Saat Menyaksikan Kekerasan Seksual, Harus Berbuat Apa? JaRI dan ITB Hadirkan Ruang Belajar untuk Publik
Melalui E-Learning JaRI x ITB, pengetahuan tentang pencegahan, pendampingan, dan penanganan korban kekerasan kini dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 8 Juni 2026
BandungBergerak - Sebuah peristiwa yang disaksikan Ari Nur Asti hampir satu dekade lalu masih membekas dalam ingatannya. Sekitar tahun 2017, perempuan yang saat itu masih berstatus mahasiswa UNY di Yogyakarta itu sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan kampus. Saat berhenti di lampu merah dekat kawasan Mirota Kampus 2 Jogja sekitar pukul 23.00, ia melihat seorang laki-laki dan perempuan yang diduga pasangan tengah bertengkar hebat di tepi jalan.
Di situasi jalan yang sepi, Ari melihat laki-laki tersebut membanting helm. Ia merasa perempuan itu mungkin sedang mengalami kekerasan. Namun, alih-alih mendekat atau mencari bantuan, Ari memilih melanjutkan perjalanan pulang saja.
“Waktu itu saya benar-benar bingung dan tidak tahu harus bertindak bagaimana,” kata Ari.
Ia mengaku takut karena situasi malam hari dan tidak ada orang lain di sekitar lokasi. Keselamatannya sendiri menjadi pertimbangan utama. Meski demikian, sesampainya di rumah, Ari terus memikirkan perempuan yang ditemuinya malam itu.
“Pas sampai rumah saya kepikiran, kenapa tadi saya tidak berhenti ya?” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran kecil bahwa tidak semua orang yang menyaksikan dugaan kekerasan memilih diam karena tidak peduli. Sebagian orang justru tidak memiliki pengetahuan mengenai langkah aman yang dapat dilakukan ketika berhadapan dengan situasi seperti itu.
Kesadaran itulah yang menjadi salah satu latar belakang peluncuran E-Learning JaRI x ITB bertajuk “Merdeka dari Kekerasan: Belajar, Bergerak, Bertumbuh Bersama dan Saling Menjaga”. Program tersebut diluncurkan dalam kegiatan yang digelar di Campus Center ITB, Bandung, Jumat, 5 Juni 2026, sebagai upaya memperluas pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan.
Ketua Yayasan JaRI Harini Ardjakusumah mengatakan pengalaman mendampingi penyintas selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kekerasan seksual meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.
“Korban sering berada dalam kondisi ketakutan, bingung, merasa bersalah, dan bahkan belum yakin bahwa pengalaman yang dialaminya adalah kekerasan,” kata Harini.
Menurutnya, banyak penyintas akhirnya memilih diam karena takut disalahkan, tidak dipercaya, dianggap sebagai aib keluarga, atau khawatir masa depannya akan hancur.
Sejak berdiri pada 1998 dan mulai fokus menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2002, JaRI telah mendampingi 18.806 kasus. Seluruh layanan tersebut diberikan tanpa memungut biaya kepada para penyintas.
Harini menegaskan bahwa pendampingan korban bukan sekadar menerima laporan. Pendamping juga harus mendengarkan, mempercayai pengalaman korban, tidak menghakimi, membantu menemukan langkah aman, serta mengetahui sistem rujukan yang tepat.
“Kekerasan tidak boleh dianggap sebagai urusan pribadi, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan keberanian untuk berpihak kepada korban,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus memang penting, tetapi pencegahan harus terus diperluas. Karena itu, materi yang selama ini digunakan dalam pelatihan relawan JaRI kini dibuka kepada publik melalui platform pembelajaran digital.
“Pengetahuan yang selama ini dibagikan dalam ruang pelatihan relawan di Bandung saja dan kerja-kerja pendampingan JaRI nantinya akan dapat menjangkau lebih banyak orang melalui e-learning,” katanya.
Dalam diskusi yang digelar setelah peluncuran, moderator diskusi sekaligus perwakilan JaRI, Seli Martini, mengungkapkan bahwa jumlah laporan yang diterima lembaganya mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
“Dalam dua bulan terakhir peningkatannya sangat tajam. Per hari ini sudah ada 90 kasus yang masuk di JaRI, padahal belum setengah tahun,” ujar Seli.
Menurutnya, peningkatan tersebut dapat disebabkan oleh situasi sosial yang semakin kompleks maupun meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor.

