Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Mahasiswa UPI Pangkas Pengeluaran hingga Tunggak UKT
Pelemahan nilai tukar rupiah mulai dirasakan mahasiswa. Kenaikan biaya hidup, beban kuliah, dan tekanan ekonomi keluarga memicu mahasiswa UPI Bandung berdemonstrasi.
Penulis Yopi Muharam10 Juni 2026
BandungBergerak - Pelemahan rupiah hingga menembus 18.000 per dolar AS mulai terasa di kantong mahasiswa. Levi, mahasiswi UPI, kini harus memangkas pengeluaran harian dan menunda pelunasan uang kuliah setelah biaya hidup terus meningkat di tengah tekanan ekonomi yang juga dialami keluarganya.
Uang kiriman 1,4 juta rupiah per bulan dari orang tuanya kini terasa semakin sempit. Separuhnya habis untuk membayar kos sebesar 700 ribu rupiah, sementara sisanya harus dibagi untuk kebutuhan makan, transportasi, hingga keperluan kuliah.
Kondisi itu membuat Levi mulai mengubah pola pengeluarannya. Jika saat pertama kali tinggal di kos ia dapat menghabiskan 30 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah per hari, sejak awal 2026 ia berusaha menekan biaya hidup agar tetap dapat bertahan hingga akhir bulan.
Sebagai mahasiswa perantauan, Levi mengaku khawatir pelemahan rupiah akan terus berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Kekhawatiran itu, menurutnya, bukan lagi sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas, melainkan kenyataan yang kini ia hadapi sehari-hari.
“Tapi bahkan secara teoritis kelas menengah itu mulai bercampur gitu ya, makin ke bawah, dan itu benar-benar terasa gitu oleh aku,” jelas Levi, yang mengikuti aksi mimbar bebas merespons pelemahan rupiah di Kampus Bumi Siliwangi UPI, Jalan Setiabudi, Bandung, Selasa, 9 Juni 2026.
Untuk makan, Levi kini mengalokasikan sekitar 18 ribu rupiah hingga 25 ribu rupiah per hari untuk dua kali makan, yakni siang dan malam. Ia juga merasakan kenaikan harga pada sejumlah menu makanan di sekitar kampus. Salah satunya ayam geprek langganannya yang naik dari Rp11 ribu menjadi 12 ribu rupiah per porsi.
Meski kenaikannya tampak kecil, Levi menilai perubahan harga tersebut cukup memengaruhi kondisi keuangannya. Menurutnya, kenaikan serupa terjadi pada berbagai jenis makanan lainnya.
“Tapi itu juga ternyata berlaku untuk semua makan untuk semua makanan gitu,” lanjutnya.
Pengeluaran Levi tidak hanya tersedot untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam menjalani perkuliahan, ia juga kerap harus melakukan perjalanan ke luar daerah maupun ke pusat Kota Bandung untuk praktikum dan penelitian lapangan. Kebutuhan transportasi tersebut menjadi beban tambahan di tengah meningkatnya biaya hidup.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarganya yang ikut terdampak membuat Levi belum mampu melunasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester sebelumnya. Ia mengaku masih memiliki tunggakan sekitar 30 persen dari total biaya UKT yang harus dibayarkan.
Sementara itu, semester genap akan segera berakhir dan kewajiban membayar UKT untuk semester berikutnya sudah menanti. Hingga kini, Levi belum mengetahui kapan tunggakan tersebut dapat dilunasi.
“Belum ada titik terang. Kapan bayarnya juga belum tahu,” katanya.
Situasi tersebut mendorong Levi bergabung dalam aksi demonstrasi terkait pelemahan rupiah. Aksi itu digelar sebagai respons terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Bagi Levi, aksi tersebut menjadi ruang untuk menyuarakan keresahan yang dirasakan banyak orang. Ia berharap sivitas akademika dan masyarakat tidak memandang pelemahan rupiah hanya sebagai persoalan angka di pasar keuangan, melainkan sebagai masalah yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
“Sesama rakyat, kita semua merasakan sakit yang sama. Penderitaan itu bisa kita ubah kalau kita berorganisasi lalu melawan bersama,” tuturnya.
