Film Menolak Punah: Sisi Gelap Fesyen Murah Sekali Pakai, Memicu Timbunan Sampah Tekstil
Film Menolak Punah karya Dandhy Laksono mengungkap budaya belanja pakaian murah, limbah tekstil, mikroplastik, hingga ketergantungan Indonesia pada impor kapas.
Penulis Retna Gemilang11 Juni 2026
BandungBergerak - Usai menyaksikan film dokumenter Menolak Punah di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak No. 168A, Bandung, Minggu, 7 Juni 2026, Catur Ratna Wulandari mempertanyakan kebiasaan membeli pakaian murah secara daring. Menurut Pemimpin Redaksi digitalMamaID itu, kemudahan berbelanja fesyen cepat membuat banyak orang tidak sadar sedang berkontribusi pada timbunan limbah tekstil.
"Fesyen yang semakin murah, semakin mudah dijangkau. Orang sambil rebahan, bisa tidur, check-out keranjang belanjaan, seolah-olah ya udah enggak ada yang salah," kata Ratna.
Film karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti tersebut mengangkat dampak industri fesyen cepat (fast fashion) yang menghasilkan limbah tekstil dan mikroplastik dalam jumlah besar. Menurut Ratna, budaya konsumtif terus didorong berbagai promosi di platform belanja daring, mulai dari diskon tanggal kembar hingga program gajian yang membuat orang mudah membeli barang di luar kebutuhan.
Akibatnya, banyak pakaian hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum dibuang. Dalam film tersebut disebutkan, tiga dari sepuluh orang Indonesia membuang pakaian yang baru sekali dipakai. Limbah tekstil itu kemudian berakhir di tempat pembuangan sampah atau terbawa aliran sungai hingga laut sebagai mikroplastik dan nanoplastik.
Kekhawatiran serupa disampaikan Pemimpin Redaksi Kutub.co, Siti Latifah. Perempuan yang akrab disapa Puput itu mengaku film tersebut mengingatkannya bahwa masyarakat juga menjadi bagian dari persoalan limbah tekstil.
"Ternyata kita adalah penyumbang sampah itu," kata Puput, yang juga mengajar di Universitas Islam Nusantara (Uninus).
Kesadaran tersebut mendorongnya menerapkan kebiasaan sederhana. Setiap membeli satu pakaian baru, ia berusaha mengeluarkan lebih dari satu pakaian lama dari lemari.
Namun, menurutnya, upaya individu sering terkendala minimnya ruang kolektif untuk mengelola pakaian bekas agar tidak berakhir menjadi sampah baru.
Karena itu, ia mendorong lebih banyak inisiatif seperti pasar tukar pakaian, donasi terkelola, atau gerakan pemanfaatan ulang tekstil di Kota Bandung. Menurutnya, masyarakat membutuhkan wadah yang dapat memperpanjang usia pakaian sekaligus mengurangi timbunan sampah.
"Kita sudah punya niatnya, tapi ternyata kita belum punya wadah untuk itu. Kalau kita kasih (baju bekas), dipakai atau enggak, apakah itu juga akan menjadi sampah yang mereka buang juga," tambahnya.
Kesadaran serupa dirasakan Silvi, seorang ibu rumah tangga yang mengikuti pemutaran film tersebut. Ia mengaku prihatin karena semakin banyak pakaian yang beredar menggunakan bahan polyester.
Polyester merupakan serat sintetis yang banyak digunakan industri fesyen karena lebih murah, kuat, dan mudah diproduksi dalam skala besar. Namun, bahan ini sulit terurai dan menjadi salah satu penyumbang mikroplastik di lingkungan.
"Saya pribadi sedih, karena sebagian besar itu pakaian muslim syar'i ya menggunakan bahan polyester. Karena kenyamanan pertama, kedua juga ya karena fesyen, yang ketiga karena nilai ekonomis juga kan," ujarnya.
Film Menolak Punah, menurut dia, menjadi pengingat untuk lebih bijak dalam membeli pakaian. "Membeli karena butuh," ujarnya.
Meski perilaku konsumtif masyarakat turut berkontribusi terhadap limbah tekstil, sejumlah peserta diskusi menilai akar persoalan tidak sepenuhnya berada pada konsumen.
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Bandung, Zen Ihsan, mengatakan produsen dan sistem ekonomi yang mendorong konsumsi massal memiliki tanggung jawab lebih besar dalam persoalan tersebut.
Menurut dia, industri selama ini lebih banyak mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dalam jangka panjang. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi arah kebijakan yang diambil pemerintah.
Karena itu, Zen mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berkelanjutan dalam industri tekstil dan fesyen.
"Konsumen hanya bisa berikhtiar di dalam sistemnya, adapun di pembuat sistemnya yang seharusnya lebih bertanggung jawab," tukasnya.
Baca Juga: Adu Cepat Melawan Fast Fashion
Mitos Fesyen Lebaran #2
Krisis Kapas di Tengah Arus Fesyen Cepat
Selain menyoroti limbah tekstil, film Menolak Punah juga mengangkat persoalan ketersediaan bahan baku tekstil di Indonesia. Film memotret minimnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan kapas, tanaman yang menjadi bahan baku kain katun dan relatif lebih ramah lingkungan dibandingkan serat sintetis.
Disebutkan, Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar satu persen kebutuhan kapas nasional. Sebanyak 99 persen sisanya masih dipenuhi melalui impor untuk kebutuhan industri tekstil, farmasi, dan produk kecantikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, program pengembangan kapas nasional juga disebut semakin berkurang. Di saat yang sama, Indonesia masih mengimpor pakaian baru maupun pakaian bekas yang kemudian beredar di pasar domestik.
Film tersebut turut menyoroti semakin berkurangnya jumlah penenun tradisional di berbagai daerah yang terdesak oleh perubahan industri tekstil dan masuknya produk fesyen massal.
Kondisi itu menghadirkan ironi tersendiri. Seperti yang disampaikan Ratna dalam diskusi, kapas selama ini menjadi salah satu simbol kesejahteraan dalam lambang negara (Garuda Pancasila, logo pemerintah daerah, DPR RI, TNI, Polri, termasuk lambang kepresidenan), tetapi keberadaannya justru semakin terpinggirkan dalam kebijakan pembangunan.
Film Menolak Punah merupakan hasil kolaborasi antara Ekspedisi Indonesia Baru, Sunspirit, Sejauh Mata Memandang, dan The Body Shop Indonesia. Melalui persoalan limbah tekstil, fesyen cepat, hingga krisis kapas, film ini mengajak publik melihat bahwa dampak pakaian yang dikenakan sehari-hari tidak berhenti di lemari, melainkan terhubung dengan persoalan lingkungan, industri, dan kebijakan yang lebih luas.
Di tengah derasnya arus konsumsi fesyen cepat dan murah, film tersebut sekaligus mengingatkan bahwa setiap pakaian yang dibeli memiliki jejak pencemaran lingkungan yang kerap luput dari perhatian.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


