Mak Asih Melawan Godzilla El Nino: Bertani di Tengah Panas, Hama, dan Ancaman Gagal Panen
Kisah petani perempuan di Cimincrang, Bandung yang menghadapi cuaca tak menentu, biaya produksi meningkat, dan risiko gagal panen.
Penulis Retna Gemilang6 Juni 2026
BandungBergerak - Pagi belum lama beranjak ketika sekelompok petani perempuan sibuk membungkuk di petakan sawah Cimincrang, Kecamatan Gedebage, Bandung. Di antara para petani perempuan itu, ada jemari Mak Asih yang menghitam oleh lumpur saat mencabut rumpun-rumpun benih padi.
Meski baru pukul 09.00, matahari sudah menyorot terik. Peluh keringat sudah membasahi wajah perempuan 54 tahun itu. Ia bekerja dengan setelan lengkap: baju panjang, kerudung dan topi, kaos kaki sebagai alas kaki di sawah, dan sarung tangan yang telah robek di bagian jari karena sering dipakai mencabut padi. Mak Asih datang ke sawah setiap musim tanam dan musim panen.
Dulu, Mak Asih selalu mengenal kapan musim hujan dan kemarau berlangsung. Namun kini cuaca makin sulit ditebak. Hal ini berimbas pada ketidakpastian musim tanam dan panen. Kondisi ini membuat potensi kerugian panen lebih besar.
"Orang tani mah kalau enggak kekeringan padinya, rugi, kalau kebanjiran, sama rugi," ujar Mak Asih kepada BandungBergerak, Jumat, 5 Juni 2026.
Jika musim kemarau, para petani biasa mengantisipasinya dengan mengambil air dari aliran Sungai Cikeruh sekitar Desa Cimekar.
Rumah Mak Asih tidak terpaut jauh dari GBLA di Babakan Cimekar. Ia sudah hidup sebagai buruh tani. Suaminya kini tak lagi bekerja karena lanjut usia.
Dengan upahnya 75 ribu rupiah per hari, Asih menjadi tulang punggung di keluarganya. Anaknya yang tertua, Dandi mengikuti jejak sang ibu dengan menjadi petani di sawah. Mak Asih pun masih membiayai anak bungsu perempuannya yang bersekolah di SMPN 54 Bandung.
Meski pendapatannya terbatas, ia tak ingin anaknya putus sekolah.
"Yang penting mah anak sekolah, kan aya orang ngasih rezeki mah akan ada habisnya. Nah ibu ngasih ilmu ke anak," katanya.
Di usianya yang sudah renta, perubahan cuaca yang disinyalir karena perubahan iklim turut mempengaruhi kondisi fisik Mak Asih. Ia jadi lebih mudah sakit dan pusing. Pinggangnya sering nyeri karena bertahun-tahun membungkuk di sawah. Malam yang terasa semakin panas membuatnya gelisah saat tidur.
Belum lagi dengan kenaikan harga pupuk, harga pangan, risiko gagal panen, hingga ancaman kehilangan pekerjaan bila sawah tempat ia bekerja tergusur oleh pembangunan permukiman yang marak di kawasan Gedebage. Saat menunggu panen pun, mau tidak mau ia tidak bekerja karena usia rentanya.
"Enggak (kerja), ya ke mana atuh da sekarang mah udah tua," keluhnya, dengan mata menyipit saat terik matahari tumpah ke arahnya.
Pada saat yang sama, sejumlah kawasan Indonesia termasuk Jawa Barat dibayang-bayangi kekeringan ekstrem akibat El Nino berintensitas tinggi yang dijuluki Godzilla.
El Nino merupakan fenomena iklim yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan yang lebih panjang di berbagai wilayah.
Berdasarkan laporan Oceanic Nino Index (ONI) sepanjang tahun 1950 hingga sekarang, dua El Nino terakhir terjadi pada tahun 2015-2016 dan 2023-2024 dengan intensitas tinggi. Indonesia kerap mengalami fenomena El Nino ini.
Mengacu pada riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di BandungBergerak, El Nino diperkirakan berlangsung pada periode kemarau sekitar April hingga Oktober 2026. Istilah "Godzilla" digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino lebih kuat, durasi cuaca ekstrem lebih panjang, peningkatan suhu global, serta risiko kebakaran hutan dan lahan yang lebih tinggi.
Berkaca dari fenomena El Nino 2023 lalu, laporan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyebut krisis iklim berdampak langsung bagi pertanian dan sistem pangan Indonesia. Data BPS 2023 menyebut luas panen padi di Indonesia tahun 2023 menyusut menjadi sekitar 10,21 juta hektare. Angka ini menurun 240 ribu hektare atau -2,30 persen dibanding tahun 2022 sekitar 10,45 hektare. Penurunan wilayah sentra produksi banyak terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Data Bappenas 2022 menunjukkan, Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan kerugian ekonomi pertanian terbesar di Indonesia akibat perubahan iklim. Kerugian tersebut mencapai lebih dari 12 triliun rupiah. Angka ini bahkan melampaui Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional.