Dari sisi kampus, Kepala Subdirektorat Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB Pipit Fitriani menilai keberadaan regulasi saja tidak cukup untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
“Regulasi mungkin ada sebagai blueprint, tetapi yang membuat kampus aman itu sustain dan terus berjalan adalah budaya,” kata Pipit.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya menjalani kehidupan di ruang kelas, tetapi juga di organisasi, lingkungan kos, dan berbagai ruang sosial lainnya. Karena itu, kampus harus mampu menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa yang jauh dari keluarga.
“Kalau mereka merasa punya ruang aman, mereka tahu ke mana mereka harus pulang dan mencari pertolongan,” ujar Pipit.
Pipit mengatakan ITB tengah membangun nurturing ecosystem melalui berbagai program, salah satunya pelatihan pendamping sebaya yang tersebar di setiap fakultas. Para mahasiswa yang menjadi pendamping sebaya tidak bertugas menyelesaikan masalah, melainkan menjadi first responder yang membantu teman mereka mendapatkan bantuan yang lebih tepat.
Selain mahasiswa, ITB juga melakukan penguatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan melalui pelatihan konseling serta psychological first aid. Pendekatan psikologis awalan ini membantu seseorang yang baru mengalami peristiwa krisis, trauma, atau situasi yang menimbulkan tekanan psikologis, termasuk korban kekerasan.
(Psychological first aid) PFA bukan terapi atau konseling mendalam. Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, didengar, dan terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan segera oleh penyintas.
Baca Juga: Strategi agar Terhindar dari Kejahatan Seksual di Kampus
Kekerasan Seksual Sering Dilatarbelakangi Ketimpangan Kuasa, Respons Membeku, dan Budaya Menyalahkan Korban
Terbuka Untuk Publik
E-Learning JaRI x ITB dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan pendampingan korban kekerasan yang selama ini hanya dilakukan secara tatap muka di Bandung. Selama bertahun-tahun, Yayasan Jaringan Relawan Independen (JaRI) menyelenggarakan pelatihan relawan selama dua bulan dengan jumlah peserta terbatas.
Direktur Program Yayasan JaRI, Seli Martini, mengatakan banyak masyarakat dari luar Bandung dan luar Jawa yang ingin mengikuti pelatihan, tetapi terkendala jarak dan biaya.
“Selama ini pelatihan relawan dilakukan offline selama dua bulan penuh dan maksimal hanya sekitar 40 orang. Banyak teman-teman dari luar Bandung yang bertanya kapan ada pelatihan online karena mereka ingin belajar, tetapi tidak mungkin datang ke Bandung,” kata Seli.
Melalui kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), seluruh materi pelatihan relawan kemudian diubah menjadi bentuk digital. ITB menyediakan platform pembelajaran, sementara seluruh isi modul berasal dari pengalaman pendampingan yang dimiliki JaRI.
“ITB menyediakan platformnya dan membantu kami mengubah modul pelatihan menjadi bentuk online,” ujarnya.
Sebanyak 12 modul pembelajaran tersedia dalam platform tersebut. Materi yang diberikan dimulai dari pengenalan peran relawan pendamping, etika, dan prosedur pendampingan, serta pemahaman mengenai akar terjadinya kekerasan dan relasi kuasa yang melatarbelakanginya.
Peserta juga akan mempelajari kesehatan reproduksi, berbagai bentuk kekerasan seksual, serta penanganan penyintas dari aspek medis, psikologis, dan hukum. Selain itu, modul membahas keterampilan yang perlu dimiliki relawan, seperti psychological first aid, identifikasi kondisi penyintas, hingga pemahaman mengenai hak-hak penyintas dalam proses hukum.
“Banyak penyintas tidak tahu harus berbuat apa ketika menghadapi proses hukum. Karena itu, relawan juga perlu memahami hak-hak penyintas,” kata Seli.
Menurutnya, materi tersebut sebelumnya hanya dapat diakses oleh peserta pelatihan tatap muka. Kini, masyarakat umum dari berbagai daerah dapat mempelajari pengetahuan yang sama secara lebih mudah melalui platform daring tersebut.
Pada akhirnya merdeka dari kekerasan seksual tidak hanya bergantung pada keberanian penyintas untuk berbicara, tetapi juga pada kesediaan setiap orang untuk mendengar, belajar, peduli, dan menjadi bagian dari ruang aman yang berpihak kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.
Bagi Kawan Bergerak yang ingin mempelajari materi tersebut, modul E-Learning JaRI x ITB dapat diakses melalui tautan berikut.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


