi. Pendek kata, pelayanan-Nya diteruskan bagi kita dan sesama melalui Roh Kudus. Ini berarti hari Kenaikan memiliki makna yang signifikan bagi umat Kristiani di penjuru dunia. Bukan kurang mendapat tempat, sebaliknya, peristiwa ini memiliki tempat yang sama pentingnya bagi seluruh rangkaian peristiwa Kristus. Pengabaian peristiwa ini sama saja mengabaikan teologi Kristen yang lengkap dan utuh secara Alkitabiah. Kristus naik, damai pun dipancarkan.

Salah satu masalah dari kurangnya solidaritas Umat Kristiani, bisa jadi karena penekanan teologi Salib. Penekanan yang berlebihan agaknya membuat peminatnya mengalami antipati bagi sesama. Penderitaan umat dipandang sebagai keterpisahan (individualistik) dari Gereja dan sesama Kristiani. Padahal jika kita mengaku bahwa satu Tubuh, maka penderitaan sesama umat menjadi penderitaan yang sama dengan kita. Kristen di Palestina, misalnya, kurang mendapat perhatian dalam bersuara. Bahkan mungkin bagi sebagian kita mendengar kata “Palestina” selalu identik dengan “Arab, Yahudi dan Islam”. Ini sebuah pemikiran yang hanya sebagian benar–tetap sebuah kesalahan. Faktanya dalam keheningan mereka ingin bersuara. Mereka tertatih-tatih hanya untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Ijeum Basa Warga Penghayat, Melihat Kompleksitas Cara Beragama Kita
Moderasi Beragama dan Budaya Bangsa
Peran Orang Tua di Rumah, Kunci Pendidikan Moderasi Beragama Anak

Solidaritas Kristiani

Dr. Rita Wahyu dalam “The Forgotten Christian”memberikan kritikan keras bagi mereka penentang Kristen Zionis yang mana itu melukai hati para umat Kristen di Palestina. Alasannya sederhana karena mereka juga ikut menderita atas serangan-serangan yang dilakukan Israel di jalur Gaza maupun tepi Barat. Hal ini dikuatkan dengan beberapa bukti-bukti adanya kehancuran Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrius, serangan udara Gereja Latin Holy Family, pelarangan masuk para peziarah ke dalam Gereja Makam Kudus di Yerusalem Timur saat hari Paskah dan lain sebagainya. Mengabaikan umat Kristen di Palestina sama saja mengkhianti kedamaian dan menyetujui kekerasan di sana.

Maka, pesan Paus Leo XIV, Hari Kenaikan Yesus Kristus dan Solidaritas Kristiani menjadi topik yang jarang sekali dibahas di mimbar Gereja secara sosial. Nyatanya, pesan-pesan semacam ini sangat menyentuh nurani dan membumi bagi mereka yang ingin mencari persatuan dan perdamaian.

Untuk itu, para pembaca yang budiman, saya mengajak semua berefleksi agar dapat memandang sesama manusia bukan seorang individu–terpisah melainkan sebagai pribadi. Individu dapat terpisah dan terisolir, tetapi pribadi berarti menjadi utuh sebagai seorang manusia. Kita memandang kebutuhan, rasa adil, kekurangan, kesulitan, sukacita dan kekuatannya. Kita hadir untuk memanusiakan manusia lain (moto Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Pertama Sulawesi Utara). Wujud tanggung jawab bagi sesama dapat berupa saling berbagi, menolong dalam kesulitan, merawat yang luka dalam lingkup cinta kasih. Perang, konflik, perselisihan sebaiknya diselesaikan di atas meja yang sama dalam suasana yang elegan dan diplomatis. “Pilihlah perdamaian”, Bukan saling mengorbankan jiwa satu sama lain, seperti Pesan Paus Leo XIV.

Solidaritas Kristiani sebaiknya memandang sesama umat Kristiani sebagai anggota-anggota Gereja dari Tubuh yang Satu dan tak terpisahkan. Itu berarti penderitaan Kristen di Palestina menjadi beban yang sama bagi kita di sini. Penderitaan Umat Kristiani di Nigeria menjadi kesulitan juga bagi kita. Hal yang sama juga kita suarakan untuk umat Kristen yang mengalami penganiayaan di Indonesia, Lebanon, Ukraina, Mesir dan lainnya. Kita menunjukkan solidaritas dengan cara saling mendoakan, menelepon, mengirimkan bantuan, menyuarakan gencatan senjata dan lain-lain. Solidaritas yang melampaui agama, suku, kebudayaan, dan strata sosial.

Sebagai penutup, pesan refleksi saya tergambar dari kalimat ini, "Jika nurani kita tidak terusik dengan masalah kemanusiaan, berarti ada yang salah dengan cara kita beragama." Sabda Kristus sendiri berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Itu berarti menolong saudara kita dalam ketidakadilan adalah undangan dan panggilan bagi sesama kita. Karena kasih tidak bersukacita bila ada ketidakadilan, sebaliknya kasih selalu berdampingan dengan keadilan yang membawa damai.

Janganlah kita melupakan sesamamu manusia seperti kurang peduli dengan peringatan Hari Kenaikan. Sudahkah kita menjadi pembawa damai bagi sesama manusia?

Selamat hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//