Hal serupa dirasakan oleh Marhaman Nurul, mahasiswi UPI lainnya. Dalam orasinya, Nurul menyuarakan keresahannya mengenai dampak kenaikan dolar terhadap ibu rumah tangga. Menurutnya, para ibu kesulitan mengatur keuangan terutama karena penghasilan mereka tidak naik, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak.
Kaum ibu, lanjutnya, dituntut lebih pintar mengelola keuangan dan mengurus rumah tangga. Padahal pelemahan rupiah justru mempersulit mereka memenuhi tuntutan sosial tersebut.
Nurul berbagi pengalaman pribadi dari keluarganya. Ibunya harus berjuang dan pintar mengatur gaji suaminya, sedangkan kakak dan dirinya harus membayar UKT tiap semester. Di saat yang sama, pemerintah dianggap kurang memedulikan kondisi rakyatnya. Sebaliknya, pemerintah dinilai menyepelekan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Pemerintah ini tuh kayak enggak peduli banget sama rakyatnya gitu,” tegasnya.
Baca Juga: Efek Domino MBG dan Ancaman Inflasi Pangan di Pasar Domestik
Pedagang Gorengan dan Warung Sembako di Bandung Menanggung Beban Rupiah Melemah: Harga Naik, Pembeli Sepi

Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Dalam aksi tersebut, mahasiswa UPI berkeliling mengajak sivitas peka terhadap kondisi negara. Aksi yang dimulai pukul 15.00 ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai jurusan.
Badar, Koordinator Lapangan (Korlap) menyatakan mahasiswa mulai jengah dengan tindakan pemerintah yang dinilai lamban menanggapi merosotnya nilai rupiah ini. Ia menekankan bahwa kebijakan negara tidak hanya berdampak pada mahasiswa, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.
“Yang pertama (tujuan) aksi ini untuk menyadarkan sivitas akademik dan masyarakat,” tuturnya.
Isu-isu utama yang diangkat dalam aksi ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, masalah makan bergizi gratis yang menurutnya bermasalah karena menghisap dana pendidikan, serta kenaikan harga sembako di pasaran.
“Pokoknya hal segala kenaikan ini pasti berdampak bagi mahasiswa yang tak terlepas dari kehidupan sekitar,” jelas mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 4 itu.
Sementara itu, Khallid Syaiful, Presiden Mahasiswa UPI, mengatakan melemahnya nilai rupiah ini menjadi yang terparah sejak krisis moneter tahun 1997. Kondisi ini menjadi keresahan bersama baik bagi mahasiswa maupun masyarakat umum.
“Kondisi negara kita tidak baik-baik saja,” ujar mahasiswa jurusan pendidikan Matematika itu.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut pemerintah meninjau kembali APBN dan kebijakan ekonomi nasional. Koordinator aksi, Khallid, mengkritik sejumlah langkah Presiden Prabowo yang dinilai belum mampu merespons pelemahan rupiah secara efektif.
Menurutnya, pemerintah seharusnya memiliki kemandirian dalam mengatasi tekanan terhadap nilai tukar tanpa bergantung pada pihak luar.
"Dengan naiknya dolar ini akan terdampak bagaimana kehidupan sehari-hari kita jadi sulit, terus kebutuhan-kebutuhan pokok yang tadinya belum terasa mungkin hari ini naik," katanya.
Sementara itu, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Eddy Junarsin, menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia masih positif, tetapi terus menyusut. Di tingkat global, kenaikan harga minyak dunia meningkatkan beban impor Indonesia, sementara suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi mendorong investor memindahkan modal ke aset yang dianggap lebih aman.
“Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat,” kata Eddy dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Apa yang disuarakan mahasiswa UPI tentang pelemahan nilai rupiah dampaknya sudah terasa di rakyat kecil. Kebijakan yang prorakyat semakin mendesak.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