Baca Juga: Data Jumlah Petani di Kota Bandung 2010-2021, Saat Ini Tersisa 706 Orang
Komunitas Orang-orang Muda yang Bertani
Dampak El Nino bagi Pertanian dan Sistem Pangan
Said Abdullah, Koordinator Nasional KRKP, menyatakan El Nino memengaruhi sistem pangan dan kehidupan sosial di berbagai lapisan masyarakat.
Menurut Said, petani menjadi kelompok yang paling rentan merasakan pengaruh El Nino. Pada 2023, fenomena tersebut menurunkan ketersediaan air yang dibutuhkan untuk produksi pangan. Curah hujan rendah menyusutkan debit sungai dan waduk sehingga pasokan air irigasi berkurang.
Di Indramayu, salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Barat, debit DAS Cimanuk menurun selama El Nino 2023. Kondisi itu menurunkan produksi padi sekitar 10 persen dan menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp900 miliar.
"Air di waduk dan sungai adalah nadi kehidupan pertanian dan peternakan. Saat air hilang, pangan pun terancam," katanya dalam webinar Dampak Fenomena Godzilla El Nino terhadap Petani dan Sistem Pangan di Indonesia yang digelar KRKP, Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), dan WRI Indonesia, Rabu, 3 Juni 2026.
Selain kekeringan, kenaikan suhu mempercepat siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Reproduksi wereng, tikus, ulat grayak, thrips, dan tungau berlangsung lebih cepat sehingga populasinya meningkat dan serangannya makin masif.
Akibatnya, petani menghadapi ancaman ganda: kekurangan air sekaligus serangan hama.
"Padinya sudah enggak tumbuh, kalau tumbuh diserang hama penyakit," tutur Said.
El Nino 2023 juga meningkatkan biaya produksi pertanian. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk BBM pompa air, penyemaian ulang, pestisida, dan tenaga kerja. Pada saat bersamaan, produksi dan pendapatan mereka menurun.
Menurut Said, pengaruh El Nino terhadap sistem pangan dapat berlangsung hingga setahun setelah fenomena itu berakhir. Penurunan produksi pangan pada 2023 membuat Indonesia kembali bergantung pada impor beras dari Thailand dan Vietnam sepanjang 2023 hingga 2024. Harga beras pun naik 16-20 persen.
Kondisi tersebut paling dirasakan rumah tangga miskin. Data BPS 2023 menunjukkan sekitar 50 persen pengeluaran rumah tangga miskin dialokasikan untuk pangan.
Said menjelaskan, perubahan iklim memengaruhi sistem pangan dalam lima lapisan, yakni gangguan produksi di hulu, hambatan distribusi, kenaikan harga pangan, penurunan daya konsumsi, dan meningkatnya ketimpangan sosial pada kelompok rentan.
Karena itu, dampak El Nino 2026 perlu dilihat hingga setahun setelahnya.
"Itu harus dibaca sampai 2027 kalau menurut saya. Karena kalau belajar dari sejarah, implikasinya enggak berhenti ketika El Nino sudah enggak terjadi, tapi setelah itu masih akan muncul," ujarnya.
Said juga memaparkan hasil Survei Rapid Health Iklim yang dilakukan Lapor Iklim dan KRKP terhadap petani serta nelayan di Indramayu. Selain menekan ekonomi dan produksi, perubahan iklim juga berdampak serius pada kesehatan fisik dan psikologis petani.
Sebanyak 92 persen petani merasa suhu malam hari lebih panas dibanding beberapa tahun lalu. Kondisi ini membuat 61 persen petani kadang kesulitan tidur dan 20 persen lainnya sering mengalami gangguan tidur akibat cuaca panas.
"Karena mereka bekerja dengan paparan panas tinggi di lahan, kemudian di rumah juga panas. Akibatnya mereka lebih sulit tidur," kata Said.
Gangguan tidur tersebut memicu kelelahan saat bangun, bahkan dapat menimbulkan gejala depresi, perasaan tertekan, dan kecemasan.
Dari sisi kesehatan fisik, mayoritas petani dan nelayan di Indramayu terpapar sinar matahari selama 5-8 jam per hari. Sekitar 80 persen di antaranya mengalami paparan panas ekstrem. Mereka kerap mengalami pusing, batuk, mata perih, dehidrasi, iritasi kulit, diare, hingga cedera kerja, seperti yang dialami Mak Asih di Cimincrang.
Said memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Karena itu, mitigasi dini dan strategi adaptasi diperlukan untuk mengurangi risiko kekeringan.
Di tingkat petani, langkah yang perlu dilakukan antara lain pengaturan jam kerja, penyediaan air bersih dan saung peneduh, sistem peringatan dini panas ekstrem, serta pengelolaan air yang lebih efisien.
Pada tingkat nasional, ia mendorong penerapan agroekologi melalui diversifikasi tanaman lokal yang tahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati. Selain itu, diperlukan sistem pangan berbasis informasi iklim, diversifikasi pangan, cadangan pangan komunitas, serta kebijakan perlindungan petani berbasis risiko iklim.
"Di situasi sekarang yang serba tidak pasti, mau enggak mau memang penguatan diverse stock di level yang paling kecil, ya rumah tangga, kemudian komunitas, atau desa," pungkasnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


