Saat Warteg Berusaha Tetap Murah: Harga Pangan Melambung, Porsi Makan Menyusut
Konsumen merasakan kenaikan harga makanan, sementara warteg mengurangi porsi di tengah pelemahan rupiah, serta meningkatnya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.
Penulis Yopi Muharam11 Juni 2026
BandungBergerak - Kankan Wikarta memperhatikan menu makan siang yang ia beli di sebuah warteg langganan. Porsi sayur yang biasanya cukup kini terlihat lebih sedikit, sementara harga menu yang ia pesan naik antara 1.000 hingga 2.000 rupiah. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya permintaan bahan pangan, konsumen dan pedagang warteg sama-sama menghadapi tekanan kenaikan harga.
Pekerja bidang teknologi informasi itu mengaku mulai merasakan perubahan harga di warteg yang rutin ia kunjungi empat kali dalam sepekan. Menu nasi ikan pindang yang biasanya seharga 16 ribu rupiah dan telur dadar 13 ribu rupiah kini dijual lebih mahal.
“Kadang porsi sayurannya jadi sedikit, sedangkan nasinya yang banyak, bukan lauknya,” ujar Kankan, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut dia, warteg selama ini menjadi pilihan makan yang lebih hemat. Namun, kenaikan harga membuat selisih biaya makan di warteg dan tempat makan lain semakin tipis.
“Biasanya saya ke warteg supaya lebih hemat. Cuma sekarang harganya jadi hampir sama seperti beli ayam pecel,” katanya.
Kankan menduga kenaikan harga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang tembus 18.000 rupiah hingga meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi itu membuatnya harus lebih cermat membagi pengeluaran bulanan.
Sebaliknya, tekanan serupa dirasakan Siti Amalia, 38 tahun, pemilik Warteg Maulana di kawasan Cipamokolan, Kota Bandung. Hampir seluruh bahan baku yang ia gunakan mengalami kenaikan harga, mulai dari sayuran, bumbu dapur, hingga minyak goreng.
“Kalau sayuran kayak tomat, wortel, buncis, pokoknya semua naik. Apalagi kalau cabe sih itu sih turunnya susah,” ujar Siti, ditemui BandungBergerak di tempatnya berjualan.
Harga cabai kini bisa mencapai 40 ribu rupiah per kilogram. Sementara harga bawang naik menjadi sekitar 25 ribu rupiah per kilogram dari sebelumnya 15 ribu rupiah hingga 20 ribu rupiah.
Untuk menekan biaya produksi, Siti mengganti sebagian bahan baku dengan alternatif yang lebih murah. Buncis, misalnya, diganti dengan kacang panjang saat harga sedang melonjak.
Selain itu, ia mengurangi porsi makanan tanpa mengubah harga jual. Langkah tersebut ditempuh karena mayoritas pelanggan wartegnya merupakan pekerja berpenghasilan harian seperti pengemudi ojek online dan buruh bangunan.
“Misalnya harga seporsi sayur 5 ribu (rupiah), yang biasanya tiga sendok jadi dua setengah sendok,” katanya.
Menurut Siti, menaikkan harga berisiko membuat pelanggan beralih ke tempat makan lain. Di sisi lain, ia juga harus menghemat penggunaan minyak goreng dan mempertahankan gaji empat karyawannya di tengah penurunan omzet.
“Harapannya sih kalau untuk harga pangan gitu pokok, buat usaha kecil kayak saya sih distabilin sajalah. Jangan terlalu gede naiknya gitu,” tuturnya.
Baca Juga: Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Mahasiswa UPI Pangkas Pengeluaran hingga Tunggak UKT
Pedagang Gorengan dan Warung Sembako di Bandung Menanggung Beban Rupiah Melemah: Harga Naik, Pembeli Sepi

Menahan Harga demi Mahasiswa
Kenaikan harga bahan pangan juga dirasakan Warteg Pitulas Bahari di Jalan Gegerkalong, dekat Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Kumal, 35, pegawai warteg tersebut, mengatakan harga sejumlah sayuran melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Harga buncis yang sebelumnya sekitar 10 ribu rupiah per kilogram kini mencapai 25 ribu rupiah per kilogram.
Menurut dia, tingginya permintaan dalam jumlah besar turut memengaruhi harga di pasar. Meski biaya operasional meningkat, warteg tersebut memilih tidak menaikkan harga makanan. Sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa yang sensitif terhadap perubahan harga.
“Aslinya ngaruh kenaikan bahan pokokk ke harga jual, cuma kan kasihan yang makan juga kan, kebanyakan kan mahasiswa,” terangnya.
Pemilik warteg, Bambang, mengatakan kenaikan harga bahan pokok sudah terasa sejak tahun lalu dan terus berlanjut seiring memburuknya kondisi ekonomi.
Salah satu beban terbesar berasal dari minyak goreng. Jika sebelumnya harga minyak berkisar 15 ribu rupiah hingga 17 ribu rupiah per liter, kini mencapai 23 ribu rupiah hingga 24 ribu rupiah per liter. Harga plastik kemasan juga naik sekitar 3 ribu rupiah hingga 5 ribu rupiah per paket.
Akibatnya, margin keuntungan usaha semakin menipis. Namun Bambang tetap mempertahankan harga agar pelanggan tetap mampu membeli makanan.
“Yang penting murah meriah supaya orang bisa balik lagi. Yang penting kita bertahan,” ujarnya.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi pengeluaran adalah dengan menghemat energi. Bambang selalu mengingatkan empat pegawainya agar sebisa mungkin menghemat minyak goreng.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Warteg
Pengamat keuangan Universitas Padjadjaran (Unpad), Wardhana, menjelaskan pelemahan rupiah terjadi karena kebutuhan dolar lebih besar dibandingkan pasokan yang tersedia. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh meningkatnya impor, keluarnya modal asing, pembayaran utang valas, maupun melemahnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi.
Menurut dia, rupiah sempat menyentuh sekitar 18.190 per dolar Amerika Serikat, salah satu level terlemah dalam sejarah. Meski demikian, pelemahan rupiah tidak secara langsung menaikkan harga komoditas pangan lokal seperti cabai, beras, bawang merah, atau sayuran.
Dampak lebih besar dirasakan pada komoditas yang bergantung pada impor, seperti kedelai, gandum, bawang putih, pakan ternak, pupuk, dan energi.
“Tahu-tempe bisa naik karena kedelai impor. Gorengan dan mi bisa ikut terdampak karena gandum dan minyak. Ayam dan telur bisa naik karena pakan. Ongkos distribusi juga bisa meningkat jika biaya energi terdorong naik,” jelas Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jawa Barat itu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar 3,08 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi.
Menurut Wardhana, persoalan utama bagi warteg bukan hanya kenaikan harga bahan baku, melainkan keterbatasan ruang untuk menaikkan harga jual.
“Kalau harga nasi dan lauk naik terlalu cepat, pelanggan bisa mengurangi lauk, pindah tempat, atau menahan belanja,” ujarnya.
Karena itu, dampak pelemahan rupiah terhadap warteg lebih terasa dalam bentuk penyusutan margin keuntungan. Biaya usaha terus meningkat, sementara kemampuan pelanggan untuk membayar makanan semakin terbatas.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


